Anis Matta Dapat Curhatan Begini Dari Lelaki Usaha Pariwisata di Bali

, , , , , , , ,

JAKARTA – Ketua umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta dan Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah mendapat curhatan dari pelaku usaha pariwisata di Bali yang banyak bangkrut dan ‘gulung tikar’ akibat pandemi Covid-19.
.
Mereka meminta pemerintah untuk meninjau kembali rencana pemberlakuan Penerapan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di seluruh wilayah Indonesia akan berlaku mulai 24 Desember 2021 saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

“Ini Kesedihan yang kita ceritakan malam hari ini,  semua berharap menjadi tekad bersama, bahwa air mata suatu saat nanti akan menjadi mata air,” kata Anis Matta di Kampoeng Seafood, Kuta, Denpasar, Bali, Jumat (26/11/2021) malam.

Anis Matta berharap pelaku usaha pariwisata di Bali tidak larut memikirkan masalah, tapi harus berpikir untuk menangkap peluang yang ada.

“Kita butuh terobosan-terobosan besar, sehingga tercipta defensif, daya tahan. Kita harus fokus mencari peluang dan tidak memikirkan masalah secara berlebihan,: katanya.

Fahri Hamzah berharap pemerintah melonggarkan kebijakan PPKM untuk Bali, tidak disamaratakan dengan daerah lain dalam menerapkan kebijakan pencegahan penyebaran Covid-19, karena pintu keluar masuknya sangat terbatas.

“Bali ini pulau kecil tidak terlalu besar, pintu masuknya juga terbatas. “orang datang ke Bali mau berobat, sehingga tidak ada alasan pemerintah untuk melarang orang datang kembali,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini meminta pemerintah tidak mengembangkan rasa takut, tapi harus berani menghadapi realitas, sehingga rakyat bisa berpartipasi dan tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri.

Rosihan, pelaku usaha pariwisata di Bali mengatakan, selama dua tahun pandemi usaha homestay miliknya yang memiliki 150 kamar bangkrut.

“Semuanya kosong, untuk bertahan hidup kami dikirimin beras 400 kg. Kami tidak bisa bayar listrik dan air, sementara pemerintah tidak pernah mau tahu, hadir disini,”: kata Rosihan.

Hal senada disampaikan Maryadi, pengusaha wisata bahari. Maryadi mengatakan, semua pengusaha wisata bahari di Bali selama pandemi menangis, tidak ada pemasukan sama sekali. Jika ada  dua wisatawan yang masih menggunakan jasa mereka, itupun harus main kucing-kucingan dengan Satpol PP.

“Kami sangat sedih sekali, mudah-mudahan pariwisata Bali bisa bangkit dan semua bisa bekerja normal lagi,” kata Maryadi

Sedangkan Novika, pengusaha travel di Bali mengaku ia banting setir jualan beras dan tisu untuk menutupi kebutuhan keluarganya, karena selama pandemi tidak ada wisatawan.

“Mobil travel kami berjejer, kami jual barang-barang yang bisa dijual. Kami berusaha untuk tidak menangis dan tetap tertawa, walaupun hati menangis, ini jadi rintihan masyarakat Bali,” kata Novika.

Soekatno, personil grup musik menambahkan, semua pelaku pariwisata di Bali tidak mengira dampak pandemi seperti ini, dan tidak memiliki skill lain untuk bertahan hidup.

“Saya kebetulan penyanyi, biasa menyayikan lagu, kami tidak memiliki skill lain. Kami berharap Partai Gelora memberikan pelatihan-pelatihan buat masyarakat, sehingga bisa memiliki skill lain,” kata Soekatno.

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta berharap pariwisata di Bali segera membaik. Sebagai bentuk harapan pulihnya pariwisata Bali, Anis Matta didampingi Fahri Hamzah, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bangter IV Rofi’ Munawar dan Ketua DPW Partai Gelora Bali Moedjiono melepaskan seekor penyu di Pantai Kuta.

“Kita lepaskan penyu sebagai harapan agar pariwisata segera pulih dan membaik, juga sebagai bentuk kepedulian pada lingkungan. Akibat climate change ini, penyu bagian biodiversity (keanekaragaman hayati) kita, saat ini terancam punah habitatnya,” katanya.

“Saya juga menangkap satu harapan kolektif dari para penggiat pariwisata BaIi, yaitu hentikan tangis kami di Bali” pungkasnya.

Anis Matta: Runtuhkan Tembok dan Bangulah Jembatan Bersama untuk Indonesia

, , , , , ,

Partaigelora.id-Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengungkapkan, pendirian Partai Gelora berawal dari sebuah perenungan dan diskusi panjang di Bali selama beberapa tahun dari 2013-2019, semenjak gagal menjadikan Partai Keadlian Sejahteraa (PKS) menjadi partai terbuka.

Bali telah memberikan inspirasi dan ilham bagi Partai Gelora karena memiliki keragaman, serta bisa menjawab kegelisaan dirinya terhadap krisis yang menimpa bangsa ini.

“Saya datang kembali, karena rindu dengan Bali ini. Karena ada terlalu banyak cerita di sini dibalik pendirian sebuah partai baru yang kita beri nama Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau Partai Gelora,” kata Anis Matta dalam acara Simakrama dengan DPW dan DPD se-Bali di Princes Keisha Hotel, Kamis (25/11/2021) malam.

Menurut dia, Bali memiliki aura dalam menyelesaikan kerumitan masalah keragaman. Selain itu, Bali juga menjadi tempat diskusi tentang sebuah krisis besar, yang kemudian kebenarannya terbukti saat ini, terjadinya krisis berlarut akibat pandemi Covid-19.

“Jadi ide dan gagasan besar Partai Gelora dari Bali ini, kemudian kita bawa ke Masjidil Haram sebelum mengambil keputusan untuk mendirikan partai ini, yang memerlukan kekuatan spiritual yang lebih besar. Kita istikharah di Masjidil Haram, kita ambil keputusan mendirikan partai,” ujarnya.

Karena itu, kata Anis Matta, Partai Gelora adalah partai yang pertama mendapatkan berkah dari krisis. Dimana pendiriannya dilakukan saat krisis, didaftarkan dan disetujui sebagai partai politik berbadan hukum juga saat krisis.

“Partai Gelora ini, partai yang pertama mendapatkan berkah dari krisis.  KIta mendiskusikan bagaimana mengantisipasinya berhari-hari selama beberapa tahun di Bali, meskipun kita tidak tahu persis awalnya, krisis ini kapan akan dimulai dan kapan akan berakhirnya” katanya.

Dihadapan ratusan kader Partai Gelora di Bali, Anis Matta, mengaku telah menemukan permodelan kampanye baru selama krisis. Partai Gelora, lanjutnya, siap memenangi Pemilu 2024 dan lolos ambang batas (parliamentary threshold) 4 persen.

“Kalau mencari ketenangan datanglah ke Bali, kalau mencari jawaban kegelisahan datanglah ke Partai Gelora. Dulu Budi Utomo dan Sumpah Pemuda juga lahir dari kegelisahan, sementara sekarang ini kita sebagai bangsa tidak mengetahui bagaimana cara menghadapi kegelisahan itu,” katanya.

Anis Matta menegaskan, upaya untuk mendapatkan jawaban kegelisahan atas krisis ini, sebenarnya sudah dia mulai ketika masih menjadi Presiden PKS. Kala itu pada 2013, ia menggelar kongres di Bali untuk menjadikan PKS sebagai partai terbuka.

Namun, upaya itu mendapatkan perlawanan besar-besaran dari elit PKS yang sepertinya tidak ingin berubah. Anis Matta berpandangan cita-cita besarnya tentang Indonesia, tidak boleh berhenti dan harus jalan terus.

Sehingga ia memutuskan keluar dari PKS, yang telah menjadikan dirinya sebagai Sekretaris Jenderal dan President PKS. Anis Matta lantas mendirikan Partai Gelora bersama Fahri Hamzah, Mahfuz Sidik, Achmad Rilyadi dan mantan kader PKS yang memiliki visi jauh ke depan mengenai Indonesia dan kemudian mendirikan Partai Gelora.

“Kita telah meruntuhkan tembok, meninggalkan masa lalu, menatap masa depan. Kita mulai membangun jembatan-jembatan baru sebanyak mungkin untuk berkolaborasi. Bali ini pelaku sejarah, bagaimana meruntuhkan tembok-tembok, tersebut, dan membangun jembatan baru secara bersama-sama,” tegasnya.

Partai Gelora Ajak Semua Pihak Berkolaborasi Berikan Literasi Perubahan Iklim kepada Masyarakat

, , , , , , , , ,

JAKARTA – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengajak BMKG, perguruan tinggi dan semua pihak untuk ikut serta dalam berkolaborasi memberikan literasi perubahan iklim kepada masyarakat.

Literasi ini penting agar masyarakat mendapatkan informasi awal dan mengetahui bagaimana cara melakukan mitigasi, terhadap dampak perubahan iklim, terutama dalam sektor pertanian dan kelautan.

“Jadi ada tindak lanjut yang bisa kita kolaborasikan, yaitu program literasi iklim kepada petani dan nelayan,” kata Anis Matta dalam Gelora Talk bertajuk ‘Ancaman Climate Change, Bagaimana Sektor Pertanian dan Kelautan Nasional Menghadapinya?’, Rabu (24/11/2021).

Menurut Anis Matta, masyarakat  bisa melakukan mitigasi apabila mendapatkan informasi awal , sehingga hal itu membawa dampak pada peningkatan kesejahteraan mereka.

Ketua Umum Partai Gelora ini berharap Badan Meteorologi, Klimatalogi dan Geofisika (BMKG) dan perguruan tinggi bisa mempelopori program literasi perubahan iklim ini.

“Jadi program literasi iklim ini, saya kira tema kerja sama yang sangat menarik, memberikan penjelasan kepada masyarakat maupun pelatihan-pelatihan,” katanya.

Salah satu cara memberikan literasi tersebut, antara lain melalui ajakan untuk menanam pohon untuk menghadapi perubahan iklim. Pada 28 November nanti, Partai Gelora akan mencanangkan program Gelora Tanam 10 Juta Pohon di Jawa Barat.

“Jika kader kami saat ini lebih dari setengah juta orang,  maka kira-kira setiap kadernya akan menanam sekitar 20 pohon terhitung dalam dua tahun kedepan, terhitung dari dari tanggal 28 November sampai dengan November 2023,” katanya.

Partai Gelora, lanjutnya, ingin menginspirasi masyarakat untuk menanam pohon. Sebab, dampak perubahan iklim itu merupakan ancaman keamanan nasional, selain ancaman keselamatan dan kelangsungan hidup kita di planet ini.

“Selama ini, respon terhadap isu perubahan iklim dinilai masih  ‘slow respon’, padahal dibutuhkan ‘sense of urgency’ (keterdesakan), respon cepat dan tanggungjawab bersama,” katanya.

Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan, BMKG Dr. Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, dalam menyikapi perubahan iklim ini, BMKG telah membuat Sekolah Iklim yang memberikan pelatihan lapangan kepada petani dan nelayan.

“Kita memberikan layanan informasi cuaca ekstrem untuk para petani untuk meningkatkan produktivitasnya. Kalau nelayan,  kita memberikan berbagai macam prediksi gelombang dan arus,” ujar Ardhasena.

Sementara Wakil Dekan FMIPA IPB Dr Akhmad Faqih mengatakan, IPB telah memberikan bantuan kepada pemerintah untuk melakukan penyebaran informasi mengenai penanggulangan bencana dan adaptasinya.

“Kami juga terlibat memberikan pelatihan di 10 kota, bagaimana agar mereka bisa menyusun sistem informasi adaptasi perubahan iklim,” kata Akhmad Faqih.

Ketua Bidang Lingkungan Hidup DPN Partai Gelora Rully Syumanda menambahkan, literasi perubahan iklim ini diperlukan untuk menjelaskan kebingungan semua pihak, bagaimana memulai upaya menghadapi perubahan iklim tersebut.

“Perlu kerjasama seluruh pihak untuk menjelaskan tentang perubahan iklim itu seperti apa? Bagaimana saya melakukannya, bagaimana saya memulainya?. Itulah pertanyaan kebingungan kita, sehingga perlu ada literasi perubahan iklim,” kata Rully.

Hal senada disampaikan mantan Anggota Komisi IV DPR Rofi’ Munawar. Rofi’ mengatakan, keseriusan terhadap upaya adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim  saat ini dipertanyakan.

“Apakah betul kita sudah melakukan kegiatan adaptasi yang bersesuaian, atau kegiatan mitigasi tersebut bisa mereduksi emisi kita. Artinya pengukuran verifikasi secara tidak langsung juga penting, bukan hanya janji-janji,” kata Rofi’.

Hadapi Perubahan Iklim, Partai Gelora Bakal Tanam 10 Juta Pohon Secara Serentak di 34 Provinsi

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia akan melakukan penanaman 10 juta pohon secara serentak di 34 provinsi dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia pada 28 November 2021 mendatang dengan hastag #BirukanBumiBirukanLangit, #PohonKitaOksigenKita, #PohonKitaHidupKita, #AyoTanamPohon, #GeloraTanam10JutaPohon.

Penanaman pohon tersebut akan difokuskan di tiga titik lokasi, yakni di Kampung Cikoneng, Sub Das Citarik, Cibiru, Cileunyi, Bandung (hulu Das Citarum); Waduk Jatiluhur, Purwakarta dan Muara Gembong (hilir/muara Das Citarum), Bekasi, Jawa Barat (Jabar).

“Partai Gelora Indonesia mengajak selamatkan bumi, birukan langit dengan menanam pohon melalui program Gelora Tanam 10 Juta Pohon yang akan diselenggrakan secara serentak di 34 propinsi dan berkesinambungan setiap tahun,” kata Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelora dalam keterangannya, Selasa (23/11/2021).

Dalam aksi Gelora Tanam 10 juta Pohon ini, Anis Matta akan didampingi Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, para fungsionaris DPN dan Ketua DPW Partai Gelora Jabar Haris Yuliana.

Anis Matta akan melakukan penanaman pohon di Sub Das Citarik, Cibiru, sementara penanaman pohon di Waduk Jatiluhur dan  Muara Gembong akan dipimpin DPD Purwakarta dan Bekasi.

Penanaman 10 juta pohon di tiga lokasi ini akan disiarkan live streaming ke 34 provinsi. Pada saat yang sama 34 DPW Partai Gelora juga akan melakukan penanaman pohon serupa sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Anis Matta, program menanam 10 juta pohon ini adalah kontribusi kecil Partai Gelora dalam membirukan planet kita. Partai Gelora juga akan meminta setiap kadernya menanam minimal 25 pohon seumur hidupnya.

“Bencana alam yang ditimbulkan oleh perubahan iklim saat ini, telah mengubah planet kita ini, menjadi planet yang sangat tidak nyaman dihuni,” katanya.

Apabila situasi seperti yang sekarang ini, dibiarkan dan terus berlangsung, maka Indonesia akan menghadapi ancaman keamanan nasional yang jauh lebih besar daripada ancaman perang.

“Yang sesungguhnya kita hadapi adalah ancaman kepunahan kita sebagai penghuni bumi,” katanya.

Karena itu, kesepakatan yang telah ditandatangani oleh masyarakat dunia melalui Paris Agreement pada 2015 dan ditandatangani oleh pemerintah Indonesia setahun kemudian, serta kesepakatan baru yang dihasilkan dalam Conference of the Parties (COP)-26 di Glasgow pada 31 Oktober hingga 12 November 2021 lalu, adalah langkah bersama masyarakat dunia yang harus didukung.

Sebab, kesepakatan yang tertuang dalam Paris Agreement dan COP-26 adalah pendekatan yang sangat komprehensif dan harus diikuti secara disiplin.

“Kita sebagai bangsa dan negara dan juga seluruh masyarakat dunia dan dalam konteks itu, kami di Partai Gelora ingin ikut berpartisipasi memberikan kontribusi kecil menanam 10 juta pohon,” katanya.

Selain meminta setiap kader Partai Gelora menanam 25 pohon, ia juga mengajak masyarakat yang akan mendaftar sebagai anggota Partai Gelora untuk menanam 25 pohon sebagai bentuk komitmen untuk membirukan planet ini.

“Semangat membirukan planet ini adalah semangat partisipasi dalam kesepakatan global warga dunia untuk ikut bersama-sama menyelamatkan planet kita, membirukan planet kita, membuat planet kita nyaman dihuni kembali,” ujarnya.

Anis Matta menilai tidak akan ada artinya jika semua kemajuan yang dicapai dalam bidang ekonomi, teknologi dan kemakmuran pada akhirnya hilang seketika dan lenyap, karena faktor bencana alam.

Program menanam 10 juta pohon, lanjutnya, meski merupakan program partisipasi dari Partai Gelora, namun Anis Matta mengajak  seluruh masyarakat Indonesia untuk melakukan langkah-langkah bersama membirukan kembali planet kita.

“Ayo ikut berpartisipasi dalam program penanaman 10 juta pohon. Karena pohon kita,  adalah oksigen kita, pohon kita adalah hidup kita. Tentu saja Ini, bukan satu-satunya jawaban, tetapi ini yang sekarang bisa kita lakukan untuk sementara sebagai sebuah partai,” tegasnya.

Ketua DPW Partai Gelora Jabar Haris Yuliana menambahkan, pelaksanaan Gelora Tanam 10 juta pohon ini bekerjasama dengan katan Penyuluh Kehutanan, dan 20 LSM dan ormas.

“Khusus di Muara Gembong, karena muaranya laut kita akan tanam mangrove (pohon bakau). Penanaman 10 juta pohon ini akan disertai ada dan istiadat budaya Sunda,” kata Haris Yuliana.

Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, lanjut Haris Yuliana, akan menyerahkan bibit tanaman kepada masyarakat sekitar Sub Das Citarik, Cibiru. Bibit tanaman yang akan diserahkan sesuai dengan permintaan masyarakat.

Dalam kegiatan Gelora Tanam 10 Juta Pohon ini, juga digelar lomba foto untuk peserta DPW se-Indonesia dan pewarta foto. “Peserta bisa mengirimkan kegiatan menanam pohonnya di wilayah-wilayah masing, lalu di foto dan dilombakan,” pungkasnya.

Akhiri Polarisasi Bangsa, Anis Matta Jadikan Partai Gelora Lebih Indonesia

, , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, Partai Gelora adalah wadah aspirasi politik semua kelompok, baik kelompok kanan, kelompok tengah atau moderat, dan kelompok kiri.

Hal ini diharapkan dapat menghilangkan dampak polarisasi bangsa yang terjadi akibat pertarungan politik di Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pemilihan Presiden (Pilpres) lalu.

“Partai Gelora harus berdiri, mewakili semua populasi, bukan kelompok-kelompok. Kita saat ini terpolarisasi,  setidaknya ada tiga kelompok, kelompok kanan, kelompok tengah atau moderat, dan kelompok kiri,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Senin (22/11/2021).

Menurut Anis Matta,  Partai Gelora membawa semangat aspirasi semua kelompok, bukan satu kelompok. Sehingga Partai Gelora lebih terbuka.

“Yang kanan biasanya menggunakan istilah umat. Yang tengah menggunakan istilah bangsa. Yang kiri menggunakan istilah rakyat. Bedanya apa rakyat, bangsa, ummat? Secara pengertian ini sama saja sebetulnya. Makanya kita di Partai Gelora menggunakan istilah gelombang rakyat karena kita mau keluar dari semangat mewakili kelompok,” jelasnya.

Sebagai partai terbuka, Anis Matta menegaskan, Partai Gelora tidak mewarisi pengelompokan lama dan lebih meng-Indonesia.

“Siapa saja boleh bergabung ke Partai Gelora, mau Islam, Kristen, Hindu atau Budha. Kita terbuka kepada siapa saja, apapun etnis dan suku bangsanya,” tegas Anis Matta.

Anis Matta mengaku, Partai Gelora masih sering dihubung-hubungkan dengan Partai Keadlian Sejahtera (PKS), padahal sudah tidak ada sangkut-pautnya sama sekali.

“Ini yang harus saya jelaskan, karena kita masih kerap dihubung-hubungkan dengan PKS. Kader PKS di Partai Gelora itu minoritas, sekitar 5 persen saja, lainnya dari berbagai kelompok dan agama. Dan sebagian besar kader kita, pendidikannya justru tingkat SD-SMA, mencermikan pendidikan rakyat Indonesia, tetapi mereka bisa memahami narasi 5 besar dunia, yang dianggap berat oleh sebagian elit politk,” ujarnya.

Karena itu, Partai Gelora harus bisa menjadi jembatan bagi semua kelompok, bukan membangun tembok yang menghalangi berbagai elemen lain.

Saat ini,  diperlukan kolaborasi semua kelompok agar Indonesia menjadi bangsa besar dan pemain global yang disegani.

Anis Matta menambahkan, Partai Gelora akan mengedepankan upaya untuk membangun  kedekatan dengan berusaha melakukan pertemuan langsung dengan masyarakat.

“Ini tidak bisa digantikan dengan apapun. Karena itu sekarang kita berusaha menjembatani ini di tengah pandemi sekarang ini,” pungkasnya.

Anis Matta: Islam Sampaikan Lima Pesan Bagaimana Hadapi Krisis

, , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, Islam secara lugas telah menjelaskan bagaimana seharusnya manusia bersikap dalam menghadapi krisis berlarut seperti krisis saat ini akibat pandemi Covid-19.

“Islam sebenarnya telah memberikan pesan kepada kita bagaimana menghadapi krisis. Dan gambaran tentang krisis tersebut ada di dalam Al Quran,” kata Anis Matta saat bedah buku karyanya berjudul ‘Pesan Islam Menghadapi Krisis’ yang diterbitkan oleh Poestaka Rembug pada Jumat (19/11/2021) malam.

Menurut Anis Matta, pesan tersebut dapat diringkas ke dalam lima pesan. Ternyata krisis bukan merupakan sesuatu yang gelap, yang tidak bisa dipelajari.

“Kalaupun ada fakta-fakta atau bukti-bukti yang terbukti dalam pendekatan scientific, maka itu sebenarnya ketidakmengertian kita terhadap apa yang terjadi, bukan dihadapkan dengan teori konspirasi,” katanya.

Masifnya informasi teori konspirasi ini, kata Anis Matta, menyebabkan banyak disinformasi yang berseliweran, berasal dari individu, perusahaan, kelompok tertentu, bahkan negara.

“Seperti sikap masyarakat menolak vaksin tertentu, itu efek dari teori konspirasi. Sehingga diperlukan tafsir pendekatan agama dan scientific, inilah pesan pertama. Semua bisa dipelajari dan ketika MUI memberikan fatwa, disinformasi tersebut perlahan hilang,” katanya.

Adapun pesan kedua adalah keimanan. Dimana public mood (suasana hati masyarakat) saat ini didominasi oleh rasa takut, sedih, emosi dan Frustrasi. Emosi negatif ini terus diulang dalam Islam agar ada proteksi keimanan.

“Gunanya untuk proteksi mood kita dari semua tekanan masalah. Apakah pandemi ini rekayasa atau natural, dan mahluk (Covid-19) yang lahir, semua atas kehendak Allah SWT. ujarnya.

Pesan ketiga adalah prilaku optimis, mengubah krisis menjadi peluang, karena kegamangan akan menyebabkan kehilangan relevansinya. “Fokus pada peluang dan membalikkan tekanan untuk melakukan pencapaian luar biasa,” katanya.

Sedangkan pesan keempat adalah inspirasi sejarah. Yaitu muncul ide baru, narasi lama mati atau muncul pemimpin baru, sementara pemimpin lama menjadi tidak relevan.

“Kita bisa mengambil inspirasi dari cerita Nabi Daud mengalahkan Jalut. Daud yang bertubuh kecil bisa mengalahkan Jalut yang besar,” katanya.

Terakhir,  pesan kelima adalah soal geopolitik. Islam jauh-jauh hari sudah mengungkapkan mengenai garis pertemuan dengan Romawi, setelah mengalahkan Persia dan menjadi kekuatan global baru saat itu.

“Pemahaman lemah orang terhadap krisis saat ini, akibat polarisasi Pilpres 2019 lalu. Tetapi bersamaan dengan pandemi, kesadaran beragama meningkat. Perspektif agama harus menjadi landasan untuk kita mengembangkan langkah selanjutnya,” tegas Anis Matta.

Ustaz Muhammad Jazir Asp, agamawan dan Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta mengatakan, Masjid Jogokariyan mampu memanfaatkan badai krisis saat ini menjadi peluang, sehingga memberikan nilai tambah secara ekonomi.

“Kita bisa membuat masker, alkohol, hand sanitizer, disinfektan, baju hasmat, bumbu masak hotel, bahkan dapat limpahan zakat. Ini semua nggak kepikir, kalau nggak ada krisis. Krisis kita lewati dengan kegembiraan,” kata Jazir.

Pengamat ekonomi dari CELIOS Bhima Yudhistara mengatakan, apa yang disampaikan Anis Matta dalam bukunya adalah sebuah kebenaran dalam Islam, dimana setiap krisis ada peluang.

“Sayang buku ini terbit, saat kasus sudah melandai. Saya juga melakukan riset, setiap krisis ada peluang dan sekarang banyak profesi baru. Makanya saya cukup optimis, dan kita tidak perlu pesimis, karena setiap krisis ada peluang,” kata Bhima Yudhistira.

Namun, Epidemiolog Universitas Airlangga M Atho’illah Isvandary mengingatkan,  kemungkinkan Indonesia dilanda gelombang ketiga Covid-19, setelah dua bulan gelombang keempat Covid-19 melanda Eropa.

“Gelombang Covid-19 di Indonesia selalu didahului gelombang Covid-19 di Eropa selalu didahului gelombang di Eropa. Prediksi kita dua bulan lagi akan ada gelombang ketiga di Indonesia,” kata Atho’illah.

Jadi Ikon Indonesia, Anis Matta: Malioboro Butuh Sentuhan Arsitektur Baru

, , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Sore itu,  Minggu (14/11/2021), di Malioboro, Yogyakarta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Anis Matta mengakhiri kegiatan perjalanan napak tiIasnya di tiga provinsi dalam rangka memperingati Hari Pahlawan, 10 Nopember 2021.

Selama sepekan dari 9-14 Nopember 2021, Anis Matta berkunjung ke Jawa Timur (Jatim), Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di Surabaya, Anis Matta ziarah ke Makam Bung Tomo, TMP Surabaya dan Museum HOS Tjokroaminoto.

Sedangkan di Jawa Tengah, Anis Matta mengunjungi TPI Juwana, Kabupaten Pati, pelaku UMKM Batik Semarang 16 dan Bandeng Presto New Citra di Semarang.

Sementara di Yogyakarta, Anis Matta melakukan kunjungan ke Dagadu Jogja, brand merchandise asli Jogja, disamping bertemu dengan para pelaku UMKM dan Ekonomi Kreatif di Kabupaten Bantul.

Dalam kunjungan ini, Anis Matta didampingi Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bidang Pengembangan Teritori (Bangter) III Wilayah Jatim, Jateng dan DIY, Ahmad Zainuddin dan beberapa fungsionaris Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelora lainnya, serta Ketua DPW di Bangter III.

“Saat ini, di tempat yang paling sering saya rindukan, yaitu Malioboro. Saya mengakhiri perjalanan napak tilas saya selama 7 hari ini, ke Jawa Timur, Jawa Tengah dan Yogyakarta,” kata Anis Matta.

Malioboro adalah kawasan wisata yang berdekatan dengan keraton Yogyakarta Nama Malioboro diambil dari bahasa Sansekerta yang memiliki arti Karangan Bunga.

Nama Malioboro juga terinspiasi dari nama seorang colonial Inggris yang tinggal di Yogyakarta pada tahun 1811- 1816 yang bernama Marlborough.

Malioboro mulai dikenal oleh semua orang, setelah dibangunnya benteng Vredenburg dan juga stasiun Tugu Yogyakarta.  Kawasan ini berubah menjadi kawasan perdagangan antara pedagang Belanda dan pedagang Tionghoa kala itu

Namun, ketika zaman sudah berubah, wajah Malioboro juga berubah total. Kawasan Malioboro terlihat semrawut dan tidak tertata rapih, penuh sesak oleh para pedagang kaki lima, pedagang asongan becak dan juga andong, disamping kemacetan parah.

“Tempat ini dalam beberapa tahun terakhir mengalami banyak perubahan. Saya kira perlu  ada sentuhan arsitektur yang lebih bagus dan perubahan pada perwajahan Malioboro secara keseluruhan,” katanya.

Didampingi Mahfuz Sidik, Ketua Bidang Pengembangan Teritori III Ahmad Zainuddin dan Ketua DPW DIY Zuhrif Hudaya, Anis Matta menyusuri kawasan Malioboro sepanjang kurang lebih 3 km. 

Selain melakukan pengamatan, Anis Matta mendapatkan banyak masukan mengenai pengelolaan kawasan Malioboro, keberadan PKL yang tidak tertata justru mematikan usaha yang berada di pertokoan di belakangnya.

“Tidak boleh ada yang dirugikan, ekonomi yang di belakang dan diatasnya harus berjalan. Ini saya lihat tidak berjalan. Kalau lihat seperti ini, keunikan dari Malioboro, serasa hilang” katanya.

Anis Matta menilai keunikan dari Malioboro adalah banyaknya orang berlalu-lalang, bukan untuk berbelanja. Karena itu, semua aktivitas ekonomi harus berjalan, tidak ada yang boleh dirugikan, sehingga diperlukan penataaan agar orang tertarik dan nyaman datang ke Malioboro.

Ketua DPW Partai Gelora DIY Zuhrif Hudaya mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk melakukan penataan, termasuk penertiban yang dilakukan Pemprov DIY. Namun, hingga kini tidak membuahkan hasil. Kondisi Malioboro tetap semrawut dan PKL menolak untuk dipindahkan.

“Para seniman juga telah membuat desainnya, tetapi tidak pernah dieksekusi, sehingga malas dan dibiarkan sampai sekarang,” kata Zuhrif.

Anis Matta berharap Pemprov DIY dan Pemkot Yogyakarta melakukan penataan kawasan Malioboro. Kawasan Malioboro diperlukan sentuhan arsitektur yang lebih bagus. Sehingga ada perubahan pada perubahan perwajahan Malioboro dari kesan semrawut, tidak tertata menjadi kawasan yang memiliki keindahan dan cita rasa yang bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi.

“Nilai tambah secara ekonomi ini akan memperkokoh posisi Yogyakarta sebagai kota seni dan budaya, karena Malioboro adalah salah satu penanda keistimewahan Kota Yogyakarta,” tegas Anis Matta.

Ia menyampaikan undangan terbuka kepada semua pihak agar secara bersama-sama memikirkan penataan Malioboro. Sebab, Malioboro saat ini tidak hanya menjadi ikon keistimewaan Yogyakarta, tetapi juga penanda keistimewaan Indonesia dalam sektor pariwisata. 

“Ini undangan terbuka kepada kita semua untuk memikirkan bagaimana menjadikan Malioboro,  bukan hanya ikon dan penanda keistimewaan Jogjakarta saja, tapi juga penanda keistimewaan Indonesia,” ujar Anis Matta.

Anis Matta mengungkapkan, kepeduliannya terhadap Yogyakarta adalah bagian dari wasiat dari ayahandanya. Ayahnya adalah seorang pedagang perak asal Bugis dan pernah tinggal di Yogyakarta selama 17 tahun. “Ini wasiat Bapak saya yang belum tercapai, Beliau pernah tinggal 17 tahun di Jogya,” katanya.

Ia sudah meminta Ketua DPW Yogyakarta Zuhrif Hudaya untuk membuat sayembara atau lomba desain arsitektur penataan kawasan Malioboro. Desain pemenang lomba tersebut, nantinya akan diberikan ke Pemprov DIY dan Pemkot Yogyakarta sebagai rekomendasi penataan kawasan Malioboro.

“Saya sudah meminta Pak Zuhrif (Ketua DPW Partai Gelora Yogyakarta Zuhrif Hudaya) segera mengadakan lomba penataan Malioboro,” ungkapnya.

Mengakhiri perjalanannya di Malioboro, Anis Matta mampir di Kedai Kopi Kenangan untuk melepaskan penat sejenak, sebelum meneruskan perjalanan pulang ke Jakarta.  Anis Matta juga sempat menyanyikan lagu ‘Andai Kau Datang’ yang dipopulerkan grup band legendaris Koes Plus.

Ditemani seorang mahasiswi Jogya dan seniman jalanan Malioboro, Anis Matta melantunkan syair demi syair lagu ‘Anda Kau Datang’. Terlalu indah dilupakan, Terlalu sedih dikenangkan, Setelah aku jauh berjalan, Dan kau kutinggalkan ….

Beri Ucapan Milad 109, Anis Matta: Visi Besar Muhammadiyah Melampaui Zamannya

, , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, organisasi Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912 lalu, memiliki visi besar yang jauh melampaui zamannya.

Hal itu disampaikan Anis Matta saat menyampaikan ucapan Milad 109 Persyarikatan Muhammadiyah di Jakarta, Kamis (18/11/2021).

“Muhammadiyah lahir dari gagasan memajukan umat melalui amal usaha terutama di bidang pendidikan yang mencerahkan dan kesehatan yang memberdayakan. Visi besar KHAhmad Dahlan yang jauh melampaui zamannya,” kata Anis Matta dalam keterangannya.

Menurut Anis Matta, visi besar dan semangat itu telah dia rasakan saat dirinya belajar di Pondok Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam di Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) beberapa waktu silam.

Di pondok pesantren ini,  Anis Matta menimba ilmu agama  selama enam tahun dan menjadi alumni pada 1986.

“Saya merasakan visi dan semangat itu pada guru saya, KH Abdul Djalil yang memimpin Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam di Gombara, Makassar kala itu, ” katanya.

Menurut Anis Matta, di tengah segala keterbatasan, KH Abdul Djalil selalu mengajak murid-muridnya punya mimpi besar dan cakrawala yang luas.

Anis Matta mengaku selalu terkenang dengan guru-guru Muhammadiyah yang bukan saja mengajar, tapi menjadi motivator bagi murid-muridnya.

“Tempat ini dulu terpencil dan sepi. Kita belajar di bawah pohon, tapi kami selalu tersambung dengan cita-cita besar, karena guru kami dulu semuanya motivator,” lanjut Anis Matta mengurai kenangannya.

Karena itu, Anis Matta selalu mengingat jasa-jasa gurunya tersebut, yang telah menjadikannya sebagai seorang motivator, menjadikan Indonesia kekuatan lima besar dunia.

“Kini, pada usianya yang ke 109 tahun, saya percaya Muhammadiyah akan terus menjadi elemen bangsa yang mendorong kemajuan dan persatuan dalam membangun peradaban Indonesia,” katanya.

“Selamat milad Muhammadiyah. Teruslah menebar optimisme dan nilai-nilai utama. Semoga Allah memberkati semua amal usaha Muhammadiyah dan seluruh bangsa Indonesia,” ujar Anis Matta.

Legalkan Perzinahan di Perguruan Tinggi, Partai Gelora Minta Permendikbud No.30 Didrop dan Dibatalkan

, , , , , ,

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) menilai Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Permendikbud Ristek) Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Perguruan Tinggi dinilai menodai kesucian lembaga pendidikan tersebut. Kontennya lebih cenderung mengarah dan mengizinkan perzinahan.

Permendikbud tersebut juga dianggap telah kehilangan orientasi nilai dan sesat budaya, sehingga perlu didrop dan dibatalkan.

“Permendikbud tersebut telah kehilangan orientasi nilai budaya ketimuran dan sesat akademis yang bermartabat dan bermoral sebagai civitas akademika. Jauh dari kesan mendidik. Harapan saya itu di drop, batalkan karena jelas menodai kesucian lembaga perguruan tinggi,” kata Tina Tamher, Wakil Ketua Bidang Hukum, HAM dan Advokasi DPN Partai Gelora Indonesia dalam keteranganya, Selasa (16/11/2021).

Menurut Tina,  aturan tersebut dinilai mengakomodasi pembiaran praktik perzinaan di kampus lantaran perbuatan asusila yang diatur dalam Permendikbud Ristek Nomor 30 Tahun 2021 tidak dikategorikan sebagai kekerasan seksual jika suka sama suka atau mendapat persetujuan dari korban.

“Aturan Permendikbud tersebut sama saja melegalkan perbuatan asusila dan perzinahan,” katanya.

Tina menyesalkan jika regulasi tersebut diteruskan. “Sungguh disesalkan regulasi semacam ini ada di Indonesia yang menjunjung tinggi harkat martabat perempuan dan nilai-nilai agama,” katanya.

Aktivis perempuan ini menilai proses pembentukan Permendikbud Ristek tersebut, juga tidak memenuhi asas keterbukaan dalam proses pembentukannya.

Tidak terpenuhi asas keterbukaan tersebut terjadi karena pihak-pihak yang terkait dengan materi Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 tidak dilibatkan secara luas, utuh, dan minimnya informasi dalam setiap tahapan pembentukan.

Hal ini bertentangan dengan Pasal 5 huruf g Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan yang menegaskan bahwa pembentukan peraturan perundang-undangan (termasuk peraturan menteri) harus dilakukan berdasarkan asas keterbukaan.

Juga, Permendikbud Ristek nomor 30 Tahun 2021 tidak tertib materi muatan. Terdapat dua kesalahan materi muatan yang mencerminkan adanya pengaturan yang melampaui kewenangan, yaitu:

Pertama, Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 mengatur materi muatan yang seharusnya diatur dalam level undang- undang, seperti mengatur norma pelanggaran seksual yang diikuti dengan ragam sanksi yang tidak proporsional.

Kedua, Permendikbud Ristek No 30 Tahun 2021 mengatur norma yang bersifat terlalu rigid dan mengurangi otonomi kelembagaan perguruan tinggi (Vide Pasal 62 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi) melalui pembentukan ‘Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual’ (Vide Pasal 23 Permendikbudristek No 30 Tahun 2021).

Pembuatan peraturan menteri itu, lanjut Tina, seharusnya mengacu pada hukum diatasnya. Pembuatan UU, Peraturan-peraturan lainnya pun harus menjunjung tinggi nilai Moralitas.

“Karena itu diatas Hukum, ketika Hukum bertentangan dengan moral maka hukum kehilangan legalitasnya,” pungkas Tina Tamher.

Hingga kini gelombang protes berbagai pihak terhadap Permendikbud Ristek No 30 tahun 2021 terus bermunculan. Mulai Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, Nahdatul Ulama, para aktivis perempuan dan kelompok masyarakat lainnya.

YESPreneur Beri Pelatihan dan Pendampingan Legalitas Usaha UMKM di Cirebon

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) melalui YESPreneur memberikan pelatiihan dan pendampingan legalitas usaha untuk UMKM di Desa Bojong Gebang, Babakan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, pada Minggu (14/11/2021).

Ketua Bidang UMKM dan Ekonomi Keluarga (Ekkel) DPN Partai Gelora Indonesia Srie Wulandari mengatakan, pelatihan dan pendampingan merupakan lanjutan program peningkatan Neraca Rumah Tangga dari Bidang UMKM dan Ekkel Partai Gelora.

“Pelatihan dan pemdampingan yang dilakukan yakni pelatihan membuat Nomer Induk Berusaha (NIB) di Desa Bojong Gebang, Babakan Kabupaten Cirebon,” kata Srie Wulandari.

Menurut Coach Wulan – sapaan akrab Srie Wulandari, pendampingan akan ini mendorong semua pelaku UMKM teregistrasi legalitas usahanya. Sehingga mendapat jaminan perlindungan hukum dan bisnisnya semakin terpercaya memiliki potensi berkembang.

“Hal ini pastinya sejalan dengan dengan komitmen kami dalam mendukung peningkatan UMKM agar dapat menjadi pilar ekonomi Indonesia,” ujarnya.

Selama enam bulan kedepan tim di Bidang UMKM dan Ekkel yang ada di seluruh DPW, ungkapnya, akan serentak fokus terhadap pendampingan UMKM untuk mendaftarkan legalitas usaha para UMKM di wilayahnya.

“Targetnya sebanyak 500 UMKM di setidap daerah apat memperoleh nomor induk berusaha,” ujar Wulan.

Pelatihan ini dihadiri beberapa komunitas dari pengusaha, antara lain pengusaha batik, tas kulit, katering, sulaman rajut, usaha kuliner dan usaha lainnya di Desa Bojong Gebang, Kabupaten Cirebon.

Pelatihan ditutup dengan penyerahan cinderamata dari YESPreneur sebagai kepada ketua komunitas pengusaha tersebut, oleh Ketua Bidang UMKM dan Ekkel DPN Partai Srie Wulandari yang disaksikan Sekretaris DPD Partai Gelora Kabupaten Cirebon.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X