Category: Artikel / Blog

Hari Kesaktian Pancasila Momentum Kemenangan Ideologi Negara dan Kesetiaan pada Bangsa

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Kita mengenang peristiwa G30S PKI tahun 1965 sebagai tragedi pengkhinatan kepada bangsa dan ideologi negara. Sebaliknya, kita mengenang Hari Kesaktian Pancasila yang datang sehari sesudahnya sebagai momentum kemenangan ideologi negara dan kesetiaan pada bangsa.

Lebih dari setengah abad setelah peristiwa hitam itu, 46,4% publik masih percaya bahwa ancaman kebangkitan PKI itu nyata. Peristiwa hitam itu memang terlalu kejam dan bengis, sehingga lukanya sangat dalam. Pengkhianatan Berdarah dan Patriotisme Ideologi akan terus menghiasi wajah memori kolektif kita setiap bulan September dan Oktober.

Memori kolektif begitu selalu menjadi rujukan kognitif setiap bangsa ketika mereka membaca peta masa lalunya, tahapan-tahapan penting dalam perjalanan sejarahnya. Memori kolektif itu harus kita rawat, sebab itu membantu kita membaca situasi kita saat ini dan di masa mendatang.

Dalam perspektif kekinian dan masa depan itulah saya melihat ada 3 catatan penting. Pertama, yang paling buruk dalam sejarah ideologi Komunisme global bukan saja bahwa ia gagal bekerja sebagai sistem, tapi juga jejaknya dalam pembunuhan puluhan juta manusia atas nama ideologi. Puluhan juta rakyat Uni Soviet, China, dan negara-negara lain di bawah Sistem Komunisme menjadi menjadi korban kelaparan dan pembantaian. Itulah yang menyebabkan China segera beralih ke Kapitalisme begitu Mao wafat pada 1976. Lalu Uni Soviet runtuh tahun 1991 dan juga segera beralih ke Kapitalisme.

Sebagai ideologi, Komunisme tidak memiliki instrumen metodologi untuk melakukan koreksi dan pembaharuan di dalam dirinya. Itu yang membedakannya secara fundamental dgn Kapitalisme. Ide Sosialisme Pasar yang diperkenalkan Deng Xiaoping 1984 sebenarnya lebih merupakan “siasat bahasa” dan “mekanisme kontrol” yang ditujukan untuk mengelola transisi persuasif menuju Kapitalisme. Pasarnya bekerja dengan cara Kapitalisme, tapi kontrol atas populasi yang sangat besar dilakukan dgn instrumen ideologi Komunisme. Selama 30 tahun pertama pendekatan itu tampak efektif. Tapi kontradiksi sistemiknya dalam satu dekade terakhir ini mulai memperlihatkan tanda-tanda buruk.

Kedua, secara geopolitik peristiwa berdarah G30S PKI tahun 1965 itu merupakan “residu” Perang Dingin (1946-1991). Kita menjadi “korban” dari perang proxy antara Kapitalisme dan Komunisme, antara Blok Barat dan Blok Timur. Kita adalah “collateral damage” dalam tatanan dunia yang bipolar. Kedua blok itu berperang dalam sebuah drama yang tegang, dimana seluruh belahan dunia menjadi panggung, sedemikian tegangnya sampai ke tepi jurang, tapi yang masuk ke dalam jurang adalah kita. Bukan mereka. Sampai salah satunya kalah. Lalu runtuh.

Itu menjelaskan “kelas kasta” kita dalam percaturan geopolitik global. Itu nasib buruk atau takdir sejarah yang selalu menimpa bangsa-bangsa yang lemah dan lembek. Jika memori sejarah kita membuat kita menangis, sebenarnya kelemahan kolektif itulah yang harus kita tangisi. Itu akan membangkitkan harga diri kita sebagai bangsa. Dan lebih penting lagi, juga akan memaksa imajinasi kolektif untuk bekerja secara liar mencari peta jalan menjadi bangsa besar dan kuat. Itu juga akan mendorong kita tidak memberi toleransi moral dan politik untuk menjadikan bangsa dan negara kita sebagai “medan tempur” bagi kekuatan global, terutama di tengah konflik supremasi AS-China. Atau yg lebih buruk lagi, bahwa kita menjadi proxy dari salah satu kekuatan global itu.

Inilah waktunya Indonesia muncul sebagai kekuatan global baru. Itulah amanat Konstitusi kita: ikut serta melaksanakan ketertiban dunia. Dan itulah terjemahan operasional dari falsafah hubungan internasional kita: bebas aktif. Hanya dalam imajinasi masa depan seperti itu, memori sejarah kita bisa menjadi sumber inspirasi yang memaknai semagat keindonesiaan kita, dan memicu gelora kebangkitan kita. Cita-cita sejarah inilah yang seharusnya menjadi sumber nasionalisme baru yang kita butuhkan.

Ketiga, sejarah membuktikan bahwa agama dan keluarga adalah nilai utama bangsa Indonesia. Itu menjelaskan pilihan-pilihan tengah yang selalu diambil bangsa kita. “Watak Tengahan” itu merupakan antitesa dari semua bentuk ekstremisme, baik Kiri maupun Kanan. Watak Tengahan inilah yang sebenarnya terangkum dalam Pancasila sebagai platform kehidupan berbangsa kita. Ini juga yg akan menjadi “ikatan imajiner” yang bisa secara terus menerus mempersatukan kita sebagai bangsa besar, seperti ia mempersatukan menjelang kemerdekaan sebagai bangsa merdeka. Kita memiliki fondasi yang kokoh sebagai negara-bangsa moderen.

Kita tidak boleh membiarkan “dendam sejarah” merusak “mimpi masa depan” kita. Watak Tengahan itu juga memaksa kita tidak membiarkan para pendendam menarik kita ke belakang atau membelokkan arah sejarah masa depan kita. Kita harus fokus utk membalikkan krisis berlarut ini menjadi momentum kebangkitan Indonesia menjadi kekuatan global baru.

Gelorakan semangat Indonesia..!!

Anis Matta
Ketua Umum Gelora Indonesia

Geloranomics, Sebuah Ide Awal

, , ,

Partaigelora.id – Geloranomics secara implisit pernah disampaikan oleh Anis Matta dalam grup diskusi. Ide dasar Geloranomics menurut Anis Matta adalah “Pertumbuhan berorientasi keselamatan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, berbasis teknologi dengan fokus ekonomi domestik.” Atau dalam diskusi dengan Rocky Gerung beberapa hari yang lalu disederhanakan menjadi dua kata kunci yaitu keadilan lingkungan dan keadilan sosial.

Ada lima kosa kata yang menjadi ide dasar dari Geloranomics jika kita mau bedah agak mendalam;

  1. Pertumbuhan

Pertumbuhan ekonomi secara umum dapat diartikan sebagai proses perubahan yang secara berkesinambungan menuju kondisi yang lebih baik dalam kondisi perekonomian suatu negara. Ekonomi suatu negara sendiri dapat dikatakan bertumbuh jika kegiatan ekonomi masyarakatnya berdampak langsung kepada kenaikan produksi barang dan jasanya.

Pertumbuhan ekonomi menggunakan 3 indikator. Ketiga indikator itu adalah pendapatan per-kapita dan peningkatan pendapatan nasional, jumlah pengangguran lebih kecil ketimbang jumlah tenaga kerjanya, dan menurunnya tingkat kemiskinan.

Analisa-analisa pertumbuhan ini bagian dari geloranomics, cuma perbedaannya adalah bahwa analisa-analisa ini berorientasi pada keselamatan lingkungan.

  1. Berorientasi pada Keselamatan Lingkungan

Dalam ulasan buku Limit to Growth (Club of Rome) yg diterbitkan tahun 1972 didapat salah satu kesimpulan bahwa jika trend pertumbuhan yang pada waktu itu terjadi terus berlanjut maka peradaban manusia akan memasuki kondisi ‘overshoot’, yaitu melampaui batas pertumbuhan yang sanggup diakomodasi oleh planet bumi yang terbatas. Kondisi ini bisa mengakibatkan penurunan drastis kapasitas industri dan populasi manusia. Atau dengan kata lain: bencana peradaban. Sumberdaya manusia terus bertumbuh, tetapi sumberdaya alam terbatas. Atau dalam istilah Anis Matta sumber utama pembahasan trend ekonomi ke depan adalah bumi dan manusia.

Pertumbuhan ekonomi yang berorientasi pada keselamatan lingkungan merupakan aspek pertama yang dikembangkan dalam ide awal geloranomics. Presiden Amerika Joe Biden dalam pidatonya beberapa waktu lalu me-mention Indonesia dalam issue keselamatan lingkungan ini;

Menurut Biden apabila pemanasan global terus terjadi maka bisa berdampak pada mencairnya es di kutub sehingga permukaan air laut naik.

Karenanya menurut dia tak menutup kemungkinan bisa saja 10 tahun mendatang Jakarta bisa saja tenggelam.

“Apa yang terjadi di Indonesia jika perkiraannya benar bahwa dalam 10 tahun ke depan, mereka mungkin harus memindahkan ibu kotanya karena akan tenggelam?” kata Biden.

Issue Jakarta tenggelam ini menemui relevansinya dengan data dari Ketua Laboratorium Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB yang menyampaikan ada 112 kota/kabupaten yang berpotensi tergenang.

Pertumbuhan ekonomi yang berorientasi laingkungan adalah langkah relevan menghadapi situasi ekonomi saat ini, ditambah situasi saat ini dimana pertumbuhan cenderung melambat karena pandemi. Bahkan dalam diskusinya Anis Matta menyampaikan bahwa jangan-jangan kita tidak memerlukan pertumbuhan untuk mempertahankan sumberdaya yang ada?

  1. Pemberdayaan Masyarakat

Selain berorientasi pada kesalamatan lingkungan, geloranomics juga berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan masyarakat adalah menciptakan masyarakat berpengetahuan yang menghasilkan teknologi untuk mencapai kesejahteraan atau kemakmuran bersama. Ruang-ruang dibuka lebar kepada masyarakat dalam mengakses sumber-sumber ilmu pengetahuan, sumberdaya ekonomi dan juga akses teknologi, maka keadilan sosial untuk kemakmuran bersama akan terwujud.

  1. Teknologi

Kesenjangan pertumbuhan sumberdaya manusia dan keterbatasan sumberdaya alam bisa di atasi dengan teknologi. Secara singkat, teknologi dapat diartikan sebagai penerapan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis dalam kehidupan manusia. Teknologi berperan untuk efektifitas dan efisiensi dalam memanfaatkan semua sumberdaya yang ada. Geloranomics sejak awal menjadikan teknologi sebagai instrumen dalam mengatasi keterbatasan sumberdaya alam. Karena manusia memiliki ilmu pengetahuan yang terus berkembang sehingga manusia punya kemampuan mengelola sumberdaya alam secara efektif dan efisien.

  1. Fokus Ekonomi Domestik

Geloranomics bertujuan untuk mencapai kemakmuran bersama. Kemakmuran bersama menuntut ketersediaan sumberdaya pangan bagi manusia dalam mempertahankan hidupnya. Anis Matta menyampaikan bahwa fokus ekonomi domestik adalah dimana kita memiliki cukup semua sumberdaya yang mampu membuat kita bertahan hidup tanpa bantuan orang lain. Dengan kata lain, fokus ekonomi domestik adalah mengoptimalisasi sumberdaya manusia, sumberdaya alam dan teknologi yang kita miliki sendiri demi kemakmuran bersama.

Lima ide awal ini kira-kira yang akan di eksplorasi lebih lanjut oleh para expert dalam merumuskan geloranomics agar lebih relevan dan lebih praktis dalam mewujudkan Indonesia sebagai lima kekuatan besar dunia.

Muhmmad Irfan (Irfan Enjo)

Staf Bidang Narasi DPN Partai Gelora Indonesia, serta Kabid Media dan Komunikasi DPW DKI Jakarta

Geloranomics, Ekowisata dan Kemilau ‘Invisible Export’ Indonesia di Masa Depan

, , ,

Partaigelora.id – Partai Gelora mengusulkan konsep ‘Geloranomic’ sebagai narasi peta jalan baru dalam mengatasi krisis berlarut saat ini. Fokus dari konsep ini adalah mengusung keadilan sosial dan keadilan lingkungan dengan dua tema besar yaitu bumi dan manusia.

Saat ini kedua hal dalam konsep ini tidak berjalan seiringan bahkan bisa dikatakan arahnya sudah melenceng, bisa kita lihat dari banyaknya lingkungan yang rusak akibat eksploitasi berlebihan, serta kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang tidak meningkat akibat hasil alam hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta menyatakan kemakmuran kolektif bisa tercapai asalkan kedua unsur pertumbuhan tersebut terpenuhi.

Outputnya harus ada pertemuan yang seimbang antara bumi dan manusia. Pertama bumi adalah rumah kita, sehingga harus kita rawat dan kita jaga. Kedua adalah pemberdayaan masyarakat manusianya sendiri.

Partai Gelora, lanjutnya, mengusulkan satu tema besar lagi dalam konsep ‘Geloranomics’, yakni kesejahteraan sebagai sumber kemakmuran.

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kelebihan berlimpah berupa sumber daya alam baik di daratan, udara, maupun perairan, keseluruhan potensi ini merupakan sumber daya ekonomi yang bernilai tinggi serta bisa dijadikan sebagai media pendidikan dan pelestarian lingkungan.

Potensi Ecotourism (dalam bahasa Indonesia: ekowisata) yang dimiliki Indonesia berupa keanekaragaman hayati, keunikan dan keaslian budaya tradisonal, keindahan bentang alam, gejala alam, dan peninggalan sejarah/budaya perlu dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat.

Ecotourism adalah suatu kegiatan yang memanfaatkan sumber daya alam meliputi flora, fauna, iklim, keindahan alam yang dimanfaatkan untuk kepentingan rekreasi, studi dan ilmu pengetahuan dengan mengikutsertakan potensi masyarakat sekitar yang mencakup kebudayaan, adat istiadat, kesenian, makanan, obat-obatan/jamu dan segala aktifitasnya.

Dalam era saat ini, green issue tidak hanya sebagai syarat dalam agenda politik di suatu negara, dan merupakan isu hangat yang diperbincangkan.

Munculnya istilah eco-tourism, back to nature, suistanable tourism dan lain lain, menunjukkan bahwa pariwisata sekarang harus diterima secara politis, bertanggung jawab secara sosial, menguntungkan secara ekonomi dan berwawasan lingkungan.

Invisible export merupakan suatu kegiatan memperoleh devisa tanpa mengirim barang ke luar negeri, akan tetapi kita memeroleh devisa dari pembelanjaan wisatawan (dalam ekonomi pariwisata).

Oleh karena itu, hal yang wajar dan patut diperjuangkan oleh kader Partai Gelora Indonesia untuk berinovasi dan mencari potensi eco-tourism didaerah masing-masing untuk dikembangkan bersama masyarakat, yang mana hal ini nantinya akan berakibat positif bagi peningkatan perekonomian masyarakat.

Secara tidak langsung juga akan meningkatkan kredibilitas kader Partai Gelora Indonesia di mata masyarakat.

Semangat berGelora, Rekrutmen Tanpa Batas 💪💪

NR. Panca Hidhayad
Kabiro Monitoring dan Dukungan Wilayah, Bidang Rekrutmen Anggota DPN Partai Gelora Indonesia

Pseudoscience & Hoax, Tantangan Penanganan Covid-19

, , , , ,

Partaigelora.id – Tapi ada yang meninggal setelah divaksin. Ya, ada, berapa banyak angkanya dibanding yang selamat?

Tapi ada yang menghirup minyak kayu putih sembuh. Ya, sembuh dari apa, Covid19 atau masuk angin?

Tapi mandi uap mengusir virus. Ok, lalu mandi uap rame-rame, kalau ada penyintas yang bergabung apa gak saling menulari di ruang tertutup?

Tapi minum susu beruang menyembuhkan Covid19. Ok, meningkatkan imun sehingga terhindar atau menyembuhkan yang telah terpapar?

Namun harap mahfum, seisi bumi ini memang sedang disergap kebingungan, merespon pandemi dengan gagap. Hipotesis muncul kemudian diralat. Hasil riset A patah karena ada yang terbaru. Sebagian respon untuk menangkal berjalan di Eropa, tapi tidak di tropis kawasan Asia.

Kancah kompetisi sepakbola Eropa dibuka, kerumunan diperbolehkan, masker dilepas, kemudian Eropa didatangi varian Delta. Begitu juga di Amerika Serikat. Konser musik digelar, lalu kasus positif kembali menaik. Tak beda dengan di Wuhan, Tiongkok.

Tapi yang bikin kacau ada yang namanya pseudoscience. Pseudoscience, alias pengetahuan yang samar, atau bukan pengetahuan tapi terasa-terlihat seperti science, mendominasi alam pikir masyarakat. Derajat lebih tinggi adalah hoax yang tak bisa dilacak kebenaran, sumber dan logikanya, menyebar cepat.

Bayangkan untuk meluruskan science vs pseudoscience Indonesia sampai harus ‘kedatangan’ @faheemyounus – dokter di University of Maryland Upper Chesapeake Health, Maryland, mencuit di akun Twitternya dengan bantuan Google Translate supaya dipahami bahasa orang kita.

Salah satu residu dari meluasnya penggunaan media sosial adalah ruahnya berbagai informasi yang kemudian melahirkan masyarakat malas berpikir. Karena saringan tak mampu lagi menahan arus informasi, maka akal sehat – yang awalnya bahkan hanya mencerna informasi pada permukaannya saja – kemudian benar-benar tumpul.

Tapi, sebetulnya, kata James Ball dalam Post Truth (Biteback, 2017), salah satu ciri hoax adalah ‘grabby, easy to understand, easy to share’. Gampang didapat. Gampang dipahami dan gampang dibagikan. Dan kemudian salah. Mengapa? Karena hoax dikreasi memang untuk meng-entertain yang pendek berfikirnya.

Jadi, sensor pertama yang perlu dipunya untuk menyortir hoax adalah kemampuan logika dan bahasa. Mengapa di Indonesia hoax subur? Karena skor Indonesia di kompetensi logical thinking (yang didapat dari kemampuan matematik) dan semantik-linguistik (yang diasah dari kegemaran baca) ada di posisi ke-62 dari 70 negara yang disurvei (Kompas, 12 Januari 2018).

Ketika di negara lain informasi melimpah – terutama menjalar melalui media elektronik – bisa diolah menjadi penerawangan ide, olah data, membaca gejala, membuat program dan proyeksi skenario serta pengambilan keputusan, di Indonesia yang terjadi adalah penumpukan kerak dan kotoran.

Gumpalan informasi ditelan utuh tanpa saringan. Menyumbat dan muncratlah jadi informasi tak penting yang sebagiannya rekayasa dan kebohongan. Kasus Covid19 susah tertangani karena dua virus pseudoscience dan hoax subur di Indonesia.

Diluar ketidaktegasan pemerintah dan lemahnya manajemen penanganan. “Cuma di Indonesia Covid19 ditangani dengan gonta-ganti istilah dan membayar buzzer,” kata Rizal Ramli di acara Gelora Talks.

Endy Kurniawan
Ketua Bidang Rekrutmen Anggoat DPN Partai Gelora Indonesia

Gelora adalah Ruang Besar Berseminya Ide

, , , , ,

Partaigelora.id – Rusaknya Indonesia dengan perilaku korupnya karena menjadikan politik layaknya industri yang menghasilkan keuntungan, bukan menghasilkan gagasan untuk memberikan solusi disetiap persoalan kebangsaan. Partai politik bak kandang ternak yang menghasilkan uang, dan negara adalah sapi perahnya.

Tingkah laku pejabat publik partai yang korup, gaji besar dan tunjangan fasilitas serba mewah, memicu publik mempersepsikan partai adalah mesin penghasil uang, maka pragmatis sekali publik melihat partai. Setiap gerakan partai dimata publik, ada uangnya.

Inilah lingkaran setan yang terus menerus terjadi, partai mencari suara harus dengan uang karena publik memintanya, dan karena partai sudah mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan suara, maka partai memperkerjakan pejabat publiknya sebagai mesin pencetak uang. Koruplah ia…., Dalam bahasa jawa “Golek Balen” nyari uang kembali.

Salah satu cita-cita Partai Gelora lahir, adalah ingin memutus rantai ini, oleh karenanya ia lahir dengan ide bukan dengan uang. Apa modal Anis Matta, Fahri Hamzah, Mahfuz Sidik dan tokoh lain kalau bukan dengan pikirannya. Mereka bukan milyader kaya raya seperti tokoh partai besar lain yang bisa membeli apapun. Sekarang kita lihat, dengan modal pikiran, Partai Gelora sudah ada di seluruh Indonesia.

Ide Arah Baru Indonesia, mewujudkan Indonesia 5 besar dunia, ini adalah ide dasar Partai Gelora. Partai Gelora mengajak anak-anak bangsa yang memiliki cita-cita yang sama, dan ternyata banyak yang menerima ide besar ini, dan alhamdulillah, insyaallah akhir tahun ini anggota partai gelora mencapai 1 juta anggota.

Terus saja sampaikan ide dan gagasan ini, yakinlah masih ada kader-kader bangsa yang penuh dengan kerelaan, tidak melulu karena uang bergabung, ia juga membawa ide-idenya, dan justru ini yang perlu diperbanyak. Generasi lama yang pragmatis akan berganti dengan generasi baru dan Partai Gelora jadi wadahnya. Agar Partai ini benar-benar menjadi partai ruang ide bukan partai pencetak uang.

Untuk itu, Partai Gelora menggencarkan program OK (Orientasi Kepartaian) Partai Gelora, Akademi Pemimpin Indonesia, Akademi Manusia Indonesia dan banyak lagi ruang diskusi. Gelora ingin menciptakan gelombang baru, arah baru, dengan ide dan gagasan membangun bangsa Indonesia. Menciptakan kader-kader bangsa yang bermental pahlawan yang rela berkorban untuk kepentingan rakyat Indonesia, bukan kader partai yang meminta-minta.

Indonesia tidak akan keluar dari ketertinggalan, bila partai sebagai organisasi pencetak kepemimpinan nasional dan rakyat sebagai pemilih, masih memiliki mindset pragmatis, “mencari” bukan memberi.

Melalui Partai Gelora ini, mari kita sudahi lingkaran setan ini.

Arka Atmaja
Humas DPW Partai Gelora Indonesia Jawa Tengah

Banyak Cara Merekrut Anggota

, , , , ,

Partaigelora.id – Prinsip umum rekrutmen anggota menganut asas keterbukaan dan tidak membatasi siapa yang bergabung. Fungsi rekrutmen pada partai Gelora jika dijalankan dengan benar dapat menjadi pintu masuk sekaligus menjadi faktor pendorong bagi praktik demokrasi yang baik di negara Indonesia .

Secara umum kendala rekrutmen anggota adalah rendahnya minat masyarakat menjadi anggota partai, konsekuensi logis dari hal ini adalah perlunya meningkatkan kesadara setiap kader partai Gelora untuk mencari dan mengajak anggota baru dari lingkungan masing-masing. Baik lingkungan keluarga, pekerjaan, hobi, serta lingkungan pergaulan lainnya.

Partai Gelora sudah memberikan fasilitas terkait hal ini dalam bentuk program Member Get Member (MGM) dan Member Get Family (MGF). Semua ini akan efektif jika semua kader partai Gelora ikut melangkah dan menjalankan program ini dengan sukarela dan semangat tinggi untuk perubahan Indonesia menuju lima besar dunia.

Untuk memperoleh anggota, kader partai Gelora bisa melakukan sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan proses penjaringan. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan partai kepada seseorang atau kelompok, baik secara ideologis bagi calon anggota yang belum pernah menjadi anggota partai, jalur kerabat kader partai maupun organisasi kepemudaan dan lainnya.

Instrumen penjaringan anggota bisa melalui beberapa media seperti kegiatan sosial, pelatihan UMKM, program sekolah Kejar Paket A-B-C, pengajian dan perkumpulan agama hingga pada media modern seperti media elektronik, media sosial serta media-media lainnya

Oleh karena itu, kader partai Gelora perlu melakukan terobosan terobosan dan inovasi menjaring anggota melalui cara dan kegiatan yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan masing-masing. Kunci dari proses rekrutmen anggota adalah inovasi dan kreatifitas dari setiap kader partai baik anggota maupun pengurus partai

Salam Gelora, Rekrutmen Tanpa Batas!!

NR Panca Hidhayad

Ketua Biro Monitoring dan Dukungan Wilayah, BIdang Rekrutmen Anggota DPN Partai Gelora Indonesia

Terbelenggu Perpektif Sendiri

, , , ,

Partaoigelora.id – “Once we know something, we find it hard to imagine what it was like not to know it” (Chip Heath and Dan Heath, Made to Stick, 2007)

Pada tahun 1990, Elizabeth Newton seorang Ph.D. psikologi dari Stanford melakukan riset ‘tappers’ (pengetuk) dan ‘listeners’ (pendengar).

Objek penelitian yang bertugas sebagai tappers menerima daftar 25 lagu yang sangat dikenal seperti “Happy Birthday” dan lainnya.

Dia mengetuk meja sesuai dengan irama lagu dan ‘listeners’ harus menebak judul lagu itu. Hasilnya, dari 120 lagu yang dijadikan eksperimen, hanya 3 yang bisa ditebak. Cuma 2,5% nya.

Bukan disitu menariknya riset Elizabeth. Melainkan pada tingkat keyakinan ‘tappers’ – sebelum riset dimulai – bahwa mereka yakin ‘listeners’ bisa menebak separuh dari lagu.

Hasilnya? Satu dari 40. Mengapa? Ketika ‘tappers’ sedang mengetuk, dia sedang mendengarkan irama dan ketukan di kepalanya. Dan mengira listeners mendengarkan hal yang sama.

Padahal sama sekali tidak. Alih-alih mendengarkan sebuah irama, dia mendengar ketukan tidak jelas, terputus-putus seperti sandi morse. Cobalah eksperimen ini jika ada waktu.

Kepada rekan, anak atau keponakan. Ketuk meja dengan irama lagu “Separuh Nafas”-nya Dewa. Minta mereka tebak lagu apa itu.

Maka kutipan di awal tulisan, “Once we know something, we find it hard to imagine what it was like not to know it” – begitu kita tahu sesuatu, sulit membayangkan bagaimana rasanya (jika) tidak mengetahuinya, relevan dalam banyak situasi.

Dalam konteks menyampaikan pesan kepada audiens di media sosial, kita sering terbelenggu kepada perspektif sendiri.

Tentang apa yang ingin orang ketahui, tentang apa yang orang butuhkan, bahkan tentang apa yang ingin orang lakukan bersama-sama kita (ingat bahwa motif terbesar audiens di media sosial bergabung dengan sebuah akun organisasi adalah karena mereka anggota atau simpatisannya), seringkali berasal dari ‘irama di kepala sendiri’.

Sementara audiens, misalkan satu juta fans di Facebook Fanpage, adalah sekelompok manusia yang memiliki pola perilaku tertentu. Mereka tertarik dengan konten tertentu.

Mereka mendapatkan benefit terbesar dari konten tertentu. Mereka merasa terlibat dengan program tertentu. Mereka bahkan bersedia berkorban jika diajak untuk gerakan tertentu.

Di tengah rumitnya ilmu pemrograman, algoritma dan computer science, nyatanya kita butuh kemampuan menginterpretasi perilaku. 

Teknologi data besar bahkan bisa lebih jauh, memprediksi perilaku. Dengan media sosial, perilaku yang tadinya acak dan sulit diraba, sekarang ada dalam satu wadah untuk diteliti.

Maka terlalu egois jika organisasi hanya menggunakan ‘irama di kepalanya’ saat membuat program, sementara di media sosial yang mereka kelola, dengan mempelajari dan menganalisisnya, mereka bisa menciptakan sesuatu yang lebih tepat dan diinginkan audiens.

Jangan menjadikan media sosial untuk mentransfer agenda, kemauan dan pesan organisasi saja. Dengar dan lihat mereka, maka benefit organisasi dapat tercapai dengan lebih efektif.

Endy Kurniawan
Ketua Bidang Rekruitmen Anggota DPN Partai Gelora Indonesia

Tugas Utama Partai adalah Narasi

, , , , ,

Partaigelora.id – “Gelora cuma bisa ngomong doang, narasi tanpa action”. Beginilah cibiran yang dialamatkan ke Partai Gelora, Indonesia 5 besar dunia dianggap pepesan kosong, omongan tanpa aksi nyata.

Fungsi utama partai itu sebenarnya justru pada omongan, gagasan. Ia adalah organisasi politik yang tujuannya adalah kaderisasi kepemimpinan dengan ide dan gagasan naratif kebangsaan.

Jangan meremehkan ucapan, karena negara ini ada juga berawal dari ucapan, kata-kata sumpah pemuda. Jangan meremehkan pidato, karena negara ini bisa semangat melawan penjajah dari pidato menggebu Bung Karno, Bung Tomo dan fatwa ulama.

Di negara maju, mana ada partai politik yang ngadain baksos, bagi sembako, punya ambulan, ya cuma di Indonesia. Itu wajar memang sosial budaya di Indonesia beda sehingga menuntut Partai menjelma menjadi organisasi sosial, organisasi dakwah, organisasi bisnis dan multiperan lainnya.

Tapi nggak fair jugalah membandingkan gelora dengan partai yang sudah dibiayai APBN dengan Banpol setiap tahunnya, dan ribuan kadernya yang juga dihidupi dari APBN dengan gaji dan tunjangan serta fasilitas serba wah…itu memang partai wajib melakukan sesuatu atas apa yang mereka dapatkan dari uang rakyat.

Sebenarnya apa yang mereka dapat itu jauh lebih banyak dari apa yang diberikan kepada rakyat dengan aksi-aksi sosialnya, itu sewajarnya mereka lakukan. Milyaran bahkan mungkin Trilyunan rupiah APBN menghidupi Partai dan kader-kadernya.

Suatu saat jika Gelora pada posisi itu tentu juga wajib melakukan pelayanan yang sama kepada masyarakat. Sekarangpun meskipun dengan biaya sendiri, Gelora juga berusaha hadir ditengah masyarakat.

Gelora sekarang bergerak dengan modal narasi, dengan narasi itulah yang akan membawa gelombang dukungan masyarakat. Begitulah keyakinan ketum Anis Matta, dan terbukti dengan segala keterbatasan, anggota yang sudah bergabung 250 ribu anggota.

Bangsa ini butuh ide-ide segar dalam menyelesaikan banyak persoalan.

Arka Atmaja

Kabid Humas DPW Partai Gelora Indonesia Provinsi Jawa Tengah

Panduan dan Naskah Khotbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 H

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Panduan dan naskah Khotbah Idul Adha 10 Dzullijjah 1442 H ini dapat digunakan sebagai panduan salat Idul Adha di rumah. Panduan ini ditulis Bidang Syiar & Dakwah Partai Gelombang Rakyat Indonesia pada 2021, yakni oleh Dr Abdul Rochim dan Fata Fauzi, Lc, ME.

Dr. Abdul Rochim menempuh pendidikan S-1 bidang syariah dari  Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)-Universitas Imam Muhamad Ibn Suud, lalu melanjutkan ke S-2 dan S-3 bidang fikih dari Universitas Internasional al-Madinah, Malaysia. Saat ini Abdul Rochim menjabat sebagai Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPN Partai Gelora Indonesia.

Sedangkan Fata Fauzi, Lc., ME, setelah menempuh Pendidikan S-1 bidang Syariah dari LIPIA- Universitas Imam Muhammad bin Suud, Fata melanjutkan pendidikan S2 dalam ekonomi Islam di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Selain sebagai dosen, saat ini Fata adalah fungsionaris Bidang Syiar dan Dakwah DPN Partai Gelora Indonesia.

TATA CARA SALAT IDUL ADHA

  • Salat Iduladha dilaksanakan dua rakaat
  • Pada rakaat pertama takbir tujuh kali setelah takbiratul ihram
  • Pada rakaat kedua takbir lima kali di luar takbir perpindahan gerakan salat
  • Hukum tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua adalah sunnah
  • Membaca doa iftitah (istiftah) setelah takbiratul ihram, sebelum takbir tujuh kali para rakaat pertama
  • Pada waktu antara satu takbir dengan takbir yang lain dianjurkan membaca: subhānallāh walhamdulillāh walā ilāha illallāh wallāhu akbar

Hikmah Keberanian dan Optimisme dari Nabi Ibrahim a.s.

Dr. Abdul Rochim, MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاَتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ  (3 x)

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَيِّئَاتُ، وبكرَمِه تُقبَل العَطايا والقُربَات، وبلُطفِه تُستَر العُيُوب والزَّلاَّت، وبلُطفِه تُستَر العُيُوب والزَّلاَّت ، وَأَشْهَدُ أّنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. (أَمَّا بَعْدُ). فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحَثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah Swt.

Ibadah di bulan Dzulhijjah dan hari Iduladha merupakan anugerah berharga bagi umat Muslim. Kita, pada hari ini, bertemu dengan hari Iduladha 1442 H. Ini adalah karunia Allah Swt. yang kita dapatkan. Maka, mari kita sambut anugerah itu dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil hingga berakhirnya hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Pada hari Iduladha 1442 H saat ini dan hari Iduladha tahun lalu berbeda dengan hari-hari Iduladha yang sebelumnya. Kini, kita harus melalui hari raya ini masih dalam situasi pandemi.

Ibadah-ibadah di hari Iduladha, baik itu ibadah haji, salat hari raya dan ibadah kurban menjadi mata rantai penyambung ajaran Islam dengan risalah para nabi sebelum Rasullah saw, terutama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagai contoh, firman Allah Swt:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Qs al-Hajj: 27)

Ayat ini menjadi salah satu bukti mata rantai ketersambungan sejarah dan agama antara kita dengan Nabi Ibrahim a.s. Hanya saja, merasa bahagia dan bangga dengan adanya mata rantai agama itu tidak cukup. Kita juga perlu menerjemahkan nilai-nilai perjuangan Ibrahim a.s. di ruang nyata. Dari kisah Nabi Ibrahim kita bisa belajar banyak hal, antara lain tentang Keyakinan dan Optimisme dalam menghadapi tantangan.

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim. (Qs al-Baqarah: 124)

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kepemimpinan itu hanya milik mereka yang berhasil melewati banyak tantangan dan cobaan. Maka, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, dia harus siap menaklukkan berbagai tantangan. Dan orang yang paling berat tantangan hidupnya adalah para rasul ulul azmi. Orang-orang besar dalam sejarah adalah orang-orang yang paling banyak berkorbannya; mengorbankan waktu, tenaga dan termasuk kesenangan dirinya.

اَللهُ أَكْبَرُ 3 x ، ولله الحمد

Sekian lama Nabi Ibrahim menanti kehadiran anak yang menjadi penyejuk matanya. Ternyata, pada usia yang tak lagi muda, Allah Swt. baru menganugerahi beliau seorang anak; Ismail. Di saat-saat indah dan bahagia bersama dengan sang anak, Allah perintahkan beliau untuk membawa istrinya (Hajar) dan anaknya (Ismail) ke Tanah Haram; suatu lembah yang tidak bertuan dan tidak ada tanaman. Ini bukan cobaan yang sederhana. Bila kita bayangkan pada diri kita; sangat sulit untuk membayangkan perasaan kita ketika harus meninggalkan keluarga di tempat yang asing itu?

Setelah Ibrahim menuntaskan semua urusan mengantarkan anak dan istrinya, beliau berbalik arah ke Syam. Tatkala Hajar menyaksikan suaminya berbalik badan ke arah Syam, tempat mereka berasal, ia bertanya, “Ibrahim, hendak pergi ke mana?”

Nabi Ibrahim terdiam dan tidak menjawab. Ketika Hajar mengulang-ulang pertanyaan yang sama, Ibrahim tetap terdiam. Kita bisa bayangkan betapa berat beban pikiran Ibrahim saat itu. Pada saat yang sama, kita bisa membayangkan, logika apa yang bisa dipakai untuk menjelaskan kepada istrinya bahwa ia akan kembali ke Syam.

Hajar pun mengubah pertanyaannya. “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?”

Ibrahim pun menjawab, “Ya.”

Begitu Hajar mendengar jawaban suaminya, ia pun berkata, “Bila demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.”

Ibrahim terus melangkahkan kakinya hingga sampai di balik bukit. Lantas ia menghadap ke arah tempat ia tinggalkan istri dan anaknya seraya berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs Ibrahim: 37)

Ternyata cobaan dan tantangan Nabi Ibrahim  a.s. tidak hanya sampai di situ. Tatkala Ismail, putra yang sangat ia sayangi, mulai tumbuh dewasa. Allah perintahkan beliau untuk menyembelihnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.(Qs Ashaffat : 102)

Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang kebijaksanaan Nabi Ibrahim sebagai ayah tatkala beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya tersayang. Beliau sampaikan tentang mimpi beliau. Sang anak pun anak yang cerdas dan terdidik, ia tahu ayahnya seorang nabi. Ia sangat paham bahwa mimpi ayahnya adalah wahyu perintah untuk menyembelih putranya.

اَللهُ أَكْبَرُ 3 x ، ولله الحمد

Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah Swt.

Penggalan kisah di atas memberikan gambaran kepada kita tentang keteguhan dan keyakinan Nabi Ibrahim a.s. dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ia hadapi. Sehingga beliau disebut sebagai pemimpin.

Dari Nabi Ibrahim kita juga belajar tentang optimisme dan harapan yang kuat. Hal ini bisa kita dapati pada doa-doa beliau.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.  (Qs al-Baqarah: 126)

Al-Imam Muhammad Thahir ibn ‘Asyur mengatakan bahwa Nabi Ibrahim mendoakan mereka mendapatkan kesejahteraan agar mereka tidak berniat meninggalkan tempat tersebut.

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs Ibrahim: 37)

Kita dapat merasakan getaran keyakinan dan optimisme Nabi Ibrahim a.s. Pada lembah yang tidak ada tanaman itu, beliau mengajukan kepada Allah kecukupan; kecukupan makanan dan rasa aman. Beliau tidak berpikir bagaimana cara Allah mewujudkan semua itu. Beliau yakin dan optimis ketika beliau sudah memulai dan meletakkan dasarnya, bahwa Allah akan mudahkan jalannya.

Bahkan, beliau memiliki cara pandang yang jauh ke depan.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (AlQuran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Qs al-Baqarah: 129)

Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah agar kelak akan hadir seorang rasul dari penduduk kota Mekah; yang membacakan ayat-ayat Allah, mengajari mereka dan menyucikan mereka. Rasul itu adalah Muhammad Rasulullah saw.

Dalam situasi pandemi seperti yang kita hadapi saat ini, kita tidak boleh kehilangan keyakinan dan optimisme. Di balik setiap cobaan dan tantangan pasti ada hikmahnya. Paling tidak, cobaan dan tantangan menjadikan kita semakin lebih kuat menghadapi benturan demi benturan dalam hidup. Keimanan dan keyakinan kita kepada Allah harus menjadi oase yang tidak pernah kering mengalirkan energi optimisme, sebagaimana optimisme nabi Ibrahim saat menghadapi cobaan demi cobaan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ   ( 7x )

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

 اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ،

اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً،

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.

Kemanusiaan & Persaudaraan Universal dalam Kurban

Fata Fauzi, Lc., ME

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3)
 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ اَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Iduladha yang dimuliakan Allah.

Di sini, di tempat yang penuh berkah ini, kita kumandangkan keagungan Allah. Allah yang telah menciptakan segalanya, Maha Pengatur semua makhluk-Nya. Dia-lah yang telah menciptakan siang dan malam, memunculkan terang dan gelap, menaburkan warna hitam dan putih. Dia ciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa bangsa, dan ia satukan dalam satu nilai kemanusiaan yang universal yang melindungi setiap insan manusia, satu nilai yang menjadikan manusia dengan manusia lain—apa pun suku dan bahasanya, warna kulit dan kebangsaannya—adalah bersaudara.

يأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs Al Hujurat: 13)

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Di sini, dan di hari yang agung ini, kita kumandangkan takbir dan tahmid, pengagungan dan pujian kepada Allah yang memuliakan manusia dengan mengenal-Nya. Allah memuliakan manusia sebagai makhluk yang terbaik dengan nilai-nilai ketuhanan, mengajari mereka untuk mengenal siapa penciptanya, mengajarinya untuk saling memuliakan sesama manusia. Nilai ketahuhidan dan nilai-nilai ketuhanan inilah yang menjadikan ia sebagai makhluk terbaik dari makhluk-makhluk lain.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم      ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِين      إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Qs At-Tin: 4-6)

Jamaah salat Id yang diberkahi Allah.

Nilai kemuliaan sebagai manusia, dan kemuliaan sebagai hamba Allah yang bertauhid kini sedang diuji oleh tatanan dunia modern yang ternyata tidak jarang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Kemanusiaan kita saat ini sedang diuji oleh begitu mudahnya darah manusia ditumpahkan, begitu ringannya satu negeri menghancurkan negeri lain, begitu entengnya satu bangsa menghapuskan eksistensi bangsa lain. Sebagaimana setiap hari telinga kita terasa sudah bebal dengan jeritan anak-anak Palestina yang diberondong senjata-senjata militer Israel, setiap detik mata kita disuguhi dengan keganasan tentara-tentara Assad membunuhi anak-anak, perempuan, dan orang tua di Suriah.

Nilai kemanusiaan yang sama, yang ada pada kita dan juga ada pada mereka, hendaknya akan menjadikan kita peduli kepada Palestina, Suriah, Irak, Myanmar; bahwa mereka adalah saudara kita. Meskipun bahasa, suku, agama, bangsa, warna kulit kita berbeda, namun mereka tetaplah manusia. Apa yang mereka rasakan, tentunya menyadarkan kita bahwa betapa pedihnya kehidupan mereka, betapa perihnya perjuangan mereka untuk mempertahankan kehidupan mereka dari serangan manusia lain yang telah hilang nilai kemanusiaannya.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Selain nilai kemanusiaan yang ada dalam diri kita, Allah juga memuliakan sifat kemanusiaan kita dengan nilai-nilai ketauhidan, penuhanan kepada Allah semata. Sangat miris sekali saat kita lihat, justru umat Islam yang banyak menjadi korban dari keberingasan umat lain. Bagaimana muslim Suriah harus terusir dan terbunuh setiap detik dan menit karna keislaman mereka, bagaimana muslim Myanmar harus terombang-ambing di lautan demi mencari keamanan dari serangan para pembantai yang tidak lagi punya nilai belas kasihan, mereka semua adalah muslim, sesama muslim adalah bersaudara.

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. (Qs Al-Hujurat: 10)

Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim)

Jika mereka adalah saudara kita, jika mereka bagian dari tubuh kita, maka seharusnya apa yang mereka rasakan menembus perasa kita; rintihan mereka menjadi rintihan kita; tangisan mereka adalah tangisan kita; karena mereka sama dengan kita. Mereka muslim, dan kita pun juga muslim.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia.

Jumlah total manusia yang saat ini menempati planet bumi ini tidak kurang dari enam miliar jiwa. Jumlah yang sangat besar. Namun, mengapa enam milyar jiwa ini tidak juga mampu menghentikan setiap pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan sekelompok kecil manusia yang telah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya? Menghentikan sekelompok zionis yang menjajah bangsa Palestina? Menghentikan sekelompok tentara yang berkoalisi untuk memburu dan membunuhi rakyat Suriah? Umat Islam tidak kurang dari 1,6 miliar jiwa, namun mengapa mereka tidak mampu untuk membela saudara-saudara sesama muslim yang sedang terjajah dan terzalimi? Mengapa kita tidak juga mampu menghentikan kesewenang-wenangan sekelompok manusia yang dengan senyum menumpahkan darah muslim? Di mana kemanusiaan kita? Di mana ikatan persaudaraan Islam kita?

Jamaah yang berbahagia.

Hari ini adalah hari ketika Allah mengajarkan kepada kita makna persaudaraan. Pada hari ini, tidak kurang dari 3-4 juta muslim berkumpul dalam satu waktu, satu tempat, menjalankan ibadah yang sama, mengumandangkan kalimat yang sama, sedangkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Mereka terlahir dari bangsa dan suku yang berbeda, tumbuh dalam kebudayaan dan adat yang berbeda pula. Pada hari ini, kita semua disatukan dengan satu teriakan takbir yang sama, mengagungkan Allah. Kita sepakat untuk mengagungkan Allah dengan ibadah yang sama, kalimat yang sama. Pertanyaannya, mengapa kita tidak sepakat untuk meneriakkan pembelaan kepada saudara-saudara muslim yang terjajah? Namun kenapa kita masih saja berpecah belah dan bermusuhan ketika harus menghadapi musuh yang ingin menghancurkan Islam?

Bersatulah wahai umat Islam. Bersatulah wahai Ummah Muhammad, karena persatuan dalam pelukan Islam itulah satu satunya kekuatan untuk menyelamatkan Islam dan umat manusia.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah yang berbahagia.

Perbedaan adalah keindahan, maka tidaklah sepantasnya keniscayaan perbedaan menjadikan kita berpecah-belah. Keindahan warna pelangi bukan karena ia satu warna, melainkan ia tercipta oleh perpaduan beberapa warna hingga menjadikan ia sangat memesona. Amirul Mu’minin Umar bin Abdil Azis, pernah mengatakan, “Aku tidak akan bahagia jika umat ini hanya mempunyai satu warna, karena perbedaan adalah rahmat kasih sayang dari Allah Swt.”

Perbedaan pandangan mazhab dalam berfikih adalah keniscayaan, satu keindahan yang tidak mungkin terhindarkan, maka jangan sampai kita salah melihat dan menyikapi keindahan bermazhab ini dengan perpecahan, saling menolak, saling menyalahkan, saling mem-bid’ah-kan atau bahkan saling mengkafirkan.

Nilai-nilai persaudaraan ini dengan sempurna Rasulullah sampaikan kepada para sahabatnya dalam khotbah Arafahnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

إنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram kezaliman terhadapnya, seperti terlarangnya kezaliman  atas kesucian hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini.”

Pada keesokan harinya, yakni di hari nahr, hari raya Iduladha, Rasulullah saw kembali berkhotbah dengan nasihat yang mendalam. Dari Ibnu Abbas RA dan yang lainnya, Rasulullah SAW berkata dalam khotbahnya,

أَيُّ يَوْمٍ هَذَا ؟ قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فَأَعَادَهَا مِرَارًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ

“Hari apakah ini? Para sahabat menjawab: “Hari yang suci. Beliau bertanya lagi: Negeri apakah ini? Sahabat kembali menjawab: Negeri yang suci (Tanah suci). Beliau tanya kembali: Bulan apakah ini? Sahabat kembali menjawab: Bulan suci.” Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram terzalimi seperti terlarangnya kezaliman atas sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini. Beliau ulang beberapa kali. Kemudian beliau mendongakkan kepalanya dan berdoa, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan risalah ini? Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan risalah?

Begitulah Islam menjadikan sesama muslim bersaudara, menjaga harta-harta mereka, darah mereka, kehormatan mereka. Maka wajiblah bagi kita umat Islam untuk menjauhkan diri dan sesama muslim dari segala kezaliman, kezaliman terhadap darah seorang muslim, kezaliman terhadap harta seorang muslim dan juga kezaliman terhadap kehormatan seorang muslim, karena muslim ada saudara bagi muslim lainnya.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah.

Marilah kita tengok bagaimana salafusshaleh mengajarkan dalam memandang perbedaan. Salafusshaleh sangat paham bahwa perbedaan itu adalah hal sangat niscaya, tidak mungkin dihindari, hingga mereka tetap mengutamakan persaudaraan sesama muslim walaupun mereka berbeda padangan dalam fikih tertentu.

Imam Abu Hanifah, adalah seorang tabi’in yang sangat saleh. Ia menjadi peletak batu pertama fondasi aliran fikih Hanafiah. Beliau memuji Imam Malik bin Anas yang tidak jarang pandangan fikih mereka berdua saling bertentangan. Beliau berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang paling alim tentang sunnah Rasulullah di muka bumi ini kecuali Imam Malik.”

Dan sebaliknya, Imam Malik pun sangat menghormati Imam Abu Hanifah yang sangat jelas banyak perbedaan pendapat fikih dengannya. beliau berkata, “Subhanallah, Maha Suci Allah, aku belum pernah melihat sosok seperti Imam Abu Hanifah, seorang ulama yang sangat cerdas, jika ia mengatakan bahwa sebuah alat terbuat dari emas, walau nampaknya alat tersebut dari selain emas, maka pasti ia sanggup mengetengahkan kebenaran atas perkataannya.”

Al Imam As Syafi’i berkata, “Barang siapa ingin memperdalam fikih maka hendaklah ia menjadi anak asuh bagi Imam Abu Hanifah. Abu Hanifah adalah orang yang diberi taufik oleh Allah dalam bidang fikih. Barang siapa yang belum membaca buku-buku Abu Hanifah, maka ia belum memperdalam ilmu dan ia juga belum belajar fikih.”

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Begitulah para salafusshaleh memandang perbedaan, dengan penuh penghormatan dan semangat persatuan mereka menjadikannya bagian dari ukhuwah Islamiyah.

Selanjutnya, marilah kita lihat bagaimana Al Imam As Syafi’i memuji Imam Ahmad, yang tentunya kita tahu bahwa Imam Syafi’i pun banyak berbeda pendapat dengan Imam Ahmad yang pernah menjadi muridnya ini. Beliau berkata, “Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal, imam dalam hadits, imam dalam fikih, imam dalam bahasa, imam dalam Al Qur’an, imam dalam kefaqiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam wara’, dan imam dalam sunnah.”

Dan begitu juga sebaliknya Imam Ahmad Bin Hambal pun sangat memuliakan dan menghormati Al Imam Syafi’i, gurunya itu, hingga beliau berkata, “Aku tidak pernah salat sejak 40 tahun silam kecuali dalam salatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.”

Mendengar ini, Abdullah, anak Imam Ahmad merasa heran, kemudian bertanya, “Wahai ayahanda, seperti apakah Al Imam As Syafi’i sehingga ayah selalu mendoakannya secara khusus?”

Imam Ahmad menjawab, “Wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.”

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia.

Begitulah kita diajarkan. Iduladha ini mengajarkan kita apa arti persatuan dan persaudaraan dalam Islam, di mana setiap muslim di belahan dunia mana pun ia dilahirkan dan hidup, ia adalah saudara kita. Kini kita bertakbir bersamanya, bertahmid bersama mereka, menjalankan ibadah yang sama dengan mereka, dan menyembah tuhan yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa.

Begitu juga bagaimana para salafusholeh menuntun kita untuk menjaga persaudaraan Islam ini. Mereka saling menghormati, memuliakan dan mendoakan muslim lain, yang bisa saja mereka berbeda pandangan dalam berfikih dan bermazhab.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia

Selain nilai-nilai persaudaraan sesama manusia dan persaudaraan sesama muslim, Iduladha juga memberikan kita pengajaran terhadap sebuah pengorbanan demi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah kurban adalah ibadah yang paling dicintai Allah pada hari raya Iduladha, tidak ada amal yang lebih baik dari menyembelih hewan kurban. Rasulullah SAW bersabda :

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا

Tidaklah manusia melakukan amal di hari nahr (hari raya Iduladha) yang lebih dicintai Allah dibanding memotong hewan kurban. Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan telapak kakinya. Sesungguh sebelum darahnya jatuh ke tanah, ia telah sampai kepada Allah. Maka dari itu, tunaikanlah dengan jiwa yang senang.

Ibadah kurban adalah jalan terbaik untuk mendapatkan rida dan mendekatkan diri kepada Allah di hari Iduladha. Tidak ada cara kebaikan yang ternilai sebagai ibadah yang lebih utama di hari ini kecuali berkurban, yaitu menyembelih hewan kurban untuk Allah semata. Begitulah nabiyullah Ibrahim a.s., khalillullah memberikan teladan dan dikukuhkan oleh nabi kita Muhammad saw, dengan ikhlas mengorbankan apa saja demi menggapai rida dan kedekatan kepada Allah. Sebagaimana dulu nabiyullah Ibrahim a.s. harus mengorbankan anak yang sangat ia cintai, yang ia tunggu kehadirannya hingga puluhan tahun.

Semoga Allah mengembalikan umat Islam pada kejayaan sebagaimana pernah diraih oleh para pendahulu kita, disatukan dalam kalimat yang sama, kalimat pembebasan dari penjajahan dunia, kalimat persatuan sebagaimana salafusshaleh mencontohkan cinta dan persaudaraan sesama muslim.

Demikian khotbah Iduladha yang bisa kami sampaikan, semoga Allah selalu menjaga kita semua dan umat Islam di seluruh dunia.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Download File Ceramah

Serial Generasi Muda, Bag 1: Generasi Muda Pendiri Bangsa

, , , ,

Partaigelora.id – Indonesia lahir sebagai Bangsa banyak diwarnai oleh goresan indah Generasi Mudanya. Generasi Muda yang memupuk harapan gemilang bagi tanah air mereka. Resah dengan keadaan yang memacu mereka berpikir dan bekerja keras serta membuat banyak terobosan yang banyak mengubah keadaan. Keresahan yang melukiskan lembar sejarah yang dahsyat. Keresahaan yang menghadirkan semangat untuk berubah. Keresahan yang setiap hari merasuk hingga dasar alam jiwa mereka.

Turunan dari keresahan-keresahan itu memunculkan banyak ilham Bagi Generasi Muda Indonesia. Hari-hari penting yang sering diperingati oleh Masyarakat hari ini adalah buah dari perjuangan para Generasi Muda zaman dahulu. Hari kebangkitan Nasional misalnya, adalah hari dimana lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Organisasi yang diisi oleh banyak pemuda. Dr. Soetomo mendirikan organisasi ini bersama para mahasiswa STOVIA dan memunculkan banyak sekali ide dan gagasan kebangsaan.

Para Mahasiswa yang berumur sangat muda itu tak henti-hentinya belajar, baik secara akademis kampus maupun belajar pergerakan. Para pemuda itu juga punya konsep menarik bagi sebuah Organisasi besar seperti Boedi Oetomo. Konsepnya adalah Biarlah para orang tua yang memimpin Organisasi, biar kami para pemuda sebagai penggeraknya“. Konsep ini masih sangat relevan hingga saat ini, dimana menggambarkan pemuda butuh bimbingan orang tua yang berpengalaman untuk menuntun gerak dan pikiran mereka.

Selain Boedi Oetomo, ada juga Sarekat Dagang Islam yang bertransformasi menjadi Sarekat Islam. Organisasi ini pada puncaknya dipimpin oleh Guru Bangsa, H.O.S Tjokroaminoto. Tjokroaminoto memiliki banyak murid yang berusia muda dan enerjik, bahkan mereka menjadi tokoh-tokoh besar dalam sejarah bangsa Indonesia. Sebut saja Samaoen, Muso, Soekarno hingga Kartosuwiryo.

Sejak usia 16 tahun, Soekarno telah berguru pada Tjokroaminoto bahkan Soekarno mengatakan bahwa Tjokroaminoto adalah idolanya. Pendidikan informal ini menjadi salah satu sumber pencerahan bagi anak-anak muda yang resah. Pemikiran kemerdekaan merasuk dalam diri-diri pemuda ini dan menjadi bahan bakar yang dahsyat bagi mereka untuk selalu bergerak menggapai mimpi. Ini juga menjadikan pelajaran bagi kita dimasa sekarang, bahwa para pemuda harus memiliki seorang guru yang pemikirannya visioner dan jauh kedepan agar kita selalu terinspirasi dan terus bergerak demi tujuan yang besar kedepannya.

Hari Sumpah Pemuda juga seperti menceritakan kepada kita peran pemuda yang sangat dalam bagi kelahiran Bangsa Indonesia. Konsep Bangsa yang mungkin pada saat itu begitu rumit, menjadi kenyataan di tangan pemuda. Mengapa rumit? Karena keadaan Indonesia saat itu yang terdiri dari banyak sekali kerajaan-kerajaan kecil lalu disatukan atau di mix kedalam sebuah nama, yaitu Indonesia.

Bayangkan saja bagaimana menyatukan kepala para penguasa itu yang tentu memiliki keegoisan masing-masing. Lalu kita lihat momen kongres itu yang begitu luar biasa, Bayangkan saja, salah satu hari terpenting dalam sejarah Bangsa Indonesia itu dipimpin oleh Pemuda berusia 23 tahun. Ketua Panitia Kongres Pemuda pada tahun 1928 yaitu Soegondo Djojopoespito berusia 23 tahun pada saat itu.

Anggota-anggotanya bahkan ada yang lebih muda dari 23 tahun. Ini tentu saja menjadi tamparan bagi kita, ada dimana kita saat usia kita 23 tahun? Pemuda pada zaman itu usia 23 tahun telah merumuskan konsep Bangsa yang bisa dikatakan menjadi asal usul bangsa Indonesia.

Pelajaran bagi kita tentang Generasi Muda pendiri bangsa ini adalah tentang “Belajar dan cita-cita”. Sebagai pemuda, kita harus terus belajar tiada henti demi bisa merawat keinginan untuk menggapai cita-cita kita. Bermalas-malasan tidak akan membawa kita pada tujuan besar, dan salah satu jalan keluar dari kemalasan itu adalah dengan Belajar.

Belajar kepada orang-orang hebat dan dengan itu kita bisa memiliki pandangan jauh dan cita-cita luhur lalu dengan terus belajar kita bisa merawat ambisi dan cita-cita kita hingga kita menggapainya. Maka sangat mulia dan penting peran seorang Guru bagi kemajuan Bangsa. Ada fenomena yang membekas dari guru saya, Pak Anis Matta. Beliau dipanggil Ustadz (Guru) hingga saat ini, bahkan setelah beliau telah menjabat jabatan sangat tinggi pun beliau tetap dipanggil Ustadz.

Karena bagi beliau, pekerjaan sepanjang masa beliau memanglah ustadz, jabatan bisa hilang dan berganti bahkan setelah beliau misalkan menjadi presiden sekalipun. Tapi mengajar, berbagi ilmu dan inspirasi akan terus beliau lakukan hingga akhir hayat, dan beliau akan tetap menjadi Ustadz atau Guru walaupun jabatan presiden hilang. Sekali lagi, maka belajarlah kita dan sebarkan ajaran baik itu sepanjang hayat kita. Dengan itu Cita-cita kita akan selalu terawat, mungkin tidak akan tergapai oleh kita, tapi akan tergapai oleh Murid-murid kita dimasa depan.

Hudzaifah Muhibbullah

Ketua Bidang Generasi Muda Partai Gelora Indonesia

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X