Category: Gelora Terkini

Partai Gelora Beri Ruang Khusus Bagi Perempuan untuk Eksis di Politik

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia membentuk lima bidang baru yang diisi semuanya oleh kaum perempuan. Hal itu dilakukan Partai Gelora Indonesia untuk memberi ruang bagi perempuan politisi untuk eksis dan mengaktualisasi perannya.

“Kabid diisi perempuan semua, karena berdasarkan kompetisi yang bersangkutan dan Gelora berikan ruang bagi calon politisi perempuan untuk eksis dan mengaktualisasikan perannya,” kata Mahfuz Sidik dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (2/8/2020).

Pembentukan lima bidang baru tersebut diresmikan secara langsung oleh Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta di Jakarta, Selasa (1/9/2020). Peresmian tersebut juga dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik dan Bendahara Umum Achmad Rilyadi.

Mahfuz mengatakan, dengan bertambahnya lima bidang baru tersebut, maka jumlah bidang di Dewan Pempinan Nasional (DPN) sekarang berjumlah 20 bidang. Partai Gelora, lanjutnya, masih akan membentuk bidang-bidang baru dan merekrut orang-orang muda untuk menjadi pengurus.

“Pesan Ketum (Anis Matta, red) yang penting punya kepercayaan diri. Ada tiga syarat penting, mau bekerja, mau belajar dan mau berkorban. Syarat itu tidak hanya di pusat, tapi juga di kepengurusan daerah dan alhamduillah banyak orang-orang muda yang mengisi,” katanya.

Adapun lima bidang baru tersebut, Ketua Bidang Perempuan Ratih Sanggarwati, Ketua Bidang Jaringan dan Kerjasama Lembaga Mia Ratu Ratna Damayani, Ketua Bidang Pengembangan UMKM dan Ekonomi Keluarga Srie Wulandarie, Ketua Bidang Pelayanan Masyarakat Styandari Hakim, serta Ketua Bidang Olahraga, Hobbi dan Gaya Hidup Kumalasari Kartini.

Ketua Bidang Olahraga, Hobbi dan Gaya Hidup Kumalasari Kartini mengatakan, sebagai ketua bidang ia telah menyusun kegiatan yang bersifat massal untuk mengenalkan Partai Gelora,

“Kalau olahraga bersifat massal itu seperti bersepeda, lari, gerak jalan dan senam aroebik, kalau hobi kuliner , traveling, sementara kalau gaya hidup kita kampanye kesehatan. Pelaksanaan program ini untuk membangun ketertarikan kepada Partai Gelora,” kata Kumalasari.

Anis Matta Doakan 100 Dokter yang Meninggal Mati Syahid

JAKARTA – Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat sebanyak 100 dokter meninggal dunia sejak pandemi virus corona (Covid-19) menghantam Indonesia lima bulan terakhir. Berdasarkan laporan IDI, seluruh dokter tersebut telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

“Mari kita berdoa agar para dokter dan tenaga kesehatan yang wafat dalam perjuangan menghadapi Covid-19 diterima sebagai syahid di sisi Allah SWT,” kata Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam keterangannya, Selasa (1/9/2020).

Menurut Anis, meninggalnya 100 dokter ini harus menjadi momentum dan perhatian semua dalam penanganan Covid-19. Sebab, dokter adalah profesi dan keahlian dengan investasi waktu dan biaya yang sangat mahal. Apalagi sampai pada keahlian spesialis tertentu.

“Sudah 100 orang dokter meninggal dunia akibat Covid-19. Jadi kita ini kehilangan makna strategis, bukan hanya pada penanganan Covid-19, melainkan juga kekuatan sektor kesehatan kita,” katanya.

Kata Anis, 100 dokter tersebut juga berasal dari berbagai daerah, dengan tingkat keahlian dan senioritas yang tentu dibutuhkan bagi pengembangan kesehatan di Indonesia. Bahkan sebagian dokter juga mengajar di berbagai fakultas kedokteran dan lembaga pendidikan kesehatan.

“Sehingga kehilangan ini juga berdampak bagi pendidikan kedokteran kita. Tidak ada waktu lagi. Semua pihak harus serius melihat pandemi dan dampak strategis yang ditimbulkannya,” ujar Anis Matta.

Anis Matta menegaskan, kehilangan dokter dan tenaga kesehatan bisa berujung pada lumpuhnya sistem kesehatan kita. “Dan kita berdoa agar Allah segera memberi kita jalan keluar dari krisis ini melalui ilmu pengetahuan. Amin,” katanya.

Dalam kesempatan ini, Ketua Umum Partai Gelora Indonesia menyampaikan apresiasinya kepada para jurnalis yang tidak mengenal lelah dalam mewartakan penanganan pandemi Covid-19, meskipun nyawa mereka juga terancam.

“Ternyata benar yang saya dengar, jurnalis tak kenal kata libur. Perang dan bencana pun ditembus untuk menghasilkan berita terbaik kepada publik. Kami mengapreasiasi tugas para jurnalis, salam kami untuk rekan-rekan jurnalis di seluruh Indonesia,” tandas Anis Matta.

Partai Gelora Beri Pelatihan Youtuber Cara Datangkan Uang Melalui ‘Edit Video

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar pelatihan ‘Mastering Youtube#2 , Edit Video Datangkan Uang’ bagi kader dan masyarakat umum. Pelatihan sesi-2 yang digelar secara daring ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta pada Sabtu (29/8/2020).

Pelatihan Mastering Youtube#2 ini berbicara mengenai cara membuat video yang menarik mulai dari ide atau gagasan, serta optimasi di Youtube.

Sehingga konten video yang dibuat tidak hanya mendatangkan viewers, tapi juga membuat penonton betah dan mendatangkan pundi-pundi uang. Apabila konten yang dibuat tidak menarik, maka tidak akan menghasilkan apa-apa

Program ini bertujuan untuk mencetak sebanyak mungkin juru bicara yang akan mensosialisasikan ide dan gagasan Partai Gelora seluas dan sesegera mungkin di era audio visual.

Sebelumnya pada sesi-1, dilakukan pelatihan dasar untuk memproduksi konten visual, peserta dari perwakilan seluruh struktur DPW dan bidang-bidang di DPN Partai Gelora Indonesia mendapat pengetahuan dasar tentang perencanaan, produksi dan optimasi konten Youtube.

Menghadirkan pembicara Budi Putra, ex CEO Jakarta Post Digital, yang kini menjadi Country Manager Collabs Asia di Indonesia. Pembicara lain Endy Kurniawan, Ferry Ardian dan Aditya Mahfuzha yang memiliki pengalaman melakukan perencanaan dan pengelolaan kanal Youtube untuk beragam segmen.

Pada sesi-2 mengenai ‘Mastering Youtube#2 , Edit Video Datangkan Uang’ menghadirkan narasumber Kahfi Karsadinata, Cinematographer dan still photographer dan Anjar Zarkasi, Video Editor dan Youtube Optimizer.

Kahfi Karsadinata mengatakan, untuk membuat konten berupa video atau film perlu dilakukan perencanaan yang matang, mulai dari pre produksi, produksi dan pos produksi. Pre produksi adalah membahas ide yang akan dituangkan dalam bentuk script atau cerita, bisa berasal dari kisah nyata, pengalaman pribadi atau cerita lain.

“Biasanya pre poduksi ini membutuhkan waktu enam bulan untuk membuat script, pemilihan tempat, penyetingan warna, visualnya, perannya semua sudah tergambarkan, sehingga bisa langsung masuk produksi,” kata Kahfi.

Sehingga ketika proses produksi, semua sudah sesuai dengan alur cerita atau script yang sudah digambarkan, tidak ada lagi permasalahan yang seharusnya ada ditahap pre produksi dimasukkan ke produksi.

“Bagian produksi itu simple, tinggal shooting saja. Sehingga bagaimana secara produksi agar produksi tidak lama, maka pre poduksi yang kita buat harus matang,” katanya.

Setelah proses produksi selesai, tahap selanjutnya pos produksi, yakni mempromosikan film atau konten yang akan luncurkan (launching) atau ditayangkan.

“Promosinya harus menarik, bisa iklan di televisi, media cetak atau online, satu bulan sebelum ditayangkan. Promosi juga bisa dilakukan dengan mengefektifkan media sosial kita di Youtube, Facebook, Twitter dan Instagram,” kata Cinematographer film nasional dan luar negeri ini.

Sementara Anjar Zarkasi mengatakan, untuk membuat konten yang perlu diperhatikan adalah membuat alur cerita dalam sebuah gambaran kecil, yang bisa disusun dari potongan kertas kecil-kecil, kemudian diberikan visual detik per detik.

“Ini pengalaman saya membuat film pariwisata Sumbawa Barat, saya tidak ada uang, tidak ada proposal. Saya datang ke dinas, cuman bawa potongan kertas kecil yang menggambar alur cerita. Nah, disitu saya sampaikan jika pantai kita, tarian kita indah banyak orang yang tidak tahu. Ini yang kita sampaikan, sehingga saya dapat project,” kata Anjar.

Hal lain yang perlu diperhatikan juga adalah saat melakukan video editing, gambar yang akan disusun harus diambil secara detil dengan berbagai angle, terutama dalam pemilihan tempat. Sehingga saat diberikan video effect tidak akan menggangu fokus dan perhatian penonton, sehingga pesan penting yang akan disampaikan bisa tercapai.

“Audionya juga jangan sampai pecah, kalau terlalu pelan juga berbahaya, tiba-tiba ganti audio karena tidak stabil, waduh bisa hancur HP orang.

Perlu distabilkan ke yang paling keras, jangan sampai 0 atau merah. Audionya bisa rusak,” katanya.

Setelah semuanya selesai, selanjutnya mengaploud konten yang dibuat di Youtube dengan membuat deskripsi dan caption yang menarik, menggambarkan mengenai konten tersebut, serta membuat highlight video yang akan ditampikan sekitar 15 detik sebelum melihat pada video utama.

“Agar menarik warna harus cerah, isi video harus berbeda dari yang lain dan harus ikonik,” pungkas Alumnus Institute Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.

Sekretaris Jendaral Partai Gelora Mahfuz Sidik mengatakan konten di Youtube sendiri tidak harus berupa kampanye ‘hard politics’ tapi disesuaikan dengan kekhasan talent ataupun kekhasan wilayah seperti tips, edukasi, hiburan dan inspirasi.

Pelatihan secara daring akan terus berlanjut dengan tema-tema yang bertujuan meningkatkan literasi digital para anggota dan pengurus Partai Gelora di seluruh Indonesia.

“Sebagai partai politik yang paling anyar lahir, Partai Gelora agresif melakukan kampanye secara digital. Partai Gelora masuk ke fase pengembangan, menargetkan rekrutmen jutaan anggota melalui website dan aplikasi. Rekrutmen secara offline dan online,” kata Mahfuz dalam keterangannya, Senin (31/8/2020).

Partai Gelora Nilai Keberhasilan Ridwan Kamil dalam Penanganan Covid-19 di Jabar Perlu Dicontoh Kepala Daerah Lain

JAKARTA – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Haris Yuliana menilai Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil merupakan kepala daerah yang berhasil melakukan penanganan pandemi Covid-19 di Jawa Barat.

Karena itu, keberhasilan Ridwan Kamil perlu dicontoh oleh kepala daerah lain dalam upaya penanganan Covid-19 di daerahnya. Terbukti di Jabar kini sudah tidak ada lagi zona merah Covid-19, dan menekan jumlah penyebaran dan angka masyarakat yang terpapar virus Corona.

“Kang Emil (Ridwan Kamil, red) ini satu-satunya kepala daerah yang berani menjadi relawan uji vaksin Covid-19. Apa yang dilakukan Ridwan menjawab keraguan masyarakat di tengah pro kontra soal vaksin. Partai Gelora mengapresiasi dan memberikan support penuh,” kata Haris dalam keterangan, Rabu (26/8/2020).

Pada Selasa (25/8/2020), Ketua DPW Gelora Indonesia Jabar Haris Yuliana dan jajaranya melakukan silaturahmi ke Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Gedung Pakuan Bandung, Jabar.

Partai Gelora menilai kinerja Emil dalam penanganan Covid-19 di Jabar sudah sangat maksimal. Emil tidak hanya menunjukkan kinerjanya dalam kebijakan, tetapi juga sikap pribadinya dalam penanganan Covid-19 dengan menjadi relawan uji vaksin Corona.

“Kang Emil dari sisi kerja dan sikap pribadinya patut kita apresiasi, semua pihak harus mendukung, bukan justru memberikan kritik yang tidak membangun. Jawa Barat sudah tidak ada lagi zona merah,” kata Ketua DPW Partai Gelora Jabar ini.

Dalam kesempatan itu, Haris melaporkan keberadaan Partai Gelora sebagai partai baru kepada pembina politik di Jawa Barat, Ridwan Kamil.

“Sebagai partai politik baru, Partai Gelora memperkenalkan keberadaanya kepada pembina politik di Jawa Barat, Kang Emil selaku Gubernur. Kita sowan dan kita nyatakan, kesiapan Partai Gelora untuk mendukung seluruh program pembangunan di Jawa Barat,” katanya.

Artinya, Partai Gelora siap berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jabar untuk mewujudkan Jabar ‘Juara Lahir Batin’.

“Kita siap berkolaborasi dalam ruang-ruang strategis dengan pemprov Jabar dalam rangka mewujudkan Jabar juara lahir batin. Tentu, hal ini dalam rangka ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia menjadi 5 besar kekuatan dunia,” tegas Haris.

Menanggapi hal ini, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menyambut silahturahmi Ketua DPW Partai Gelora Indonesia Haris Yuliana dan jajaranya.

Emil berharap sebagai partai terbuka, Partai Gelora yang menyatakan diri sebagai partai digital bisa optimalkan keberadaan media sosial (medsos) untuk melakukan perekrutan secara massif dan militansi, terutama para milineal.

Hal itu perlu dilakukan dalam sarana penyampaian aspirasi dan eksistensi sebagai partai digital.

“Sebagai partai yang terbuka, media sosial menjadi platform yang perlu dimaksimalkan secara masif. Selain media sosial, militansipun menjadi poin penting dalam keberlangsungan partai ke depan,” kata Emil

Emil juga berharap Partai Gelora bisa ikut serta dalam mewujudkan program Jabar ‘Juara Lahir Batin’.

“Harapannya, dengan adanya partai ini dapat turut serta dalam mewujudkan Jabar ‘Juara Lahir Batin’,” Emil.

Partai Gelora Bersama Gerindra Siap Menangkan Pasangan Nasrul Abit-Indra Catri di Pilgub Sumbar

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia secara resmi memberikan dukungan kepada pasangan Nasrul Abit-Indra Catri pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sumatera Barat (Sumbar) yang akan digelar 9 Desember 2020.

Partai Gelora menilai pasangan yang diusung Partai Gerindra itu, adalah pasangan yang tepat untuk melanjutkan kepemimpinan dan pembangunan di Sumbar .

Dukungan tersebut langsung disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah saat memimpin Konsolidasi Pilkada Serentak 2020 dengan DPW dan DPD Partai Gelora se-Sumbar di Padang, Sabtu (22/8/2020).

“Karena Pak Prabowo sudah menetapkan Nasrul Abit-Indra Catri sebagai pasangan calon pada pilgub Sumbar, Partai Gelora menyatakan dukungan,” kata Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah dalam keterangannya, Senin (24/8/2020).

Pernyataan dukungan tersebut, dihadiri kedua kandidat, pasangan Nasrul Abit-Indra Catri, serta Ketua DPD Partai Gerindra Sumbar Andre Rosiade.

Menurut Fahri, ia sudah lama kenal dengan Nasrul Abit, apalagi posisinya saat ini adalah wakil gubernur Sumbar pentahana.

Ia menilai Nasrul Abit tepat untuk melanjutkan kepemimpinan guna meneruskan program yang sudah dijalankan.

“Saya mengajak warga Sumbar untuk mendukung Nasrul Abit-Indra Catri, apalagi seharusnya setelah jabatan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno berakhir maka wakilnya Nasrul yang tepat melanjutkan karena sudah memahami persoalan yang ada,” kata dia.

Terkait dengan alasan Partai Gelora mendukung pasangan Nasrul Abit-Indra Catri, ia memaparkan berawal dari hubungan baik antara ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta.

“Pak Prabowo pernah menginginkan Pak Anis jadi wakilnya saat pilpres 2019, ini menunjukkan betapa dekatnya hubungan kedua ketua partai dan akan terus kami jaga termasuk di Sumbar,” ujarnya.

Ia meyakini dan percaya kendati hanya sebatas mendukung dan bukan mengusung, bentuk dukungan elit terhadap calon kepala daerah cukup berpengaruh.

“Apalagi partai Gelora di Sumbar strukturnya sudah lengkap hingga tingkat kecamatan, ini juga jadi modal untuk mendukung,” kata dia.

Meski Partai Gelora Indonesia belum memiliki kursi di DPRD Sumbar namun Fahri meyakini partainya akan bersama-sama dengan Partai Gerindra memenangkan pasangan ini pada Pilgub Sumbar 2020.

Partai Gerindra resmi mengusung pasangan Nasrul Abit-Indra Catri sebagai Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Sumbar pada Pilgub 2020.

Nasrul yang merupakan Wakil Gubernur Sumbar periode 2016-2021 itu memilih berpasangan dengan Indra Catri yang menjabat Bupati Agam dua periode sejak 2010 hingga saat ini.

Pasangan ini diusung oleh Partai Gerindra yang mengantongi 14 kursi di DPRD Sumbar sehingga telah memenuhi syarat jumlah dukungan pencalonan.

Di Gerindra, Nasrul yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Pesisir Selatan dua periode itu, sebelumnya menjabat Ketua DPD Gerindra Sumbar yang berhasil mengantarkan partai besutan Prabowo Subianto jadi pemenang Pemilu 2019 di Ranah Minang.

Anis Matta : Krisis Berlarut tersebab Pandemi Belum Berakhir

JAKARTA – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Muhammad Anis Matta mengingatkan, kemungkinan krisis berlarut akibat penyebaran penyakit yang menimpa dunia dan Indonesia saat ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat.

Anis Matta mengungkapkan, usai pandemi Covid-19 berakhir, bakal ada virus lain yang lebih ganas menyebar pada 2023 dan 2026. Akibatnya, pandemi virus ini akan semakin mempengaruhi kekacauan global.

“Ada satu dokumen yang saya baca, yang mengatakan bahwa kemungkinan 2023 dan 2026 ada lagi virus lain,” ungkap Anis Matta dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2020).

Hal itu disampaikan Anis Matta saat berkunjung ke Redaksi Tribunnews.com pada Kamis (20/8/2020) lalu. Dalam kunjungan itu, Anis Matta diterima oleh Board of Editor Tribunnews.com, Febby Mahendra Putra.

Karena itu, Anis Matta menilai tidak ada definisi akhir dari krisis yang diakibatkan oleh penyebaran virus. Sebab, definisi virus sama dengan isu teroris yang hingga saat ini masih ada dan tidak ada akhirnya.

“Jadi ini satu jenis krisis yang tidak ada definisi akhirnya. Maksudnya tidak ada satu situasi nanti berakhirnya begini. Sejak 2001 misalnya Anda mendengar isu teroris, selesai tidak isu itu? tidak,” katanya.

Menurutnya, ada faktor yang membuat situasi lebih berat daripada hari ini, yaitu menurunnya sistem global.

“Karena pada dasarnya virus itu berhubungan dengan kehidupan kota, di mana manusia terkonsentrasi dalam jumlah besar. Makanannya berupa hewan ini didekatkan kepada dia, potensi itu pasti terjadi,” lanjutnya.

Kedua climate change, perubahan iklim. Dia mengungkapkan sesuai ramalan WHO, mungkin ada krisis pangan dalam dua tahun ke depan.

Dia mengatakan sebagian besar dari musibah-musibah yang saat ini dihadapi faktornya adalah perubahan iklim, terlepas perdebatan perubahan iklim teori konspirasi atau tidak.

“Faktanya, jumlah bencana alam lebih banyak, banjir lebih banyak, tsunami lebih sering, kekeringan, kebakaran hutan dan seterusnya. Misalnya terjadi kebakaran luar biasa di Australia kemarin . Artinya jumlah ini lebih banyak dan mendisrupsi secara ekonomi, sosial, dan secara politik,” ucapnya.

Ketiga konflik geopolitik, terutama konflik Amerika-China. Anis Matta mengatakan konflik kedua negara tersebut memiliki dampak multidimensi.

Ia menyebutnya dengan istilah perang supremacy. Jadi satu bangsa ini muncul menyebabkan kematian yang lain, incumbent ini harus bertahan. Caranya dia harus menghabisi penantang ini.

“Sekarang mana yang kalah incumbent atau penantang, kita tidak tahu. Tapi sampai kapan berakhirnya kita tidak tahu. Tapi mereka berperang menggunakan semua sarana, perang dagang, teknologi, hingga budaya,” ujarnya.

Keempat, faktor teknologi. Anis Matta mengatakan saat ini semua dipaksa berhijrah ke sistem digital, dan hal itu telah dilakukan Partai Gelora dengan sukses menyelenggarakan ‘Gelora Digifest 2020’ dan ‘Gelora Kemerdekaan 2020’, serta event-event lainnya beberapa waktu lalu.

Namun, soal hijrah ke sistem digital ini ternyata banyak instansi pemerintahan yang tidak siap dengan digitalisasi, karena tidak didukung dengan infrastruktur yang memadai.

“Ketika kita hijrah ke situ korbannya berapa banyak. Jadi keempat faktor ini adalah faktor disrupsi, yang sekarang ini terjadi sekaligus. Krisis ini bersifat sistemik, multidimensi, dan berlarut, lama waktunya,” kata Anis Matta.

Lebih lanjut, Anis Matta yang dikenal sebagai pakar geopolitik internasional ini mengatakan, dalam satu analisa sistem global, dikatakan setiap 80 hingga 100 tahun ada perubahan dalam sistem global , sementara saat ini sistem tersebut usianya sudah mencapai 75 tahun.

“Misalnya abad ke-16 itu abadnya Portugis, abad ke-17 yang dominan Belanda, Abad ke-18 dan ke-19 itu yang dominan Inggris, abad ke-20 itu Amerika. Sekarang dominasi ini akan bertahan atau tidak, kita tidak tahu. Pandemi akan mempercepat perubahan tersebut,” pungkasnya.

Orasi Kebangsaan Anis Matta: Ada Lima Fitur sebagai Indikator dalam Mencetak Pemimpin Berkualitas

JAKARTA – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta berbicara mengenai lima modal utama atau komponen mendasar pemimpin Indonesia di masa mendatang.

Anis Matta menjabarkan lima fitur komponen dasar itu, saat menyampaikan Orasi Kebangsaan bertajuk ‘Fitur Pemimpin Peradapan’ usai melaunching Akademi Pemimpin Indonesia (API) Partai Gelora pada Senin (17/8/2020) malam.

“API untuk memberikan solusi kedua dari yang kita perlukan, dari setiap krisis setelah peta jalan pemimpin dan determinasi kolektif. Kita ingin arah baru untuk bisa membawa Indonesia jadi kekuatan kelima dunia untuk bisa melahirkan pemimpin yang besar, untuk bisa membawa narasi besar, itulah misi utama API ini,” ujar Anis Matta saat membuka orasi kebangsaannya.

Adapun fitur atau komponen dasar pertama untuk melahirkan pemimpin baru adalah yang memiliki kesadaran mendalam oleh krisis, menurut Anis Matta penting sekali jika pemimpin memiliki kesadaran mendalam akan krisis. fitur kedua adalah memiliki semangat kepahlawanan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi.

“Fitur kedua, pemimpin ini memiliki apa yang disebut semangat kepahlawanan nubuwwah, semangat kepahlawanaan profetik, dia memiliki apa yang kita sebut sebagai profetik heroism, jadi dia merasa memiliki tanggung jawab pribadi atas masalah bangsanya, bahwa krisis ini secara pribadi panggilan dirinya, dan panggilan inilah yang dia jawab. Jadi ciri yang menandai para pahlawan yang memiliki semangat nubuwwah itu yaitu semangat pertangungajawaban baik kepada Allah, manusia, dan sejarah yaitu kepada generasi yang akan datang kemudian,” kata Anis Matta.

Fitur ketiga yakni pemimpin yang membicarakan solusi bukan membicarakan masalah. Pemimpin yang memiliki agama sebagai pegangan dan memiliki pengetahuan untuk mengaplikasikan cara bekerja. Dia juga menilai pemimpin itu harus bisa menggabungkan antara elemen agama dan pengetahuan.

“Dalam makna itu, kita ketemu dengan persoalan utama, bahwa dalam krisis besar manusia dibutuhkan agama sebagai pegangan, dan pengetahuan sebagai cara kerja. Memadukan agama dan pengetahuan adalah narasi besar sepanjang peradaban,” katanya.

“Di samping agama, adalah pengetahuan karena itu pengetahuan menjadi sumber pemberdayaan, pengetahuan kekuatan, jadi kalau kita ingin buat suatu kapasitas suatu bangsa, kita harus buat mereka berpengetahuan. Memadukan agama dan pengetahuan adalah asas kita masuk dalam komponen narasi sangat penting, yaitu masyarakat lebih dulu daripada negara,” ucapnya.

Menurut Anis Matta, sangat penting apabila seorang pemimpin meletakkan rakyat menjadi nomor satu atas segalanya. Dia menyebut suatu negara akan maju apabila masyarakat diutamakan, dia pun mengambil contoh negara yang dulunya Uni Soviet dan saat ini bubar karena menomorduakan rakyat.

“Dalam narasi dan peta jalan menggabungkan agama dan pengetahuan ini, kita harus meletakkan masyarakat sebagai prioritas utama kita, karena itu sumber utama kekuatan negara itu masyarakat kuat kalau tujuan hidup jelas, dan sumber keberdayaannya yaitu pengetahuan itu ada,” jelasnya.

“Nah 3 komponen dasar dalam narasi agama, pengetahuan, dan masyarakat ini yang jadi komponen dasar peta jalan yang kita lalui. Kalau kita bicara Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia, inilah ketiga komponen dasarnya, yaitu mendahulukan komponen masyarakat, dengan komponen agama dan pengetahuan sebagai sumber keberdayaannya, barulah kita melangkah ke yang lainnya, barulah kita masukan standar umum negara-negara sebagai negara kuat, yaitu militer, teknologi dan seterusnya, itu semua output dari komponen utama yang lahirkan semuanya,” sambungnya.

Lebih lanjut, adapun fitur keempat adalah seorang pemimpin yang akan dilahirkan Gelora adalah pemimpin yang juga sebagai pemersatu bangsa dalam hal apapun. Dan kelima adalah fitur efektifitas, yakni pemimpin yang mampu merealisasikan kerjanya menjadi nyata dan bukan hanya wacana.

“Yang saya maksud efektifitas itu adalah bahwa para pemimpin yang ingin kita lahirkan bukan hanya mengerti apa yang dia mau, bukan hanya mengerti bicara narasi yang dia bawa, tapi juga buat narasi itu bekerja dalam kehidupan yang real, bagaimana rencana itu tereksekusi dengan baik dalam kenyataan. Jadi di luar punya rasa tanggung jawab dan pengetahuan luas, mereka juga mampu merealisasikan mimpi itu, mereka adalah pemimpin yang efektif,” tutur dia.

Dia pun yakin jika lima fitur ini dimiliki seseorang maka Indonesia dapat menjadi negara yang lebih baik lagi. Dia menyebut lima fitur itu akan digunakan sebagai indikator Gelora dalam mencetak pemimpin berkualitas.

“Wadah ini, partai ini, menjadi organisasi melahirkan bakat-bakat terbaik untuk memimpin Indonesia dan bangsa yang akan datang,” pungkas Anis Matta. ***

Launching API, Partai Gelora Siap Lahirkan Pemimpin dalam Jumlah Besar, Dukung Indonesia Jadi Kekuatan Kelima Dunia

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia melaunching Akademi Pemimpin Indonesia (API) dalam rangka memperingati HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia.

API bertujuan untuk melahirkan pemimpin baru yang diharapkan mampu membawa arah Indonesia menjadi lebih baik dan mewarisi fitur para pendiri bangsa (founding father).

Launching dilakukan oleh Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Muhammad Anis Matta, didampingi Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik dan Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Senin (17/8/2020) malam.

“Lembaga ini akan memberikan pembinaan dan pengembangan fungsionaris Partai Gelora, untuk tahap awal. Nantinya, akan melakukan pelatihan ke seluruh wilayah,” kata Anis Matta

Tahap pertama, API memberikan Orientasi Kepemimpinan kepada 250 peserta terdiri dari pendiri, pengurus DPN, DPW, Majelis Pertimbangan Nasional dan Mahkamah Partai.

Peserta yang lulus kemudian memperoleh e-Sertifikan sebagai pertanda mengikuti API GELORA angkatan pertama, yang diadakan pada Jumat-Minggu, 14-16 Agustus 2020.

Dalam kesempatan itu, Anis Matta menyatakan dalam setiap krisis besar, ada tiga hal yang diperlukan.

Pertama adalah peta jalan, kedua adalah pemimpin, ketiga adalah determinasi kolektif.

“Apa yang kita lakukan dalam empat hari ini adalah melaunching suatu lembaga di Partai Gelora yaitu Akademi Pemimpin Indonesia untuk memberikan solusi kedua dari yang kita perlukan dalam setiap krisis, setelah peta jalan pemimpin dan determinasi kolektif,” kata Anis Matta.

Anis Matta menyatakan API dibentuk untuk melahirkan pemimpin dalam jumlah yang besar, untuk mendukung Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia.

Dia menyatakan narasi besar tersebut yang akan diwujudkan Partai Besar melalui API, selain narasi dalam arah baru Indonesia.

“Kita sudah mendiskusikan tahun-tahun sebelumnya tentang narasi yang kita perkenalkan di Partai Gelora ini, narasi yang menjadi alasan Partai Gelora hadir yaitu bahwa kita sudah menjadi gelombang ketiga Indonesia di dalam sejarah. Oleh karena itu kita memerlukan arah baru yaitu menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia,” katanya.

“Dan untuk itu kita membutuhkan pemimpin dalam jumlah yang besar untuk bisa membawa narasi besar itu. Itulah yang menjadi misi utama dari Akademi Pemimpin Indonesia,” imbuhnya.

Di sisi lain, Anis Matta menyinggung soal krisis kepemimpinan yang bisa menjadi penghancur suatu bangsa.

Anis menyebut HUT ke-75 RI merupakan momentum untuk melakukan peremajaan kepemimpinan secara sistematis.

“Perayaan ulang tahun kali ini penuh dengan kegembiraan karena yang kita rayakan pada dasarnya adalah tekad kita untuk membawa Indonesia keluar dari krisis ini, keluar dari krisis berlarut dan melakukan lompatan besar menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima dunia,” pungkas Anis Matta. ***

Chusnul: Seorang Aktivis Partai Jangan Baca ‘Doraemon’, Anda Bukan Pemimpin Kalau Baca Itu

JAKARTA – Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU)Chusnul Mariyah meminta para aktivis di partai politik (Parpol) untuk tidak menggunakan cerita ‘Doraemon’ sebagai cara memahami berbagai persoalan bangsa dalam kehidupan sehari-hari .

Sebab, untuk memahami dan menyelesaikan persoalan bangsa tidak bisa diselesaikan dengan ‘kantong ajaib’ saja, tapi aktivis partai, terutama perempuan harus benar-benar berkualiatas dan cerdas, sehingga bisa memahami ketika berbicara mengenai narasi kebangsaan.

Cerita fiksi dan animasi dari Jepang ini , populer dikalangan anak-anak di Indonesia , dikenal memiliki ‘kantong ajaib’ yang bisa menyelesaikan masalah.

Doraemon, yang digambarkan seekor kucing ini akan mengeluarkan alat yang diminta Nobita Nobi, untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya.

“Anda pasti bukan pembaca yang baik, seorang aktivis partai yang dibaca jangan Doraemon. Kalau anda tidak bisa membaca (narasi, red), anda bukan pemimpin yang baik, you are not a leader,” kata Chusnul dalam ‘Orientasi Kemimpinan (OKE) API Gelora dengan tema ‘Perempuan di Tengah Digitalisasi Demokrasi’ yang diselenggarakan Partai Gelora, Sabtu (15/8/2020).

Menurut Chusnul, aktivis perempuan di partai harus memliki kemampuan ‘komunikasi membaca’ persoalan yang dihadapi bangsa dan rakyatnya. Sehingga bukan hanya sekedar sebagai pelengkap atau pemanis kuota perempuan saja dalam politik.

“Ngerti persoalan rakyatmu aja nggak, apalagi ngerti persoalan perempuan, juga nggak. Bagaimana anda membangun narasi soal persoalan bangsa?, sementara tidak mempunyai kemampuan komunikasi membaca. Makanya ketika ditanya wartawan, jawabannya a,i,u,e,o, nganu,” ujar Chusnul.

Staf pengajar FISIP UI ini menilai perempuan Indonesia harus sadar diri dalam meningkatkan kemampuannya dalam berpolitik. Ia menyadari, kesalahan ini tidak mutlak dari perempuan itu sendiri, melainkan dari proses rekruitmen di partai.

“Biasanya kalau perempuan cerdas dikatakan galak, sehingga tidak rekrut. Yang direkrut yang feminim tunduk pada kemauan pimpinan partai dan bandar, makanya yang diambil, istrinya, saudaranya, pacarnya dan orang-orang terdekat,” ungkapnya.

Akibatnya, para perempuan berpendapat, politik itu kotor dan memilih tidak terlibat dalam aktivitas politik, meskipun kuota perempuan di parlemen sudah mencapai 21 persen saat ini.

“Perempuan tetap mengaggap politik kotor, tapi dia sendiri tidak mau ikut membersihkan. Inilah problem kita saat ini, nah Partai Gelora sebagai partai baru jangan seperti partai-partai yang sudah ada,” tegas Chusnul.

Chusnul berharap para perempuan yang menjadi aktivis partai dan aktif dalam dunia politik, berani ‘bertarung (fight) dan tidak sekedar menjadi follower, tetapi harus berperan aktif dengan didukung kemampuan komunikasi membaca narasi persoalan bangsa.

“Jadi, perempuan itu harus percaya diri, perempuan masih dipandang sebelah mata, makanya jangan heran kalau partai politik banyak artisnya. Saya tanya kok seneng banget, rupanya kalau rapat ada artis, bapak-bapak senang. Mereka direkrut karena followernya banyak, tapi kalau dilihat masih kalah dengan followernya Puan Maharani. ,” pungkas Chusnul.

Dahlan Iskan: Partai Gelora Bisa Buat Roadmap Mencari Pemimpin Populer dan Berkualitas

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia bisa mengambil peran untuk menyiapkan para pemimpin berkualitas, meskipun saat ini pemimpin yang terpilih hanyalah yang paling populer di masyarakat, bukan yang berkualitas.

Namun, hal itu harus terus diupayakan hingga ditemukan seorang pemimpin yang berkualitas dan populer dimasyarakat. Partai Gelora bisa membuat roadmap (peta jalan) pemimpin berkualitas dan populer.

“Poin paling penting yang harus ada di dalam seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam memajukan negara ini. Partai Gelora tidak ada beban apapun, ya mulailah sesuatu yang menerobos, menyiapkan para pemimpin,” kata tokoh pers Dahlan Iskan dalam ‘Orientasi Kepemimpinan (OKE) API Gelora dengan tema ‘Membangun Kepemimpinan Indonesia Maju di Tengah Krisis Global’ yang diselenggarakan oleh Partai Gelora Indonesia, Sabtu (15/8/2020).

Keberadaan Akademi Pemimpin Indonesia (API), bisa menjadi alat bagi Partai Gelora untuk menyiapkan pemimpin berkualitas dan populer, misalkan menjaring 100 orang dari berbagai daerah di Indonesia dengan berbagai latar dan track recordnya.

“Katakanlah dari 100 itu diseleksi menjadi 15 orang dan track recordnya harus baik. Saya yakin Partai Gelora bisa, karena memilliki kemampuan kerja-kerja tehnokrat dan bisa menyiapkan pemimpin secara terukur dan target-targetnya. Tinggal nanti mempopulerkan calon yang berkualitas itu,” katanya.

Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) era Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) itu menyampaikan, kegelisahannya terkait calon pemimpin Indonesia ke depan, apabila sistem pemilu masih seperti sekarang. Bagi Dahlan, masyarakat cenderung melihat kepopulerannya saja.

“Saya belum melihat indikasi bahwa tidak ada jaminan yang terpilih adalah yang berkualitas. Tetap saja yang terpilih adalah yang populer, yang disenangi (masyarakat). Padahal yang disenangi belum tentu berkualitas. Tentu yang belum populer bisa nangis,” terang Dahlan Iskan.

Dahlan mengungkapkan, kegelisahan dirinya juga dialami oleh mantan Presiden SBY, bahwa pemimpin setelah dirinya belum tentu berkualitas dan populer. “Pak SBY juga gelisah siapa pengganti dirinya, mampu saja tidak cukup karena akan tidak sukai masyarakat,” ujarnya.

Mantan Direktur PLN ini meyebut, orang-orang di balik partai Gelora merupakan orang-orang yang mampu dan berkualitas. Namun, orang-orang berkualitas ini cenderung sulit populer karena dianggap terlalu serius.

Terbukti banyak pejabat di negara ini yang terpilih karena kepopulerannya. Sehingga menurutnya, kualitas dan kemampuan seseorang tidak lagi menjadi prioritas utama yang harus dimiliki oleh para pejabat atau calon pemimpin Indonesia.

“Mengandalkan kemampuan saja tidak akan terpilih dan ini terbukti sekarang, orang-orang yang populer banyak yang terpilih. Yang mampu ini biasanya sulit populer karena terlalu serius. Sementara yang populer tidak serius. Kalau semakin serius, tidak terlalu disukai ,” kataya.

Namun, bagi Dahlan keberadaan Partai Gelora tetap menjadi harapan bagi Indonesia untuk melahirkan pemimpin-pemimpin, tidak hanya sekedar berkualitas saja, tetapi juga populer. Kerja-kerja selanjutnya adalah mempopulerkan pemimpin berkualitas tersebut.

“Partai Gelora harus berani melakukan terobosan membuat roadmap pemimpin Indonesia 4, 9 tahun 11 tahun dan seterusnya. Hal ini Ini agar ditemukan pemimpin yang mampu sekaligus populer dan mereka tidak kalah suara dari calon pemimpin yang hanya mengandalkan kepopuleran itu,” ujarnya.

Dahlan menambahkan, upaya yang dilakukan Partai Gelora dalam menyiapkan pemimpin melalui Akademi Pemimpin Indonesia perlu mendapatkan dukungan dari semua pihak, seluruh komponen bangsa.

Sebab, sistem demokrasi yang sudah terbangun saat ini tidak mungkin dikembalikan lagi pada sistem kediktatoran seperti era Orde Baru. Namun, yang perlu diperbaiki saat ini adalah masalah penegakan hukumnya, jangan dijadikan alat untuk penguasa.

Fajar Shiddieq, [16.08.20 08:42]
“Diktator itu tidak ada yang baik kecuali di China dan Singapura. China karena sistemnya, Singapura karena orangnya. Nah kalau saya, demokrasi harus tetap berjalan, tapi dibarengin dengan penegakan hukum yang jelas,” pungkasnya.

Diketahui, Partai Gelora saat ini sedang menyiapkan pemimpin-pemimpin Indonesia ke depan dan membangun narasi Indonesia menjadi lima besar kekuatan dunia melalui Akademi Pemimpin Indonesia.

Partai Gelora Indonesia juga secara masif melakukan koordinasi kepada seluruh komponen anak bangsa dengan membentuk Akademi Manusia Indonesia (AMI). AMI ini sifatnya membentuk diri dan kepribadian jati diri Indonesia.

Dengan keberadaan AMI dan API ini, mimpi Indonesia menjadi kekuatan kelima dunia sejajar bersama Amerika Serikat, Uni Eropa , Rusia dan China bisa terwujud. *

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X