Category: Gelora Terkini

Anis Matta: Pemerintah Perlu Dukung Iklim Usaha Pengembangan UMKM dan Ekonomi Kreatif

, , , , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, pemerintah perlu mendukung iklim usaha pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif saat pandemi ini.

Sebab, UMKM dan ekonomi kreatif dapat memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan mengentaskan kemiskanan.

“Kita punya peluang pasar domestik, dan UMKM saya memandangnya harus menjadi pilar utama ekonomi Indonesia, karena itu dibutuhkan iklim yang mendukung pengembangan UMKM,” kata Anis Matta saat berdialog dengan pelaku UMKM di Yogyakarta dalam acara bertajuk ‘Jagongan Gayeng, Sabtu (14/11/2021) malam.

Dalam dialog yang dilaksanakan dalam suasana santai di Coday Coffee ini, Anis Matta menilai dukungan tersebut akan menciptakan model sosial masyarakat kelas menengah yang berasal dari pelaku UMKM. Berbeda dengan negara-negara lain di dunia yang dibangun dari kelompok profesional.

“Tapi mereka ini rentan terhadap gejolak ekonomi. Sektor UMKM di Indonesia sudah teruji daya tahannya dalam menghadapi krisis ekonomi,” katanya.

Partai Gelora, lanjutnya, pelaku UMKM ini harus menjadi kelompok mayoritas kelas menengah, sehingga akan mengokohkan ekonomi nasional.

Namun, untuk mencapai hal itu, dibutuhkan peta jalan pengembangan UMKM.

“Selain itu, pemerintah juga harus menyiapkan sistem pendukung bagi pengembangan UMKM dengan memberikan kemudahan permodalan, teknologi, kemudahan regulasi, insentif pajak, dan pasar yang terbuka,” ujarnya.

Menurut Anis Matta, sistem pendukung tersebut baru akan efektif apabila iklim usaha bagi UMKM terbangun dengan baik dengan memberikan ruang kebebasan berusaha.

Sehingga bisa menjadi supporting sistem bagi demokrasi dan bisnis yang sehat.

“Insya Allah, kalau dunia usaha diberikan kebebasan akan tumbuh besar. Dan kita ingin kelas menengah dari pelaku UMKM ini, kuat dan kokoh seperti diamond. UMKM harus menjadi kelompok mayoritas kelas menengah Indonesia,” ujarnya.

Anis Matta menambahkan, Partai Gelora akan terus melakukan kampanye literasi untuk mewujudkan Indonesia menjadi 5 besar dunia melalui pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif sebagai penopang perekonomian nasional.  

Hal senada disampaikan Ketua DPW Partai Gelora Daerah Istimewa Yogyakarta Zuhrif Hudaya mengungkapkan Indonesia punya potensi yang besar untuk pengembangan industri kreatif dan digital.

Yogyakarta sebagai salah satu kota pendidikan dan budaya, lanjutnya, harus bisa menjadi lokomotif industri kreatif dan digital.

“Partai Gelora sangat menaruh perhatian terhadap perkembangan sektor ini dan selama ini telah menjalankan beberapa program yang dapat menjadi pendorong pertumbuhan industri kreatif,” terangnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah mengamini Zuhrif Hudaya. Fahri menilai Yogjakarta memiliki pasar yang kuat dalam industri kreatif, industri kata-kata.

“Bangsa Indonesia itu pada dasarnya bangsa pengumpat yang melambangkan perasaan hati. Peluang ini menjadi bisnis yang memproduksi kaos dengan menangkap public mood, perasaan hati masyarakat. Pasar Jogya ini lebih kuat dari Indonesia,” kata Fahri.

Sebelum berdialog dengan pelaku UMKM Yogyakarta, Anis Matta melakukan kunjungan ke Dagadu Jogja, Dagadu merupakan brand merchandise asli Jogja yang telah malang melintang dalam dunia merchandise khas daerah Jogja.

Saat menuju Dagadu, Anis Matta didampingi Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, fungsionaris DPN, Ketua DPW Zuhrif Hudaya dan kader Partai Gelora Yogyakarta berjalan kaki sejauh 500 meter di tengah terik panas matahari.

Anis Matta dan Fahri Hamzah menyapa masyarakat Yogyakarta sambil menyusuri Jalan Gedong Kuning Selatan, Bangun Tapa, Bantul menuju outlet Dagadu.

Di Dagadu, Anis Matta dan Fahri Hamzah diterima langsung CEO PT Aseli Dagadu Djokja Mirza Arditya. Mirza mengatakan, Dagadu didirikan 28 mahasiswa jurusan arsitektur UGM 28 tahun lalu.

“Di UGM yang dibolehkan pakai kaos hanya mahasiswa arsitektur. Mereka kemudian membuat kaos sendiri, berkembang dan bisa survive sampai sekarang,” kata Mirza Arditya.

Dalam kesempatan ini, Anis Matta mengajak Dagadu untuk kolaborasi Co-branding dalam membuat produk baru kaos. Karena pada prinsipnya antara Dagadu dengan Partai Gelora memiliki kesamaan.

Yakni Dagadu memproduksi kata-kata, Partai Gelora memproduksi narasi. Kaos yang dibuat Partai Gelora selama ini masih terlalu formal dan kaku.

“Kita ingin melakukan kolaborasi cinta dengan Dagadu, karena pada padasarnya Dagadu tidak jualan kaos, tapi kata-kata, senyuman dan jok-jok lucu. Kita bisa kerjasama Co-branding  produk baru untuk partai politik,” katanya.

Temui Pelaku UMKM di Banjarmasin, Partai Gelora Nilai Sasaringan Punya Potensi Go Internasional

, , , , , , , ,

Partaigelora.id – Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menemui pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Kalimantan Selatan (Kalsel), Sabtu (13/11/2021).

Partai Gelora mendatangani pengrajin Sasaringan atau kain batik khas Banjar di Daper Kampung Kriya Ketupat, Banjarmasin, Kalsel.

Kunjungan ke pengrajin Sasaringan tersebut, dipimpin Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwati dan Ketua Bidang Hubungan Kerjasama Lembaga Ratu Ratna Damayani.

Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Ratih Sanggarwaty berpendapat, ‘sasirangan memiliki potensi yang sangat besar untuk “go international” ( di ekspor ke mancanegara).

Ratih memberikan sharing tentang Sasirangan Go Internasional di ibukota Provinsi Kalsel yang kini berpenduduk lebih empat juta jiwa tersebar pada 13 kabupaten/kota itu.

Ia menegaskan, bahwa sasirangan memiliki potensi besar untuk Go Internasional karena memiliki ciri khas yang benar-benar unik.

“Kami di Partai Gelora siap untuk membantu dan memperjuangkan kemajuan industri sasirangan di Kalsel berkolaborasi dengan setiap elemen masyarakat khususnya perempuan Kalsel sendiri,” demikian Ratih.

Sementara itu, Ketua Bidang Perempuan DPW Partai Gelora Kalsel Siti Saro mengungkapakan, hari ini pihaknya banyak berdialog tentang pewarna alam dan motif sasirangan yang memiliki makna yang dalam.

“Kami berharap nilai-nilai budaya yang ada di kain sasirangan bisa terus dijaga dan dikembangkan,” katanya.

Dalam acara bersama rombongan DPN Partai Gelora itui ikut serta komunitas sekitar Kriya Ketupat serta pengrajin sasirangan dengan total 25 orang.

Generasi Muda Partai Gelora Jalin Silahturahmi dengan Staf Muda Walikota Banjarmasin

, , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Bidang Generasi Muda DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Hudzaifah Muhibullah menggelar silaturahmi dengan Staf Muda Walikota Banjarmasin di Calais Caffe, Jl. Veteran, Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Sabtu (13/11/2021).

Kegiatan ini dilakukan menjalin silahturahmi dengan kader muda Partai Gelora di Kota Banjarmasin, serta bertemu Staf Muda Walikota Banjarmasin yang baru saja dibentuk pada 28 Oktober 2021.

Hudzaifah Muhibullah (Udef) mengungkapkan rasa senangnya bisa bersilaturahmi dengan rekan-rekan kader muda Partai Gelor, serta Staf Muda Walikota Banjarmasin.

Menurutnya, kehadiran staf muda Walikota ini adalah bukti bahwa peran pemuda memang benar-benar dibutuhkan dalam membangun kota.

“Semoga ini bisa menjadi awal yang baik ungkap pria yang akrab disapa Udef ini, dirinya berharap Partai Gelora dan Staf Muda Walikota Bisa berkolaborasi di kemudian hari,” kata Udef

Dendy Primanandi, perwakilan Staf Muda Walikota Banjarmasin Bidang Perencanaan Wilayah Kota dan Lingkungan mengungkapkan, bahwa dirinya dan rekan-rekan staf muda lainnya merasa terhormat bisa bersilaturahmi dengan Generasi Muda Partai Gelora.

“Kami ingin meluruskan beberapa hal terkait staf muda itu sendiri karena banyak kesalah pahaman yang terjadi dimasyarakat tentang kehadiran kami. Kami bekerja tulus, bahkan sampai dengan hari ini kami tidak menerima gaji sebagai staf muda,” kata Dendy.

Ketua Generasi Muda Partai Gelora Kalsel Armadiansyah mengatakan, Partai Gelora ingin menjalin kolaborasi banyak hal dengan Staf Muda Walikota Banjarmasin.

“Kami tadi banyak sharing soal mitigasi bencana Banjir di Kota Banjarmasin serta peluang-peluang pemuda di pemerintahan,” kata Armadiansyah.

Indonesia Perlu ‘Generasi Musim Semi’, bukan ‘Generasi Musim Dingin’ agar Punya Optimisme

, , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia memerlukan ‘generasi musim semi’, bukan ‘generasi musim dingin, sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.

Generasi musim semi, adalah generasi yang penuh optimisme dan keyakinan yang tahu cara mengubah krisis sebagai peluang. Bukan sebaliknya generasi musim dingin, generasi yang penuh kebekuan yang tidak tahu arah dan tahun, serta berputus asa dan mudah menyerah.

“Jadi kita di Partai Gelora ini, tidak hanya memikirkan nasib kita saja, tetapi juga bisa mengubah wajah Indonesia, tahu cara mengubah krisis menjadi peluang,” kata Anis Matta saat menyampaikan pembekalan Rapat Koordinasi Pemenangan DPW Partai Gelora Jawa Tengah (Jateng) di Hotel Patra Jasa Semarang, Jumat (13/11/2021).

Menurut Anis Matta, Partai Gelora menyadari bahwa ide lima besar dunia memang masih susah dipahami oleh masyarakat, termasuk para pemimpin sekarang. Tetapi dengan generasi musim semi itu, ide lima besar dunia itu bisa tercapai.

Ia memprediksi dalam 10 tahun ke depan, Indonesia akan mengalami guncangan hebat kebangkrutan ekonomi, selain terlibat dalam pusaran konflik geopolitik. Sehingga perlu dipersiapkan langkah-langkah untuk mengantisipasinya, sebelum hal itu benar-benar terjadi. 

“Saya tahu ini banyak yang tidak nyambung, begitu sulit menjelaskan ini (narasi 5 besar dunia, red). Jangankan orang desa, orang yang di dekat saja istana bingung. Makanya, pemerintahnya bingung, oposisinya juga bingung. Tapi sorot mata saudara, adalah optimisme, penuh keyakinan, senyum optimisme, bukan kesedihan. Itu yang kita perlukan,” ujarnya.

Dari rasa optimisme itu, lanjutnya, Partai Gelora telah mencapai pencapaian luar biasa, meski dengan sumber daya terbatas dan berada dalam target tekanan selama dua tahun ini.

“Kita sudah coba di Pilkada Medan, apa yang tidak mungkin jadi mungkin, karena keyakinan dan optisme kita, nah ikan akan kita coba secara nasional,” katanya.

Berdasarkan survei internal, ungkapnya, Partai Gelora sudah masuk 10 besar partai politik (parpol) dan menggeser parpol yang tidak lolos parliament threshold pada Pemilu 2019 lalu. Bahkan di DKI Jakarta, popularitas Partai Gelora sudah mencapai 3 persen.

“Ada waktunya kita lemah, tidak berdaya terhadap waktu yang kita targetkan. Saya bisa bayangkan stressnya anda luar biasa, tetapi dengan kesabaran dan daya tahan kita, alhamduillah sudah mencapai pencapaian luar biasa,” katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Fahri Hamzah menambahkan, Partai Gelora ingin mengurangi ketegangan-ketegangan yang tidak diperlukan, sehingga bisa fokus untuk membangun.

“Partai Gelora punya harapan, rumah besar Indonesia tidak boleh lagi ada ketegangan. Kita lebih baik buruk di layar, tapi orang jatuh cinta kepada kita. Bukan sebaliknya, baik di layar tetapi orang tidak jatuh cinta ke kita,” kata Fahri.

Anis Matta berharap semua kader Partai Gelora mengusir sumber pesimisme yang ada dalam diri. Karena suasana jiwa negatif dan perasaan tidak berdaya, akan melahirkan kesedihan dan kemalasan.

“Kita punya target 2 kursi per dapil, Insya Allah dan dengan penuh keyakinan akan tercapai, makanya saya kirim caleg di Solo Raya ibu Mala (Kumalarasi Kartini, red). Saya tahu ini akan ‘brutal’, karena yang dihadapi di dapil ini orang kuat dan partai kuat. Tapi jika Allah mengizinkan semua akan berubah,” tandasnya.

Partai Gelora, ungkap Anis Matta, sudah membuat roadmap pemenangan Pemilu 2024 dalam sebuah gerakan seperti melaunching Blue Helmet, Rumah Qur’an, Majelis Cinta Rosul, gerakan UMKM di Jateng dan gerakan lingkungan di Jawa Barat.

Rapat Koordinasi Pemenangan DPW Partai Gelora Jateng ini, selain dihadiri Anis Matta dan Fahri Hamzah, juga dihadiri Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bidang Pengembangan Teritori III (Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyarkarta) Achmad Zaenudin, fungsionaris DPN Partai Gelora, Ketua DPW Jateng Achmadi dan DPD se-Jateng.

Anis Matta: UMKM Pilar Ekonomi Rakyat, Bisa Jadi Solusi Atasi Kemiskinan

, , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengunjungi dua sentra usaha UMKM di Semarang, Jawa Tengah, yaitu Batik Semarang 16 dan Bandeng Presto New Citra.

Anis Matta mengatakan, kunjungannya sebagai bentuk dukungan Partai Gelora terhadap keberlangsungan UMKM yang terdampak pandemi Covid-19.

“UMKM ini sudah terbukti bisa menggerakkan roda perekonomian kita selama masa krisis ini. Sehingga kita perlu memberikan dukungan agar mereka bisa terus bertahan,” kata Anis Matta di Semarang, Jumat (12/11/2021).

Menurut Anis Matta, pelaku UMKM saat ini mengeluhkan penurunan omzet penjualan dan kendala dalam pemasaran.

Ia berharap keluhan dari pelaku UMKM ini mendapatkan perhatian serius dari pemerintah.

“Kita berharap pemerintah membuat kebijakan yang pro UKM. Dan semua pihak bisa berkolaborasi untuk sama-sama mengembangkan UMKM,” katanya.

Anis Matta menilai pengembangan usaha UMKM bisa menjadi solusi pemerintah untuk mengatasi kemiskinan yang meningkat selama pandemi Covid-19.

“Dari kunjungan saya di tiga provinsi, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, kita melihat angka kemiskinan naik selama pandemi. Nah, pengembangan UMKM bisa jadi solusi untuk mengentaskan kemiskinan,” tegasnya.

Anis Matta menegaskan, UMKM merupakan pilar ekonomi rakyat, karena konsep UMKM berupaya untuk memberdayakan ekonomi masyarakat.

“Kita dorong UMKM naik kelas supaya jadi besar. Kita mendorong betul UMKM ini, karena merupakan pilar ekonomi rakyat,” katanya.

Anis Matta mengunjungi langsung pabrik Bandeng Presto New Citra di kawasan Padurungan dan Batik Semarang 16 di Kampung Metese, Kecamatan Tembalang, Dusun Sumberejo, Kota Semarang.

Anis Matta melihat langsung proses pembuatan bandeng presto hingga pengemasan.

“Rasanya luar biasa, kita coba akan bantu permasalahan mereka dalam pemasaran secara online agar bisa berkembang,” katanya.

Sementara di Batik Semarang 16, Anis Matta juga melihat proses menenun benang hingga pembuatan model batik tulis dan proses pembatikannya menggunakan canting.

Anis  Matta sempat merasakan bagaimana cara menenun benang menjadi kain, serta membatik menggunakan canting.

“Batik ini merupakan produk warisan budaya luar biasa Indonesia, yang harus kita jaga dan lestarikan,” katanya.

Anis Matta menilai ada filosofi yang bisa diambil dari Batik ini, yakni ketekunan, cita rasa dan keindahan karena rumitnya proses pembuatannya yang membutuhkan waktu antara 7-8 jam.

“Falsafahnya luar biasa, Batik ini mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang rumit, tapi harmonis,” tegasnya.

Dalam kunjungan ke UMKM, Anis Matta didampingi Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah, Sekretaris Jenderal Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Ahmad Rilyadi, para fungsionaris DPN dan Ketua DPW Jateng Achmadi.

Partai Gelora Beri Apresiasi Tiga Pahlawan Kekinian dari Berbagai Profesi

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora)  Indonesia Anis Matta memberikan apresiasi kepada para pejuang yang layak disebut sebagai pahlawan dalam konteks hari ini atau kekinian.

Dikutip dari Channel Gelora TV, Jumat (12/11/2021), penyerahan apresiasi dilakukan Anis Matta di rumah bersejarah HOS Cokroaminoto di kawasan Peneleh, Surabaya, Jawa Timur, pada peringatan Hari Pahlawan, Rabu 10 Nopember 2021 lalu.

Penerima apresiasi tersebut adalah Abdul Majid Uno, pejuang disabilitas yang bergerak membantu perlindungan  pemenuhan hak-hak disablitas sesuai cita-cita Indonesia yang memastikan kesejahteraan bersama.

Kedua Rina Roselawati, pejuang sosial membantu masyarakat kecil dalam pengentasan kemiskinan dan gizi buruk dari tingkat RT hingga di kabupaten di Jatim.

Ketiga Titik Suwandari, pejuang ekonomi yang memperjuangkan, serta membantu pemberdayaan masyarakat kecil dan UMKM di Jatim.

Pejuang disabilitas Abdul Majid Uno menyampaikan terima kasih kepada Partai Gelora yang telah memberikan perhatian kepada nasib para penyandang disabilitas.

“Terima kasih kepada Ketua Umum, Pak Anis Matta dan kawan Partai gelora yang sudah memberikan apresiasi atas usaha-usaha yang kami lakukan untuk penyandang disabilitas,” kata Abdul Majid.

Dalam kesempatan ini, Abdul Majid menyerahkan buku karangan dirinya kepada Anis Matta yang akan dilaunching pada 3 Desember 2021 bertepatan dengan Hari Disabilitas Internasional.

Buku berjudul ‘Penghapusan Stigma dan Peran Partisipasi Pemuda Disablitas Dalam Politik dan Demokrasi. ini, kata Abdul Majid, bercerita tentang peran pemuda disabilitas dalam politik dan birokrasi.

“Kita ingin berkoloborasi dengan Partai Gelora. Ini prototipe buku pertama yang kita cetak dan rilis,  kita sampaikan dulu ke Pak Anis Matta, sebelum kita launching pada 3 Desember pada Hari Disabilitas,” ujarnya.

Atas kepedulian Partai Gelora kepada penyandang disabilitas, lanjut Abdul Majid, para penyandang disabilitas ingin berkolaborasi dengan Partai Gelora untuk membicarakan isu-isu disabilitas dalam konteks politik dan demokrasi.

“Harapan kami kader-kader Partai Gelora bisa duduk di Senayan untuk memperjuangkan hak-hak kita penyandang disabilitas untuk bersama-sama membangun Indonesia menjadi kekuatan lima besar dunia,” tandasnya.

Berdasarkan UU No. 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, terdapat lima kategori disabilitas, yakni fisik, intelektual, mental, sensorik, dan ganda/multi. Adapun, berdasarkan data berjalan 2020 dari Biro Pusat Statistik (BPS), jumlah penyandang disabilitas di Indonesia mencapai 22,5 juta atau sekitar lima persen.

Sementara Pejuang UMKM Titik Suwandari mengatakan, dirinya telah membina ratusan UMKM di Jatim, terutama kaum perempuan agar tidak agar tidak berdiam selama pandemi Covid-19 diri dan bisa menopang ekonomi keluarga.

“Saya berdayakan kaum perempuan ini melalui zoom atau saya datangi langsung ke rumah. Tujuannya untuk membesarkan hati mereka, bisa menopang ekonomi keluarga dan tidak manja lagi. Kita dampingi mereka dengan alat-alat yang ada di rumah dan bahan dari daerah itu,” katanya Titik Suwandari.

Ia mengatakan, bahan-bahan yang ada di sekitar mereka bisa dimanfaatkan dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi tertentu. Misalkan pelepah pisang bisa menjadi krupuk, ubi bisa menjadi sereal pengganti dan suplemen minuman kesehatan dari buah-buahan.

“Buah-buahan bisa dijadikan serbuk nutrisari seperti yang dilakukan industri besar, kenapa UMKM kalah,  Padahal dengan alat blender dan wajan itu sudah jadi. Contoh di Batu kita hadirkan Apel dengan segala variasinya, Nanas Blitar dan Mangga Probolinggo dengan segala variasinya. Ini salah satu langkah-langkah yang kita lakukan dalam memberdayakan UMKM,” paparnya.

Indonesia memiliki 65,5 juta UMKM pada 2019. Jumlah itu meningkat 1,98% dibandingkan pada 2018 yang sebanyak 64,2 juta unit. Jika dirinci, maka jumlah usaha mikro pada 2019 mencapai 64,6 juta. Sebanyak 798,7 ribu unit merupakan usaha kecil.

Menanggapi pemberitan apresiasi ini, Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini memasuki dekade ketiga abad 21, dimana sedang menghadapi situasi yang tidak menentu, akibat krisis yang disebabkan pandemi Covid-19.

Sehingga yang bisa membuat eksis Indonesia dan tumbuh besar  sebagai bangsa, apabila bangsa ini memiliki banyak pahlawan, dan yang membuat orang bisa menjadi pahlawan, adalah semangat berbagi, tidak perduli dari profesi atau jabatan apapun.

“Kita serang mendengar slogan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, itu benar. Tapi ada kebenaran lainnya, bahwa bangsa besar itu, adalah bangsa yang semua warganya adalah pahlawan,” tegas Anis Matta.

Kunjungi Pati, Anis Matta dan Fahri Hamzah Terima Aspirasi dari Nelayan Juwana

, , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta dan Wakil Ketua Umum Fahri Hamzah mengunjungi para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Unit II Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (11/11/2021) petang.

Mereka melihat langsung proses pembongkaran ikan dari kapal nelayan, serta berdialog dengan para nelayan dan ketua asosiasi nelayan.

Anis Matta dan Fahri Hamzah menerima permasalahan nelayan seperi birokasi perijinan yang berbelit-belit hingga 29 perijinan, pungutan dari pusat dan daerah, serta mahalnya harga BBM untuk melaut.

Anis Matta mengatakan, nasib para nelayan saat ini sudah sangat menghawatirkan, sehingga perlu mendapatkan  perhatian dari pemerintah.

Apalagi, lanjutnya, nelayan ini bisa menjadi korban akibat adanya perubahan iklim dan punya potensi berdampak besar.

“Saya sengaja berkunjung ke Juwana ini ingin ngobrol dengan nelayan. Mereka bisa menjadi korban dari perubahan iklim, karena itu regulasi kita harus memperhatikan sisi kesulitan dari nelayan,” kata Anis Matta.

Menurut dia, regulasi yang dibuat pemerintah saat ini memberatkan nelayan, belum lagi pungutan yang ditarik pemerintah pusat dan daerah.

Selain itu, harga BBM untuk nelayan juga masih tinggi, yang semestinya mendapatkan subsidi dari pemerintah, sebab penghasilan mereka dari melaut menurun drastis. saat ini, karena berbagai faktor.

“Kita sudah catat ada tiga permasalaha, yaitu birokrasi berbelit-belit, adanya pungutan, dan BBM mahal. Insya Allah akan kita sampaikan ke pemerintah. Semua regulasi yang memberatkan mereka, sebaiknya dipikirkan kembali oleh pemerintah,” ujarnya. 

Fahri Hamzah menilai, nasib para nelayan di Jawa saat ini sangat memprihatinkan, karena mereka tidak punya pekerjaan lain, apalagi tanah yang berbeda dengan nelayan di wilayah lain.

Mestinya, mereka dibebaskan dari segala perijinan dan pungutan pajak, bukannya dipersulit seperti sekarang. Pemerintah juga kurang memberikan faslitas pelelangan dan pengolahan ikan, di laut maupun di darat.

“Pemerintahan ini lagi nyari duit, tapi nyali fulusnya jangan dari rakyat trus. Laut dipersusah, tapi tambang dipermudah. Ini tidak adil buat rakyat. Kita akan bombardir, kita akan demo, teriakan kekuasan itu harus melayani rakyat, jangan dibalik,” kata Fahri.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Pati, Rasmijan mengungkapkan, nasib nelayan mulai terpuruk sejak Menteri Kelautan dan Perikanan (Men-KP) dijabat oleh Susi Pudjiastuti

Ketika dijabat Edhy Prabowo selaku Men-KP, nasib nelayan sudah mulai ada perbaikan, namun sayang terjerat kasus korupsi di KPK yang dinilai para nelayan berunsur ‘politis’.

Penggantinya, Wahyu Sakti Trenggono, bukannya melanjutkan perbaikan nasib nelayan yang telah dilakukan Men-KP sebelumnya, justru semakin memberatkan nasib nelayan.

“Pungutan pajak dinaikkan jadi 10 persen, ditambah pungutan daerah juga naik. Lalu, surat perijinan harus dilengkapi semua ada 29 surat, masa berlakunya berbeda-beda. Belum lagi yang operasi di laut ada 5 institusi, kalau di darat kan jelas ada satu polisi, kalau di laut ada 5 yang bisa menangkap,” kata Rasmijan.

Rasmijan mengaku sudah bertemu Men-KP Wahyu Sakti Trenggono sebanyak dua kali dan dengan Ditjen Kementerian Kelautan dan Perikanan sebanyak tiga kali tidak membuahkan hasil.

“Kita sudah mengajukan audiensi dengan Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo, red) belum direspon. Penghasilan nelayan bukan dari gaji, tetapi bagi hasil. Kalau perijinan dipersulit, pungutan pajak dinaikan, BBM juga naik, kita penghasilannya dari mana,” kata Ketua HNSI Kabupaten Pati ini.

Anis Matta berharap para nelayan mulai terjun ke politik agar memberikan dapat memberikan kesejahteran dan kemakmuran bagi nelayan sendiri. Nelayan bisa mengutus perwakilannya untuk duduk di kursi legislatif di pusat dan daerah.

“Kalau nelayan jadi Anggota DPR, DPRD maka nelayan sendiri yang bikin aturan, karena mereka yang lebih tahu nasib nelayan. Kita ingin nelayan mengutus perwakilanya di DPR, kita tidak ingin hanya dapat suara saja, tapi kita ingin ada perwakilan nelayan secara langsung,” ujar Anis Matta.

Dalam kunjungan ke Juwana ini, Anis Matta dan Fahri Hamzah juga diampingi Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik, Bendahara Umum Achmad Rilyadi, Ketua Bidang Politik dan Pemerintahan Sutriyono serta beberapa pengurus DPN lainnya, Ketua DPW Jateng Ahmadi dan Wakil Ketua DPW Purwadi.

Anis Matta: Semua Bisa Jadi Pahlawan dengan Semangat Berbagi

, , , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Rakyat Indonesia Anis Matta menilai, tiga Pahlawan Nasional ini telah memberikan kontribusi luar biasa dengan perannya masing-masing pada saat itu. Yakni HOS Tjokroaminto, Bung Tomo dan KH Hasyim Asyari.

HOS Tjokroaminoto dengan tindakan kepahlawanannya telah melahirkan para pemimpin bangsa seperti Sukarno (Bung Karno). Sedangkan Bung Tomo (Dr Sutomo) adalah jurnalis yang berani mengambil-alih kepemimpinan untuk mempertahankan kemerdekaan. Sementara KH Hasyim Asyari adalah ulama yang telah melahirkan Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Pak Tjokro (HOS Tjokroaminoto)  adalah pemimpin yang melahirkan pemimpin, Bung Tomo adalah seorang jurnalis yang mengambil alih posisi kepemimpinan, serta KH Hasyim Asyari adalah ulama yang telah melahirkan Resolusi Jihad  untuk mempertahankan kemerdekaan dan Ini semua adalah kontribusi luar biasa,” kata Anis Matta dalam diskusi Gelora Talk bertajuk ‘Semua Bisa Jadi Pahlawan, Gelorakan Semangat Kepahlawanan’, Rabu (10/11/2021) petang.

Diskusi yang disiarkan live dari Museum HOS Tjokroaminoto , Surabaya ini menghadirikan narasumber lain, yakni Wakil Ketua Syuriah NU Surabaya Prof Dr Imam Ghozali Said, MA dan Pahlawan UMKM Titik Suwandari.

Menurut Anis Matta, semua orang bisa menjadi pahlawan, apalagi bangsa Indonesia yang saat ini sedang menghadapi krisis berlarut akibat pandemi Covid-19. Bangsa Indonesia, lanjutnya, mempunyai banyak pahlawan yang tidak hanya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan saja, tetapi juga mengisi kemerdekaan itu sendiri.

“Semangat kepahlawan sekarang dalam konteks berbeda, semua orang bisa menjadi pahlawan. Semangat pahlwan itu, adalah semangat memberi, dari profesi apapun, posisi apapun. Kita datang dengan semangat yang sama. Semangat itulah yang membuat kita menjadi besar,” katanya.

Semangat HOS Tjokroaminoto selain melahirkan para pemimpin, yang perlu dilanjutkan adalah semangat memberdayakan ekonomi dalam upaya untuk membangkitkan ekonomi pribumi dengan mendirikan Sarekat Dagang Islam (SDI), yang kemudian diubah menjadi Sarikat Islam (SI).

“Saya kira istilah pribumi pada waktu itu, tentu saja sangat tepat. Ya cuma kalau sekarang, saya tidak terlalu ingin menggunakan istilah pribumi dan nonpribumi seperti itu, karena pada dasarnya adalah semua warga Indonesia,” kata Anis Matta

Apa yang dilakukan HOS Tjokroaminoto itu, menurutnya, telah melampaui apa yang mereka miliki, dari hasil diskusi rumit di tengah tekanan hidup yang sangat berat.

“Inilah tindakan kepahlawan, melampaui sumber daya di antara sumber daya. Orang yang mau hidup dalam tekanan, akibat keterbatasan sumberdaya akan mencapai hal yang sangat besar,” katanya.

Atas tindakan pencapaian ini, lanjutnya, maka seorang pemimpin akan menjadi relevan, meskipun dengan sumberdaya yang sedikit.

“Mereka (HOS Tjokroaminoto dkk, red) tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu waktu akan menjadi satu ledakan sejarah yang dahsyat, yang melahirkan satu republik namanya Indonesia dan masuk dalam  proses pencatatan sejarah,” ujarnya.

“Bagaimana kita sekarang ini bisa menangkap tindakan kepahlawanan dengan kesadaran sejarah kita. Kedepan kita bisa membuat satu  proyeksi yang bisa memandu kita untuk menatap masa depan,”  imbuhnya.

Wakil Ketua Syuriah NU Surabaya Prof Dr Imam Ghozali Said, MA menegaskan, kemerdekaan Bangsa Indonesia tidak diberikan bangsa lain atau hadiah dari penjajah. Tetapi dengan perjuangan dan pengorbanan nyawa seluruh rakyat Indonesia.

“Jepang memang sudah mempersiapkan kemerdekaan Indonesia melalui pembentukan PPKI, tetapi bisa memanfaatkan momentum politik kekalahan Jepang, apalagi hadiah Sekutu, sehingga kita memproklamirkan kemerdekaan. Nah, ketika Sekutu datang ke Surabaya ditolak, tidak ada diplomasi. Dan ulama memberikan fatwa Resolusi Jihad, terjadilah peristiwa 10 Nopember yang dipimpin Bung Tomo. ” kata Ghozali Said.

Sementara itu, Pahlawan UMKM Titik Suwandari, instruktur dan narasumber di Disperindag Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengatakan, telah membina ratusan UMKM di Jatim. Titik secara khusus membina kaum perempuan untuk melakukan kegiatan sendiri selama pandemi Covid-19 agar tidak berdiam diri dan bisa menopang ekonomi keluarga.

“Saya berdayakan kaum perempuan ini melalui zoom atau saya datangi langsung ke rumah. Tujuannya untuk membesarkan hati mereka, bisa menopang ekonomi keluarga dan mereka tidak manja lagi. Kita dampingi mereka dengan alat-alat yang ada di rumah dan bahan dari daerah itu,” katanya Titik Suwandari.

Ia mengatakan, bahan-bahan yang ada di sekitar mereka bisa dimanfaatkan dan dapat memberikan nilai tambah ekonomi tertentu. Misalkan pelepah pisang bisa menjadi krupuk, ubi bisa menjadi sereal pengganti dan suplemen minuman kesehatan dari buah-buahan.

“Buah-buahan bisa dijadikan serbuk nutrisari seperiti yang dilakukan industri besar, kenapa UMKM kalah,  Padahal dengan alat blender dan wajan itu sudah jadi. Contoh di Batu kita hadirkan Apel dengan segala variasinya, Nanas Blitar dan Mangga Probolinggo dengan segala variasinya. Ini salah satu langkah-langkah yang kita lakukan dalam memberdayakan UMKM,” paparnya.

Dalam kesempatan ini, Anis Matta memberikan penghargaan dan apresiasi pada ketiga pahlawan masa kini  yakni pertama Abdul Majid Uno, pejuang disabilitas yang bergerak di pemenuhan hak-hak disablitas.

Kedua Rina Roselawati, pejuang sosial membantu masyarakat kecil dalam pengentasan kemiskinan dan gizi buruk dari tingkat RT hingga di kabupaten di Jatim.

Ketiga Titik Suwandari, pejuang ekonomi yang memperjuangkan, serta membantu pemberdayaan masyarakat kecil dan UMKM di Jatim.

Momentum Hari Pahlawan Jangan Sebatas Ritual Tahunan, Harus Diisi dengan Kontribusi Nyata

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Momentum Hari Pahlawan tidak sekedar seremonial diperingati setiap tahun. Kolaborasi ulama, pengusaha dan politisi merupakan arah kebiajakan masa depan bangsa ini.

Hal ini yang terungkap dalam diskusi peringatan Hari Pahlawan yang digagas Gelora Literasi Institute lewat zoom, Rabu (10/11/2021).

Hadir dalam kegiatan tersebut Cucu KH Amin Sepuh (Ponpes Babakan Ciwaringin), KH Munif Pengasuh Ponpes Al-Azhar Babakan Ciwaringin, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik dan Pengusaha Batik, Sally Geovany dengan peserta berbagai kalangan.

Sekjen Partai Gelora Mahfuz Sidik dalam pemaparannya menjelaskan bahwa KH Hasyim Asy’ari dan Bung Tomo (Sutomo) mengambil momentum dalam menggelorakan perlawanan untuk memprtahankan kemerdekaan negeri ini.

“Jangan sampai momentum ini hanya sebatas ritual tahunan belaka, namun harus diisi dengan kontribusi nyata,” kata Mahfuz.

Masih kata Mahfuz, KH Hasyim Asy’ari dan Bung Tomo merupakan kolaborasi antara sosok ulama dan pemuda (jurnalis).

“Peran luar biasa para ulama dan pemuda ini, karena tidak bisa dilepaskan dari sejarah dengan Resolusi Jihad nya,” kata Mahfuz.

Lebih lanjut, rmusan 5 Sila dalam Pancasila, kata dia, merupakan fatwa dari KH Hasyim Asyari dan pada saat itu juga menghilangkan berdebatan.

“Pertimbangan tersebut karena dalamnya pemikiran dan politik KH Hasyim Asy’ari. Karena kemerdekaan Indonesia di dasari oleh keberagaman,” paparnya.

Kalau tidak ada sosok KH Hasyim dan Bung Tomo, lanjut Mahfuz, entah bagaimana nasib kemerdekaan Indonesia ini. Kejernihan KH Hasyim dan keberanian Bung Tomo sangat luar biasa.

Sehingga, kata dia, ini tidak boleh hilang dan lenyap oleh para generasi saat ini, khususnya generasi muda atau millenial/generasi Z.

Meskipun, kata dia, yang perlu dipikirkan yakni ancaman nilai-nilai Indonesiaan dengan anak-anak yang lebih terbiasa berbicara dan bangga dengan bahasa asing ketimbang bahasa sendiri. Ini harus diperhatikan serius, jangan dibiarkan begitu saja.

Ditambah lagi, soal ekonomi, lewat digital ini juga harus dipertahankan dengan utuh regulasi dan yang lainnya.

Apalagi belum ada regulasi yang memprotek kepentingan warga negara saat ini untuk para pelaku usaha.

Sehingga, nilai-nilai yang ada di tubuh bangsa ini harus dipertahankan.

“Kita saat ini sangat mengharapkan peran ulama ditengah situasi dan kondisi saat ini. Kita butuh pandangan ulama untuk arah bangsa ini kedepan. Jangan hanya didominasi oleh para politisi semata dalam perumusn kebijakan negeri ini, melainkan harus hadir peran ulama. Dengan karakternya yang khas,” paparnya.

Lebih tegas, Mahfuz mengatakan, jangan pernah sekali-kali khianati perjuangan para pahlawan dan ulama untuk negeri ini.

Sementara KH Cucu KH Amin Sepuh, KH Munif (Pengasuh Ponpes Al Azhar Ciwaringin) mengatakan tentang perjuangan dan nilai kepahlawanan dari ulama Cirebon. Tentu dengan pesan dan nilai yang luar biasa.

“Para ulama Cirebon, khususnya KH Amin Sepuh dan KH Abbas perannya sangat luar biasa dalam perlawanan melawan penjajah. Nilai yang luar biasa yakni adab dulu, baru ilmu,” ujar Kang Munif sapaan akrab KH Munif.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Munif juga bercerita tentang heroiknya KH Amin Sepuh bersama ulama Cirebon, dimana ketika berangkat dari Pondok Pesantren ke Kota Cirebon kemudian tiba waktu Ashar, kemudian rombongan sholat di Masjid Pengasinan Plered.

Setelah itu, KH Amin Sepuh berdoa, namun ketika keluar pintu terdengar suara takbir berkali-kali. Mereka langsung berada di depan Bung Tomo bersama para pahlawan lain di Surabaya untuk melawan para musuh.

“Tentu perjuangan kiyai dan ulama Cirebon dalam perlawanan memprsembahkan kemerdekaan sangat luar biasa.

Keberhasilan ini sebenarnya tentang mendidik karakter manusia oleh para kiyai. Karena penerapan karakter sejak dini sangat penting tentang pendidikan karakter untuk saling menghormati dan menjaga adab.

“Karakter yang baik sejak dini jelas bisa menggerakan kemerdekaan Indonesia,” ungkapnya.

Dalam acara tersebut, Kang Munif juga mendoakan yang terbaik untuk negeri ini dan generasi masa depan.

Sementara itu, Pengusaha Muda/BT Trusmi, Sally Geovani menerangkan tentang sejarah sukses perjuangan usahanya. Sehingga, momentum Hari Pahlawan harus dimaknai utuh diantaranya mendalami prespektif pahlawan yakni harus menjaga nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan.

“Pahlawan itu rela berkorban, berani, tegas, pantang menyerah, bertanggung jawab,” kata Sally.

Dirinya juga menjelaskan tentang perannya dalam melestarikan perjuangan lewat karya Batik Bambu Runcing untuk mengenang jasa dan perjuangan para pahlawan dan sangat direspon oleh pasar. Karena syarat nilai-nilai kepahlawanan lewat makna batik yang dibuat tersebut.

“Untuk itu, kolaborasi dengan UMKM yang ada apalagi ditengah pandemi harus ditingkatkan. Dan kita hadir untuk kemajuan UMKM dan para wirausahawan muda,” katanya.

Kata Sally, dirinya sejak SMA atau sekitar 17 tahun awal-awal dirinya menjual kain kafan. Karena belum punya pengalaman dan ilmu bisnis.

Namun punya niat dan keinginan yang kuat untuk mengabdi serta kontribusi lewat batik. Awalnya gagal dan tidak laku dipasaran, namun terus berusaha lewat ujian dan kegagalan yang ada.

“Jangan cepat menyerah dan mengeluh. Jatuh dan gagal, bangun lagi serta terus berusaha. Karena kegagalan adalah pelajaran untuk sukses masa depan,” paparnya.

Ziarah ke Makam Bung Tomo, Anis Matta Ungkap Tiga Makna agar Indonesia Jadi Pemimpin Dunia

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum DPP Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Partai Gelora) Anis Matta melakukan ziarah ke Makam Bung Tomo (Dr. Sutomo), Ngagel Rejo, Surabaya, Jawa Timur (Jatim) saat peringatan Hari Pahlawan, Rabu (10/11/2021).

Anis Matta datang mengendarai Jeep Willys Tahun 1939 atap terbuka. Di dalam Jeep Anis Matta didampingi Bendahara Umum Ahmad Rilyadi dan Ketua DPW Partai Gelora Jatim Muhammad Sirot.

Sementara dibelakangnya, terlihat Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik menggunakan Jeep lainnya. Mahfuz Sidik didampingi Ketua Bidang Pengembangan Teritori (Bangter) III Ahmad Zainuddin dan Ketua Bidang Bangter V DPN Partai Gelora Indonesia Ahmad Faradis.

Anis Matta diantar kader Partai Gelora Jatim dari Hotel Mercure, Surabaya menuju TPU Ngagel Rejo dan TMP Surabaya. Ziarah ke Makam Bung Tomo ini juga diikuti para fungsionaris DPN, DPW dan DPD se-Jatim.

Anis Matta mendapatkan sambutan meriah, teriakan Allahu Akbar, Shalawat dan Merdeka. Kemudian digelar tahlil dan doa bersama dipimpin oleh ulama setempat.

Usai ziarah ke Makam Bung Tomo, Anis Matta kemudian berziarah ke TMP Surabaya yang terletak di sebrang TPU Ngagel Rejo

Ziarah ke TMP dan doa bersama ini juga digelar serentak di 34 provinsi oleh DPW Partai Gelora.

Dalam sambutannya, Anis Matta mengatakan, ada tiga makna yang membawa Partai Gelora hadir di Makam Bung Tomo pada kesempatan bersejarah ini.

“Tiga makna ini yang ingin saya tegaskan pada momentum peringatan Hari Pahlawan 10 November kali ini,” katanya.

Makna yang pertama adalah makna kesetiaan kepada bangsa dan Tanah Air. Anis mengatakan, para pahlawan yang terbaring di pemakaman itu adalah orang-orang yang telah membayar ongkos kemerdekaan dengan jiwa dan raga mereka.

“Seandainya Indonesia adalah pohon, pohon ini tumbuh subur karena disirami dengan darah mereka. Seandainya Indonesia adalah bangunan, bangunan ini menjadi kokoh karena dibuat dari tulang belulang mereka,” ujarnya.

Itulah sebabnya, lanjut Anis Matta, mengapa Partai Gelora mengajak seluruh Bangsa Indonesia untuk membuat satu cita-cita nasional baru membawa Indonesia menjadi lima besar dunia.

“Karena itu adalah cara  mewarisi dan melaksanakan amanah perjuangan yang telah mereka wariskan kepada kita semuanya. Dan itulah makna amanat yang termaktub dalam konstitusi kita bahwa kita harus membawa Indonesia untuk ikut serta melakukan ketertiban dunia,” orasinya berapi-api.

Anis Matta juga mengingatkan agar jangan pernah mengkhianati amanat dari para pendiri bangsa apalagi di tengah situasi konflik geopolitik saat ini.

“Jadi penting pada hari ini kita menegaskan makna kesetiaan kepada tanah tumpah darah kita, kepada bangsa kita dan kesetiaan kita untuk terus membawa amanat perjuangan para pendiri bangsa dan pahlawan kita. Jangan pernah mengkhianati,” tegasnya.

Kemudian makna yang kedua adalah bahwa kepahlawanan itu adalah sikap dan karakter. Dia mengungkapkan, tidak semua yang pergi berjuang bersama Bung Tomo pada 10 November 1945 mati syahid pada waktu itu.

Termasuk Bung Tomo sendiri tidak syahid pada saat pertempuran. Akan tetapi Bung Tomo adalah perwakilan dari seluruh generasinya, dari seluruh orang yang berjuang bersama untuk menegaskan satu makna bahwa kemerdekaan itu tidak diberikan sebagai hadiah melainkan direbut dan dipertahankan.

“Ada jauh lebih banyak nama di pemakaman ini yang kita tidak kenal namanya dan ada banyak nama yang mungkin tidak dimakamkan di pemakaman ini. Tapi mereka semuanya adalah pahlawan,” tandasnya.

“Mereka semuanya memberikan jiwa dan raganya dan untuk makna itulah saudara-saudara sekalian, kita menghadirkan kembali makna yang abadi dari kepahlawanan adalah memberi. Memberi apa saja yang bisa kita berikan. Kita berikan tenaga kita, pikiran kita, waktu kita, harta kita, nyawa kita untuk tujuan yang suci. Memberi tanpa henti, itulah makna kepahlawanan,” tambah Anis Matta.

Dia juga menyebutkan, Bung Tomo tidak wafat di Surabaya. Namun beliau wafat di Arafah. Berpuluh-puluh tahun setelah berada dalam satu pertempuran bersama para pejuang yang sahid.

“Berapa orang yang wafat, yang sahid pada peristiwa 10 November, kita tidak pernah tahu persis. Tapi makna memberi ini yang ingin kita tegaskan. Apalagi ketika sekarang ini kita sedang menghadapi krisis. Saat krisis seperti ini kita perlu menghadirkan kembali nilai-nilai kepahlawanan yang abadi yaitu memberi tanpa henti,” katanya mengingatkan.

Kemudian makna ketiga adalah makna paling penting. Anis mengatakan, Bung Tomo pada dasarnya bukanlah seorang tentara. Bung Tomo adalah seorang jurnalis.  Namun Bung Tomo telah mengambil alih momentum 10 November untuk menyebarkan semangat perlawanan mempertahankan kemerdekaan melawan pasukan sekutu.

“Garis bawahi kalimat ini. Mengambil alih. Tidak peduli apa latar belakang beliau. Beliau sekali lagi adalah seorang jurnalis. Tapi beliau mengambil alih momentum dalam situasi yang sangat kritis,” ujarnya.

Tanggal 10 November 1945 menjadi momentum bersejarah karena Indonesia menyatakan diri sebagai bangsa merdeka dan tidak akan pernah kembali sebagai bangsa yang dijajah.

“Karena itu slogannya pada waktu itu, Allahu Akbar! Sekali merdeka tetap merdeka. Mereka mengambil alih momentum itu, momentum perlawanan untuk tidak pernah kembali. Semangat merebut momentum itulah yang sekarang ingin kita hidupkan kembali,” ucap Anis Matta.

Ketiga makna itulah yang ingin ia gelorakan  kembali terutama di saat krisis akibat pandemi yang tak berujung. Kala dunia sedang berada dalam goncangan besar dan hanya bangsa-bangsa yang berani mengambil momentum dalam situasi ini.

“Makna merebut momentum itulah yang ingin kita warisi dari Bung Tomo,” imbuhnya.

Ketua Umum Partai Gelora juga berharap ruh perjuangan Bung Tomo bisa hidup kembali dalam jiwa rakyat Indonesia.

Ia menyatakan, kalau dulu dari Kota Surabaya mereka menyatakan satu tekad sekali merdeka tetap merdeka, sekarang waktunya kita menyatakan satu tekad baru.

“Bahwa kita sudah merdeka, kita sudah mempertahankan kemerdekaan kita. Ini waktunya Indonesia merebut momentum untuk menjadi bagian dari kepemimpinan dunia,” pungkas Anis Matta.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X