Category: Kegiatan

Partai Gelora Gelar Training for Facilitators Ideologisasi Dasar di Jawa Timur

Partaigelora.id-Koordinator Bidang (Korbid) Kaderisasi DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar Partai Gelora di Jawa Timur (Jatim) menjelang Pemilu 2029.

Kegiatan berlangsung 23–24 Mei 2026 di Royal Senyum Hotel, Jl. Putuk Truno No. 208, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim.

TFF Ideologisasi Dasar ini melibatkan para kandidat fasilitator dari fungsionaris DPW Jawa Timur Partai Gelora dan 27 DPD kabupaten/kota di Jatim.

TFF bertujuan memperkuat kapasitas kader dalam kaderisasi, penguatan ideologi, dan kepemimpinan organisasi.

Sebab, hal ini adalah urgensi dan gambaran substansi, serta spirit penyelenggaraan TFF. Yakni demi satu visi besar Partai Gelora menjadikan Indonesia sebagai superpower baru dunia.

TFF ini antara lain dihadiri Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar, Ketua Koorbid Kaderisasi DPP Ahmad Zainuddin, Ketua Pemenangan Teritorial V (Jatim) DPP Muhammad Siroj (Gus Siroj) daan Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir.

Ketua Pelaksanaan Harian DPP Partai Gelora Rofi’ Munawar mengatakan, program ini menindaklanjuti program Ideologi Dasar I. Sehingga diharaokan akan muncul fasilitator-fasilitaror baru.

“Mereka yang akan menjadi juru bicara Partai Gelora untuk melakukan perekrutan, sekaligus peningkatann kapasitas organisasi, kpribadian kepada kader-kader baru Partai Gelora,” kata Rofi’I Munawar.

Peserta, kata Rofi’, mendapat materi krisis global, krisis nasional maupun krusis dunia Islam. Kemudian juga materi perang kognitif, dan roadmap menuju superpower baru.

“Haga’iq Kubra atau The Great Realisties. Yaitu pembentukan pemahaman dari para kader tentang aspek spiritual,” katanya.

Sebab, para fungsionaris dan kader Partai Gelora ini memiliki pertanggaungjawab kepada para manusia, tapi lebih-lebih kepada Allah SWT.

“Menjadi fasilitator berabrti menjadi teman diskusi yang baik, saling menumbuhkan kemampuan masing-masing,” tegas Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim Misbakhul Munir, mengatakan TFF dirancang untuk mencetak fasilitator yang mampu menjadi penggerak pembinaan kader secara sistematis dan berkelanjutan di daerah.

“Organisasi harus punya dasar ide, gagasan, dan keyakinan yang kuat, agar kader Partai Gelora benar-benar sesuai nilai ideologi partai,” ujar Misbakhul Munir.

Menurut dia, orientasi partai politik bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tapi pemanfaatannya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.

“Kami mulai dari satu pertanyaan besar: kalau kekuasaan itu didapat, lalu apa yang akan kita lakukan? Jadi bukan hanya cara menang, tapi bagaimana kekuasaan digunakan untuk menghadirkan perubahan yang lebih baik,” kata Misbakhul.

Ketua DPW Partai Gelora Jatim ini mengapresiasi kehadiran jajaran DPP dan peserta yang begitu luar biasa antusias dalam Training for Facilitators (TFF) Ideologisasi Dasar ini.

Diketahui, bahwa Program Idiologisasi ini satu hal yang betul-betul mendesak, sebagai bentuk kenyakinan untuk melangkah, mengembangkan pemikiran-pemikiran besar yang ada di Partai Gelora.

“Kami bersyukur ketua harian, korbid kaderisasi DPP, hingga CEO TIM bisa hadir memberikan pembekalan. DPW Jawa Timur mengucapkan terima kasih,” ucapnya.

“Kami menunggu batch berikutnya agar proses diseminasi yang akan dilaksanakan kepada seluruh struktur dari DPP maupun DPC segera bisa dilaksanakan,” imbuhnya.
Heniyati

Ketua Bidang Komunikasi DPW Partai Gelora Jatim Heniyati mengatakan, Program Idiologisasi ini merupakan nutrisi yang diberikan sampai ke akar-akarnya.

“Kita semua adalah pemimpin. Kita ditunjuk untuk mengemban amanah Partai Gelora, paling tidak bisa memimpin diri sendiri,” kata Heniyati.

Ketua DPD Partai Gelora Probolinggo Abu Bakar berharap usai mengikuti TPF Idiologisasi Dasar ini dapat menyebarkan ideologi kepartaian lebih menyeluruh lagi.

“Kita mendapatklan informasi yang lebiih komprehensif, sehingga yang diterima kader Partai Gelora di daerah, nantinya utuh dan bisa tersampaikan semua,” kara Abu Bakar.

Peserta yang lolos TFF Ideologi Dasar tahap pertama ini nantinya akan mengikuti batch kedua untuk pembekalan lanjutan.

Setelah itu, para fasilitator bertugas melakukan diseminasi kaderisasi ke struktur partai di bawahnya, mulai DPD, DPC, hingga cabang di masing-masing wilayah.

Fahri Hamzah Luncurkan Buku Visi ‘Swasembada Papan 2045’ di Tengah Tantangan Perumahan Nasional

Partaigelorai.id-Pemerintah mulai mematangkan arah pembangunan perumahan nasional sebagai bagian dari upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.

Penyediaan hunian layak dinilai tidak lagi sekadar persoalan pembangunan rumah, melainkan juga berkaitan dengan pengendalian tata ruang, akses transportasi, hingga pemerataan ekonomi masyarakat perkotaan.

Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah meluncurkan buku berjudul ‘Indonesia Menuju Swasembada Papan 2045’ di Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Buku tersebut memuat gagasan strategis pembangunan sektor perumahan nasional untuk menjawab kebutuhan hunian yang layak, terjangkau, dan berkelanjutan.

Peluncuran buku dihadiri sejumlah tokoh nasional, antara lain Ketua Satgas Perumahan Hashim S. Djojohadikusumo, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Nixon L.P. Napitupulu, serta Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon.

Acara ini juga dirangkai dengan diskusi mengenai arah pembangunan perkotaan nasional yang menghadirkan Panangian Simanungkalit, Joko Suranto, dan Marco Kusumawijaya.

Dalam pemaparannya, Fahri mengatakan program pembangunan 3 juta rumah yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi besar transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurut dia, konsep swasembada papan yang diangkat dalam buku tersebut berangkat dari cita-cita lama bangsa untuk memastikan seluruh rakyat memiliki akses terhadap hunian yang layak.

“Bung Hatta pernah menyampaikan bahwa Indonesia membutuhkan waktu setengah abad untuk menyediakan hunian layak bagi seluruh rakyat. Tahun 2045 menjadi momentum simbolis untuk menuntaskan cita-cita besar tersebut,” ujar Fahri.

Ia menilai keberhasilan pembangunan social housing sangat bergantung pada kemampuan negara mengendalikan tanah dan tata ruang.

Negara yang mampu mengelola lahan secara terencana dinilai lebih berhasil menyediakan rumah rakyat secara berkelanjutan.

Selain itu, Fahri juga menekankan pentingnya pengembangan kawasan hunian berbasis Transit Oriented Development (TOD), yakni kawasan permukiman yang terintegrasi dengan pusat kegiatan ekonomi dan transportasi massal.

Menurut dia, pendekatan tersebut diperlukan untuk menekan beban biaya transportasi masyarakat akibat jarak tempat tinggal yang terlalu jauh dari lokasi pekerjaan.

Sementara itu, Hashim S. Djojohadikusumo mengatakan Presiden Prabowo Subianto telah memutuskan pemanfaatan tanah negara dan aset badan usaha milik negara untuk pembangunan rumah rakyat dengan harga lebih terjangkau.

Kebijakan itu diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap hunian sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan kawasan permukiman di berbagai daerah.

Peluncuran buku ditutup dengan penyerahan simbolis kepada sejumlah tokoh nasional, termasuk Budiman Sudjatmiko dan Luis Tineo.

Buku tersebut diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam penyusunan kebijakan pembangunan hunian nasional menuju 2045.

Ini Empat Landasan Moral yang Perlu Dijaga untuk Kebersihan Hati di Tengah Perjuangan Politik

Partaigelora.id-.Ketua Koordinator Pelaksana Harian DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Rofi’ Munawar mengatakan, setiap kader Partai Gelora perlu menjaga kebersihan hatinya di tengah perjuangan politik apabila diberikan amanah ketika menjadi penguasa.

Sebab, kekuasaan itu penuh godaan , sehingga diperlukan fondasi moral dalam berpolitik. Allah SWT selalu melakukan pengawasan Allah SWT atau ‘muraqabatullah’ terhadap pelaksanaan amanah tersebut.

Hal itu disampaikan Rofi’ Munawar dalam Kajian Pengembangan Wawasan Spiritual (Tazkiyatun Nafs) dengan tema ‘Menjaga Kebersihan Hati dan Moral di Tengah Perjuangan Politik, Selasa (19/5/2026) malam.

“Sahabat Gelora, pengawasan Allah, Tuhan yang Maha Esa itu, artinya adalah pengetahuan yang terus-menerus dan keyakinan yang mendalam, bahwa Allah SWT selalu mengetahui atau maha mengetahui akan yang lahir dan yang batin,” kata Rofi’ Munawar.

Artinya, Allah SWT akan mengawasi semua gerak-gerik hambanya baik ucapan atau perkataan dan perbuatan, apakah kebersihan hatinya terjaga.

“Muraqabatullah atau pengawasan Allah Tuhan Yang Maha Esa itu, kita jadikan sebagai landasan moral politik. Moral politik itu adalah akhlak politik, lebih mudahnya ,” kata dia.

Menurut Rofi’, akhlak politik tersebut penting, karena politik tanpa akhlak akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Seperti kata Imam Al Ghazali, bahwa akhlak politik itu bagian dari agama yang merupakan pondasinya, dan kekuasaan itu adalah penjaganya,” ujar Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Gelora ini.

Maknanya, adalah moral politik dan kekuasaan, haruslah sangat kuat, karena kekuasaan tanpa moral akan berantakan.
Sebaliknya, moral tanpa kekuasaan akan kering atau hampa, sebab tidak ada tempat implementasi dan penggandaan untuk nilai-nilai moral tersebut.

“Jadi moral itu akan bisa meluas dan akhirnya menjadi satu habit yang dilakukan oleh para pemegang kebijakan manakala di situ ada kekuasaan,” jelasnya.

Ia mengatakan, perjuangan politik hendaknya bertumpu pada empat landasan moral yang wajib dijaga, yaitu shidqul hadits (kejujuran ucapan), hifzhul amanah (menjaga amanah), husnul khuluq (kebaikan akhlaq), dan ‘iffatun fit-thu’mah (kehati-hatian).

Adapun makna shidqul hadits adalah politik itu sangat dekat dengan kata-kata, penyataan atau statement yang bersifat ungkapan verbal dari mulut seseorang.

“Maka ketika sudah menjadi pemimpin, pernyataan itu including di dalam diri pemimpin. Jadi kehebatan seorang pemimpin itu, salah satunya ditentukan oleh pernyataannya,” kata Rofi’.

Karena dituntut kejujuran ucapan itu, maka seorang pemimpin atau politisi dilarang berbohong atau pernyataannya tidak boleh mengandung kedustaan.

Kejujuran ucapan bagi seorang pemimpin atau politisi, lanjut dia, akan menjadi narasi yang kuat untuk merespon berbagai situasi, kondisi dan persoalan.

“Dengan narasi yang kuat di dalam dirinya, Allah SWT akan memerintahkan dia untuk merespon situasi yang ada di sekelilingnya, kondisi masyarakat yang memang yang harus dihadapi, masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja,” katanya.

Dapat dikatakan, bahwa narasi yang kuat itu adalah bentuk pertanggungjawaban kepada Allah SWT. Bukan seperti perkataan yang remeh-temeh, tapi perkataan yang penuh dengan makna, sehingga narasi yang kuat tersebut, menjadi penting.

“Seperti disampaikan Pak Ketum (Anis Matta) ketika melihat situasi Indonesia saat ini, sebagaimana yang digambarkan di dalam manifesto politik kita. Langit kita ini terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Artinya narasi yang kita bangun bisa merespon kompleksitas bangsa ini ,” katanya.

Kejujuran ucapan itu juga harus sinkron antara apa yang diucapkan dengan tindakannya.

“Jangan sampai kita mengucapkan berbagai macam pernyataan, tapi tidak tahu bagaimana cara menindaklanjuti dari perkataannya itu. Pernyataan itu akhirnya hanyalah percitraan, atau janji-janji politik,” jelas dia.

Karena itu, pernyataan seorang pemimpin atau politisi harus memiliki makna dalam merespons persoalan, perlu ada kesesuaian dengan tindakannya, dan jangan sampai ucapan itu berubah menjadi penyesalan.

“Sekali lagi jangan sekali-kali kita berjanji yang kita sendiri kesulitan bagaimana cara menepatinya. Kenapa? Karena janji-janji politik kita ini ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah SWT. Jadi tepatilah janji karena janji itu akan dimintai pertanggungjawaban,” tegasnya.

Rofi’ berharap kepada para kader Partai Gelora yang mendapatkan amanah di level kepemimpinan politik, hindari sebisa mungkin untuk offside di dalam pernyataannya.

“Pemimpin ada yang di level presiden atau menteri dan seterusnya. Jangan sampai offside, karena pernyataan itu akhirnya menjadi bahan ledekan rakyat. Jadi Kader politik kelasnya pemimpin,” katanya.

Sedangkan makna yang kedua hifzhul amanah dalam konteks tazkiyatun nafs adalah menjaga kompetensi untuk memegang amanah, karena begitu inkompetensi akan sangat berbahaya.

“Pemimpin tidak kompeten itu sangat berbahaya. Ketika amanah itu disia-sia maka tunggu datangnya hari kiamat. Jadi ketika perkara itu diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggu datangnya hari kiamat. Makna lainnya, adalah tunggu datangnya kehancuran,” katanya.

Selanjutnya adalah menjaga komunikasi vertikal dan berusaha sekuat tenaga untuk selalu berada di garda depan di dalam menjaga ibadahnya kepada Allah SWT.

“Karena itu, kalau kita lihat para pemimpin politik masa lalu adalah orang-orang yang memiliki spiritualitas yang tinggi. Dan ini adalah cara untuk menjaga amanahnya ,” ujar Rofi’.

Kemudian selain menjaga kompetensi dan menjaga kekuatan (komunikasi vertical), makna lainnya adalah akhlak yang mulia (husnul khuluq). Sebab, politik itu tanpa moralitas akan menghancurkan bangunan politik itu sendiri.

“Jadi akhlak yang mulia adalah akhlak untuk dirinya dan akhlak timbal balik. Kalau akhlak timbal balik itu maksudnya begini, misalnya seorang presiden, kepala negara, atau raja berharap yang dipimpinnya mentaatinya. Tetapi akhlak rakyat itu tergantung kepada akhlak pemimpinnya, jangan sampai mereka tidak berakhlakul karimah kepada yang dipimpinnya,” jelas Rofi’.

Adapun akhlak tertinggi seorang pemimpin itu adalah melayani rakyatnya. Sehingga ketika para pemimpin melayani dengan sebaik-baiknya, maka rakyat akan mentaatinya.

“Jangan menjadi diktator-diktator memaksa mereka menghormati kita, sementara kita tidak menghormati kita. Jadi akhlak timbal balik di sini memang yang terasa berat bagi pemimpin, tapi ini harus dilakukan,” paparnya.

Sementara makna ‘iffatun fit-thu’mah atau kehati-hatian, karena kekuasaan itu punya godaan yang sangat besar seperti dikatakan Lord Action, bahwa ‘power tends to corrupt’ kekuasaan itu akan cenderung korup atau menyalahgunakan wewenang .

“Intinya kita harus berusaha sekuat tenaga untuk berhati-hati. Ibaratnya kita berhati-hati terhadap sesuap nasi yang masuk ke dalam mulut kita. Sekecil apapun makanan yang kita makan harus berhati-hati, harus jelas boleh atau tidak,” pungkasnya.

Partai Gelora Kecam Israel, Tuntut Pembebasan Segera 5 WNI yang Diculik Tentara Israel

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengecam keras penculikan tentara Israel terhadap setidaknya lima warga negara Indonesia (WNI), yaitu empat jurnalis dan satu aktivis kemanusiaan. Mereka diculik tentara Israel di perairan internasional.

“Partai Gelora Indonesia mengecam keras penculikan Israel terhadap setidaknya lima WNI ini dan menuntut pembebasan mereka segera,” ujar Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gelora di Jakarta, Selasa (19/5/2026).

Menurut Mahfuz, penculikan di perairan internasional jelas menyalahi segala hukum dan aturan internasional. Karenanya, pembebasan segera adalah tuntutan yang mutlak harus dipenuhi Israel.

Lima WNI yang diculik Israel ini merupakan bagian dari rombongan pembawa bantuan kemanusiaan ke Gaza, Palestina, menggunakan sejumlah kapal dalam misi Global Sumud Flotilla 2026.

“Kami juga mendesak Israel untuk tidak menghalangi misi kemanusiaan ke Gaza,” tegas Mahfuz.

Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI melalui Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Anis Matta meminta pemerintah Israel untuk segera melepaskan rombongan misi kemanusiaan internasional untuk warga Palestina, Global Sumud Flotilla.

“Pemerintah Indonesia meminta pemerintah Israel untuk segera melepaskan rombongan misi kemanusiaan internasional untuk warga Palestina, Global Sumud Flotilla,” kata Anis Matta.

Anis Matta yang juga Ketua Umum Partai Gelora ini menegaskan, pemerintah terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI.

Sedikitnya 10 kapal ditangkap oleh militer Israel di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur, Senin (18/5/2026). Terdapat sembilan relawan asal Indonesia yang bergabung dalam misi tersebut dan lima di antaranya terkonfirmasi telah ditangkap tentara Israel.

Berdasarakan data hingga Senin malam, Lima WNI yang telah terkonfirmasi diculik tentara Israel dari misi Global Sumud Flotilla 2026 adalah dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai.

Lalu, jurnalis Tempo, Andre Prasetyo Nugroho, kontributor iNews TV Rahendro Herubowo, serta relawan dari Rumah Zakat, Andi Angga Prasadewa.

Henwira: Pertemuan Trump-Xi Jinping Belum Beri Solusi Akhiri Konflik Timur Tengah

Partaigelora.id-Ketua Koordinator Bidang (Korbid) Luar Negeri DPP Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Henwira Halim mengatakan, pertemuan bilateral antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing, pada Kamis (15/5/2026) belum memberikan solusi bagi penyelesaian konflik di Timur-Tengah (Timteng).

“Situasi perundingan antara Amerika dan China di Beijing ini, memang tidak langsung clear memberikan solusi. Ini baru satu pertemuan, dan Trump memberikan undangan ke Xi Jinping untuk melanjutkan perundingan pada September,” kata Henwira di Jakarta, Minggu (17/5/2026).

Hal itu disampaikan Henwira Halim dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Trump Temui Xi Jinping? Mengungkap Agenda Besar ke Tiongkok’ di Jakarta, Jumat (15/5/2026) malam.

Xi Jinping, menurut dia, sudah mengancam Trump dalam tanda kutip agar tidak menjadikan China sebagai musuh atau rival Amerika.

Melainkan harus menjadi patner untuk urusan yang menyangkut kepentingan bersama, terutama pada isu-isu ekonomi.

“Istilahnya, Amerika ini singa tua yang sudah mapan di puncuk kekuasaan, sedangkan China adalah singa muda yang sedang naik daun. Artinya jangan sampai berantem,” ujar Henwira.

Sehingga keberlanjutan hubungan antara Amerika-China diharapkan tidak terganggu berbagai isu konflik geopolitik seperti yang terjadi pada perang di Timteng dan potensi konflik Taiwan

China menjamin hubungannya dengan Amerika akan baik-baik saja, sepanjang negara Paman Sam itu tidak kelewatan soal Taiwan.

“Ini statement yang cukup keras dari China yang cukup direct. Membuat membuat kita paham, bahwa Taiwan ini , isu prioritas China ketika berhadapan dengan Donald Trump,” katanya.

Karena itu, selama pertemuan tersebut hingga selesai, Trump tidak menyinggung dan merespon sama sekali pernyataan dari China, karena tidak ingin membuat marah Xi Jinping.

Sebab, Amerika berharap agar China menekan Iran untuk segera membuka blokade Selat Hormuz, sehingga kapal tanker, serta kapal dagang mereka dan sekutunya diberikan izin lewat oleh Iran.

“Kalau bagi Asia Tenggara, khususnya Indonesia, pertemuan ini belum memberikan dampak perubahan, karena belum masuk ke ranah isu-isu geopolitik, baru pada isu-isu ekonomi,” katanya.

Trump berharap pertemuan dengan Xi Jinping ini tidak mengganggu prioritasnya dalam bidang ekonomi menjelang pelaksanaan Pemilu Sela AS pada November 2026 mendatang.

“Trump tidak ingin hubungannya dengan Xi Jinping memanas lagi, karena pasokan energi Amerika tersendat di Selat Hormuz,” katanya.

Sebab, energi adalah salah satu komponen yang mempengaruhi distribusi logistic secara global.

Apabila pasokan energinya terganggu, dikuatirkan akan mempengaruhi kenaikan harga barang-barang kebutuhan lainnya.

“Perang dagang antara Amerika dan China tahun lalu, sudah memberikan dampak sifnifiikan. Kalau ini memanas lagi gara-gara tersendatnya pasokan energi, tentu akan berpengaruh secara global,” katanya.

Henwira menegaskan, bahwa blokade Selat Hormuz tidak hanya merugikan Amerika, tetapi juga China secara langsung.

“Pasca Amerika menguasai minyak Venezuela dan perusahaan China diusir, praktis pasokan energi China dari Iran. Kalau Selat Hormuz terblokir, juga berdampak pada China,” katanya.

Meskipun secara geopolitik Amerika masih diatas angin dibandingkan China, tetapi China memiliki waktu yang tepat secara geopolitik. Sehingga mau tak mau Trump harus berkompromi dengan Xi Jinping.

“Hal itu memang tercermin dari perlakuan Xi Jinping terhadap Trump, diberikan segala macam servis dan penghormatan. Xi Jinping ingin memenangkan hati Trump,” ungkapnya.

Dengan kondisi tersebut, kata Henwira, Indonesia diharapkan dapat bermain di ‘dua karang’ membina hubungan baik dengan Amerika dan China.

“Kita harus netral , tidak perlu curiga dan tidak perlu konfrontatif baik dengan Amerika dan China. Karena jika sebaliknya yang terjadi, maka mendayung di antara dua karang ini jadi semakin berat. Karangnya semakin tajam dan ombak di antara dua karangnya juga semakin keras,” katanya.

Ketua Korbid Luar Negeri DPP Partai Gelora menilai perang antara Amerika-Iran harus segera diakhiri secara damai, karena berdampak secara global jika situasinya semakin memanas.

“Perang Ini harus kita cermati terus, bukan cuma soal dinamika saja, tetapi efeknya terhadap situasi global, termasuk dampaknya terhadap negara kita,” pungkasnya.

Baca juga:

Tiga Prinsip yang Harus Dilakukan Seseorang Apabila Alami Ketegangan Produktif agar Siap Mengarungi Lautan Luas

Partaigelora.id-Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Gunawan mengatakan, bahwa kejadian dalam kehidupan sehari-hari setiap manusia berkaitan dengan paradoks pertumbuhan yang diawali dengan ketegangan produktif.

Maka ketika berbicara mengenai ketegangan produktif, tentu saja tidak dapat dilepaskan dari pembicaraan tentang area-area yang tidak disadari atau blind spot dalam diri setiap orang.

Sebab, hal itu ternyata sangat mempengaruhi terhadap cara pandang seseorang dalam memimpin, baik itu memimpin diri sendiri, keluarga, masyarakat, organisasi, perusahaan dan lain-lain.

Dalam Kajian Pengembangan Wawasan dengan tema ‘The Paradox of Growth’, pada Selasa (12/5/2026) malam, Gunawan mengatakan, apabila productivity stretch (peningkatan produktivitas) seseorang untuk bertumbuh terlalu lama di zona nyaman, maka diperlukan stretching zone (zona peregangan).

“Zona stretching yang masuk dalam bahasan kita adalah sebagai ketegangan produktif. Kenapa ada ketegangan di sana? Karena di situ memang ada ketegangan secara kognitif. Dimana dalam diri kita ada perang pemikiran, perang batin dan ruang kontemplasi,” kata Coach Gunawan, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, situasi tersebut terkadang dipaksakan oleh keadaan, sehingga membuat tidak nyaman untuk melakukan sesuatu, akibat adanya growth mindset (pola pikir pertumbuhan).

“Jadi paradoks pertumbuhan, itu berubah bukan berarti kehilangan. Bertahan bukan berarti stagnan. Ketika berbicara tentang growth mindset dan ‘Paradox of Growth’, maka saat kognitif yang terus bertumbuh itu mempunyai fleksibilitas dalam mengambil strategi cara untuk mencapai sebuah cita-cita,” katanya.

Tetapi ia mengingatkan, bahwa seseorang yang sering kali mendapatkan kesuksesan dan sangat mapan, justru menjadi salah satu yang paling rentan mengalami paradoks pertumbuhan ini.

“Contohnya begini, siapa yang tidak kenal dengan handpone Nokia di era 90-2.000 an yang menjadi raja teknologi digital, tetapi dalam waktu sangat cepat ambruk bisnisnya,” ujar Coach Gunawan.

Sebab, Nokia masih berpikir, bahwa cara yang digunakan masih sangat efektif untuk meraih kemenangan, padahal situasi dan dunia berubah dengan cepat.

“Artinya ketika kita meraih kemenangan dan terbukti dalam hidup menolong kita, itu hanya sampai di titik ini. Tetapi untuk titik selanjutnya justru akan menjadi tiket kekalahan kita,” katanya.

Sehingga ketika seseorang mengalami ketegangan produktif, Coach Gunawan justru menyarankan untuk memperluas zona nyaman.

Bukan sebaliknya ke luar dari zona nyaman, sebab pada dasarnya semua orang tidak suka yang tidak nyaman basically secara psychologic.

“Saya mau memberikan sebuah ilustrasi tentang paradoks pertumbuhan ini. Saya mengilustrasikan dengan sebuah kapal. Dimana anatomi kapal itu adalalah kepemimpinan, atau anatomi dalam diri kita,” ujarnya.

Ia menyebutnya pertama sebagai layar atau semacam haluan cara berkomunikasi, taktik dan metode operasional. Layar ini bersifat responsif terhadap arah angin, karena tanpa layar adaptif, kapal tidak bergerak.

“Nah, yang kedua adalah dimensi yang tidak terlihat, ada wilayah yang tersembunyi, yaitu yang namanya lunas. Lunas itu bukan selesai kita membayar sesuatu lunas. Pengertian kosakata lunas di sini adalah keel,” katanya.

Menurut dia, jika keel ini dalam sebuah kapal, maka adalah bagian dari struktur utama kapal.

Baca juga:

Bisa jadi hal itu sebuah kayu yang sangat kuat atau besi yang sangat kokoh yang menjadi kerangka utama, pondasi utama sebuah kapal.

“Jika digambarkan sebuah value adalah nilai inti (core value). Itu bisa jadi komitmen, atau kejujuran yang menjadi jati diri kita. Dan lunas berfungsi sebagai stability, area penjaga keseimbangan. Jadi lunas itu adanya di bawah tersembunyi, berupa nilai-nilai identitas kita,” katanya.

Sementara layar dalam diri setiap manusia itu, disebut sebagai external behavior (perilaku eksternal).

“Dimana dia bisa terlihat, dia bisa terdengar. Tetapi lunas ini adalah inti dari yang kita sebut sebagai value, basic value,” katanya.

Namun, untuk mengubah arah kapal tersebut, diperlukan layar yang akan mengubah arah kapal, sehingga kapal bisa bermanuver di dalam samudera atau di dalam kehidupan sehari-hari.

“Tapi kalau layarnya tidak bergerak, dan kapalnya diam saja, bisa salah arah. Nah, banyak orang justru terperangkap di sini, karena mengasumsikan bahwa layar kita ini bagaikan jadi lunas,” katanya.

Apabila lunas tersebut diganti, maka kapal tersebut harus diganti dan semua strukturnya dihancurkan.

Artinya, ganti lunas itu berarti ganti kapal. Sedangkan layar itu tidak akan mengubah kapal, karena yang diubah hanya arahnya.

“Lalu, kenapa manusia banyak yang justru against change atau melawan perubahan, karena ada manusia yang tidak nyaman dengan perubahan. Kenapa ada manusia kok sudah tahu harus berubah, tapi kok sulit gitu? Karena otak kita itu selalu menjaga keamanan dan kenyamanan,” paparnya.

Faktor Penyebab Tak Mau Berubah

Menurut Coach Gunawan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab. Pertama adalah mind trap atau jebakan pikiran.

Karena ketika mengubah cara dalam bekerja, penampilan ada kekuatiran atau ketakutan kehilangan jatidiri, otoritas atau reputasi.

“Ada resistensi identitas. Kalau saya berubah kira-kira orang lain melihat saya bagaimana? Jangan-jangan saya dianggap tidak konsisten. Kita tidak bisa berubah itu, karena ada keinginan yang tersembunyi,” ujar Wasekjen Bidang Manajemen Organisasi Partai Gelora ini.

Padahal resistensi identitas ini, kata dia, tidak berpengaruh pada masalah otoritas atau reputasi seseorang, dan hanya menjadi keyakinan yang tidak memberdayakan.

“Tetapi ketika berorganisasi ini barulah kita berbicara tentang reputasi, apalagi saat melibatkan publik. Misalnya saat dia harus mengambil keputusan yang sangat tegas, tapi dibilang tidak cocok melakukan gaya direktif, karena komunikasinya penuh empati dan narasinya bagus. Nah, ini resistensi dalam organisasi bisa resistensi identitas atau jati diri,” paparnya.

Faktor kedua adalah resistensi kompetensi. Hal ini berkaitan dengan pengalaman sukses di masa lalu yang berkaitan dengan skill, kemampuan tertentu atau kompetensi tertentu.

“Dia malas untuk mempelajari sesuatu yang baru, karena belum tentu sukses. Ada keengganan untuk memulai sesuatu yang baru, yang belum ada jejak kesuksesan di masa lalu. Dia memasukkan kesuksesan itu di dalam portofolio sejarah perjalanan hidupnya. Tapi pertanyaannya, apakah dunia itu tetap selalu sama?” tanya Coach Gunawan.

Ia mengatakan, realitas eksternal di sekeliling setiap orang, tentu saja mengalami perubahan yang signifikan, karena berkaitan dengan kelincahan kognitif (cognitive flexibilities) dan kesadaran dari dalam.

“Ketika kita sukses, berhasil, menang, dan bisa melampaui achievement yang kita tuju. Maka prefrontal kortex kita dibanjiri dopamine (hormon bahagia). Perasaan kita jadi nyaman, menjadi superior, bahagia. Wah, I get it. I nail it. Saya bisa, saya mampu dan terbukti. Tetapi tiba-tiba ada satu cerita simpangan hidup, patahan hidup, di mana misalkan cara ini sudah tidak bisa pakai lagi,” ujarnya.

Sebab, dunia sudah berubah, sehingga harus terus belajar untuk menggunakan cara yang baru, berganti haluan, dan tidak bisa menggunakan cara lama lagi.

“Memulai sesuatu ini penuh dengan tekanan secara indirect, secara tidak langsung, kita ditekan oleh keadaan. Ketika proses tekanan itu hadir, itulah saya sebut sebagai ketegangan produktif,” katanya.

Ketika ada ketegangan produktif ini, lanjutnya, maka andrenalin seseorang bisa naik dan akan terjadi kelelahan dan stres yang cepat, karena akan ada perubahan yang tidak dari zona zaman sebelumnya.

“Makanya kita hati-hati, kalau kita mendengar kawan kita, pimpinan kita atau siapapun di antara kita yang dulu, saya begini, dulu begini dan dulu begitu. Kita jangan sampai terjebak oleh nostalgia dan pengalaman masa lalu,” katanya.

Hikmahnya, adalah bukan value dalam konteks peristiwa yang didapat, tetapi resistensi kompetensi berkaitan dengan belajar hal-hal yang baru.

Faktor ketiga adalah resistensi loyalitas. Dimana hal ini terjadi pada organisasi yang sudah sangat mapan.

Organisasi ini biasanya mengutamakan tradisi atau senioritas yang dilakukan secara turun temurun, sehingga menjadi jati diri.

“Akhirnya menjadi lunas, padahal itu harusnya layar. Tetapi karena terus diulang dan dijadikan ritual, menyebabkan kita menjadi resistensi loyalitas,” katanya.

Ketika tradisi itu akan diubah, ada semacam perasaan bersalah kepada organisasi, senior dan lain-lain.

“Itu adalah kebiasaan yang akhirnya jadi keyakinan, jadi identitas dan jadi akar terdalam yang men-driven kita. Padahal dunia berubah, landscape-nya semua berubah dan perubahan yang sangat cepat ini menimbulkan ketidakpastian,” katanya.

Ketidakpastian ini disertai dengan kompleksitas, dimana perubahannya tidak bisa berdiri sendiri. Baik di dunia perusahaan, psikologi modern, bahkan dalam kebijakan bernegara sekalipun.

“Kita akhirnya terjebak dalam dua kesalahan berpikir tentang pertumbuhan. Pertama sebuah keyakinan komunal, karena digaungkan di mana-mana dan mempengaruhi dari internal diri kita,” katanya.

Kedua adalah logical fallacy atau sesat pikir yang menganjurkan agar tetap menjadi diri sendiri atau konsisten dalam menjaga kemurnian dan keaslian dirinya. “Tetapi pertanyaannya yang dijaga itu nilainya atau caranya?”.

“Jadi kesalahan berpikirnya ada dua. Kalau saya berubah, seolah-olah berubah jati dirinya. Atau yang kedua, seolah-olah kalau kita berubah, kita tidak istigamah, tidak menjaga pakem dari nilai-nilai yang kita yakini. Akhirnya keduanya ini saling mengunci,” sambungnya.

Pada akhirnya, orang tersebut tidak bergerak ke mana-mana, dan hanya di situ-situ saja karena dia mengembangkan atau memunculkan narasi kedikjayaan masa lalu di dalam dirinya.

Karena itu, ada tiga prinsip yang harus direnungkan. Pertama lunas itu bukan seluruh kapal, dimana penyampaiannya bisa disesuaikan dengan relevansi dan kebutuhan. Minimal menjadi pemimpin untuk diri sendiri dan keluarga.

Prinsip kedua adalah kapal yang terlalu lama bersandar akan berlumut, akibat pemimpin tersebut tidak berubah dalam waktu sekian lama.

“Jadi yang kita sebut sebagai perubahan, yang kita jaga itu lunasnya bukan, layarnya,” tegas Coach Gunawan.

Prinsip ketiga adalah kontraintuitif. Dia dianggap orang yang paling tahu, paling jelas jati dirinya, dan paling berani melakukan perubahan. Prinisp dan keyakinannya sangat kuat untuk berubah.

“Pemimpin atau seseorang yang sangat kuat memegang lunasnya, memegang core value-nya, dia akan menjadi orang yang paling berani. Dia pemimpin yang paling berani mengarungi lautan. Kenapa? Karena kokoh, konstruksi tulang rangkanya sangat kuat dan bisa mengarungi lautan. Tapi kalau konstruksinya lemah, jangankan mengarungi lautan, baru berlayar beberapa lama dengan kecepatan berapa knot mungkin sudah retak lunasnya. Kena karang, kena badai dan seterusnya,” jelas dia.

Coach Gunawan berharap seluruh kader Partai Gelora dapat memegang prinsip ‘hold the principle, hold the core so tigh’ atau ‘pegang teguh prinsipnya, jaga inti (nilai dasar) tersebut dengan sangat erat’ akan dapat melalui ketegangan produktif.

“Ini prinsip saya. Ketika memegang yang prinsip kuat dan memegang cara sama kuatnya, itu saya bilang adalah kontradiktif yang sering disebut paradok flexibility. Jadi paradok fleksibilitas, adalah hanya kapal dengan lunas yang kuat yang berani masuk ke perairian dalam,” tegasnya.

Hal ini merupakan pertumbuhan, bukanlah pergantian identitas, melainkan penguatan kapasitas yang membuat cita-cita makin cepat karena pondasinya kokoh.

“Pesan saya hati-hati dengan kenyamanan yang menyamar sebagai lunas. Sebab, Tidak semua yang kita pertahankan itu lunas.. Tidak semua yang kita pertahankan itu nilai-nilai dasar. Tidak semua yang kita jaga itu juga bisa jadi nilai inti kita. Jangan sampai karena sudah terbiasa melakukan sesuatu akan menjadi jati diri yang bukan sesungguhnya atau jati diri palsu,” pungkasnya.

Visi Keumatan di Pusaran Konflik Global: Menyeimbangkan Kesejahteraan Domestik dan Kedaulatan Geopolitik

Partaigelora.id-Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Abdul Rochim mengatakan di tengah eskalasi konflik internasional yang terus bergejolak, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis untuk tampil sebagai pemain kunci di panggung dunia.

Kendati demikian, kiprah diplomasi internasional dan aksi kemanusiaan global harus berjalan bersisian dengan penguatan kesejahteraan masyarakat di dalam negeri melalui pendekatan fiqih prioritas (fiqhul awwaliyat), pembagian peran yang terstruktur, serta penegasan narasi kedaulatan nasional.

Hal tersebut disampaikannya dalam Kajian Pengembangan Wawasan  Keislaman bertajuk ‘Visi Keumatan di Pusaran Konflik Global pada Jumat (8/5/2026) malam.

“Dalam merespons krisis kemanusiaan global—seperti yang terjadi di Palestina—bangsa Indonesia dihadapkan pada tanggung jawab moral dan agama yang berkedudukan tinggi. Namun, pelaksanaan komitmen tersebut perlu dilakukan secara terukur agar tidak mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat di tanah air,”  kata Abdul Rochim.

Menurut dia, membantu rakyat Palestina yang tertindas, adalah kewajiban yang harus diprioritaskan. Namun, dalam memperjuangkan agenda kemanusaian global, harus diterapkan fiqih prioritas agar pengorbanan sumber daya memberikan dampak maksimal tanpa menimbulkan dampak negatif bagi stabilitas internal.

Ia mengatakan, pentingnya konsolidasi internal serta pengikisan ego kelompok yang kerap menguras energi bangsa.

Mengutip pandangan pemikir muslim Malik bin Nabi atau Malek Bennabi mengenai ketahanan internal (qabiliyah lil-isti’mar), ia mengingatkan bahwa suatu bangsa akan rentan menjadi objek kepentingan luar jika tidak memiliki agenda kolektif yang kuat.

Untuk mengatasi hal tersebut, kata dia, perlunya konsep pembagian porsi kerja (qasamat al-a’mal). Melalui pendekatan ini, sebagian elemen masyarakat fokus pada aksi diplomasi dan bantuan kemanusiaan internasional.

“Sementara elemen lainnya mengawal penguatan ekonomi, pendidikan, dan kesejahteraan sosial di dalam negeri,” katanya.

Lebih lanjut, Rochim menjelaskan bahwa nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan bersifat universal, namun pelaksanaannya dihadapkan pada realitas keterbatasan sumber daya. R

Rochim mengambil analogi dari kisah literatur klasik mengenai perbedaan pendekatan keputusan antara Nabi Daud AS dan Nabi Sulaiman AS dalam menyelesaikan sengketa masyarakat.

Menurutnya, sebuah kebijakan tidak hanya harus berdasar pada kebenaran normatif, tetapi juga harus memperhitungkan dampak jangka panjang (ma’alat) guna memitigasi timbulnya persoalan sosial-ekonomi baru.

Dalam konteks penyikapan atas krisis Palestina, ia mengimbau masyarakat untuk berfokus pada tanggung jawab aksi nyata (khitab syar’i) ketimbang sekadar memandangnya sebagai narasi takdir konflik (khitab qadari).

Penggalangan bantuan kemanusiaan yang terintegrasi dengan diplomasi resmi negara dinilai memberikan dampak yang jauh lebih signifikan.

Sementara itu, menanggapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan di dalam negeri, Rochim menegaskan bahwa penuntasan masalah perekonomian domestik merupakan bagian fundamental dari tujuan utama syariat (maqashid syariah), khususnya dalam menjaga harta dan jiwa (hifz al-mal dan hifz an-nafs).

“Kesejahteraan masyarakat di dalam negeri adalah penopang utama stabilitas bangsa. Dalam pandangan Islam, ketahanan ekonomi dan keamanan pangan merupakan kewajiban pokok. Oleh karena itu, penguatan ekonomi domestik dan partisipasi dalam isu kemanusiaan internasional harus berjalan bersisian sebagai agenda prioritas bersama,” tegas Rochim.

Ia  menyoroti dinamika geopolitik global—seperti yang ditunjukkan oleh Iran—dalam membangun soliditas nasional (herd behavior) melalui narasi kedaulatan yang tegas.

Ketua Divisi Kajian Pemikiran Islam Partai ini menilai Indonesia perlu menghadirkan kepemimpinan narasi yang serupa guna mengatasi persoalan ego sektoral dan fragmentasi kebijakan, khususnya terkait kedaulatan pangan dan energi.

Rochim menekankan bahwa gagasan membawa Indonesia masuk dalam visi ‘Lima Besar Dunia’ yang diusung Partai Gelora sejak awal merupakan ikhtiar nyata untuk meruntuhkan hambatan psikologis (mental block) yang selama ini membatasi cara pandang bangsa.

“Selama ini kita sering terjebak dalam perasaan ketidakmungkinan—merasa terlalu kecil untuk menjadi negara besar. Padahal, potensi demografi, kekayaan sumber daya alam, dan ikatan nilai geopolitik kita sangat masif. Visi lima besar dunia adalah upaya mendobrak keterbatasan berpikir tersebut,” jelas Rochim.

Lebih lanjut ditegaskan bahwa cita-cita menjadikan Indonesia sebagai kekuatan superpower bukanlah bentuk ambisi dominasi, melainkan instrumen dan sarana (wasilah) untuk menegakkan nilai-nilai keadilan, menghapuskan penjajahan, serta menciptakan kemaslahatan bagi umat manusia di tatanan internasional.

“Menjadi negara yang kuat adalah sarana untuk berbuat lebih banyak bagi kemaslahatan dunia. Ketika Indonesia hadir secara tangguh di pentas global, kita memiliki kapasitas yang jauh lebih efektif untuk menolak penjajahan, menjaga perdamaian, dan mewujudkan kesejahteraan bersama,” katanya.

Tetapi ia menghim bau agar ndonesia diimbau untuk mengikis keraguan atas potensi besar yang dimiliki dan mulai memperkuat narasi kedaulatan di tengah ketidakpastian geopolitik global.

“Penegasan visi geopolitik yang berani dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton, melainkan pemain kunci di tatanan internasional,” katanya.

Partai Gelora Indonesia Bagikan Langkah Strategis Berinvestasi Bagi Pemula

Partaigelora.id-Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar Kajian Pengembangan Wawasan Kewirausahaan bertajuk ‘Langkah Berinvestasi untuk Pemula”’pada Selasa (5/5/2026) malam. Kajian ini disampaika dua pakar dari Koodintaor Bidang (Korbid) Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Indonesia, Arifin Wicaksono dan Muhammad Zuhrif Hudaya.

Mereja mengupas tuntas mengenai strategi investasi awal yang aman dan tepat sasaran bagi pemula, terutama yang memiliki gaji pas-pasan, tetapi ingin berinvestasi, namun tidak mengetahui langkahnya.

Dalam pemaparannya, Wakil Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono menekankan pentingnya pengelolaan keuangan yang terencana agar penghasilan harian maupun bulanan dapat dikonversi menjadi kekayaan jangka panjang melalui skema 10-30-60:

  • 10% dialokasikan untuk charity (zakat, infak, dan sedekah).
  • 30% disisihkan khusus untuk investasi.
  • 60% digunakan untuk konsumsi dan gaya hidup.

“Bekerja akan membuat seseorang tetap berpenghasilan, sedangkan berinvestasi akan membuat seseorang menjadi kaya. Tanpa investasi yang terencana, sulit untuk menumbuhkan kekayaan di masa mendatang,” ujar Arifin

Namun, guna menghindari jebakan investasi bodong maupun fenomena FOMO (Fear of Missing Out), Arifin mengimbau pemula untuk selalu mempertimbangkan tiga pilar investasi.

Yakni profil Risiko, dimana pebisnis pemula diminta untuk pahami potensi risiko kegagalan dari instrumen yang dipilih.

Lalu, reward (Imbal Hasil), pastikan tingkat imbal hasil sebanding dengan risikonya (high risk, high return).

“Kemudian pilar selanjutnya adalah likuiditas, dimana ketahui seberapa cepat dan mudah aset tersebut dapat dicairkan (exit plan),” katanya

Dalam kajian ini, instrumen investasi dikelompokkan ke dalam empat kategori utama, yaitu sektor Bisnis Real, Pasar Modal dan Keuangan (saham, reksa dana, obligasi, deposito), Komoditas (emas/logam mulia), serta Aset Berharga (properti dan barang koleksi).

Untuk pemula, Partai Gelora menyarankan langkah awal dengan memprioritaskan aset berlikuiditas tinggi dan melakukan diversifikasi.

Sebagai gambaran, jika seorang pemula mengalokasikan dana investasi Rp3 juta per bulan dengan membaginya ke dalam dua instrumen aman:

Baca juga:

  • 60% (Rp1,8 juta) pada emas batangan (asumsi imbal hasil histori 9% per tahun).
  • 40% (Rp1,2 juta) pada saham blue chip perbankan (asumsi rata-rata imbal hasil capital gain dan dividen 12% per tahun).

Dengan konsistensi serta memanfaatkan efek compounding (bunga-bergulung), akumulasi portofolio tersebut diproyeksikan tumbuh menjadi:

  • Tahun ke-1: ~Rp37,7 juta
  • Tahun ke-5: ~Rp233,8 juta
  • Tahun ke-10: ~Rp600 juta lebih

Sementara Ketua Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora Muhammad Zuhrif Hudaya menegaskan bahwa kunci keberhasilan investasi pemula terletak pada konsistensi dan disiplin execution.

“Poin utamanya bukan seberapa besar modal awal kita, melainkan konsistensi mengalokasikan dana secara terus-menerus dan tidak ditarik untuk kebutuhan belanja konsumtif,” kata Zuhrif.

Edukasi Investasi untuk Kader

Dalam kesempatan ini, Korbid Ekonomi dan Bisnis DPP Partai Gelora akan mengatakan, DPP Partai Gelora akan menyiapkan program edukasi literasi keuangan dan investasi untuk pra kader. Program edukasi diberikan berjenjang , dibagi ke dalam dua horizon waktu.

Yakni jangka pendek (5 tahun) dengan pendampingan pengelolaan keuangan pribadi agar kader memiliki imunitas finansial serta kesiapan modal secara mandiri.

Selanjutnya jangka Panjang (10 tahun ke atas) dengan pembentukan portofolio aset berkelanjutan melalui kombinasi logam mulia, saham blue chip, dan penguatan bisnis riil.

“Semangat yang kami usung adalah ‘Kaya Bersama Gelora’. Kami fokus memberikan literasi finansial terlebih dahulu, bukan mengumpulkan modal atau memobilisasi dana secara serampangan,” kata Zuhrif.

Partai Gelora juga berencana membuka kelas khusus secara offline untuk mendalami analisis laporan keuangan hingga mindset investasi bagi para kader.

Wakil Ketua Korbid Ekonomi danBisnis DPP Partai Gelora Arifin Wicaksono menambahkan, Partai Gelora akan memberikan panduan mengidentifikasi investasi bodong sekaligus strategi finansial jangka panjang bagi seluruh kader dan simpatisan.

Ia mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh oleh skema investasi di bisnis riil yang menawarkan keuntungan pasti secara berkala.

“Investasi di bisnis riil tidak pernah memberikan imbal hasil yang tetap karena dinamika usaha selalu berubah. Jika berinvestasi pada perusahaan tertutup, legalitas kepemilikan modal wajib tercatat secara sah di dalam akta perubahan. Tanpa pencatatan tersebut, skema yang ditawarkan berisiko menjadi transaksi utang piutang biasa atau bahkan investasi bodong,” ujar Arifin.

Arifin  juga menegaskan pentingnya mendefinisikan tiga peran finansial agar masyarakat tidak salah langkah seperti investor,  trader dan rentenir dengan mengerti betul artinya masing-masing investasi tersebut.

Pengertian ivestor adalah menanamkan modal jangka panjang untuk mendapatkan pembagian dividen dan pertumbuhan capital gain berdasarkan kinerja riil perusahaan.

Sedangkan trader adalah melakukan aktivitas jual-beli aset (seperti saham atau komoditas) secara aktif guna meraih keuntungan dari selisih harga harian.

Sementara rentenir adalah mmberikan pinjaman dana dengan syarat pengembalian bunga tetap dalam jangka waktu tertentu.

Karena itu Arifin menyarankan para calon investor untuk memfokuskan perhatian pada analisis fundamental laporan keuangan emiten, terutama pemikihan saham yang telah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI),

“Perhatikan rasio utang (Debt to Equity Ratio), pertumbuhan omzet, serta riwayat pembagian dividen selama 5 hingga 10 tahun terakhir. Pilih saham yang membagikan dividen secara konsisten di atas rata-rata suku bunga deposito,” pungkasnya.

Fahri Hamzah: Banyak Orang yang Salah Paham Cara Presiden Prabowo Mengelola Ekonomi

Partaigelora.id-Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah mengatakan, banyak orang yang salah paham terhadap pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai upaya negara dalam mengelola ekonomi. Padahal hal itu menjadi keinginan para pendiri bangsa.

Apabila sumber daya alam (SDA) dikuasai negara, maka mobilitas kekayaan alam bisa sepenuhnya digunakan untuk kemakmuran rakyat, termasuk juga dalam hal penyelenggaraan sistem jaminan sosial sesuai dengan kontitusi.

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam Kajian Pengembangan Wawasan Kebangssan dengan tema ‘Negara dan Hari Buruh, Jumat (1/5/2026) malam.

“Sesuai Pasal 33 UUD, kita jangan lupa bahwa sumber daya alam itu, tidaklah sebesar-besarnya untuk kemakmuran ;pribadi, tetapi sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dan ini yang sering diingatkan oleh Bapak Presiden,” kata Fahri Hamzah.

Namun, banyak orang yang salah paham dengan pernyataan -pernyataan Presiden Prabowo terhadap cara mengelola ekonomi tersebut.

Fahri menegaskan, bahwa cara mengelola ekonomi , terutana SDA yang dilakukan oleh Presiden Prabowo seperti kesepakatan para pendiri bangsa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),

Dimana sumber daya alam harus dikuasai oleh negara, dan bukan sebaliknya dikuasai oleh segelintir orang seperti di negara-negara kapitalis.

“Kalau sumber daya alam itu terlalu diikuasai oleh segelintir orang, itu bisa menciptakan ketimpangan,” tegasnya.

Sehingga semua pihak harus konsisten kembali pada cara ekonomi dalam mengelola SDA yang telah disepakati para pendiri bangsa.

“Sumber daya alam itu, adalah alat untuk memobilisasi kekayaan yang sangat cepat. Orang bisa menjadi triliuner tiba-riba, hanya karena punya tambang atau IUP Batubara,” katanya.

Baca juga:

Apabila negara tidak ikut serta mengontrol dan mendistribusikan hasil- hasil SDA, maka akan menjadi tidak fair bagi masyarakat, dan pemerintah dianggap melaksanakan Pasal 33 UUD.

“ Oleh sebab itu, kalau negara kemudian memutuskan untuk menyelenggarakan sistem jaminan sosial yang komprehensif sesuai yang dimandatkan oleh UUD , maka adalah wajar,” katanya.

Sebab, jika melihat struktur pendapatkan negara, hal itu masih terlihat didominasi dari sektor sumber daya alam , bukan berasal dari dominasi sumber daya manusia (SDM), industri atau teknologi .

“Nanti ketika negara ini sudah sangat maju teknologinya , maka dominasi pendapatan negara dari sumber daya tidak terlalu maksimal, maka bisa digeser,” katanya.

Presiden Prabowo, lanjut dia, tengah berupaya untuk menciptakan SDM yang berkualitas, unggul dan punya kemampuan dalam bidang teknologi tinggi.

Adapun pendanaan untuk menciptakan SDM itu, saat ini diambil dan bersumber dari pengelolaan SDA yang diatur sesuai mandat Pasal 33 UUD.

“Tetapi kalau sudah merupakan kemajuan, secara sumber daya manusianya, bisa memproduksi teknologi yang tinggi, maka porsi-porsi kebebasan dalam menyelengarakan ekonomi dapat disesuaikan dari kesibukan masyarakat itu sendiri,” ujarnya.

Hal ini yang perlu ia garis bawahi, kenapa Presiden Prabowo begitu menggebu-gebu di dalam meningkatkan pelayanan sosial yang maksimal kepada masyarakat,

Karena Presiden Prabowo memiliki kepedulian lebih dibandingkan dengan pemimpin-pemimpin sebelumnya, yakni memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa

“Beberapa waktu lalu saya bertemu Presiden. Kepada beliau saya mengusulkan sistem jaminan sosial yang komprehensif itu mulai kita pikirkan. Karena mandat UUD 1945,” ujarnya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai sistem jaminan sosial yang terpecah-pecah seperti sekarang, sudah selayaknya disatukan secara komprehensif, sehingga menjadi besar dan pelayanan menjadi lebih baik.

“Kita ada BPJS Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan, ada Tapera untuk perumahan meskipun gagal menyusun antrian seperti BPJS. Tetapi ada kartu-kartu, Kartu Pintar, Kartu Pelajar, ada kartu pemeriksaab Kesehatan gratis dan ada juga penyelenggaraan sistem lain seperti MBG dan Sekolah Rakyat dan lain-lain,” jelasnya.

Fahri mengatakan, penyelenggaraann sistem jaminan sosial yang terpecah-pecah ini, perlahan dicoba untuk disatukan oleh Presiden Prabowo.

“Presiden sudah sangat baik dengan mengajak dengan mendisiplinkan kita dengan dikeluarkan Inpres DTSEN , tanggal 4 Pebruari 2025 lalu. Dan di DPR sekarang diselenggarakan pembahasan Undang-undang Satu Data,” katanya.

Penggunaan UU Satu Data ini, akan menjamin seluruh warga negara terdata dengan baik, dan penyelenggaraan sistem jaminan sosial akan dapat diselenggarakan lebih massif lagi.

“Keadilan sosial seperti dalam sila ke-5 Pancasila sesuatu yang dinanti-nanti. UUD 1945 dan batang tubuhnya, sangat jelas sekali. Melindungi segenap bangsa, seluruh tumpah darah, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tujuan sekaligus janji negara kepada rakyatnya,” ujar Fahri.

Dengan demikian, kehadiran negara dapat dirasakan dampaknya oleh seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan sosial dan peningkatkan kesejahteraan dalam bidang ekonomi.

“Kita percaya, bahwa cara kita membangun Indonesia seperti sekarang, maka Indonesia sebagai superpower baru akan terselenggara. Peradaban Indonesia akan punya kontribusi pada kehidupan umat manusia,” katanya.

Fahri menambahkan, Presiden Prabowo saat ini berupaya keras untuk memperkuat kelas menengah melalui peningkatan industrialisasi dan hilirisasi yang masif. Tidak saja hilirisasi mineral dan tambang, tetapi juga hilisasi pangan dan holtikultura.

“Semua sektor diperkuat, sehingga tidak hanya orang-orang yang dengan pendidikan tinggi bekerja, tapi juga di sektor-sektor yang paling bawah. Semua akan dipekerjakan, sehingga bisa naik kelas,” katanya.

Pusat-pusat industrialisasi ini, kata Fahti, nanti akan turun hingga ke desa-desa dan kecamatan-kecamatab, sehingga ekonomi rakyat semakin menggelinding dan massif.

“Kecamatan nanti mengirimkan hasilnya ke kabupaten/kota, diteruskan ke provinsi atau dari kabupaten dan provinsi mengekspor ke luar negeri ,” katanya.

Wakil Menteri PKP ini mengungkapkan, permintaan terhadap barang komoditas dari Indonesia sangat besar permintaannya, sehingga menjadi peluang dan kesempatan untuk maju,

“Kemajuan ini nanti pada akhirnya akan mempekerjakan lebih banyak masyarakat Indonesia dan menciptakan kelas menengah yang besar. Hal-hal ini yang sedang kita lakukan,” tegasnya.

Hal itu bisa dilakukan apabila kebocoran pengelolaan dan eksploitasi SDA selama ini bisa diakhiri, serta praktik korupsi di berbagai sektor bisa diberantas.

“Ini dua hal yang sedang dilakukan Presiden Prabowo, sehingga akan menghasilkan uang. Dan uang ini yang akan didistribusikan untuk mengakhiri gap di masyarakat,” katanya.

Cara untuk mengakhiri gap di masyarakat tersebut, antara lain dengan upaya pemerintah menyelenggarakan satu sistem jaminan sosial, sehingga dapat mengoreksi ketimpangan secara nyata.

“Rakyat kita masih hidup dengan kemiskinan ekstrem dan sangat memprihatinkan. Nah, jurang ini akan diakhiri dan dengan cara yang sistematis dan komprehensif. Mudah-mudahan dengan cara seperti itu tercipta kelas menengah yang lebih besar dan pemerataan yang lebih luas,” katanya.

Sehingga ke depanya , Indonesia akan menjadi bangsa yang mencerminkan semua keadilan. Baik itu keadilan politik, keadilan sosial, keadilan ekonomi dan keadilan hukum.

“Saya ingin meyakinkan masyarakat Indonesia , bahwa kita sedang berada pada jalur formasi penyelenggaraan Indonesia sebagai negara kuat. Mewujudkan impi dan cita-cita kita yang terpatri dalam Pancasila dan UUD 1945,” pungkasnya.

Mahfuz Sidik Prediksi Kawasan Indo Pasifik Bakal Jadi Spot Perang Baru

Partaigelora.id-Ketua Komisi I DPR RI 2010-2017 Mahfuz Sidik memprediksi kawasan Indo Pasifik atau wilayah Laut China Selatan akan menjadi spot perang baru, usai perang di kawasan Timur Tengah (Timteng) atau Teluk Persia berakhir.

Karena itu, Indonesia perlu segera memitigasi dengan menetapkan posisi strategi geopolitiknya, agar tidak salah langkah dan tetap menjaga kepentingan nasionalnya.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia itu dalam Kajian Pengembangan Wawasan Geopolitik dengan tema ‘Fase Ketiga Konflik Israel vs Iran, Jumat (24/4/2026) malam.

“Indonesia secara langsung atau tidak langsung akan ada dalam pusaran konflik itu, jika perang berkembang ke wilayah Indo Pasifik,” kata Mahfuz Sidik.

Menurut dia, secara geografis Indonesia berada di tengah-tengah kawasan Indo Pasifik, sehingga pemerintah perlu bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Kawasan Indo Pasifik bakal dijadikan spot perang baru, lanjut Mahfuz, dapat dilihat dari usulan dari Amerika Serikat (AS) terkait izin lintas udara (overflight clearance) atau akses menyeluruh (blanket) bagi pesawat militer AS di wilayah udara Indonesia.

“Permohonan ini diyakini sangat terkait dengan situasi yang semakin memanas di kawasan Indo Pasifik atau lebih tepatnya di kawasan Laut Cina Selatan,” ujar dia.

Ia mengungkapkan, banyak pihak yang mencoba menarik benang merah atau korelasi antara eskalasi perang di Teluk Persia ini dengan perluasan spot perang baru di kawasan Indo Pasifik .

Selain itu, digelarnya latihan perang bersama antara militer Amerika, Filipina dan Jepang di kawasan tersebut, juga bisa menjadi indikasi adanya ketegangan politik di kawasan Indo Pasifik yang semakin meningkat.

“Apalagi Amerika Serikat telah menetapkan, bahwa  kawasan Indo Pasifik, jadi kawasan paling utama bagi peta politik luar negeri mereka, bukan Timur Tengah, bukan juga Eropa,” katanya.

Mahfuz mengatakan, perang di kawasan Teluk Persia akan memasuki fase ketiga dengan keterlibatan aktor baru dalam perang antara Iran melawan AS-Israel.

Aktor baru tersebut, antara lain Rusia dan China. Diketahui, Rusia dan China membantu Iran dalam persenjataan dan memberikan bantuan lain, meskipun tidak mengirim pasukan secara langsung.

“Amerika kemudian membalasnya dengan memblokade Selat Hormuz. Armada Angkatan Laut Amerika mulai merazia dan menyandera kapal-kapal Iran yang mengangkut minyak dari Teluk Persia, yang diduga berlayar ke kawasan Indo Pasifik,” ujarnya.

Bahkan ada indikasi, bahwa Amerika akan memperluas Razia kapal-kapal Iran di Selat Malaka dan Laut China Selatan. Amerika menginginkan agar Iran tidak lagi menjual dan mengirim minyaknya ke China.

“Bagi China selama kepentingan utamanya supply chain energi (rantai pasok energi) yang dibutuhkan China ini tidak terganggu, maka China tidak akan bereaksi keras,” katanya.

Jika rantai pasok energi mereka terganggu, menurut dia, China akan mengirimkan armada kapal tempurnya untuk mengawal suplai energi dari Teluk dari Iran ke China agar tidak terganggu.

“Kalau sikap defensif dari China kuat untuk mengamankan kepentingannya di jalur  Selat Hormus, maka akan memicu kontak secara langsung antara militer China dengan militer Amerika,:” katanya.

Apabila  ini terjadi, maka Presiden AS Donald Trump akan langsung melakukan perluasan razia, tidak hanya menyandera kapal-kapal Iran saja.

Tetapi, Amerika juga akan menyandera kapal-kapal kargo dan tanker China yang keluar masuk pelabuhan Iran maupun di berbagai wilayah perairan lainnya.

“Maka ketika aktor baru yang bernama China terlibat secara langsung dan nyata dalam konflik dengan Amerika, baik di Kawasan Teluk Persia maupun di kawasan lainnya. Maka spot perang baru di kawasan Indo Pasifik tercipta,” katanya.

Mahfuz meyakini Amerika akan segera keluar dari kawasan Teluk Persia, apabila Trump bisa menghancurkan Iran sebagai bangsa dan negara seperti ancamanya akan mengembalikan Iran ke zaman baru.

Selanjutnya, Israel akan menggantikan peran Amerika di kawasan Teluk Persia, Asia Barat, Timur Tengah dan Afrika Utara sebagai kekuatan dominan baru secara politik dan juga secara militer.

Amerika saat ini sedang men-suplai senjata dan amunisi ke Israel yang akan digunakan untuk menyerang Iran secara bersama pada masa genjatan senjata yang dipaksakan saat ini.

“Rusia sudah memberikan peringatan kepada pemerintah Iran, bahwa Amerika sedang memanfatkan jeda waktu untuk mengkonsolidasi, menyiapkan seluruh instrumen kekuatan militernya menuju serangan yang lebih masif, serangan yang lebih besar dalam waktu dekat,” katanya.

Selat Malaka Punya Nilai Tawar

Mahfuz menegaskan, Trump akan segera mendeklarasikan China sebagai musuh terbesar Amerika, tidak hanya dalam konteks perang ekonomi dan perang dagang saja, tetapi juga akan berhadapan dalam konteks militer, apabila benar-benar  sudah mengalahkan Iran.

“Amerika pasti punya kepentingan dan punya agenda untuk menguasai kawasan ini. Dan Indonesia pasti masuk dalam radar Amerika. Kalau maunya Amerika, Indonesia harus ikut pada kepentingan global Amerika di kawasan itu. Nah, bagaimana dengan China?  Inilah ujian bagi politik luar negeri Indonesia, mendayung diantara dua karang yang terjal,” tegasnya.

Ia menambahkan, Indonesia punya nilai tawar tinggi yang bisa digunakan untuk diplomasi, karena memiliki Selat Malaka yang posisinya jauh lebih strategis di jalur pelayaran internasonal, dibandingkan di Selat Hormuz.

Sebab, Selat Malaka meng-cover sekitar  25-30 persen rantai pasok  energi dunia, di samping jalur perdagangan-perdagangan lainnya.

“Amerika dan China juga punya ketergantungan di sini, karena Selat Malaka adalah salah satu jantung lalu lintas pelayaran dunia. Laverange, nilai tawar ini yang sangat strategis. Ini bisa digunakan Indonesia, Malaysia, Singapura untuk membangun kerja sama dan kesepakatan dalam pengelolaan wilayah Selat Malaka,” jelasnya.

Sebab, jika Selat Malaka terganggu keamanannya, maka tidak hanya Indonesia yang terdampak secara siginifikan, tetapi juga rantai pasok energi dan pangan dunia, bahkan navigasi penerbangan dunia juga akan terganggu.

“Kita harus punya langkah mitigasi dan kemudian mengambil langkah-langkah agar survive,” katanya.

Dalam kondisi seperti ini, Mahfuz berharap pemerintah bisa membangun soliditas politik di kalangan elite dan akar rumput.

“Jadi apabila stabilitas politik elite dan kohesi nasional di akar rumput  terbangun, maka tantangan sebesar apapun lebih mudah dihadapi,” ujarnya.

Ia optimistis apabila hal itu terbangun, maka masyarakat akan punya kesiapan bergotong-royong untuk senasib sepenanggungan , dan tanpa ada yang saling menyalahkan.

“Jangan ada yang melakukan tindakan yang kemudian memicu keretakan, memicu perdebatan, memicu sentimen negatif, dan memicu friksi dukungan terhadap kekuatan politik nasional,” pungkasnya. (*)

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X