Category: Kegiatan

Pandemi Covid-19 Diperkirakan Berakhir 5 Tahun Lagi, Epidemiolog Ingatkan Potensi Chaos di Masyarakat

, , , , , ,

Partaigelora.id -Ahli epidemiolog klinis (clinical epidemiolog) Ahlina Institute Dr Tifauzia Tyassuma memperkirakan pandemi Covid-19 di Indonesia bakal berlangsung lama antara 3-5 tahun lagi, dan masih sulit untuk dikendalikan hingga 2022 mendatang.

Sebab, Covid-19 memiliki karakter melakukan mutasi, membentuk varian-varian baru seperti Varian Delta yang memiliki daya tular cepat dan mematikan terhadap pasien yang terjangkiti virus Corona.

“Kita mesti siap-siap dari sekarang, pandemi ini tidak akan berhenti di akhir 2022, karena virus ini memiliki karakter melakukan mutasi. WHO sudah memberi nama dengan abjad-abjad Yunani, dan kalau lihat mutasinya, abjad Yunani bisa habis untuk menamai Virus Corona ini,” kata Dr Tifauzia Tyassuma seperti dikutip dari kanal YouTube Gelora TV, Senin (2/8/2021).

Menurut Dr Tifa-sapaan Tifauzia Tyassuma, pandemi Covid-19 di Indonesia diperkirakan masih akan berlangsung 3-5 lagi. Dalam kurun waktu itu, Covid-19 akan membentuk varian-varian baru lebih banyak lagi, termasuk varian lokal Indonesia yang bisa mencapai lima varian baru

“Pandemi ini sedikitnya, masih akan berlangsung antara 3 sampai 5 tahun 3 lagi dengan dengan asumsi, bahwa mutasi yang terjadi ini belum ada solusi untuk dilakukan pengendalian sama sekali,” ujarnya.

Namun, ahli penyakit menular dan tidak menular ini berpendapat, bahwa pandemi Covid-19 akan hilang dengan sendirinya sesuai dengan karakternya sebuah virus. Apabila sudah tidak ada inang untuk berkembang biak dan tidak bisa melakukan mutasi di tubuh manusia.

“Jika berlandaskan pada karakterdari virus dan sifat dari pandemi yang terjadi selama ini di dunia, akan menyelesaikan dirinya sendiri pada suatu ketika virus ini tidak bertemu lagi dengan manusia yang menjadi inang,” jelasnya.

Hal itu terjadi apabila seluruh manusia sudah memiliki antibodi atau kekebalan, baik mereka yang telah terinfeksi secara alamiah (terpapar Covid-19) maupun yang dimasukkan virus kedalam tubuh melalui vaksin.

“Sejak September 2020, saya sudah berikan warning, kalau seandainya menjadi jalan keluar, maka vaksin yang harus diberikan pemerintah adalah vaksin sultan, vaksin dengan efektifitas tertinggi sampai 92 seperti di Amerika dan Eropa, bukan seperti sekarang,” katanya.

Dr Tifa mengkhawatirkan, dampak pandemi Covid-19 yang akan berlangsung lama dan berkepanjangan bisa menimbulkan frustasi di masyarakat, dan  berujung pada kerusuhan massa (chaos) di masyarakat. 

“Ini yang paling kita khawatirkan, kita mesti bersama-sama segera bahu-membahu untuk mencegah, jangan sampai krisis sosial ini menjadi chaos,” kata Clinical Epidemiolog Ahlina Institute ini.

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, dengan asumsi pandemi Covid-19 bakal berakhir 3-5 tahun lagi, maka pemerintah bisa membuat prediksi yang lebih akurat dan mengambil langkah tepat dalam menangani masalah ini.

Sehingga pemerintah dapat mengantisipasi terjadinya chaos dengan  mengelola suasana jiwa masyarakat (public mood) saat ini diliputi kesedihan, ketakutan, kemarahan dan frustasi. Kondisi tersebut bisa saja berbuah pada ledakan sosial dan krisis politik,  bahkan pembangkangan sipil oleh masyarakat.

“Kita tidak tahu apakah ada kejutan baru antara 3 sampai 5 tahun kedepan, tapi ini tantangan besar dalam ketahanan fiskal dan kapasitas pemerintah untuk melalui tahun-tahun itu. Kita bisa membuat prediksi yang lebih akurat dalam menghadapi masalah agar tidak terjadi ledakan sosial atau pembangkangan sipil,” tegas Anis Matta.

Triwisaksana: Gelorakan Solidaritas, Pulihkan Jakarta

, , , , ,

Partaigelora.id – Ketua DPW Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia DKI Jakarta Triwisakna mengatakan, jumlah warga terjangkit Covid-19 di Jakarta masih tinggi, walaupun cenderung menurun. Sehingga pemerintah pusat lewat Pempemerintah (Pemprov) DKI Jakarta dan beberapa daerah lainnya memperpanjang PPKM level 4 sampai tanggal 2 Agustus 2021.

Menurut dia, salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan imunitas warga terhadap virus Covid-19 adalah dengan vaksinasi massal. Untuk memenuhi target 100% warga Jakarta yang di vaksin tepat pada hari kemerdekaan nanti,, maka DPW Partai Gelora Indonesia DKI Jakarta bekerjasama dengan Yayasan Harmoni Jakarta, Polsek Pesanggrahan, Dewan Kota Jakarta Selatan dan Pungurus RW 01 Kelurahan Bintaro mengadakan kegiatan vaksinasi merdeka.

Kegiatan ini dilaksanakan di Rumah Kenanga, Pesanggrahan Jakarta Selatan pada Minggu (1/2/2021), dari jam 8 pagi, dengan disediakan 200 dosis vaksin sinovac untuk warga sekitar.

Triwisaksana menyampaika, bahwa kegiatan ini adalah upaya untuk membantu warga agar mudah melaksanakan vaksinasi. Kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi warga dengan lembaga swadaya masyarakat dan kepolisian. Triwisaksana berpendapat bahwa dimasa-masa krisis seperti ini rasa solidaritas harus terus digelorakan agar Kota Jakarta kembali pulih dan sehat.

Triwisaksana selaku penggagas dan penyelenggara memberikan apresiasi kepada Pemrov DKI dan Kepolisian dalam program vaksinasi ini, selain itu Triwisaksana juga menghimbau kepada Pemprov DKI untuk selalu memantau ketersediaan obat-obatan, vitamin dan juga kebutuhan warga khususnya yang sedang melakukan isolasi mandiri.

“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga harus memperhatikan kebutuhan pangan warga yang cukup terdampak dengan perpanjangan PPKM ini, bantuan sosial dan jenis bantuan lainnya harus segera disalurkan untuk meringankan beban masyarakat,” kata Triwisaksana dalam sambutannya.

Triwisaksana juga menegaskan kembali bahwa pandemi ini belum bisa diprediksi kapan berakhir, pemerintah provinsi DKI Jakarta harus menyiapkan strategi preventif yang integral, penyiapan ketersediaan oksigen, penguatan disiplin prokes, stimulus ekonomi dan juga regulasi teknis seperti aturan tempat ibadah, pasar dan juga aktivitas sosial.

“Pemerintah DKI harus lebih siap dan berkolaborasi dalam mengantisipasi situasi ke depan yang belum stabil, ” tutup Triwisaksana dalam sambutannya.

Di bawah pimpinan Triwisaksana selaku DPW Partai Gelora Indonesa DKI Jakarta, kader Partai Gelora di Jakarta hingga kini sudah mencapai 13.899 anggota.

Pemerintah Jangan Pelit Sama Rakyat, Jangan Kasih Vaksin Murahan

, , , , ,

Partaigelora.id – Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya Indonesia 2015-2016 Rizal Ramli menilai tingginya kasus Covid-19 dan angka kematian di Indonesia akibat virus Corona di Indonesia,salah satunya karena pemerintah dinilai pelit sama rakyatnya.

Hal itu, kata Rizal Ramli, bisa dilihat dari keengganan pemerintah dalam menerapkan lockdown dan menjalankan UU No.6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, serta pemberian vaksin yang efektifitasnya  sangat rendah.

“Rakyat kita mau nggak divaksin? Kebanyakan mau banget, cuman  jangan divaksin yang efektivitasnya sangat rendah , yaitu Sinovac yang hanya 55 %. Artinya, dari 100 yang divaksin, 55 % benar-benar efektif, tapi sisanya 45 %  bisa kena lagi,” kata Rizal Ramli dalam Gelora Talks dengan tema ‘Pandemi Berlanjut Akankah Memicu Krisis Sosial’ di Jakarta, Rabu (29/7/2021) petang.

Rizal Ramli meminta pemerintah tidak berjudi dengan nasib rakyat Indonesia dengan melanjutkan pemberian vaksin Sinovac. Pemerintah harus memberikan vaksin yang efektifitasnya diatas 97 persen seperti Pfizer, Moderna dan lain-lain.

“Ini rakyat kita divaksin yang efektifitasnya hanya setengahnya,  itulah masalahnya kenapa banyak yang udah divaksin kena lagi. Jangan dong berjudi dengan nasib rakyat dengan vaksin Sinovac. Jangan pelit sama rakyat, dikasih vaksi kelas Sinovac, mestinya Pfizer, Moderna atau apalah yang efektiftasnya di atas 97,” katanya.

Menurut Rizal, dengan pemberian vaksin yang lebih mahal, dengan target herd community (kekebalan komunal), misalnya 180 juta rakyat dikalikan dua kali dosis suntikan menjadi 360 suntikan. Per harinya dilakukan 2 juta suntikan, maka dalam tempo enam bulan targetnya tercapai.

“Saya ingat ketika Presiden Joe Biden dilantik 15 Januari, pokoknya sebelum hari kemerdekaan Amerika tanggal 4 Juli, Covid-19 tak boleh lagi jadi masalah utama. Terbukti dalam waktu kurang dari 6 bulan, Covid-19 di Amerika relatif bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Rizal Ramli menegaskan, dalam perang melawan Covid-19 ini diperlukan kepemimpinan yang tegas dan berpihak kepada rakyat. Bukan sebaliknya, berubah-ubah kebijakan, namun hasilnya nihil, dimana kasus penularan dan tingkat kematian Covid-19 masih tinggi.

“Kita tidak mau lockdown, tapi faktanya kita di lockuout semua negara seperti Amerika, Eropa, Saudi Arabia, Singapura dan Jepang. Daripada di lockout lebih baik, kita lockdown. Cuman sediakan Rp 415 triliun saja,” kata mantan Menko Perekonomian era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Anggaran sebesar Rp 415 triliun itu, diperlukan untuk lockdown selama tiga bulan. “Kita harus kasih makan 77 juta keluarga kurang mampu. Satu bulan Rp 105 Triliun, tiga bulan Rp 315 triliun, obat gratis Rp 100 triliun, paling hanya butuh Rp 415 triliun,” katanya.

Namun, menurut Rizal Ramli, pemerintah dinilai memilih menghindari tanggungjawab untuk melaksanakan lockdown seperti diamanatkan UU No.6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

“Sekarang ini anggaran Rp 1.035 triliun pada 2020 tidak ada efeknya. Kalau kasih makan rakyat, yang dikasih ecek-ecek, kasih bansos, itupun 1/3 -nya dikorupsi. Kita harus berpihak kepada rakyat,” ujarnya.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta menyatakan kekhawatirannya, bahwa vaksin yang ada tidak cukup kuat menghadapi varian-varian baru Covid-19. Sehingga masih dibutuhkan beberapa kali vaksin lagi, tidak cukup dua dosis suntikan, bisa tiga hingga lima dosis suntikan.

“Pertanyaan yang sulit dijawab, berapa lama pemerintah bisa bertahan dalam situasi seperti ini. Daya tahan fiskal pemerintah, apakah mampu mengatasi persoalan ini, karena krisis akan jauh lebih besar dari yang diperkirakan,” kata Anis Matta.

Menanggapi hal ini, Rizal Ramli lantas ‘menyentil’ Partai Gelora untuk  untuk bersikap kritis terhadap pemerintah demi kepentingan rakyat, khususnya dalam penanganan pandemi Covid-19.

“Menurut saya,  This Is The Time. Mumpung di luar pemerintahan, kalau sudah di dalam nanti banyak pertimbanganya. Saya minta Partai Gelora lebih vokal, lebih berani menyuarakan kepentingan rakyat,” tegas Rizal yang disambut senyum Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta.

Rizal Ramli menambahkan, kondisi perekonomian Indonesia saat ini bertambah anjlok dan penanganan pandemi Covid-19 semakin tidak terkendali.

Rizal Ramli berharap Partai Gelora yang memiliki visi ‘Arah Baru Indonesia’ dan konsen dalam penyelesaian krisis bisa berperan lebih aktif lagi dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan memberikan masukan kepada pemerintah agar dapat mengambil langkah tepat dalam membuat kebijakannya.

“Berjuanglah untuk rakyat,  pemerintah tidak mampu kok menyelesaikan krisis ekonomi, malah semakin anjlok dalam menyelesaikan krisis pandemi in,” pungkas Rizal Ramli.

Indonesia Sudah Lampu Kuning, Anis Matta: Kita Harus Hati-hati Membaca Tanda-tanda Ini

, , , , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, krisis akibat pandemi Covid-19 saat ini sudah memasuki rute ketiga, yakni tahapan krisis sosial. Jika pemerintah tidak tanggap, maka krisis sosial akan berlanjut menjadi krisis politik.

“Tanda-tandanya menunjukkan bahwa kita ada di lampu kuning. Pandemi sudah menyebabkan krisis ekonomi, dan sekarang berlanjut pada krisis sosial. Kita harus berhati-hati membaca tanda-tanda ini, tanpa bermaksud saling menyalahkan, karena pada akhirnya merupakan tantangan bagi kita semuanya sebagai bangsa,” kata Anis Matta saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talk 09 dengan tema ‘Pandemi Berlanjut Akankah Memicu Krisis Sosial’ di Jakarta, Rabu (28/7/2021) petang.

Dalam diskusi yang dihadiri Menteri Koordinator (Menko) Maritim dan Sumber Daya Indonesia 2015-2016 Rizal Ramli, Juru Bicara Kementerian Kesehatan (Menkes) Siti Nadia Tarmizi dan Clinical Epidemilog Ahlani Institute Tifauzia Tyassuma itu, Anis Matta  mengingatkan, krisis ekonomi saat ini menyebabkan gelombang PHK besar-besaran dan angka kemiskinan naik 50 persen.

Menurut Anis Matta, suasana jiwa masyarakat (public mood) saat ini diliputi kesedihan, ketakutan, kemarahan dan frustasi. Kondisi tersebut bisa saja berbuah pada ledakan sosial dan krisis politik, apabila tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah.

Disamping itu, ternyata vaksinasi tidak mampu mencegah munculnya varian baru. Vaksin terlihat kalah kuat dari varian baru yang terus bermunculan, sehingga masih dibutuhkan beberapa kali vaksin lagi.

“Ini menyangkut daya tahan fiskal dan kapasitas pemerintah. Pandemi menyedot anggaran sedemikian rupa, sementara pada waktu yang sama menutup sebagian besar sumber pendapatan pemerintah,” ujarnya.

Situasi saat ini, lanjut  Anis Matta, tentu saja menjadi ujian dan tantangan yang sulit bagi pemerintah. Apalagi jika melihat tanda-tanda, krisis terlihat akan semakin membesar.

“Pertanyaan yang sulit dijawab, berapa lama pemerintah bisa bertahan dalam situasi seperti ini. Daya tahan fiskal pemerintah,  apakah mampu mengatasi persoalan ini, karena krisis akan jauh lebih besar dari yang diperkirakan,” katanya.

Hal senada disampaikan Clinical Epidemilog Ahlina Institute Dr. Tifauzia Tyassuma mengatakan, bahwa situasi sekarang sudah memasuki krisis sosial dan di khawatirkan akan terjadi chaos (kerusuhan) di masyarakat.

“Ini yang paling kita khawatirkan, kita mesti bersama-sama segera bahu-membahu untuk mencegah, jangan sampai krisis sosial ini menjadi chaos,” kata Tifauzia.

Dr Tifa, sapaan akrab Tifauzia Tyassuma memprediksi pandemi tidak akan selesai pada 2022, karena virus Corona terus melakukan mutasi dan membentuk varian-varian baru, termasuk varian lokal Indonesia.

“Siap-siap saja pandemi ini akan berjalan lama, sedikitnya butuh waktu antara 3-5 tahun lagi. Artinya ketika masih Pilpres, pandemi masih ada dengan asumsi terjadi mutasi-mutasi dan pemerintah belum ada solusi pengendalian sama sekali,” katanya. 

Menko Maritim dan Sumber Daya Indonesia 2015-2016 Rizal Ramli menilai, pemerintah salah langkah dalam menerapkan kebijakan penanganan pandemi Covid-19 selama ini.

Sejak awal seharusnya pemerintah menerapkan lockdown lakukan lockdown agar Covid-19 tidak menyebar. Bukan sebaliknya, bongkar pasang istilah dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), PSBB Ketat,  Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), PPKM Mikro,  PPKM Darurat, sampai terakhir PPKM Level 4.

“Di seluruh dunia efektif mengendalikan pandemi ini sederhana kok lockdown. Iya kan nanti kalau udah berkurang ya nggak ada lockdown. Nanti kalau ada pandemi lagi ramai lagi atau virus baru lagi variasi baru ya lockdown lagi,” ujar Rizal Ramli.

Apabila kebijakan lockdown diterapkan ketika itu, kata Rizal Ramli, cost (biaya) yang dikeluarkan pemerintah tidak akan sebesar sekarang mencapai Rp 1.035 triliun, tapi cukup merogoh kocek Rp 415 triliun dan Covid-19 bisa dikendalikan.

“Lockdown hanya butuh Rp 415 triliun, itu buat kasih makan rakyat dan kasih obat-obatan gratis. Saya (merasa) aneh. Di seluruh dunia ada nggak sih, yang menyelesaikan kasus krisis tapi dengan ganti istilah doang? Mohon maaf kagak ada,” tegas Rizal Ramli.

Juru Bicara Kemenkes Siti Nadia Tarmizi mengatakan, peningkatan kasus Covid-19 saat ini, karena ada mutasi baru varian Delta dari India, sehingga pemerintah perlu mengencangkan kembali pelaksanaan rem darurat melalui PPKM.

“PPKM Darurat Level 4 hingga 1 itu sesuai dengan rekomendasi WHO. Upaya ini untuk menurunkan mobilitas, bukan menghentikan, karena mobilitas ini memfasilitasi varian virus menyebar ke seluruh daerah. Sehingga kasus di daerah secara cepat meningkat dalam jumlah besar,” kata Siti Nadia.

Pemerintah menilai penerapan PPKM Darurat berdasarkan level ini tidak mengganggu aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat, karena diterapkan di level RT/RW, desa/kelurahan atau kecamatan saja.

“Di level yang paling terkecil sangat memungkinkan untuk melakukan arus keluar masuk di wilayah tersebut,” pungkas Juru Bicara Kemenkes ini.

Percepat Kekebalan Komunal, Partai Gelora Kolaborasi Gelar Vaksinasi di Bekasi

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Dalam rangka mendukung program vaksinasi pemerintah guna menciptakan kekebalan komunal (herd community) masyarakat dan mengakhiri pandemi Covid-19, Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menggelar vaksinasi  di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar).

Vaksinasi tersebut di gelar DPD Partai Gelora Indonesia Kabupaten Bekasi bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI bertempat di Pondok Pensatrean (PP) Miftahul Huda, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi, Kamis  (22/7/2021).

Ketua Bidang Kesehatan DPN Partai Gelora Indonesia dr Zicky Yombana Sp.S  mengatakan, vaksinasi adalah salah satu upaya untuk menghentikan penyebaran virus corona dan menurunkan angka pasien bergejala berat.

“Jangan mengambil informasi yang salah terkait vaksin karena kenyataannya manfaatnya sangat besar. Bijak memilah informasi adalah kunci kekompakan kita dalam memenangkan perang melawan virus ini, selain tetap menjaga protokol kesehatan ditambah vaksinasi,” kata Zicky.

dr Zicky menegaskan, Partai Gelora mendukung dan mendorong percepatan vaksinasi bagi seluruh masyarakat Indonesia, sehingga tercipta kekebalan komunal dan tercipta imun dalam melawan virus Corona (Covid-19).

“Jadi jangan takut untuk vaksin karena sudah di nyatakan aman secara ilmiah,” tegasnya.

Ketua Bidang Narasi DPN Partai Gelora Indonesia Dadi Krismaanto menambahkan, vaksinasi merupakan agenda mendesak menanggulangi pandemi Covid-19, sehingga butuh kolaborasi semua pihak. Partai Gelora merasa terpanggil untuk mempercepat jangkauan vaksinasi dan edukasi ke masyarakat luas.

“Kami sengaja memilih Kecamatan Tambelang, bukan di pusat kota, karena di pusat kota sudah relatif ada vaksinasi baik dari pemerintah maupun swasta. Kami ingin mengisi ruang-ruang ini agar percepatan cakupan vaksinasi tercapai,” kata Dadi Krismanto.

Kegiatan ini, lanjutnya, juga memiliki muatan edukasi, karena masyarakat mendapatkan informasi mengenai arti penting vaksinasi lewat selebaran dan undangan mengikuti vaksinasi.

Dadi Krismanto mengungkapkan, kegiatan vaksinasi merupakan yang ketiga kalinya diselenggarakan oleh Partai Gelora. Dua kegiatan sebelumnya dilaksanakan di Jakarta, diantaranya di sekitar kediaman Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta di Ciganjur, Jakarta Selatan pada Sabtu (10/7/2021) lalu.

“Pandemi ini punya banyak dimensi, tidak bisa semuanya dibebankan ke pemerintah. Partai Gelora selalu percaya dengan kolaborasi, kita bisa mengatasi masalah pandemi Covid-19,” katanya.

Pengurus  DPD  Partai Gelora Indonesia Kabupaten Bekasi Galih Fellandoe mengatakan,  memang tidak mudah untuk mengajak masyarakat berpartisipasi ikut vaksinasi, karena banyaknya persepsi keliru mengenai vaksin dan vaksinasi saat ini.

“Di masyarakat ada beragam persepsi tentang vaksinasi tapi kami tetap optimistis dapat mengajak mereka. Kegiatan ini juga positif untuk mendekatkan rakyat dengan masyarakat,” kata Galih.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta menganjurkan kepada seluruh masyarakat untuk ikut serta dalam program vaksinasi yang diselenggarakan oleh pemerintah.

“Karena ini bukan hanya anjuran pemerintah tapi juga sebenarnya merupakan perintah agama, karena kita dianjurkan untuk melakukan apa yang disebut oleh para ulama sebagai melakukan semua sebab-sebab kesembuhan dan kesehatan. Mudah-mudahan dengan cara ini Allah SWT,” kata Anis Matta.

Berkurban Bareng Warga, Anis Matta: Berbagi Kita Kuat

, , , , , ,

Partaigelora.id – Pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini telah memasuki tahun kedua, dimana belum ada tanda-tanda yang menunjukkan kapan krisis berlarut ini akan berakhir.  Namun,  masyarakat tetap merayakan Hari Raya Idul Adha 1442 Hijriah dengan tradisi berkurban.

Sebab, tetap tradisi berkurban merupakan perwujudan spirit berbagi, yang tidak memandang situasi krisis berlarut atau tidak. Masyarakat tetap saling mencintai dan saling menopang, meski negara sedang goyah dihantam badai krisis.

“Alhamduillah saya telah menyalurkan 3 ekor sapi di tiga tempat di sekitar kediaman saya. Ternyata di tiga tempat yang terdiri dari dua RT (Rukun Tetangga) ini saja, ada sekitar 20 sapi kurban. Ini sangat mengagetkan, karena terjadi di tengah krisis,” kata Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam keterangannya, Kamis (22/7/2021).

Menurut Anis Matta, hal ini merupakan suatu pertanda bahwa tradisi berkurban telah merasuk ke dalam jiwa masyarakat sedemikian kuatnya. Bahkan krisis pun tidak bisa menghentikan, dan malah sebaliknya, krisis ini memicu mereka untuk berkurban lebih banyak.

“Kalau ada yang bisa kita pahami dari situasi seperti itu, adalah merupakan suatu pertanda , bahwa masyarakat kita ini kuat dan solid. Mereka saling mencintai, mereka berbagi,” katanya.

Anis Matta menilai tradisi berkurban tradisi berbagi, yang tidak melihat agama maupun etnisnya. Sehingga dengan tradisi berbagi tersebut,  maka rakyat memiliki kekuatan tersendiri dalam menghadapi krisis berlarut saat ini

“Saya yakin pada dasarnya rakyat kita memiliki kekuatan untuk menghadapi masalahnya sendiri. Bahkan ketika negara menghadapi krisis yang jauh lebih besar dari kapasitasnya untuk menyelesaikannya,” ujat Anis Matta.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia berharap bahwa tradisi berkurban bisa dikukuhkan sebagai solusi untuk mengatasi krisis berlarut akibat pandemi Covid-19 ini.

“Melalui memomentum ini,  kita ingin sekali lagi mengkukuhkan tradisi berkurban. Ini sekaligus menunjukkan, bahwa rakyat dengan rakyat bisa menyelesaikan masalahnya sendidiri,” tandasnya.

Anis Matta menegaskan, makna dari berkurban itu adalah sebuah pengorbanan. Prinsipnya kesejahteraan tersebut tidak hanya dinikmati sekelompok kecil saja, melainkan juga oleh semua orang, baik si kaya dan juga si miskin dengan tradisi berkurban tersebut.

“Kita mendapatkan satu kenyataan baru, bahwa berbagi itu membuat kita lebih kuat. Inilah sistem yang dicari oleh dunia sekarang, tidak membedakan agama dan negara, serta bersifat multi etnis yang memungkinkan kita sejahtera secara kolektif dan menjadi masyarakat modern,” pungkasnya.

Sekjen Partai Gelora: Disinformasi dan Pembelahan Politik Hambat Penanganan Pandemi

, , , , , ,

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menilai pembelahan politik di tengah masyarakat sebagai dari dampak Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 lalu, tampaknya tidak akan selesai dan akan berlajut di Pemilu 2024.

Hal ini tentu saja dapat mengganggu program pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19, terutama program vaksinasi untuk memberikan herd imunity di masyarakat.

“Saya cukup khawatir, bahwa situasi ini akan menciptakan bias kebijakan politik dan juga bias persepsi terhadap kebijakan-kebijakan politik di dalam penanganan pandemi Covid-19,” kata Mahfuz Sidik, Sekretaris Jenderal Partai Gelora Indonesia dalam keterangannya, Kamis (15/7/2021).

Kekhawatiran Mahfuz Sidik tersebut,  disampaikannya saat menutup diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Pandemi Covid-19: Bagaimana Negara Bertahan & Menghadapi Perubahan Besar?’ di Jakarta, Selasa (13/7/2021) lalu.

Menurut Mahfuz, suasana pembelahan politik di Indonesia jauh berbeda dengan yang terjadi di Pilpres Amerika Serikat (AS). Pembelahan politik itu selesai saat Joe Biden terpilih sebagai presiden. Rakyat AS pun mendukung program pemerintah dalam penanganan pandemi Covid-19, terutama vaksinasi.

“Tapi di Indonesia nampaknya berbeda, Pilres 2019 nggak pernah selesai dan bahkan suasana Pilpres 2024 sudah mulai ada asapnya. Judul kita di Indonesia ‘Berjuang Melawan Pandemi Covid-19 di Tengah Pilpres yang tak kunjung Usai’,” ujar Mahfuz.

Mahfuz lantas menyampaikan, hasil persepsi publik Lembaga Survei Median mengenai penanganan pandemi Covid-19. Dalam survei itu, terungkap hanya 51,1 persen masyarakat yang percaya dengan vaksin, dan 48,9 % tidak percaya vaksin.

Selanjutnya, sebanyak 51,8 % yang sadar dengan resiko dan bahayanya Covid-19, sementara 48,2 persen tidak sadar dan takut resiko dan bahaya Covid-19.

“Jadi ini memang situasi yang rumit, ini bukan saja refleksi dari situasi pembelahan politik akibat Pilpres yang belum tuntas, tapi juga situasi disinformasi yang masih terus berlanjut. Hoaks tentang Covid-19 sering kali bercampur baur dengan berita-berita hoaks tentang polarisasi politik,” katanya.

Mahfuz kemudian melanjutkan pemaparannya mengenai hasil survei Median. Berdasarkan basis pilihan politik, ternyata pendukung Jokowi (Joko Widodo) lebih banyak yang pro vaksin, mencapai 62,2 persen.  Sementra pendukung Prabowo (Prabowo Subianto) yang percaya   vaksin cuma 35,7%.

“Ini data yang sangat menarik. Jadi kelihatanya kalau vaksinasi di Indonesia mau tuntas, bukan Pak Luhut (Luhut B Panjaitan), Menko Kemaritiman  yang bicara. Tetapi harus Pak Jokowi dan Pak Prabowo duduk bareng bicara ke publik, bahwa vaksin itu kewajiban bagi kita semua,” harap Mahfuz. 

Mahfuz menegaskan, krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19 saat ini sedang bergerak menuju krisis ekonomi dan nampaknya akan berlanjut menjadi krisis sosial lalu dan krisis politik, jika tidak dikelola dengan tepat.

“Kita sudah mewanti-wanti atau warning, bahwa ada gejala frustasi dan kemarahan di masyarakat. Minggu (11/7/2021) sore, kita mendengar berita dari Jawa Timur, bahwa aparat yang melakukan penegakan disiplin PPKM diamuk massa dan beberapa  kendaraan dirusak. Dan berlanjut di tempat lain,” katanya.

Karena itu, Partai Gelora berharap pemerintah belajar dari negara-negara lain yang relatif berhasil dalam mengatasi pandemi Covid-19. Sehingga Indonesia memiliki ketahanan nasional dalam perang melawan Covid-19 saat ini.

Setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah dalam membangun ketahanan nasional. Pertama meningkatkan kesadaran kolektif, kedua membuat kebijakan-kebijakan yang terarah dan ketiga membangun solidaritas nasional.

“Tiga hal ini sekarang yang perlu kita bangun, dalam membangun ketahanan nasional. Kalau bahasanya Pak Tantowi Yahya (Dubes RI untuk Selandia Baru) ada persiapan, konsistensi dan partisipasi . Perlu ada pembenahan menyeluruh dalam berbagai aspek, bukan saja di pemerintahan, tapi terlebih juga di masyarakat,” pungkasnya.

Kematian dan Kemiskinan Jadi Ancaman Global, Anis Matta: Dunia Saat Ini Sedang Mencari Arah Baru

, , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, dunia saat ini sedang mencari arah baru dari sebuah perubahan besar. Dimana pandemi Covid-19 telah melahirkan krisis ekonomi secara global.

Krisis ini ditandai adanya dua panorama baru, yakni kematian dan kemiskinan yang bisa disaksikan sekarang dan masa-masa mendatang. Varian-varian baru yang muncul,  ternyata punya kelebihan lebih dahsyat dari vaksin yang sudah ada sebelumnya.

“Kita sekarang seperti buah simalakama, tidak ada pilihan yang enak. Dari semua pilihan,  ada harga yang harus kita bayar,” kata Anis Matta saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Pandemi Covid-19: Bagaimana Negara Bertahan & Menghadapi Perubahan Besar?’,” kata Anis Matta di Jakarta, Selasa (13/7/2021) petang.

Dalam diskusi yang disiarkan live di streaming Channel Youtube Gelora TV dan LIVE di Transvision Satellite Channel SERU: 333 ini, Anis Matta menilai krisis ekonomi sekarang bisa berkembang menjadi krisis sosial dan krisis politik yang akan terjadi di semua negara. 

“Pandemi hanya merupakan pertanda awal dan trigger yang sekarang memasuki rute kedua dari pandemi menjadi krisis ekonomi global,” katanya.

Menurut Anis Mata, total kerugian finansial global mencapai 20 triliun USD selama 1,5 tahun lebih dunia dilanda pandemi Covid-19. Angka ini setara dengan 24 persen GDP global pada tahun 2020 yang sebesar 84 triliun USD.

Selain kerugian finansial, jumlah terkonfirmasi Covid-19 global saat ini mencapai sekitar 186 juta kasus dengan angka kematian mencapai 4 jutaan jiwa.

“Sebagai bangsa, kita harus mengetahui kontur perubahan global krisis berlarut. Rute-rutenya harus kita tahu, mulai dari pandemi, krisis ekonomi, krisis sosial dan krisis politik,” katanya.

Anis Matta melihat krisis berlarut ini tengah membuat sistem tatanan dunia baru. Ibarat perempuan yang sedang hamil, kehamilannya tidak normal dan bayi yang dilahirkan bisa sungsang.

“Proses persalinannya bisa jadi penuh dengan resiko yang sangat berbahaya. Kelihatannya tatanan dunia baru yang akan lahir ini, seperti bayi yang lahir dalam keadaan sungsang,” ujar Anis Matta.

Karena itu. Partai Gelora sengaja menghadirkan para duta besar dan atase RI di China, Selandia Baru, Rusia dan Amerika Serikat yang akan melaporkan perkembangan kondisi pandemi Covid-19 di negara tersebut.

Narasumber yang hadir, antara lain Dubes RI untuk China Djauhari Oratmangun, Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya, Wakil Dubes RI untuk Rusia Aziz Nurwahyudi, serta Atpol dan Ketua Satgas Covid-19 KBRI Washington DC Brigjen Pol Ary Laksmana Widjaya.

“Kita mencoba mendapatkan satu panorama global. Mudah-mudahan mengantarkan kita untuk mendapatkan Ilham, bagaimana kita sebagai bangsa bisa bertahan dari krisis ini,” pungkas Anis Matta.

Dubes RI untuk China Djauhari Oratmangun mengatakan, China saat ini sudah terbebas dari pandemi Covid-19. Jika ditemukan kasus Corona, bukan dari China, melainkan berasal dari kasus impor (import case). Kini sudah ada 10 provinsi di China yang telah bebas dari Covid-19.

“Lockdown hanya di Provinsi Hubei dan Kota Wuhan, sementara lainnya dilakukan pembatasan pergerakan seperti PPKM. China bisa cepat bangkit, ekonominya naik terus. Triwulan pertama 2021 sudah 18 persen, ini luar biasa,” kata Djauhari Oratmangun.

Hal senada disampaikan Dubes RI untuk Selandia Baru Tantowi Yahya. Tantowi mengatakan, Selaindia Baru sukses mengatasi Covid-19, sehingga bisa melepas masker hingga menggelar konser pada April lalu. Apabila ditemukan kasus baru, langsung di karantina selama 14 hari.

“Rahasia suksesnya ada tiga kunci, persiapan, konsistensi dan partisipasi. Membuat undang-undang, penegakan hukum dan dukungan masyarakatnya meski berbeda pandangan politik. Selandia Baru juga membentuk Kementerian Covid, yang tugasnya ngurusin Covid-19 saja,” kata Tantowi Yahya

Wakil Dubes RI untuk Rusia Aziz Nurwahyudi mengatakan, kondisi masyarakat Rusia sebenarnya mirip di Indonesia, ada yang tidak percaya Covid-19 dan menolak untuk divaksin. Tak mengherankan apabila kasus Covid-19 di Rusia cukup tinggi, namun masih bisa dikendalikan.

“Vaksin itu tidak wajib di Rusia, hanya voluntary (sukarela) saja, habis divaksin mereka diberikan ice cream. Soal perkembangan Covid 19, hanya tiga orang yang boleh menyampaikan. Presiden Vladimir Putin, Juru Bicara Satgas Covid-19 dan Walikota Moskow,” kata Aziz Nurwahyudi.

Selain itu, katanya, Rusia berhasil mengembangkan empat vaksin lokal, yakni Sputnik V, Sputnik Light,EpiVacCorona dan vaksin CoviVac. “Soal vaksin ini Menlu Sergey Lavrov sudah bertemu Ibu Menlu (Retno Marsudi) dan BPOM juga sudah ke Rusia. Apakah ,  sudah bisa masuk Indonesia, kita tunggu saja,” katanya.

Sementara itu, Atpol dan Ketua Satgas Covid-19 KBRI Washington DC Brigjen Pol Ary Laksmana Widjaya mengatakan, kasus Covid-19 di Amerika Serikat (AS) pada awalnya tertinggi dunia. Presiden Joe Biden kemudian membuat kebijakan, diantaranya memberikan kewenangan negara bagian untuk melakukan penanganan Covid-19.

“Pemerintah federal menyerahkan kepada pemerintah negara untuk menentukan status masing-masing. Tidak ada istilah lockdown, tapi ada pembatasan kegiatan, dan penanganannya berhasil. Ini sebagai kearifan lokal,” kata Ary Laksmana Widjaya.

AS pun kini perlahan lahan terbebas dari Covid-19 dan mengubah status pandemi menjadi endemi. Sedangkan untuk kebutuhan vaksin, perusahaan besar di AS berani menggelontorkan dana besar untuk melakukan kajian tentang vaksin. “Hasilnya kita ketahui ada Pfizer, Moderna dan Johnson and Johnson, vaksinnya diakui dunia,” katanya.

Anis Matta : Krisis Berlarut, Yang Rapuh Pasti Remuk

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Indonesia saat ini dinilai sudah memasuki babak baru, yakni era ‘perang berlarut’ akibat krisis berlarut yang dipicu oleh pandemi Covid-19. Lazimnya dalam kaidah perang, maka individu, masyarakat, korporasi dan negara yang bisa bertahan (survive)  sampai akhir, akan menjadi pemenang.

“Jadi yang menang bukan siapa yang membunuh lebih banyak, tetapi yang menang adalah siapa yang tetap bisa bertahan hidup sampai akhir. Ini harus kita persepsikan sebagai suatu persoalan, apakah kita mampu survive sebagai individu, sebagai korporasi, sebagai masyarakat, juga sebagai negara,” ungkap Anis Matta, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia dalam keterangannya, Senin (12/7/2021).

Hal itu disampaikan Anis Matta saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Marah dan Frustrasi: Mengupas Emosi Publik di Tengah Pandemi’  yang disiarkan live di streaming Gelora TV dan Transvision CH.333, Sabtu (10/7/2021) petang.

Menurut Anis Matta, pengetahuan kita tentang masalah pandemi Covid-19  dinilai masih terlalu sedikit. Sementara, terlalu banyak kejutan yang terjadi setiap waktu, setelah memasuki tahun kedua pandemi Covid-19.

“Lalu tidak ada yang bisa meramalkan berapa lama lagi kira-kira masalah ini akan berlangsung, masih akan ada berapa gelombang lagi dari Covid-19 ini, atau ada varian apa lagi yang akan muncul sesudah ini,” jelasnya.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia ini mengatakan ada kaidah yang pas dengan kondisi saat ini, yakni  ‘yang rapuh pasti remuk’ dalam ‘perang berlarut’ ini.

“Jadi individu yang rapuh pasti akan remuk di tengah pandemi, korporasi yang rapuh juga akan remuk di tengah krisis ekonomi ini, serta pemerintah atau negara yang rapuh juga akan remuk dengan krisis dan pandemi ini,” tegas Anis Matta.

Hal senada disampaikan pengusaha dan relawan Kemenkes dr. Tirta Mandira Hudhi. dr Tirta mengatakan, Indonesia saat ini memang tengah memasuki tahapan krisis.

Hal itu bisa dilihat dari langkah pemerintah meminta bantuan oksigen dari negara lain dalam penanganan pasien Covid-19. Padahal Indonesia dikenal sebagai negara kaya akan oksigen dan menjadi para-paru dunia karena memiliki hutan yang luas.

“Kasus Covid-19 Indonesia tengah disorot dunia, tingginya kasus dan tingginya angka kematian. Kita minta bantuan oksigen dari luar negeri. Kita nggak mungkin terima bantuan, kalau kita nggak krisis,” kata dr Tirta.

dr Tirta berharap agar dampak krisis pandemi Covid-19 tidak bertambah buruk, pemerintah sebaiknya melibatkan epidemiologi untuk penanganan pandemi ini.

Sebab, virus Covid-19 ini diprediiksi 5-10 tahun lagii, bahkan berabad-abad tidak akan hilang sepertii Flu Spanyol (Influenza).

“Kalau bisa pemerintah, percayakan sama yang ahlinya, sama ahli epidemiologi yang memang dia sudah paham di situ. Dan larang pejabat ngomong soal Covid-19 agar tidak blunder, biar tenaga kesehatan yang bicara, karena lebih mengerti,” ujarnya.

Diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Marah dan Frustasi: Mengupas Emosi Publik di Tengah Pandemi’ ini juga menghadirkan narasumber lain, yakni menghadirkan Direktur Eksekutif Lembaga Survei Median Rico Marbun, dan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Hamdi Muluk.

Anis Matta Ingatkan soal ‘Public Mood’ yang Bisa Berujung Pada Ledakan Sosial

, , , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Anis Matta mengingatkan pemerintah untuk mendalami situasi emosional masyarakatnya atau public mood terkait kondisi pandemi Covid-19 saat ini.

“Temuan kita memang mengerikan. Takut, sedih, marah dan frustrasi, kira-kira itu semua yang mendominasi emosi publik atau publik mood saat ini,” ujar Anis Matta di Jakarta, Sabtu (10/7/2021) petang.

Anis Mata menyampaikan hal itu, saat memberikan pengantar diskusi Gelora Talks dengan tema ‘Marah dan Frustasi: Mengupas Emosi Publik di Tengah Pandemi yang disiarkan live di streaming Gelora TV dan Transvision CH.333.

Dalam diskusi yang dihadiri Direktur Eksekutif Lembaga Survei Median Rico Marbun, pengusaha dan relawan Kemenkes dr. Tirta Mandira Hudhi, dan Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia (UI) Prof Hamdi Muluk, Anis Matta mengatakan, apabila hal itu tidak didalami, maka bisa saja semua ini akan berkembang menjadi ledakan sosial bahkan hingga krisis politik nantinya.

“Penting bagi kita untuk mencoba  mendalami situasi emosional publik agar kita bisa mengetahui apa yang bisa kita lakukan secara lebih tepat, demi mencegah pandemi dan krisis ekonomi ini berkembang menjadi ledakan sosial. Apalagi berkembang menjadi krisis politik di kemudian hari,” tegas Anis Matta.

Dengan mengetahui public mood tersebut, diharapkan ledakan sosial tidak berkembang, apalagi menjadi  ledakan sosial yang tidak terkendali.

“Jika ledakan sosial terjadi, akan membawa kita ke dalam krisis yang semakin susah untuk dikendalikan dan tidak ada satupun yang mengetahui kapan berakhirnya,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun mengatakan, situasi pandemi Covid-19 di Indonesia tahun ini dinilai publik lebih parah dibandingkan tahun lalu. Akibatnya, publik tidak percaya pemerintah, baik di pusat maupun di daerah.

“Mayoritas publik menilai kondisi Covid-19 semakin parah 49,7 persen, sama saja 29,3 persen, lebih baik 14,2 persen, tidak tahu atau tidak menjawab 6,8 persen,” papar Rico.

Rico meniilai, kasus Covid-19 semakin dekat dengan lingkungan sosial masyarakat. Beda hal dengan situasi tahun lalu. Bahkan semakin banyaknya ucapan duka cita yang menghiasi dunia maya.

“Rasa-rasanya ini pula yang kita temukan di grup-grup Whatsapp, Telegram, itu setiap hari ada ucapan bela sungkawa, permohonan doa untuk segera sembuh,” katanya.

Melihat kondisi saat ini, pengusaha dan relawan Kemenkes dr. Tirta Mandira Hudhi mengaku hanya bisa pasrah. Sebab, tenaga kesehatan (nakes) sudah maksimal dalam menangani Covid-19.

Namun, masih banyak masyarakat yang tidak percaya Covid-19 dan menolak divaksin, akibat masih adanya polarisasi politik.

“Pemerintah sekarang juga dalam kondisi bingung. Dikasih vaksin gratis ditolak, dikasih edukasi dibilang banyak omong. Emangnya yang protes-protes itu, punya solusi, nggak juga. Kalau ditanya mengenai kondisi saat ini, kita ya pasrah,” kata dr Tirta.

Namun, dr Tirta mengaku tetap memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya Covid-19, meski masih ada yang tidak percaya. Ia pun meminta agar para pejabat tidak sembarangan memberikan pernyataan soal Covid-19, karena akan memperburuk situasi dan keadaan.

Guru Besar Psikologi UI Prof Hamdi Muluk dapat memahami kondisi psikologis masyarakat saat ini, akibat masih adanya bias politik. Sehingga ada perbedaan cara pandang dalam melihat Covid-19, ada yang menggunakan kacamata saintifik, politik dan agama.

“Tapi saya ingin mengatakan begini, semua orang panik sekarang ini, tetapi tetap harus ada orang yang menyalakan optimisme dan bersikap tenang,” kata Hamdi Muluk

Hamdi menambahkan, pemerintah hendaknya meniru cara Singapura dan Amerika Serikat yang mulai beradaptasi dengan Covid-19, sehingga bisa dikendalikan. Sebab, bagaimanapun Covid-19 tidak akan bisa dihilangkan seperti Flu Spanyol atau Influenza yang sudah berabad-abad tetap ada.

“Kita harus realistis seperti Singapura berpikir masa depan. Kondisi pandemi diubah dalam kondisi endemi. Membentengi sebanyak mungkin komunitas dengan vaksin, kalaupun tertular dampaknya tidak berat, sehingga aktivitas normal bisa dilakukan kembali,” pungkasnya

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X