Tag: Fahri Hamzah

Anis Matta: Partai Gelora dan PKS Memiliki Perbedaan Platform Indonesia Masa Depan

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, Partai Gelora memiliki perbedaan platform yang fundamental tentang Indonesia Masa Depan dibandingkan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tempatnya dahulu bernaung.

Pernyataan itu menjawab pertanyaan wartawan saat acara Buka Puasa Bersama Partai Gelora dengan Wartawan, selasa 4 mei lalu.

Perbedaan itu antara lain, adalah Partai Gelora mengusung platform arah baru sejarah Indonesia sebagai salah satu pemain utama kekuatan global. Menjadikan Indonesia kekuatan kelima dunia setelah Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), Rusia dan China.

Untuk mewujudkan hal itu, Partai Gelora mengajak semua komponen bangsa untuk berkolaborasi. Menurut Anis, Pancasila sebagai platform dasar berbangsa dan bernegara memiliki nilai inti kolaborasi. Maka kemajuan Indonesia hanya bisa terwujud jika semangat kolaborasi ini kita kedepankan.

Seiring semangat kolaborasi, mantan Wakil Ketua DPR ini juga menyerukan untuk mengakhiri pembelahan yang terjadi di masyarakat, antara Islamis dan Nasionalis, antara kelompok tengah, kanan dan kiri.

“Waktu saya memutuskan untuk mendirikan partai baru ini, saya melakukannya dengan satu keyakinan bahwa jika saya ingin mengisi sisa hidup dalam pengabdian, maka saya harus bisa memberikan kontribusi yang besar dan menjadi bagian dari proses penentuan arah sejarah baru Indonesia. Arah baru itulah yang menjadi ide atau narasi utama Partai Gelora,” kata Anis Matta

“Saya sadar ini tidak lazim dalam perpolitikan Indonesia, terlalu rumit narasi yang kita sampaikan. Tetapi di lapangan kita menemukan fakta lain, masyarakat kita ternyata menerima sehingga banyak bergabung. Narasi kami mewakili mimpi orang-orang di bawah,” katanya.

Anis Matta perlu menjelaskan secara detail ke publik mengenai perbedaan antara Partai Gelora dengan PKS. Ia mengaku kerap mendapatkan pertanyaan dari masyarakat, termasuk dari para wartawan.

Menurut Anis Matta, dasar pendirian Partai Gelora adalah perbedaan pemikiran mengenai platform narasi arah baru sejarah Indonesia.

Dimana Indonesia selama ini selalu menjadi ‘residu’ bagian permainan kekuatan politik global baik pada masa penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru dan reformasi

“Kalau kita tidak mengambil posisi sebagai kekuatan utama global, maka semua progran kita tidak akan berjalan. Terbukti kita gagap menghadapi pandemi Covid-19. Dan dunia terlalu terintegrasi, contohnya soal vaksin. Kita ini jadi korban virus dan konsumen vaksin, itu menyakitkan. Hal ini menggambarkan betapa rapuhnya kita, jika tidak menjadi arus utama kekuatan global dunia,” ujarnya.

Anis Matta kemudian mengungkapkan, pemikiran mengenai arah sejarah baru Indonesia ini tidak bisa diterima di PKS, sehingga yang mengemuka ke publik terjadi konflik internal, padahal tidak demikian.

Setelah beberapa tahun melakukan perdebatan internal antara dirinya Fahri Hamzah, Mahfuz Sidik dan beberapa kader lainnya, maka diputuskan mendirikan Partai Gelora dengan platform dan narasi baru.

“Yang kita lakukan di Partai Gelora saat ini menumbuhkan kesadaran arah sejarah baru Indonesia, bukan sekedar jargon kampanye selama 5 tahunan,” katanya.

Ketua Umum Partai Gelora ini menambahkan, untuk menentukan arah baru sejarah Indonesia sebagai kekuatan kelima global, diperlukan kolaborasi berbagai pihak dan menjadikan pandemi Covid-19 sebagai momentum untuk bersama-sama keluar dari krisis.

“Kita ingin keluar dari konfik, datang dan hadir membawa arah sejarah baru. Pembelahan antara Islam dan Nasionalis, tengah, kanan dan kiri tidak ada manfaatnya. Yang mendapatkan manfaat itu, orang-orang tidak mempunyai cita-cita-cita besar,” katanya.

Karena itu, Anis Matta berharap semua pihak bisa memandang semua kelompok di masyarakat sebagai saudara dalam satu keluarga, yang diibaratkan memiliki kamar masing-masing, tapi memiliki satu ruang keluarga bersama dan bisa makan bersama dalam satu meja.

“Jangan sampai di meja makan itu, yang tengah, kanan dan kiri ada yang tidak hadir. Di meja itu makan, harus ada semua, dan apa yang ada itu, yang kita makan bersama. Semangat menemukan arah sejarah baru dengan nilai kolobarasi itu, yang memungkinkan kita sebagai bangsa untuk melakukan pencapaian besar,” pungkas Anis Matta.

Fahri Ajak Masyarakat Jaga Tiga Keseimbangan Agar Tetap Bahagia Saat Pandemi Covid-19

, , , , , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengajak semua pihak untuk menjaga keseimbangan kesehatan fisik, fikiran dan jiwanya agar tetap bahagia dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini.

“Karena orang yang tidak punya kebahagian tidak akan bisa menyebarkan optimisme. Bagaimana dia bisa mengajak orang bahagia, sementara dia sendiri tidak bahagia,” kata Fahri dalam keterangannya, Sabtu (10/4/2021).

Hal itu disampaikan Fahri saat menjadi keynote speker acarara Ngrumpi#6  dengan tema ‘Perempuan Bahagia Itu Sehat’ yang diselenggarakan Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia, Jumat (9/4/2021).

Menurut Fahri, kebahagian itu sangat penting bagi umat manusia baik itu, laki-laki dan perempuan. Masalah kebahagian juga diatur dalam tradisi bernegara, konstutusi dan agama.

“Kebahagian itu tema penting, tapi jarang dianggap penting. Saya sering mengajukan tema ini, apalagi kalau soal agama, karena memotivasi orang untuk bahagia itu jauh lebih kena. Kebahagian itu dicari sendiri, bukan dari orang lain sehingga menjadi lifestyle to habit,” katanya.

Karena itu, Fahri berharap Bidang Perempuan Partai Gelora Indonesia bisa menelurkan semboyan ‘Happines Is My Habit (kebahagiaan itu kebiasaan saya)

“Happines is my is habit, bahagia itu kebiasaanku, every minute,  every time, happines.  So happines itu harus menjadi kebahagiaan dan jadi rutinas kebiasaan,” kata Fahri.

Di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) misalnya, lanjut Fahri, kebahagian itu bahkan menjadi departemen sendiri dan dipimpin oleh seorang perempuan. 

“Topik kebahagian ini harus diperdalam dan kita mengeksplor kebiasaan orang bisa bahagia, daripada mengeksplor kebiasaan bersedih. Sekarang ini tangis sedihnya lebih banyak daripada tangis bahagia, padahal kita harus memperbanyak tangis bahagia, bukan tangis sedih,” ujar Fahri.

Fahri kemudihan mencontohkan soal kelahiran Partai  Gelora seperti dinantikan oleh kedua orang tuanya, orang yang melihat dengan tangis kebahagian, bukan kesedihan. 

“Kita harus mentradisikan tangis kebagiaan itu, karena bisa  memperbesar volume rongga dada kita, sehingga kita bisa menghadapi tantangan masa depan,” kata mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Fahri menegaskan, dalam latihan keseimbangan, kita sering mendapatkan motivasi untuk mencari kebahagian. Dimulai dari latihan menjaga kesehatan fisik, pikiran dan jiwa.

“Sebentar lagi memasuki bulan Ramdhan, mau nggak mau kita stop makan dan memperbanyak ibadah pada malam hari. Jadi ada semacama overhaul dari kesehatan fisik menuju keseimbangan. Fisiknya terkoreksi, dan ahli kesehatan tidak ada yang menyatakan tidak puas,” katanya.

Sementara kesehatan fikiran harus diperbanyak dengan membaca buku, sehingga bisa berpikiran sehat dan memiliki nalar dalam mencerna pembicaraan di ruang publik.

“Kalau kesehatan jiwa harus sering bertanya, bercermin dan evaluasi setiap saat untuk menjadi lebih baik dan bisa menjadi energi buat kita, dan berani berbicara,” katanya.

Tiga keseimbangan fisik, fikiran dan jiwa ini, kata Fahri, akan melahirkan kebahagian. Ia berharap tema-tema seperti ini harus menjadi bahan diskusi dalam situasi pandemi Covid-19, sehingga orang bisa menemukan kebahagian, bukan kesedihan. 

“Kita perlu sharing-sharing dalam acara Rumpi seperti ini karena sharing happines menarik orang-orang. Sehingga rumpi yang dulu konotasi negatif, jadi positif. Jadi ruang untuk menemukan kebahagian, mendengar hal-hal bahagia. Saya suka rumpi ini, bukan rumpi yang lain,” kata tandas Fahri.

Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia Ratih Sanggarwati mengatakan, Ngrumpi#6 dengan tema ‘Perempuan Bahagia Itu Sehat’ semakin menegaskan, bahwa perempuan bahagia itu sehat.

Ahli kesehatan perempuan lulusan Harvard University, dr Roy Panunsunan Sibarani mengatakan, kebahagian itu terbentuk dari diri sendiri yang berasal dari pikiran positif, bukan negatif.

“Saya punya pasien usianya 78 tahun yang selalu dihantui kekuatiran kesehatannya karena memiliki penyakit diabetes dan hipertensi. Pasien saya takut mati kena Covid-19 seperti temennya yang berusia 93 tahun,” kata Roy.

Ia kemudian menasehati pasien agar tidak perlu takut, dan terus menumbuhkan kebahagian. Sakit dan ketakutan itu bisa timbul karena pikiran-pikiran negatif. 

“Kalau kita bilang sakit ya akan menjadi sakit, jadi sangat berpengaruh pada bentukkan pikiran kita sendiri. Saya bilang jangan main-main dengan fikiran, karena fikiran ini selalu menghantui ibu,” kata Roy menasehati pasiennya. 

Roy mengingatkan agar setiap orang tidak mempersepsikan pikiran negatif atau jelek saja, melainkan harus selalu optimis dalam setiap mengerjakan sesuatu. 

“Kehidupan kita kalau selalu diliputi rasa cemas, tentu tidak akan bahagia. Kalau sudah begitu, hidup sudah tidak ada gunanya. Jadi saya setuju perempuan bahagia itu sehat, bisa juga permpuan sehat itu bahagia. Perempuan itu tangguh sekali saat pandemi Covid-19 saat ini,” pungkas Roy.

Fahri: Kita Harus Pikirkan Transisi Kepemimpinan yang Damai agar Indonesia Kuat

, , , ,

Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengaku sering mendapatkan pertanyaan dari masyarakat tentang apa pentingnya bergabung ke Partai Gelora, dan bukan dengan partai besar yang sudah memiliki kursi di DPR.

Sebab, Partai Gelora mempunyai narasi yang ingin menjadikan Indonesia sebagai negara besar dan setidaknya kekuatan lima besar dunia

“Kenapa harus Partai Gelora, kenapa tidak partai besar yang sudah punya anggota DPR, malah ikut memulai sesuatu yang baru, karena Partai Gelora kehadirannya begitu dinantikan,” kata Fahri Hamzah dalam keterangannya, Senin (5/4/2021).

Hal itu disampaikan Fahri saat menyampaikan pembekalan dalam acara OK Gelora Orientasi Kepartaian untuk Pengembangan Teritori I wilayah Sumatera, Minggu (4/4/2021).

Menurut Fahri, Partai Gelora itu ibarat bayi yang ditunggu kelahirannya dalam keluarga yang dinantikan dengan kebahagiaan.

“Bagaimana kita merasakan respons rakyat atas kehadiran Partai Gelora, diterima seperti keluarga yang menantikan kelahiran seorang bayi,” katanya.

Fahri optimis Partai Gelora semakin diterima masyarakat, dan terbukti ada kemudahan dalam rekrutment anggota justru pada saat pandemi Covid-19 masih belum jelas kapan berakhirnya.

“Itulah sebabnya, ketika kita diterima harus optimis, dan kehadiran Partai Gelora nampaknya memang ditunggu-tunggu,” ujarnya.

Mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menegaskan, Partai Gelora menjadi satu-satunya partai yang kehadirannya dibidangi oleh digitalisasi.

“Partai Gelora satu-satunya partai yang disahkan Menkumham dan SK-nya diserahkan secara digital. Dan mencari anggota pun dilakukan secara digital, cukup dengan aplikasi,” katanya.

Fahri menegaskan, Partai Gelora memiliki keinginan besar untuk memperbaiki keadaan saat ini. Dimana setiap 20 tahun sekali, bangsa Indonesia selalu mengalami kegundahan dalam bernegara, baik elit maupun rakyatnya.

“Kalau dulu ada penanda setiap 20 tahun akan ada peristiwa besar, dan tanda-tanda peristiwa besar itu juga nampak sekarang. Kita ingin lahirnya generasi baru yang secara damai melakukan pergantian kepemimpinan,” ujarnya.

Pertengkaran antara elite dan rakyat selama ini, kata Fahri, telah memperlemah kapasitas Indonesia sebagai bangsa besar, Hal itu ditambah makin maraknya kasus korupsi, terorisme, narkoba dan upaya pelemahan demokrasi.

“Padahal dalam demokrasi itu pemimpin datang dan pergi. Kita ini adalah pemimpin yang akan datang, kalau kita bertengkar terus kepasitas negara bisa melemah,” katanya.

Fahri berharap para elite dan rakyat bisa mencontoh upaya yang dilakukan para pendiri bangsa terdahulu dalam menyatukan nama besar Indonesia. 

“Kita ingin mencerdaskan bangsa. Sebagai bangsa, Indonesia harus sanggup menjadi kekuatan kelima dunia paling tidak,” tegasnya.

Karena itu, Fahri mengajak putra-putra terbaik Indonesia untuk bersama-sama Partai Gelora memikirkan transisi kepemimpinan yang damai menjadikan Indonesia sebagai negara besar dan kekuatan dunia.

Fahri Hamzah: Partai Gelora Hadir Menjawab Kegelisahan Anak Bangsa

, , , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah mengatakan, kehadiran Partai Gelora adalah untuk menjawab kegelisahan anak bangsa yang melihat situasi dan kondisi saat ini tidak banyak berubah.

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam pidatoo pembukaan Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) DPW Partai Gelora Sulawesi Tenggara (Sultra) dii Kendari, Sabtu (3/4/2021).

“Gelora hadir sebagai jawaban atas stagnasi dan kegelisahan anak bangsa melihat situasi yang tidak banyak berubah. Gelora hadir dalam nuansa pergumulan ide-ide besar dan mendasar tentang bagaimana memberi jawaban kerumitan yang dialami bangsa kita,” kata Fahri dalam keterangannya.

Karena itu, menurut dia, kehadiran Partai Gelora langsung mendapatkan sambutan luar biasa dari masyarakat masyarakat, termasuk kaum muda atau millenial.

Sehingga hanya dalam tempo satu tahun seluh kelengkapan kepengurusan di provinsi, kabupaten/kota telah lengkap 100 persen. “Sebuah kerja dan gelombang luar biasa,” ujar Fahri.

Selain kelengkapan kepengurusan 100 persen, lanjut Fahri, Partai Gelora juga dipenuhi oleh kehadiran generasi millenial.

“Kapasitas anak muda dalam mengelola negara akan diuji coba dengan kehadiran Partai Gelora,” kata mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019.

Gubernur Sulawesi Tenggara Ali Mazi yang hadir dalam Rakorwil ini ni mengaku surprise dengan kecepatan Partai Gelora dalam membangun konsolidasinya. Apalagi dengan diisi oleh anak-anak muda yang penuh semangat.

“Pak Fahri ini kawan ngopi, kadang jumpa dan ngobrol lama lalu tak ada komunikasi. Tiba-tiba jumpa lagi dengan Partai Gelora yang penuh semangat,” kata Ali Mazi.

Ali Mazi mengatakan, Ketua DPW Partai Gelora Sultra Tumaruddin merupakan tim suksesnya saat mencalonkan diri sebagai Gubernur Sutra beberapa waktu lalu.

“Tumaruddin ketua DPW ini dulu tim sukses saya gubernur dan saya akui sangat bersemangat dan kinerjanya luar biasa,” ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, Ali Mazi mendoakan Partai Gelora sukses di Pemilu 2024 mendatang. Sehingga bisa mengisi ruang politik Indonesia yang lebih baik lagi dalam pembangunan demokrasinya.

“Semoga Partai Gelora dengan ikon kolaborasi ini dapat segera mengisi ruang politik Indonesia yang lebih baik terutama dalam pembangunan demokrasinya,” harap Ali Mazi

Ketua DPW Gelora Sulawesi Tenggara Tumaruddin mengucapkan terimakasih atas kehadiran dua tokoh besar dalam pembukaan Rakorwil ini. Hal ini menjadi momentum bagi Gelora untuk semakin meluaskan basis konstituennya.

“Dua tokoh besar ini telah menjadi inspirasi kita semua untuk semakin gencar berjuang. Kita berharap Pak Gubernur terus melanjutkan kiprahnya terutama di tingkat nasional. Demikian pula pak Fahri Hamzah agar semakin bersinar. Terimakasih banyak telah hadir dan menjadi teladan kami,” kata Tumaruddin.

Pembukaan Rakorwil Gelora ini cukup meriah, karena dihadiri Wakil Ketua Umum Partai Gelora dan Gubernur Sultra Ali Mazi.

Pengurus DPN Hisan Anis Matta juga nampak hadir, demikian pula pimpinan partai-partai politik di Sulawesi Tenggara dan segenap pengurus DPW dan seluruh pimpinan DPD.

Acara Rakorwil Partai Gelora Sultra akan berlangsung 3-4 April 2021 dengan membahas agenda konsolidasi pengurus dan bakal calon legislatif 2024.

Fahri Berharap Kasus Terorisme Tidak Lagi Dikaitkan Agama

, , , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Fahri Hamzah berharap Anggota DPR berani mengungkap rangkaian tindak pidana terorisme yang selama ini terjadi di Indonesia, termasuk dalam kasus penyerangan Mabes Polri oleh orang tak dikenal (OTK) pada Rabu (31/4/2021) dan kasus terorisme di Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) beberapa waktu lalu.

Sebab, Anggota DPR memiliki hak imunitas dan bertanya, sehingga bisa mengungkapkan benang merah kasus terorisme tersebut.

Karena selama ini terorisme selalu dikaitkan dengan Islam, padahal Islam juga dirugikan dari kegiatan terorisme.

“Kalau kita ini (publik) kan ada kemungkinan, mengajukan satu sikap kritis, tapi bisa-bisa kita dianggap menjadi bagian, misalnya istilah mempengaruhi. Tapi Kalau Anggota Dewan memberikan pertanyaan sedalam dan seluas-luasnya tanpa takut bisa dituduh bagian dari terorisme itu, karena memiliki hak imunitas dan bertanya,” kata Fahri dalam Dialektika Demokrasi dengan tema ‘Lawan Geliat Radikal-Terorisme di Tanah Air’ di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (1/4/2021).

Fahri sependapat dengan pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang meminta agar tindakan terorisme yang terjadi di Gereja Katedral di Makassar maupun penyerangan Mabes Polri tidak dikaitkan dengan agama.

Namun, faktanya, menurut mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini, yang terjadi di lapangan, teroriisme masih dikait-kaitkan dengan Islam.

Ia mengajak pemerintah untuk membangun pola pikir antara agama dan negara yang semestinya tidak dicampur-adukan.

“Karena kalau dua hal ini dicampur, maka persoalan ini tidak akan pernah selesai. Negara tidak mungkin dapat memperbaiki agama. Sebaliknya, agama dapat merefom negara atau membentuk negara,” papar dia.

“Bila negara mengurusi ranah agama, maka negara akan kelelahan, kehabisan energi, itu sebabnya saya selalu meminta agar kita melihat hal ini dari dua perspektif, dimana ruang agama dan dimana ruang negara,” tambahnya.

Oleh karena itu, kata Fahri, bila melihat aksi terorisme ini merupakan masalah agama, maka kembalikan ke agama, negara tidak bisa masuk dalam ranah ini.

“Tugas negara, berada di ruang negara. Kalau ada seorang perempuan masuk ke Mabes Polri bawa senjata, pengamanan bobol, itu bukan soal agama. Itu soal pengamanan yang lemah,” tegasnya.

Diskusi ‘Lawan Geliat Radikal-Terorisme di Tanah Air ini juga menghadirkan narasumber lain, yaitu Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PPP Saifullah Tamliha, Anggota Komisi III DPR Fraksi PKB, serta Pengamat Intelijen dan Terorisme dari Universitas Indonesia (UI).

Fahri Hamzah: Partai Gelora Tengah Menyusun ‘Batu Bata’ Gelombang Perubahan Besar

, , , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Umum Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia menyatakan, Partai Gelora saat ini secara masif tengah menyusun ‘batu bata’ gelombang perubahan besar yang akan menjadikan Indonesia kekuatan lima besar dunia.

Hal itu disampaikan Fahri Hamzah dalam acara OK GELORA, Orientasi Kepartaian untuk Pengembangan Teritori 4 wilayah Bali, Nusa Tenggara dan Kalimantan, Minggu (28/3/2021)

“Jadi kita ini sedang menyusun batu-bata perubahan, dan membangun sebuah bangunan yang akan mengantarkan kita dan bangsa indonesia ke suatu gelombang perubahan besar,” kata Fahri dalam keterangannya, Senin (29/3/2021).

Menurut Fahri, gelombang perubahan besar itu adalah gelombang rakyat, gelombang demokrasi dan gelombang aspirasi.

Karenanya, Partai Gelora memproduksi banyak ide dan pikiran untuk menemukan celah bagi Indonesia sebagai kekuatan besar dunia.

“Indonesia seharusnya bisa menjadi kekuatan besar dunia, setidak-tidaknya kekuatan kelima dunia diantara negara lain yang ada, seperti Amerika Serikat, China, Rusia dan Uni Eropa,” katanya.

Gelombang perubahan yang diperlukan saat ini, kata Fahri, tidak seperti yang terjadi pada masa kolonial dan pembentukan republik ini. Tapi diperlukan infrastruktur pikiran dan teknologi dalam gelombang-gelombang sebelumnya.

“Itu sebabnya, Partai Gelora menolak bersikap pasif melihat kondisi saat ini. Kita terus mengorganisir kegiatan untuk mencerahkan dan mencerdaskan pergerakan masyarakat, terutama untuk memenangkan Pemilu 2024 mendatang,”kata mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini.

Sehingga setiap kader Partai Gelora, lanjut Fahri, perlu memahami dasar-dasar pengorganisasian gelombang rakyat sesuai dengan Arah Baru Indonesia dengan tenaga dan generasi baru.

“Kita ini satu-satunya partai yang punya infrastruktur digital adalah paling lengkap dengan dana sederhana. Kita sudah membangun infrastruktur digital yang memadai, sehingga bisa melakukan training kaderisasi secara masif,” ujar Fahri.

Saat ini, ribuan orang sudah bergabung ke Partai Gelombang dalam tempo yang relatif cepat. Sebab, Partai Gelora mempermudah masyarakat untuk bergabung.

Yakni cukup masuk ke dalam aplikasi dan kemudian mendaftar. Setelah itu masyarakat akan mendapatkan pelatihan-pelatihan secara offline maupun online.

“Kita jangan kalah dengan seleb-seleb (artis selebgram) yang punya satu juta follower. Partai Gelora dengan infrastruktur digital ini harus punya jutaan anggota, karena menjadi anggota Partai Gelora itu gampang,” katanya.

Fahri berharap seluruh kader dapat terus menyebarkan pikiran dan cita-cita Partai Gelora ke masyarakat dengan penuh kesabaran.

“Sehingga mendekati pemilu mendatang, tidak hanya siap menang, tapi siap mendapatkan amanah untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan kelima dunia,” pungkas Fahri Hamzah.

Fahri: Elit Politik di Indonesia tidak Tunjukkan Keseriusan Berdemokrasi

, , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Parta Gelora Indonesia Fahri Hamzah menegaskan, elit politik di Indonesia sekarang ini tidak menunjukkan keseriusan berdemokrasi.

Kondisi ini terjadi karena telah terlalu lama Indonesia dikungkung sistem politik kerajaan sekaligus mengalami masa kolonialisme imperialisme.

“Cita rasa, kebebasan, melemah, dan harus mengikuti maunya negara yang sedang terjadi di Indonesia,” kata Fahri dalam diskusi virtual ‘Demokrasi Indonesia di Simpang Jalan?’ yang diselenggarakan Moya Institute di Jakarta, Jumat (5/3/2021) petang.

Menurut Fahri, demokrasi di Indonesia sedang melemah karena oposisinya minim. Peran oposisi di DPR sebenarnya ada, namun, peran ini tidak dijalankan karena patut diduga begitu menyatu dengan pemerintahan. “Kecenderungan ikut maunya negara,” katanya.

Mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai partai politik (parpol) yang menempatkan wakilnya di parlemen seolah berhenti menjadi industri berpikir.

Kebanyakan elite parpol, baik ketua umum, sekretaris jenderal, hingga pimpinan Fraksi di DPR tidak lagi menawarkan pemikiran segar. Malah telah menjelma menjadi mesin kekuasaan.

“Melihat parpol sekarang, demokrasi kita di persimpangan jalan,” tandas Fahri.

Pengamat politik sekaligus Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, Prof Komaruddin Hidayat, mengungkapkan, proses demokrasi di Indonesia terasa terlalu mengikat dan normatif, karena menerapkan referensi dari Barat.

“Jadinya, demokrasi di Indonesia lebih dekat ke informasi untuk mempengaruhi opini masyarakat, jadi market. Informasi bertemu dengan realitas masyarakat yang pluralis dan religius membuat kadang sinkron, kadang benturan,” ujar Komaruddin.

Kemudian, Direktur Eksekutif NetGrit dan mantan Komisioner KPU Ferry Kurnia menuturkan, bila merujuk pada indeks demokrasi, Indonesia masih belum memberikan harapan baik. Sebab, hanya memiliki skor 65.

Realita tersebut, bagi Ferry, di satu sisi membuat demokrasi Indonesia telah terlaksana, namun juga masih muncul kontraproduktif. Bahkan, berdasarkan indeks demokrasi tersebut, Ferry membandingkan kualitas demokrasi Indonesia yang di bawah Timor Leste, Malaysia, serta Filipina.

Sedangkan diplomat senior, Prof Imron Cotan menilai, Indonesia masih belajar berdemokrasi. Sehingga jangan berharap bisa menjadi jawaban atas masalah yang terjadi belakangan ini. “Itu over expectation,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Australia pada 2003-2005 ini.

Demokrasi di Indonesia, lanjutnya, tidak bisa disamakan dengan sistem politik berbasis Washington consensus dengan analogi one man one vote. Basis politik Indonesia adalah Pancasila, melalui musyawarah mufakat.

Dikatakan, poin penting demokrasi adalah mencapai masyarakat yang sejahtera. Caranya, dengan mengimplementasikan pasal 33 dan 34 UUD 1945. Yaitu, tentang tata kelola Sumber Daya Alam di Indonesia, dan fakir miskin menjadi tanggung jawab negara.

Mendengar Aspirasi Umat, Partai Gelora Apresiasi Keputusan Presiden Batalkan Perpres Miras

, , , , , ,

Partaigelora.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya secara resmi mencabut Peraturan Presiden Nomor 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang memuat kebijakan investasi industri minuman beralkohol atau miras.

Menggapai hal ini, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi yang dinilai mau mendengar suara masyarakat dan umat yang menolak legalisasi investasi miras.

“Alhamdulillah, saya ingin mengapresiasi keputusan strategis yang diambil Presiden Jokowi yang telah mendengar suara masyarakat dan umat dengan membatalkan investasi miras,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Selasa (2/3/2021).

Menurut Ansi Matta, setiap kebijakan tentu mempunyai dimensi yang kompleks, bukan hanya pada satu dimensi dengan mengorbankan dimensi lain. Akibatnya, kebijakan tersebut tidak akan membuat mencerminkan aspirasi masyarakat sebenarnya.

“Saya kembali menyerukan agar Indonesia serius dalam mengembangkan industri herbal, baik untuk suplemen kesehatan, perawatan tubuh, dan kosmetika,” ujar Anis Matta.

Tanaman herbal yang tumbih subur di Indonesia, adalah anugerah dari Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Jika dikembangkan secara maksimal juga bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat Indonesia.

“Itu adalah anugerah Allah yang luar biasa kepada tanah air kita. Modernisasi dan saintifikasi pengembangan herbal dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dengan cara-cara yang halal,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah . Fahri menyambut positif keputusan Presiden Jokowi mencabut izin investasi legalisasi miras yang tertuang dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

“Sudah tepat Presiden mencabut lampiran Perpres terkait izin investasi miras itu. Patut mengapresiasi lah putusan tersebut,” kata Fahri Hamzah.

Dikatakan Fahri, sejak diterbitkan Perpres yang mengatur tentang pelonggaran investasi pada industri miras itu, sontak memantik banyak respon negatif dari berbagai kalangan, baik tokoh politik maupun tokoh agama.

“Penggunaan miras dapat memabukan hingga memicu tindakan negatif dan kegaduhan di masyarakat. Miras bagian dari penyakit masyarakat,” ungkapnya.

Ketimbang melegalisasi investasi miras yang menuai penolakan di masyarakat, kata Fahri, lebih baik investasi di industri jamu daripada miras. Pemerintah juga seharusnya mengajak masyarakat menjadikan jamu sebagai minuman mendunia yang dapat menyehatkan tubuh dan dapat terhindar dari virus corona.

“Kalau minum jamu lebih jelas, investasi jamu lebih jelas,” kata mantan Wakil Ketua DPR Peride 2014-2019.

Seperti diketahui Perpres Perpres 10 Tahun 2021 terbit pada 2 Februari 2021 sebagai peraturan turunan UU Cipta Kerja. Perpres itu memang tidak mengatur khusus miras, tetapi soal penanaman modal.

Disebutkan, penanaman modal baru dapat dilakukan pada Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Disebutkan juga, penanaman modal di luar wilayah tersebut dapat ditetapkan oleh Kepala BKPM berdasarkan usulan gubernur.

Hal itu Itu memicu ragam kekhawatiran. Selain dibukanya pintu investasi miras dan frasa ‘budaya dan kearifan setempat’. Daerah lain ternyata bisa membuka investasi serupa asal diusulkan gubernur bersangkutan.

Pada Lampiran III Perpres No 10/2021 disebutkan, investasi miras hanya diperbolehkan di Provinsi Bali, NTT, Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Tapi, penamanan modal untuk industri di luar daerah-daerah tersebut dapat dilakukan bila ditetapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan usulan gubernur. Hal tersebut termuat dalam Lampiran III angka 31 dan angka 32 huruf a dan b.

Luncurkan OK GELORA, Anis Matta: Perlu Peta Jalan Baru untuk Jadi Kekuatan Utama Dunia

, , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini memasuki gelombang ketiga menuju kekuatan lima besar dunia diantara negara-negara Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Rusia dan China.

Sebab, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar seperti sumberdaya alam, jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia, jumlah umat Islam terbesar di dunia dan menjadi salah satu pemimpin utama ASEAN.

“Kenapa kita harus menjadi salah satu kekuatan dunia, karena kita memiliki potensi yang cukup untuk itu,” kata Anis Matta saat meluncurkan ‘Program OK GELORA Orientasi Kepartaian Partai Gelora Indonesia di Jakarta, Sabtu (27/2/2021).

Menurut Anis Matta, Indonesia telah memasuki dua gelombang, yakni gelombang pertama dan gelombang kedua. Gelombang pertama adalah gelombang menjadi Indonesia, diawali Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan puncaknya sebagai negara berdaulat pada 17 Agutus 1945.

Sedangkan gelombang kedua adalah menjadikan Indonesia sebagai negara modern. Hal ini telah dilewati melalui pergulatan pada masa orde lama, orde baru dan orde reformasi.

“Sebagai bangsa kita telah bergulat dengan pengalaman yang pahit dan manis dalam mencari titik temu antara demokrasi dan kebangsaan,” ujarnya.

Dengan memasuki gelombang ketiga, maka diperlukan Peta Jalan Baru Indonesia. Peta jalan baru tersebut, akan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.

“Saat ini terjadi perubahan tatanan global dan perubahan pada kemimpinan global. Sehingga kita perlu merumuskan satu peta jalan baru, dimana mimpi besar itulah yang melatari berdirinya Partai Gelora,” katanya.

Partai Gelora, kata Anis Matta, tidak ingin melihat Indonesia menjadi ‘medan tempur’ negara-negara yang sedang bersaing di dunia seperti persaingan antara AS dan China saat ini

“Potensi kita terlalu besar, tapi pencapaian kita terlalu kecil. Langit kita terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Indonesia harus jadi salah satu kekuatan utama dunia” tandasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menambahkan, rakyat Indonesia seharusnya memiliki orientasi dan kemantapan hati. Tidak boleh galau atau gelisah. Sebab, saat ini banyak pihak yang tidak memiliki orientasi, padahal sebagai bangsa besar harus optimis.

“Bangsa ini harus optimis agar terbang tinggi seperti Rajawali dan menjadi kekuatan lima besar dunia. Kita harus mereorentasi konsepsi diri kita dengan khazanah Indonesia, Sehingga kita sebagai bangsa Indonesia, optimis,” kata Fahri.

Karena itu, orientasi ke-Indonesiaan harus semakin diperkuat secara masif. Tidak boleh lagi ada rakyat Indonesia yang tidak memahami atau terbata-bata tentang ke-Indonesiaan.

“Mengutip puisi Chairil Anwar, kita hidup 1.000 tahun lagi, maka kita harus optimis tentang fondasi bangsa yang membuat kagum dengan Indonesia,” pungkasnya.

Partai Gelora Dorong Penerbitan Perppu ITE dan Pengesahan RUU KUHP

, , , , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia mengusullkan tiga skenario untuk mengakhiri ketidakpastian hukum di Indonesia yang bisa berakibat kepada penilaian jatuhnya indeks demokrasi seperti yang terjadi tahun ini.

Skenario pertama adalah melakukan revisi terhadap Undang-Undang (UU) yang bermasalah, seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sehingga pasal-pasal direvisi.

“Kedua Presiden mem-Perppu UU ITE sehingga secara otomatis pasal bermasalah dihilangkan, agar segera ada kepastian hukum,” kata Fahri Hamzah melalui keterangan tertulisnya, Rabu (23/2/2021).

Fahri menilai, inisiatif untuk menerbitkan Surat Edaran Kapolri tentang Penerapan UU ITE sangat baik sekali untuk mengakhiri ketidakkpastian ini yang dilakukan Kepolisian.

Namun, sebaiknya Polri dibekali dengan UU permanen yang bersumber pada Perppu atau revisi UU lebih permanen, termasuk juga pengesahan KUHP, selain UU ITE.

Sebab, kepolisian bukan pembuat UU karena itu dalam jangka panjang dikuatirkan akan menimbulkan masalah baru

DPR periode sebelumnya, kata Fahri, sebenarnya telah membahas pengesahan KUHP pada tingkat pertama di Badan Legislasi. Tetapi kemudian pembahasan tingkat dua di Rapat Paripurna DPR, pengambilan keputusan tidak dilanjutkan, karena dianggap pembahasan belum selesai. masih ada pasal-pasal krusial yang belum disepakati.

Karena itu, skenario ketiga adalah mendesak pemerintah dan DPR untuk segera melakukan pembahasan dan pengesahan RUU KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

“Sebagai criminal constitution atau criminal code satu untuk seterusnya dan selamanya, sehingga ini akan memberikan kepastian hukum yang lebih luas kepada seluruh UU yang mungkin benuansa penuh ketidakpastian hukum tersebut,” katanya.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini berharap usulan tersebut dapat dipertimbangkan Presiden dan DPR selaku pembuat UU atau produk hukum.

“Tinggal perlu penyelesaian dan pengesahaan pada tingkat kedua yang dapat dipercepat menurut ketentuan UU P3 (Pembuatan Perarturan dan Perundangan-undangan). Itu dapat dipercepat apabila pada periode lalu sebuah RUU telah menyelesaikan pembahasan pada tingkat pertama. Dan itu sudah terjad terjadi pada akhir periode DPR 2012-2019 yang lalu,” ungkap Fahri.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X