Tag: Fata Fauzi

Panduan dan Naskah Khotbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1442 H

, , , , , , ,

Partaigelora.id – Panduan dan naskah Khotbah Idul Adha 10 Dzullijjah 1442 H ini dapat digunakan sebagai panduan salat Idul Adha di rumah. Panduan ini ditulis Bidang Syiar & Dakwah Partai Gelombang Rakyat Indonesia pada 2021, yakni oleh Dr Abdul Rochim dan Fata Fauzi, Lc, ME.

Dr. Abdul Rochim menempuh pendidikan S-1 bidang syariah dari  Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)-Universitas Imam Muhamad Ibn Suud, lalu melanjutkan ke S-2 dan S-3 bidang fikih dari Universitas Internasional al-Madinah, Malaysia. Saat ini Abdul Rochim menjabat sebagai Ketua Bidang Syiar dan Dakwah DPN Partai Gelora Indonesia.

Sedangkan Fata Fauzi, Lc., ME, setelah menempuh Pendidikan S-1 bidang Syariah dari LIPIA- Universitas Imam Muhammad bin Suud, Fata melanjutkan pendidikan S2 dalam ekonomi Islam di Universitas Ibnu Khaldun, Bogor. Selain sebagai dosen, saat ini Fata adalah fungsionaris Bidang Syiar dan Dakwah DPN Partai Gelora Indonesia.

TATA CARA SALAT IDUL ADHA

  • Salat Iduladha dilaksanakan dua rakaat
  • Pada rakaat pertama takbir tujuh kali setelah takbiratul ihram
  • Pada rakaat kedua takbir lima kali di luar takbir perpindahan gerakan salat
  • Hukum tujuh kali takbir di rakaat pertama dan lima kali di rakaat kedua adalah sunnah
  • Membaca doa iftitah (istiftah) setelah takbiratul ihram, sebelum takbir tujuh kali para rakaat pertama
  • Pada waktu antara satu takbir dengan takbir yang lain dianjurkan membaca: subhānallāh walhamdulillāh walā ilāha illallāh wallāhu akbar

Hikmah Keberanian dan Optimisme dari Nabi Ibrahim a.s.

Dr. Abdul Rochim, MA

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَركَاَتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ  (3 x)

اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ

. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِعَفْوِهِ تُغْفَرُ الذُّنُوْبُ وَالسَيِّئَاتُ، وبكرَمِه تُقبَل العَطايا والقُربَات، وبلُطفِه تُستَر العُيُوب والزَّلاَّت، وبلُطفِه تُستَر العُيُوب والزَّلاَّت ، وَأَشْهَدُ أّنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. (أَمَّا بَعْدُ). فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَأَحَثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah Swt.

Ibadah di bulan Dzulhijjah dan hari Iduladha merupakan anugerah berharga bagi umat Muslim. Kita, pada hari ini, bertemu dengan hari Iduladha 1442 H. Ini adalah karunia Allah Swt. yang kita dapatkan. Maka, mari kita sambut anugerah itu dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil hingga berakhirnya hari-hari tasyrik, yaitu pada tanggal 13 Dzulhijjah.

Pada hari Iduladha 1442 H saat ini dan hari Iduladha tahun lalu berbeda dengan hari-hari Iduladha yang sebelumnya. Kini, kita harus melalui hari raya ini masih dalam situasi pandemi.

Ibadah-ibadah di hari Iduladha, baik itu ibadah haji, salat hari raya dan ibadah kurban menjadi mata rantai penyambung ajaran Islam dengan risalah para nabi sebelum Rasullah saw, terutama Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Sebagai contoh, firman Allah Swt:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh. (Qs al-Hajj: 27)

Ayat ini menjadi salah satu bukti mata rantai ketersambungan sejarah dan agama antara kita dengan Nabi Ibrahim a.s. Hanya saja, merasa bahagia dan bangga dengan adanya mata rantai agama itu tidak cukup. Kita juga perlu menerjemahkan nilai-nilai perjuangan Ibrahim a.s. di ruang nyata. Dari kisah Nabi Ibrahim kita bisa belajar banyak hal, antara lain tentang Keyakinan dan Optimisme dalam menghadapi tantangan.

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia.” Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.” Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim. (Qs al-Baqarah: 124)

Ayat ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa kepemimpinan itu hanya milik mereka yang berhasil melewati banyak tantangan dan cobaan. Maka, siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, dia harus siap menaklukkan berbagai tantangan. Dan orang yang paling berat tantangan hidupnya adalah para rasul ulul azmi. Orang-orang besar dalam sejarah adalah orang-orang yang paling banyak berkorbannya; mengorbankan waktu, tenaga dan termasuk kesenangan dirinya.

اَللهُ أَكْبَرُ 3 x ، ولله الحمد

Sekian lama Nabi Ibrahim menanti kehadiran anak yang menjadi penyejuk matanya. Ternyata, pada usia yang tak lagi muda, Allah Swt. baru menganugerahi beliau seorang anak; Ismail. Di saat-saat indah dan bahagia bersama dengan sang anak, Allah perintahkan beliau untuk membawa istrinya (Hajar) dan anaknya (Ismail) ke Tanah Haram; suatu lembah yang tidak bertuan dan tidak ada tanaman. Ini bukan cobaan yang sederhana. Bila kita bayangkan pada diri kita; sangat sulit untuk membayangkan perasaan kita ketika harus meninggalkan keluarga di tempat yang asing itu?

Setelah Ibrahim menuntaskan semua urusan mengantarkan anak dan istrinya, beliau berbalik arah ke Syam. Tatkala Hajar menyaksikan suaminya berbalik badan ke arah Syam, tempat mereka berasal, ia bertanya, “Ibrahim, hendak pergi ke mana?”

Nabi Ibrahim terdiam dan tidak menjawab. Ketika Hajar mengulang-ulang pertanyaan yang sama, Ibrahim tetap terdiam. Kita bisa bayangkan betapa berat beban pikiran Ibrahim saat itu. Pada saat yang sama, kita bisa membayangkan, logika apa yang bisa dipakai untuk menjelaskan kepada istrinya bahwa ia akan kembali ke Syam.

Hajar pun mengubah pertanyaannya. “Apakah Allah yang memerintahkanmu untuk melakukan ini?”

Ibrahim pun menjawab, “Ya.”

Begitu Hajar mendengar jawaban suaminya, ia pun berkata, “Bila demikian, Allah tidak akan membiarkan kami.”

Ibrahim terus melangkahkan kakinya hingga sampai di balik bukit. Lantas ia menghadap ke arah tempat ia tinggalkan istri dan anaknya seraya berdoa:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs Ibrahim: 37)

Ternyata cobaan dan tantangan Nabi Ibrahim  a.s. tidak hanya sampai di situ. Tatkala Ismail, putra yang sangat ia sayangi, mulai tumbuh dewasa. Allah perintahkan beliau untuk menyembelihnya.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.(Qs Ashaffat : 102)

Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang kebijaksanaan Nabi Ibrahim sebagai ayah tatkala beliau mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya tersayang. Beliau sampaikan tentang mimpi beliau. Sang anak pun anak yang cerdas dan terdidik, ia tahu ayahnya seorang nabi. Ia sangat paham bahwa mimpi ayahnya adalah wahyu perintah untuk menyembelih putranya.

اَللهُ أَكْبَرُ 3 x ، ولله الحمد

Saudara-saudara sekalian yang dimuliakan Allah Swt.

Penggalan kisah di atas memberikan gambaran kepada kita tentang keteguhan dan keyakinan Nabi Ibrahim a.s. dalam menghadapi setiap tantangan dan cobaan yang ia hadapi. Sehingga beliau disebut sebagai pemimpin.

Dari Nabi Ibrahim kita juga belajar tentang optimisme dan harapan yang kuat. Hal ini bisa kita dapati pada doa-doa beliau.

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.  (Qs al-Baqarah: 126)

Al-Imam Muhammad Thahir ibn ‘Asyur mengatakan bahwa Nabi Ibrahim mendoakan mereka mendapatkan kesejahteraan agar mereka tidak berniat meninggalkan tempat tersebut.

رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

 Ya Rabb kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan salat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (Qs Ibrahim: 37)

Kita dapat merasakan getaran keyakinan dan optimisme Nabi Ibrahim a.s. Pada lembah yang tidak ada tanaman itu, beliau mengajukan kepada Allah kecukupan; kecukupan makanan dan rasa aman. Beliau tidak berpikir bagaimana cara Allah mewujudkan semua itu. Beliau yakin dan optimis ketika beliau sudah memulai dan meletakkan dasarnya, bahwa Allah akan mudahkan jalannya.

Bahkan, beliau memiliki cara pandang yang jauh ke depan.

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Ya Rabb kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (AlQuran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (Qs al-Baqarah: 129)

Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah agar kelak akan hadir seorang rasul dari penduduk kota Mekah; yang membacakan ayat-ayat Allah, mengajari mereka dan menyucikan mereka. Rasul itu adalah Muhammad Rasulullah saw.

Dalam situasi pandemi seperti yang kita hadapi saat ini, kita tidak boleh kehilangan keyakinan dan optimisme. Di balik setiap cobaan dan tantangan pasti ada hikmahnya. Paling tidak, cobaan dan tantangan menjadikan kita semakin lebih kuat menghadapi benturan demi benturan dalam hidup. Keimanan dan keyakinan kita kepada Allah harus menjadi oase yang tidak pernah kering mengalirkan energi optimisme, sebagaimana optimisme nabi Ibrahim saat menghadapi cobaan demi cobaan. Semoga Allah senantiasa membimbing kita semua.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَللهُ أَكْبَرُ   ( 7x )

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ، اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ،

 اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا، اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ،

اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً،

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُونَا بِالإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفُ رَّحِيْمٌ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَاْرحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ.

Kemanusiaan & Persaudaraan Universal dalam Kurban

Fata Fauzi, Lc., ME

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3)
 اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ
 اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ اَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Iduladha yang dimuliakan Allah.

Di sini, di tempat yang penuh berkah ini, kita kumandangkan keagungan Allah. Allah yang telah menciptakan segalanya, Maha Pengatur semua makhluk-Nya. Dia-lah yang telah menciptakan siang dan malam, memunculkan terang dan gelap, menaburkan warna hitam dan putih. Dia ciptakan manusia bersuku-suku dan berbangsa bangsa, dan ia satukan dalam satu nilai kemanusiaan yang universal yang melindungi setiap insan manusia, satu nilai yang menjadikan manusia dengan manusia lain—apa pun suku dan bahasanya, warna kulit dan kebangsaannya—adalah bersaudara.

يأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Qs Al Hujurat: 13)

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Di sini, dan di hari yang agung ini, kita kumandangkan takbir dan tahmid, pengagungan dan pujian kepada Allah yang memuliakan manusia dengan mengenal-Nya. Allah memuliakan manusia sebagai makhluk yang terbaik dengan nilai-nilai ketuhanan, mengajari mereka untuk mengenal siapa penciptanya, mengajarinya untuk saling memuliakan sesama manusia. Nilai ketahuhidan dan nilai-nilai ketuhanan inilah yang menjadikan ia sebagai makhluk terbaik dari makhluk-makhluk lain.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيم      ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِين      إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Qs At-Tin: 4-6)

Jamaah salat Id yang diberkahi Allah.

Nilai kemuliaan sebagai manusia, dan kemuliaan sebagai hamba Allah yang bertauhid kini sedang diuji oleh tatanan dunia modern yang ternyata tidak jarang merendahkan nilai-nilai kemanusiaan tersebut. Kemanusiaan kita saat ini sedang diuji oleh begitu mudahnya darah manusia ditumpahkan, begitu ringannya satu negeri menghancurkan negeri lain, begitu entengnya satu bangsa menghapuskan eksistensi bangsa lain. Sebagaimana setiap hari telinga kita terasa sudah bebal dengan jeritan anak-anak Palestina yang diberondong senjata-senjata militer Israel, setiap detik mata kita disuguhi dengan keganasan tentara-tentara Assad membunuhi anak-anak, perempuan, dan orang tua di Suriah.

Nilai kemanusiaan yang sama, yang ada pada kita dan juga ada pada mereka, hendaknya akan menjadikan kita peduli kepada Palestina, Suriah, Irak, Myanmar; bahwa mereka adalah saudara kita. Meskipun bahasa, suku, agama, bangsa, warna kulit kita berbeda, namun mereka tetaplah manusia. Apa yang mereka rasakan, tentunya menyadarkan kita bahwa betapa pedihnya kehidupan mereka, betapa perihnya perjuangan mereka untuk mempertahankan kehidupan mereka dari serangan manusia lain yang telah hilang nilai kemanusiaannya.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Selain nilai kemanusiaan yang ada dalam diri kita, Allah juga memuliakan sifat kemanusiaan kita dengan nilai-nilai ketauhidan, penuhanan kepada Allah semata. Sangat miris sekali saat kita lihat, justru umat Islam yang banyak menjadi korban dari keberingasan umat lain. Bagaimana muslim Suriah harus terusir dan terbunuh setiap detik dan menit karna keislaman mereka, bagaimana muslim Myanmar harus terombang-ambing di lautan demi mencari keamanan dari serangan para pembantai yang tidak lagi punya nilai belas kasihan, mereka semua adalah muslim, sesama muslim adalah bersaudara.

إنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu bersaudara. (Qs Al-Hujurat: 10)

Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam. (HR. Muslim)

Jika mereka adalah saudara kita, jika mereka bagian dari tubuh kita, maka seharusnya apa yang mereka rasakan menembus perasa kita; rintihan mereka menjadi rintihan kita; tangisan mereka adalah tangisan kita; karena mereka sama dengan kita. Mereka muslim, dan kita pun juga muslim.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia.

Jumlah total manusia yang saat ini menempati planet bumi ini tidak kurang dari enam miliar jiwa. Jumlah yang sangat besar. Namun, mengapa enam milyar jiwa ini tidak juga mampu menghentikan setiap pembunuhan dan pembantaian yang dilakukan sekelompok kecil manusia yang telah kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya? Menghentikan sekelompok zionis yang menjajah bangsa Palestina? Menghentikan sekelompok tentara yang berkoalisi untuk memburu dan membunuhi rakyat Suriah? Umat Islam tidak kurang dari 1,6 miliar jiwa, namun mengapa mereka tidak mampu untuk membela saudara-saudara sesama muslim yang sedang terjajah dan terzalimi? Mengapa kita tidak juga mampu menghentikan kesewenang-wenangan sekelompok manusia yang dengan senyum menumpahkan darah muslim? Di mana kemanusiaan kita? Di mana ikatan persaudaraan Islam kita?

Jamaah yang berbahagia.

Hari ini adalah hari ketika Allah mengajarkan kepada kita makna persaudaraan. Pada hari ini, tidak kurang dari 3-4 juta muslim berkumpul dalam satu waktu, satu tempat, menjalankan ibadah yang sama, mengumandangkan kalimat yang sama, sedangkan mereka tidak pernah bertemu sebelumnya. Mereka terlahir dari bangsa dan suku yang berbeda, tumbuh dalam kebudayaan dan adat yang berbeda pula. Pada hari ini, kita semua disatukan dengan satu teriakan takbir yang sama, mengagungkan Allah. Kita sepakat untuk mengagungkan Allah dengan ibadah yang sama, kalimat yang sama. Pertanyaannya, mengapa kita tidak sepakat untuk meneriakkan pembelaan kepada saudara-saudara muslim yang terjajah? Namun kenapa kita masih saja berpecah belah dan bermusuhan ketika harus menghadapi musuh yang ingin menghancurkan Islam?

Bersatulah wahai umat Islam. Bersatulah wahai Ummah Muhammad, karena persatuan dalam pelukan Islam itulah satu satunya kekuatan untuk menyelamatkan Islam dan umat manusia.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah yang berbahagia.

Perbedaan adalah keindahan, maka tidaklah sepantasnya keniscayaan perbedaan menjadikan kita berpecah-belah. Keindahan warna pelangi bukan karena ia satu warna, melainkan ia tercipta oleh perpaduan beberapa warna hingga menjadikan ia sangat memesona. Amirul Mu’minin Umar bin Abdil Azis, pernah mengatakan, “Aku tidak akan bahagia jika umat ini hanya mempunyai satu warna, karena perbedaan adalah rahmat kasih sayang dari Allah Swt.”

Perbedaan pandangan mazhab dalam berfikih adalah keniscayaan, satu keindahan yang tidak mungkin terhindarkan, maka jangan sampai kita salah melihat dan menyikapi keindahan bermazhab ini dengan perpecahan, saling menolak, saling menyalahkan, saling mem-bid’ah-kan atau bahkan saling mengkafirkan.

Nilai-nilai persaudaraan ini dengan sempurna Rasulullah sampaikan kepada para sahabatnya dalam khotbah Arafahnya, sebagaimana diriwayatkan oleh Al Imam Muslim, Rasulullah bersabda:

إنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram kezaliman terhadapnya, seperti terlarangnya kezaliman  atas kesucian hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini.”

Pada keesokan harinya, yakni di hari nahr, hari raya Iduladha, Rasulullah saw kembali berkhotbah dengan nasihat yang mendalam. Dari Ibnu Abbas RA dan yang lainnya, Rasulullah SAW berkata dalam khotbahnya,

أَيُّ يَوْمٍ هَذَا ؟ قَالُوا يَوْمٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ بَلَدٍ هَذَا ؟ قَالُوا بَلَدٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَأَيُّ شَهْرٍ هَذَا ؟ قَالُوا شَهْرٌ حَرَامٌ ، قَالَ فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فَأَعَادَهَا مِرَارًا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ

“Hari apakah ini? Para sahabat menjawab: “Hari yang suci. Beliau bertanya lagi: Negeri apakah ini? Sahabat kembali menjawab: Negeri yang suci (Tanah suci). Beliau tanya kembali: Bulan apakah ini? Sahabat kembali menjawab: Bulan suci.” Lalu beliau bersabda: Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram terzalimi seperti terlarangnya kezaliman atas sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini. Beliau ulang beberapa kali. Kemudian beliau mendongakkan kepalanya dan berdoa, “Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan risalah ini? Ya Allah bukankah aku telah menyampaikan risalah?

Begitulah Islam menjadikan sesama muslim bersaudara, menjaga harta-harta mereka, darah mereka, kehormatan mereka. Maka wajiblah bagi kita umat Islam untuk menjauhkan diri dan sesama muslim dari segala kezaliman, kezaliman terhadap darah seorang muslim, kezaliman terhadap harta seorang muslim dan juga kezaliman terhadap kehormatan seorang muslim, karena muslim ada saudara bagi muslim lainnya.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang dimuliakan Allah.

Marilah kita tengok bagaimana salafusshaleh mengajarkan dalam memandang perbedaan. Salafusshaleh sangat paham bahwa perbedaan itu adalah hal sangat niscaya, tidak mungkin dihindari, hingga mereka tetap mengutamakan persaudaraan sesama muslim walaupun mereka berbeda padangan dalam fikih tertentu.

Imam Abu Hanifah, adalah seorang tabi’in yang sangat saleh. Ia menjadi peletak batu pertama fondasi aliran fikih Hanafiah. Beliau memuji Imam Malik bin Anas yang tidak jarang pandangan fikih mereka berdua saling bertentangan. Beliau berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang paling alim tentang sunnah Rasulullah di muka bumi ini kecuali Imam Malik.”

Dan sebaliknya, Imam Malik pun sangat menghormati Imam Abu Hanifah yang sangat jelas banyak perbedaan pendapat fikih dengannya. beliau berkata, “Subhanallah, Maha Suci Allah, aku belum pernah melihat sosok seperti Imam Abu Hanifah, seorang ulama yang sangat cerdas, jika ia mengatakan bahwa sebuah alat terbuat dari emas, walau nampaknya alat tersebut dari selain emas, maka pasti ia sanggup mengetengahkan kebenaran atas perkataannya.”

Al Imam As Syafi’i berkata, “Barang siapa ingin memperdalam fikih maka hendaklah ia menjadi anak asuh bagi Imam Abu Hanifah. Abu Hanifah adalah orang yang diberi taufik oleh Allah dalam bidang fikih. Barang siapa yang belum membaca buku-buku Abu Hanifah, maka ia belum memperdalam ilmu dan ia juga belum belajar fikih.”

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah yang dimuliakan Allah.

Begitulah para salafusshaleh memandang perbedaan, dengan penuh penghormatan dan semangat persatuan mereka menjadikannya bagian dari ukhuwah Islamiyah.

Selanjutnya, marilah kita lihat bagaimana Al Imam As Syafi’i memuji Imam Ahmad, yang tentunya kita tahu bahwa Imam Syafi’i pun banyak berbeda pendapat dengan Imam Ahmad yang pernah menjadi muridnya ini. Beliau berkata, “Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal, imam dalam hadits, imam dalam fikih, imam dalam bahasa, imam dalam Al Qur’an, imam dalam kefaqiran, imam dalam kezuhudan, imam dalam wara’, dan imam dalam sunnah.”

Dan begitu juga sebaliknya Imam Ahmad Bin Hambal pun sangat memuliakan dan menghormati Al Imam Syafi’i, gurunya itu, hingga beliau berkata, “Aku tidak pernah salat sejak 40 tahun silam kecuali dalam salatku itu aku berdoa untuk Imam Syafi’i.”

Mendengar ini, Abdullah, anak Imam Ahmad merasa heran, kemudian bertanya, “Wahai ayahanda, seperti apakah Al Imam As Syafi’i sehingga ayah selalu mendoakannya secara khusus?”

Imam Ahmad menjawab, “Wahai anakku, Imam Syafi’i bagaikan matahari bagi dunia dan seperti kesehatan bagi tubuh. Lihatlah anakku, betapa pentingnya dua hal itu.”

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia.

Begitulah kita diajarkan. Iduladha ini mengajarkan kita apa arti persatuan dan persaudaraan dalam Islam, di mana setiap muslim di belahan dunia mana pun ia dilahirkan dan hidup, ia adalah saudara kita. Kini kita bertakbir bersamanya, bertahmid bersama mereka, menjalankan ibadah yang sama dengan mereka, dan menyembah tuhan yang sama yaitu Allah Yang Maha Esa.

Begitu juga bagaimana para salafusholeh menuntun kita untuk menjaga persaudaraan Islam ini. Mereka saling menghormati, memuliakan dan mendoakan muslim lain, yang bisa saja mereka berbeda pandangan dalam berfikih dan bermazhab.

اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

Jamaah salat Id yang berbahagia

Selain nilai-nilai persaudaraan sesama manusia dan persaudaraan sesama muslim, Iduladha juga memberikan kita pengajaran terhadap sebuah pengorbanan demi untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah kurban adalah ibadah yang paling dicintai Allah pada hari raya Iduladha, tidak ada amal yang lebih baik dari menyembelih hewan kurban. Rasulullah SAW bersabda :

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا

Tidaklah manusia melakukan amal di hari nahr (hari raya Iduladha) yang lebih dicintai Allah dibanding memotong hewan kurban. Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu, dan telapak kakinya. Sesungguh sebelum darahnya jatuh ke tanah, ia telah sampai kepada Allah. Maka dari itu, tunaikanlah dengan jiwa yang senang.

Ibadah kurban adalah jalan terbaik untuk mendapatkan rida dan mendekatkan diri kepada Allah di hari Iduladha. Tidak ada cara kebaikan yang ternilai sebagai ibadah yang lebih utama di hari ini kecuali berkurban, yaitu menyembelih hewan kurban untuk Allah semata. Begitulah nabiyullah Ibrahim a.s., khalillullah memberikan teladan dan dikukuhkan oleh nabi kita Muhammad saw, dengan ikhlas mengorbankan apa saja demi menggapai rida dan kedekatan kepada Allah. Sebagaimana dulu nabiyullah Ibrahim a.s. harus mengorbankan anak yang sangat ia cintai, yang ia tunggu kehadirannya hingga puluhan tahun.

Semoga Allah mengembalikan umat Islam pada kejayaan sebagaimana pernah diraih oleh para pendahulu kita, disatukan dalam kalimat yang sama, kalimat pembebasan dari penjajahan dunia, kalimat persatuan sebagaimana salafusshaleh mencontohkan cinta dan persaudaraan sesama muslim.

Demikian khotbah Iduladha yang bisa kami sampaikan, semoga Allah selalu menjaga kita semua dan umat Islam di seluruh dunia.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Download File Ceramah

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X