Tag: gelora indonesia

Partai Gelora Inhil Siap Berkolaborasi Membangun Negeri Hamparan Kelapa Dunia

, , , , ,

Partaigelora.id – DPD Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau bersilaturahim dengan Bupati Inhil HM Wardan di kantor Bupati Inhil.

Rinal dan rombongan disambut hangat Bupati, HM Wardan, didampingi Kepala Bagian Kesbangpol Kabupaten Inhil Azwir.

Ketua DPD Partai Gelora Indonesia Inhil Rinal Abdullah menyampaikan bahwa silaturahmi tersebut untuk menyambung narasi dan ide untuk kegemilangan Indragiri Hilir.

“Silaturahim yang berlanjut komunikasi dan diskusi dalam satu meja tersebut untuk menyambung pikiran, ide, gagasan dan narasi untuk kegemilangan Indragiri Hilir yang lebih religius, lebih maju dan lebih makmur sejahtera di masa akan datang,” ucap Rinal belum lama ini

Partai Gelora Inhil, lanjutnya, mendukung penuh program-program Bupati HM Wardan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Inhil.

“Kerja dan program yang dibangun oleh bapak Bupati terarah dan terukur baik untuk masyarakat, sehingga lebih sejahtera dan lebih berdaya dalam mengolah potensi komoditi sumber daya alam,” katanya.

Komoditi yang dimaksud adalah kelapa Inhil yang merupakan komoditi unggulan dan sudah mendunia. Komoditi lainnya adalah sawit, pinang, padi dan bakau.

“Untuk hutan bakau yang masih belum tergali potensinya secara maksimal,” ucap Rinal.

Untuk diketahui, Bupati HM Wardan memiliki salah satu dan misi besar, yakni menjadikan Inhil sebagai ‘Hamparan Kelapa Dunia’ sejak periode pertama menjabat.

Inhil memiliki lahan kelapa seluas 500.000 ha, lahan terbesar di dunia. Untuk meningkatkan potensi komoditi kelapa ini, Pemerintah Kabupaten Inhil telah membuka keran ekspor komoditi kelapa ke berbagai belahan negara di dunia.

Komoditi kelapa yang diekspor antara lain kelapa bulat, kelapa jambul, kopra putih, tempurung, arang, briket dan sabut kelapa yang merupakan turunan produk kelapa.

Karena itu, Rinal berharap untuk memajukan Inhil diperlukan kolaborasi semua pihak.

“Jika mampu kita kolaborasikan dengan cantik, peluang ekspor akan semakin meningkat. Apalagi BUMD Kelapa Inhil Gemilang (KIG) ini terkoneksi dengan Pelabuhan Samuder di Kabupaten Indragiri Hilir,” jelasnya.

Rinal menegaskan, Partai Gelora akan terus turut berkolaborasi dengan seluruh anak bangsa yang ada di Kabupaten Inhil.

“Kami ingin partai baru yang membawa narasi Arah Baru Indonesia ini di kenal dan mengakar kuat di Kabupaten Indragiri Hilir,” tegas Ketua DPD Partai Gelora Indonesia Inhil ini.

Dalam pertemuan tersebut, Rinal juga menyampaikan harapannya untuk Partai Gelora Indonesia dan Indonesia ke depan.

“Takdir kita sebagai Bangsa Indonesia harus menjadi kekuatan besar yang mendorong Indonesia menjadi kekuatan llima besar dunia.Partai Gelora juga berharap menjadi arus utama politik Indragiri Hilir pada 2024,: jelasnya.

Rinal menuturkan, program safari politik DPD Partai Gelora Indonesia Inhil akan terus berlanjut ke partai politik dan tokoh masyarakat.

“Terima kasih banyak kami haturkan kepada Bapak Bupati Kabupaten Indragiri Hilir, Bapak HM Wardan, yang telah menerima kami dengan hangat dan ramah. Ini merupakan sebuah kolaborasi yang dasyat dan hebat,” katanya.

Partai Gelora Berbagi Cara dan Resep Membuat Pie yang Enak

, , , , ,

Partaigelora.id – Cita rasa pie mungkin tidak asing lagi di lidah masyarakat Indonesia, meski bukan kuliner asli tanah air. Namun, kuliner asal negara Pangeran Charles, Inggris ini justru menjadi makanan favorit sebagian masyarakat kita.

Di tanah air, berbagai macam jenis pie, mulai dari pie daging asap, pie buah, pie susu, pie sayuran dan lain-lain bisa dinikmati di gerai maupun outlet yang ada. Harganya juga masih terjangkau kantong masyarakat Indonesia, sehingga pie layak untuk dicicipi.

Masyarakat juga bisa membuat pie sendiri, karena mudah pembuatannya. Kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung, membuat kekwatiran kita bakal terpapar, apa salahnya untuk mencoba membuat pie sendiri di rumah.

Gaya Hidup dan Olahraga (Gahora) DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia berbagi resep cara membuat pie di rumah ‘Home Made Pie|Gahora Berbagi Resep’.

Gahora menghadirkan owner (pemilik) Zeytin Pie, Ratu Ratna Damayani (Mia), pengusaha pie terkenal di Indonesia.

Home Made Pie Home ini program bidang Gahora DPN dab dipandu langsung Ketua bidang Gahora Partai Gelora Indonesia Kumalasari Kartini (Mala) dan disiarkan live secara virtual di zoom, facebook, instagram dan youtube.

“Mbak Mia (Ketua bidang Jaringan dan Hubungan Lembaga Partai Gelora Indonesia, red) ini tidak hanya aktif di politik saja, tapi juga berbinis kuliner, owner Zeytin Pie yang memproduksi macam-macam pie,” kata Mala Sabtu (6/3/2021) petang.

Mala mengatakan, Partai Gelora ingin berbagai resep dan cara membuat pie dari ahlinya langsung untuk para Sahabat Gelora yang ingin sekedar menyalurkan hobi maupun yang membuka peluang bisnis baru, bisnis pie.

“Gelora ingin berbagai resep dan cara membuatnya kepada temen-temen semua di rumah. Bisa bisa untuk kuliner di rumah dan hantaran saat berbuka puasa nanti,” katanya.

Mia mengakui bahwa pie bukan menu lokal, tapi pie sudah menjadi makanan global. Tersebar di berbagai negara dunia seperti Eropa, Mediterania, Amerika dan lain-lain, termasuk di Indonesia.

“Pie ini bukan menu lokal, tapi sekarang sudah jadi menu global. Di berbagai negara telah diadaptasi, di Mediterania ada Pie Tian, di Amerika ada Pie Apel. Tapi kita tidak bikin dua menu itu, kita bikin yang lain, smoked beef pie (pie dagang asap) dan cheese tart pie (pie strawberry),” kata Pie.

Bertempat di dapur Studio Partai Gelora di Jakarta, Mia dibantu Mala mulai menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat dua menu pie tersebut. Seperti shell tart (kulit pie), daging cincang, butter, tepung terigu, gula dan garam secukupnya, cheese dan strowberry.

Untuk membuat kulit pie, butter dan telur kemudian dikocok. Setelah mengembang kemudian dicampur tepung terigu, ditambah gula dan garam secukupnya. Kemudian setelah tercampur, dimasukkan ke lemari pendingin (kulkas) selama satu jam, sambil dibungkus plastik.

“Pie itu sebagaian besar kulit, selain isi. Untuk urusan kulit saja ada ritualnya sendiri. Bikin strudel saja bisa 5 kali disimpan dikasih butter, tapi kalau pie ini cukup satu jam saja,” katanya.

Setelah kulit pie siap, siapkan cetakan dan masukkan daging cincang tanpa lemak, yang terlebih dahulu telah ditumis dengan bawang bombay dan bawang putih untuk smoked beef pie, dan tambahkan cheese cake dan strowberry untuk cheese tart pie. Kemudian panaskan dengan microwave beberapa saat dan pie siap dihidangkan

Mia mengatakan, bisnis pie yang ditekuninya berawal dari sekedar hobi membuat kue, namun lama-lama menjadi bisnis hingga kini. “Dari hobi, lama lama jadi bisnis. Ini sebenarnya bongkar rahasia bisnis,” kilahnya sambil tertawa kecil.

Tidak ada resep khusus yang dia pegang. Untuk bahan baku dan cara pengolahan, dia hanya mengandalkan ingatan dan terkaan saja. Sesekali buka internet, tapi hanya sebatas untuk menambah pengetahuan saja.

Setidaknya dia memerlukan waktu lebih dari tiga kali eksperimen untuk bisa menghasilkan cita rasa pie yang lezat.

“Saya minta testimoni anak, suami, dan para tetangga. Alhamdulillah mereka memuji pie bayam buatan saya, katanya enak,” ungkap Mia.

Saat ini sudah ada 13 varian yang dijual oleh Zeytin Pie. Mia menawarkan antara lain pie daging asap, pie ayam jamur, pie pisang vla susu, pie mixfruit cinnamon, pie apple almond, pie bayam zaitun, pie nanas tarte, pie pisang opera coklat, klaapertpie, dan pie cheese tart.

Nah, Bagi Sahabat Gelora yang terlambat mengikut live ‘Home Made Pie|Gahora Berbagi Resep’, cara membuat pie ala Mia, pemilik Zeytin Pie berikut resepnya, rekamannya bisa disaksikan di Youtube Partaigelora.id. Selamat mencoba!

Fahri: Elit Politik di Indonesia tidak Tunjukkan Keseriusan Berdemokrasi

, , ,

Partaigelora.id – Wakil Ketua Parta Gelora Indonesia Fahri Hamzah menegaskan, elit politik di Indonesia sekarang ini tidak menunjukkan keseriusan berdemokrasi.

Kondisi ini terjadi karena telah terlalu lama Indonesia dikungkung sistem politik kerajaan sekaligus mengalami masa kolonialisme imperialisme.

“Cita rasa, kebebasan, melemah, dan harus mengikuti maunya negara yang sedang terjadi di Indonesia,” kata Fahri dalam diskusi virtual ‘Demokrasi Indonesia di Simpang Jalan?’ yang diselenggarakan Moya Institute di Jakarta, Jumat (5/3/2021) petang.

Menurut Fahri, demokrasi di Indonesia sedang melemah karena oposisinya minim. Peran oposisi di DPR sebenarnya ada, namun, peran ini tidak dijalankan karena patut diduga begitu menyatu dengan pemerintahan. “Kecenderungan ikut maunya negara,” katanya.

Mantan Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menilai partai politik (parpol) yang menempatkan wakilnya di parlemen seolah berhenti menjadi industri berpikir.

Kebanyakan elite parpol, baik ketua umum, sekretaris jenderal, hingga pimpinan Fraksi di DPR tidak lagi menawarkan pemikiran segar. Malah telah menjelma menjadi mesin kekuasaan.

“Melihat parpol sekarang, demokrasi kita di persimpangan jalan,” tandas Fahri.

Pengamat politik sekaligus Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia, Prof Komaruddin Hidayat, mengungkapkan, proses demokrasi di Indonesia terasa terlalu mengikat dan normatif, karena menerapkan referensi dari Barat.

“Jadinya, demokrasi di Indonesia lebih dekat ke informasi untuk mempengaruhi opini masyarakat, jadi market. Informasi bertemu dengan realitas masyarakat yang pluralis dan religius membuat kadang sinkron, kadang benturan,” ujar Komaruddin.

Kemudian, Direktur Eksekutif NetGrit dan mantan Komisioner KPU Ferry Kurnia menuturkan, bila merujuk pada indeks demokrasi, Indonesia masih belum memberikan harapan baik. Sebab, hanya memiliki skor 65.

Realita tersebut, bagi Ferry, di satu sisi membuat demokrasi Indonesia telah terlaksana, namun juga masih muncul kontraproduktif. Bahkan, berdasarkan indeks demokrasi tersebut, Ferry membandingkan kualitas demokrasi Indonesia yang di bawah Timor Leste, Malaysia, serta Filipina.

Sedangkan diplomat senior, Prof Imron Cotan menilai, Indonesia masih belajar berdemokrasi. Sehingga jangan berharap bisa menjadi jawaban atas masalah yang terjadi belakangan ini. “Itu over expectation,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Australia pada 2003-2005 ini.

Demokrasi di Indonesia, lanjutnya, tidak bisa disamakan dengan sistem politik berbasis Washington consensus dengan analogi one man one vote. Basis politik Indonesia adalah Pancasila, melalui musyawarah mufakat.

Dikatakan, poin penting demokrasi adalah mencapai masyarakat yang sejahtera. Caranya, dengan mengimplementasikan pasal 33 dan 34 UUD 1945. Yaitu, tentang tata kelola Sumber Daya Alam di Indonesia, dan fakir miskin menjadi tanggung jawab negara.

Anis Matta: Kita Butuh Kapasitas Leadership Karena Kapasitas Sosial Publik Lebih Maju dari Kapasitas Politik

, , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, Indonesia saat ini menghadapi tantangan terbesar dalam demokrasi sebagai bangsa sejak era reformasi bergulir pada 20 tahun terakhir. Yakni adanya perubahan kapasitas sosial publik (social shifting) yang jauh lebih cepat dari perubahan kapasitas politik (social politic).

“Tapi alhamdulillah bisa menciptakan keseimbangan baru antara kebebasan dan stabilitas. Secara efektif menciptakan keseimbangan dan stablitas politik,” kata Anis Matta saat menjadi keynote speaker dalam webinar ‘Demokrasi Indonesia di Simpang Jalan’ yang diselenggarakan oleh Moya Institute di Jakarta, Jumat (5/3/2021). petang

Perubahan kapasitas sosial publik yang lebih cepat daripada perubahan kapasitas politiknya, menurut Anis Matta, menjadi persoalan fundamental serius, meskipun Indonesia disebut sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, karena sukses menyelenggarakan Pemilu dan banyak Pilkada secara damai.

“Ada faktor yang yang bersifat struktural menentukan, yaitu perubahan demografi. Sensus terakhir 2020 menunjukkan orang-orang muda dalam struktur demografi kita,” ujarnya.

Mereka ini dalam 20 tahun terakhir menciptakan kelas menengah baru. Jumlah mereka cukup besar mencapai 100 juta jiwa dan dianggap sebagai masyarakat urban yang berdaya.

Pada 2025, populasi masyarakat urban ini diperkirakan mencapai 68 persen. “Mereka ini lebih educated dan partisipatif, populasi mereka jauh lebih banyak dari masyarakat miskin perkotaan. Ada kelas menengah baru,” katanya.

Generasi baru yang lahir di era demokrasi ini, lanjut Anis Matta, juga menjadikan mereka sebagai warga global, karena jauh lebih baik terkoneksi secara global.

“Hal itu terlihat dari pertumbuhan media sosial saat ini, dan akses Informasi menjadi tidak terbatas. Social shifting ga jauh lebih cepat dari perubahan kapasitas negara, sehingga tantangannya semakin besar,” katanya.

Dampaknya, adalah perubahan cara pandang masyarakat kepada negara. Mereka memandang negara bukan pada otoritasnya, tapi pada kapasitasnya.

“Inilah masalah kita sekarang ini, output paling besar yang kita rasakan dari reformasi,” katanya.

Anis Matta menjelaskan, dunia juga tengah menghadapi krisis global dengan adanya perubahan sistem (tatanan baru) dan leadership (kepemimpinan). Perubahan ini diperkirakan akan terjadi dalam 10 tahun ke depan, karena sistem sudah tidak berjalan efektif lagu.

“Sehingga akan terbentuk tatanan dan aliansi global baru. Namun, masalah baru muncul, dimana pertumbuhan tidak bisa diwadahi oleh lingkungan kita,” ungkapnya.

Saat ini, perang supremasi antara Amerika Serikat vs China tidak terhindarkan lagi, dan menciptakan tatanan dan aliansi global baru.

“Kalau Indonesia tidak menjadi bagian dari pembentukan aliansi global baru nanti, Indonesia menjadi negara proxy. Konflik seperti tahun 65 bisa terjadi lagi, karena kekuatan global menjadikan Indonesia sebagai medan tempur,” katanya.

Konflik ini tentu saja akan menjadi tantangan terbesar demokrasi Indonesia kedepan, apalagi jika negara tidak menggunakan otoritasnya untuk melakukan pengendalian perubahan kapasitas sosial publik.

Memperkuat Hubungan Partnership RI-AS, Kedua Negara Bisa Tingkatkan Kerjasama Keamanan Regional

, , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menegaskan, pandemi Covid-19 membuat tatanan global saat ini sudah tidak bekerja efektif dan banyak kontra produktif, sehingga diperlukan untuk melakukan penataan ulang sistemnya.

“Kita sedang mencari tatatan dunia baru masa yang akan datang. Pandemi ini dampaknya panjang dan destruktif bagi ekonomi dan saya kira akan menjadi krisis sosial di berbagai negara,” kata Anis Matta dalam Webtalk Hubungan Luar Negeri Gelora dengan tema ‘Masa Depan Hubungan RI-AS, Peluang dan Tantangan’ di Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Anis Matta menilai tatanan global saat ini diciptakan oleh para pemenang dunia kedua, sementara sekarang tidak lagi dalam situasi perang. Sehingga sistemnya sudah tidak tepat dan efektif lagi untuk dilanjutkan.

“Sekarang lebih banyak soal isu lingkungan, kesehatan dan energi terbarukan. Ada titik temu, kesadaran untuk menjadi sejahtera bersama secara ekonomi. Dengan mobilitas global yang tinggi, maka kita membutuhkan kebijakan dan peradaban baru,” katanya.

Menurut Anis Matta, terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) bisa menjadi momentum bagi Indonesia untuk meningkatkan hubungan kedua negara.

“Fondasinya sudah ada dan sekarang ada nuansa baru hubungan antara Indonesia dengan Amerika Serikat. Kita memasuki hubungan baru multilateral,” katanya.

Perlunya hubungan multirateral ini, lanjut Anis, telah disadari oleh Partai Demokrat yang mengusung Joe Biden sebagai Presiden. Dimana AS tidak bisa lagi menjadi kekuatan tunggal global, dan membutuhkan negara lain.

“Ini kesempatan bagi Indonesia, karena memiliki dua aset utama sebagai modal kekayaan global, yakni menjadi kekuatan utama ASEAN dan jumlah Umat Islam terbesar di dunia,” ungkapnya.

Anis Matta menegaskan, orientasi hubungan Partai Demokrat AS sejak dulu ke Asia. Karena itu, ide Trans Pacific Partnership (TPP) yang dirintis oleh mantan Presiden Barack Obama juga perlu dilanjutkan lagi.

“Kalau Amerika ingin memperkuat hubungan Indonesia, pada hubungan patnership ini. Bisa meningkatkan kerjasama keamanan regional di kawasan (Asia Pacific, red) ,” katanya.

Jika kawasan tersebut aman dan jauh dari konflik, maka ekonominya akan tumbuh. Disamping itu, perubahan politik di Indonesia juga relatif bagus, sehingga memungkinkan Indonesia menjadi leadership atau pemimpin global.

“Saya kira fondasi menjadi kekuatan global di masa mendatang untuk Indonesia sudah ada. Memungkinkan menjadi leadership kedepannya,” kata Anis Matta

Anis Matta berharap Indonesia-AS bisa duduk bersama membahas tatanan dunia baru. Dalam pembicaraan itu, Indonesia bisa menjadi representasi dari Dunia Islam, karena jumlah Umat Islamnya terbesar di dunia.

“Indonesia dengan barat pertemannya pada simpul agama samawi. Sehingga simpulnya jauh lebih dekat daripada perbedaannya,” pungkas

Mantan diplomat AS Stanley Harsha menilai Indonesia adalah mitra strategis bagi AS. Mau tidak mau, AS saat ini harus bekerjasama dengan negara lain, tidak bisa melakukan sendiri seperti sebelum-sebelumnya.

“Joe Biden berupaya mengembalikan Amerika ke gelanggang lagi, tapi tidak bisa melakukan sendiri harus bekerja sama dengan negara lain. Dan menggandeng Indonesia dipandang sebagai mitra strategis,” kata Stanley Harsha.

Stanley Harsha: Indonesia Bisa Maju Lebih Cepat dari China

, , , , , ,

Partaigelora.id – Mantan diplomat Amerika Serikat (AS) Stanley Harsha menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia bisa maju lebih cepat dari China karena memiliki demokrasi dan banyak inovasi. Indonesia bisa menjadi kekuatan utama dunia, asalkan menanamkan modalnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

“Indonesia bisa maju, sekarang sudah sangat maju cepat. Saya sendiri punya pendapat, yang saya tidak dapat membuktikan, bahwa Indonesia akan maju lebih cepat daripada China, karena memiliki demokrasi yang bebas dan ada dorongan untuk inovasi,” kata Stanley dalam Webtalk Hubungan Luar Negeri Gelora dengan tema ‘Masa Depan Hubungan RI-AS, Peluang dan Tantangan’ di Jakarta, Kamis (4/3/2021).

Menurut Stanley, negara yang memiliki pemimpin yang mengkontrol kebebasan berpikir dan demokrasi seperti China tidak akan bisa bertahan lama dalam era saat ini. Apalagi China saat ini memiliki hutang yang cukup besar mencapai 300 persen dari GDP dan banyaknya angka korupsi di negara tersebut.

“Karena itu, China bukan ancaman Amerika. China juga tidak bisa menaklukkan dunia dan banyak dikelilingi negara yang tidak berteman dengan China. India, Vietnam, Taiwan dan Korea mempunyai senjata yang kuat dan canggih, tidak takut ancaman dari China,” katanya.

Stanley mengatakan, Indonesia bisa malampui China dalam bidang ekonomi, sumber daya manusia. Ia mengaku bisa menfaslitasi Indonesia untuk mengirimkan SDM untuk menempuh penndidikan di Universitas-univesitas ternama di Amerika.

“Kalau membagikan teknologi kepada Indonesia sudah cukup banyak. Untuk kemanusiaan dan dipakai secara damai, apalagi untuk membela laut Indonesia, pasti akan dibagi,” kata Stanley Harsha yang juga seorang penulis buku ini.

Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesoa Anis Matta mengatakan, Indonesia-AS memiliki kesamaan tiga hal, yakni sama-sama masyarakatnya multikultur dari berbagai etnis.

“Kesamaan kedua negara yang fundamental ada pada sistem demokrasi, ada kemiripan sistem demokrasi, berbeda dengan China. Ketiga sama-sama berorientasi pada pasar, dan ini kesamaan yang kuat,” kata Anis Matta.

Dengan tiga kesamaan tersebut, Anis Matta berharap Indonesia-Amerika bisa duduk bersama untuk menentukan tatanan dunia baru. Sebab, pandemi Covid-19 saat ini membawa dampak panjang dan destruktif bagi ekonomi semua negara dunia, yang bisa menyebabkan krisis sosial.

AS dibawa pimpinan Presiden Joe Biden yang didukung Partai Demokrat juga sudah menyadari bahwa tidak bisa lagi menjadi kekuatan tunggal dunia, dan harus bekerja sama dengan negara lain seperti Indonesia.

“Indonesia sudah jadi kekuatan utama ASEAN dan jumlah umat Islamnya terbesar di dunia. Dua aset utama tersebut bisa sebagai modal Indonesia secara global untuk menentukan tatanan dunia baru,” katanya.

Indonesi-AS, kata Anis Matta, bisa melakukan kerjasama regional untuk mempertahankan kawasan dari ancaman negara lain sehingga ekonominya akan tumbuh tidak seperti di Timur Tengah yang penuh dengan konflik.

Kerjasama lain yang bisa ditingkatkan adalah membangun infrastuktur energi terbarukan di Indonesia, karena membutuhkan teknologi dan investasi yang besar.

“Jika tidak dimanfaatkan Amerika, celah ini tentu akan diisi oleh negara lain dari sisi bilateral , karena Indonesia butuh alternatif,” katanya.

Selanjutnya, kerjasama lain yang bisa dilakukan antara Indonesia-AS adalah transfer teknologi. Kegagalan Indonesia selama ini, menurutnya, tansfer teknologi sudah dilakukan pada masa Orde Baru, namun tidak diintegrasikan dengan sistem ekonomi.

“Oerientasi teknoogi kuat, tapi kelamahannya belum diintegrasi dalam sistem ekonomi, sehingga pertumbuhan teknologi tidak sebanding dengan pertumbuhan ekomomi. Amerika bisa menjadi patner dalam hal itu,” tegas Anis.

Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Mattta ini berharap ide dan gagasan besar Partai Gelora bisa disampaikan Stanley Harsha ke Presiden Joe Biden dan Kongres AS, serta Partai Demokrat.

“Saya kira akan menjadi kerjasama strategasi bagi Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk kerjasama dalam bidang pendidikan. Ini agenda yang kita perjuangkan di Indonesia, bisa dishare ke Demokrat dan Kongres . Ini ini bagian dari narasi besar Partai Gelora,” pungkasnya.

Diskusi tentang ‘Masa Depan Hubungan RI-AS, Peluang dan Tantangan ini dipandu oleh Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Henwira Halim dan dibuka oleh Sekretaris Jenderal Partai Gelora Mahfuz Sidik, serta ditutup oleh Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Anis Matta.

Mendengar Aspirasi Umat, Partai Gelora Apresiasi Keputusan Presiden Batalkan Perpres Miras

, , , , , ,

Partaigelora.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya secara resmi mencabut Peraturan Presiden Nomor 10/2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal yang memuat kebijakan investasi industri minuman beralkohol atau miras.

Menggapai hal ini, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengapresiasi keputusan Presiden Jokowi yang dinilai mau mendengar suara masyarakat dan umat yang menolak legalisasi investasi miras.

“Alhamdulillah, saya ingin mengapresiasi keputusan strategis yang diambil Presiden Jokowi yang telah mendengar suara masyarakat dan umat dengan membatalkan investasi miras,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Selasa (2/3/2021).

Menurut Ansi Matta, setiap kebijakan tentu mempunyai dimensi yang kompleks, bukan hanya pada satu dimensi dengan mengorbankan dimensi lain. Akibatnya, kebijakan tersebut tidak akan membuat mencerminkan aspirasi masyarakat sebenarnya.

“Saya kembali menyerukan agar Indonesia serius dalam mengembangkan industri herbal, baik untuk suplemen kesehatan, perawatan tubuh, dan kosmetika,” ujar Anis Matta.

Tanaman herbal yang tumbih subur di Indonesia, adalah anugerah dari Tuhan yang harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat. Jika dikembangkan secara maksimal juga bisa menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat Indonesia.

“Itu adalah anugerah Allah yang luar biasa kepada tanah air kita. Modernisasi dan saintifikasi pengembangan herbal dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dengan cara-cara yang halal,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah . Fahri menyambut positif keputusan Presiden Jokowi mencabut izin investasi legalisasi miras yang tertuang dalam Perpres Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

“Sudah tepat Presiden mencabut lampiran Perpres terkait izin investasi miras itu. Patut mengapresiasi lah putusan tersebut,” kata Fahri Hamzah.

Dikatakan Fahri, sejak diterbitkan Perpres yang mengatur tentang pelonggaran investasi pada industri miras itu, sontak memantik banyak respon negatif dari berbagai kalangan, baik tokoh politik maupun tokoh agama.

“Penggunaan miras dapat memabukan hingga memicu tindakan negatif dan kegaduhan di masyarakat. Miras bagian dari penyakit masyarakat,” ungkapnya.

Ketimbang melegalisasi investasi miras yang menuai penolakan di masyarakat, kata Fahri, lebih baik investasi di industri jamu daripada miras. Pemerintah juga seharusnya mengajak masyarakat menjadikan jamu sebagai minuman mendunia yang dapat menyehatkan tubuh dan dapat terhindar dari virus corona.

“Kalau minum jamu lebih jelas, investasi jamu lebih jelas,” kata mantan Wakil Ketua DPR Peride 2014-2019.

Seperti diketahui Perpres Perpres 10 Tahun 2021 terbit pada 2 Februari 2021 sebagai peraturan turunan UU Cipta Kerja. Perpres itu memang tidak mengatur khusus miras, tetapi soal penanaman modal.

Disebutkan, penanaman modal baru dapat dilakukan pada Provinsi Bali, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Provinsi Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Disebutkan juga, penanaman modal di luar wilayah tersebut dapat ditetapkan oleh Kepala BKPM berdasarkan usulan gubernur.

Hal itu Itu memicu ragam kekhawatiran. Selain dibukanya pintu investasi miras dan frasa ‘budaya dan kearifan setempat’. Daerah lain ternyata bisa membuka investasi serupa asal diusulkan gubernur bersangkutan.

Pada Lampiran III Perpres No 10/2021 disebutkan, investasi miras hanya diperbolehkan di Provinsi Bali, NTT, Sulawesi Utara, dan Provinsi Papua dengan memperhatikan budaya dan kearifan setempat.

Tapi, penamanan modal untuk industri di luar daerah-daerah tersebut dapat dilakukan bila ditetapkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan usulan gubernur. Hal tersebut termuat dalam Lampiran III angka 31 dan angka 32 huruf a dan b.

Daripada Miras, Lebih Baik Pemerintah Kembangkan Industri Herbal

, , , ,

Partaigelora.id – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meneeken Peraturan Presiden (Perpres) No.10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal.

Dalam salinan Perpres yang ditetapkan pada 2 Februari 2021 oleh Jokowi ini juga mengatur soal penanaman modal untuk minuman beralkohol (miras) yang dibolehkan investasinya di Bali, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara dan Papua.

Menanggapi hall ini, Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta meminta pemerintah sebaiknya tidak memfasilitasi investasi miras, karena bertentangan dengan norma-norma agama yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

“Seharusnya Indonesia menjadi negara yang memfasilitasi investasi untuk industri herbalnya yang berbahan baku Jahe atau Ecalyptus (kayu putih) yang teruji bisa berguna di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini,” kata Anis Matta dalam keterangannya, Senin (1/3/2021).

Menurut Anis Matta, Indonesia kaya akan tumbuhan herbalnya tersebar di 34 provinsi. “Oleh oleh karena itu sudah seharusnya kita mengembangkan industri herbal menjadi industri global yang dibutuhkan dunia untuk menyembuhkan Covid-19,” ujarnnya.

Anis Matta berharap pemerintah bijak dan konsisten dengan pemulihan kesehatan masyarakat, bukan sebaliknya memberikan izin investasi miras. Sebab, miras justru akan melemahkan imunitas bagi peminumnya, sehingga rentan terpapar Covid-19.

“Di tengah situasi pandemi Covid-19 belum selesai, seharusnya pemerintah mendukung kampanye hidup sehat yang mampu meningkatkan imunitas tubuh masyarakat Indonesia. Minuman keras menjadi hal yang mampu melemahkan imunitas bagi peminumnya,” tegas Anis Matta.

Partai Gelora meminta pemerintah tidak kehilangan imajinasinya dalam pemulihan kesehatan publik. Pemerintah perlu segera memanfaatkan tumbuhan herbal asli nusantara sebagai obat asli Indonesia untuk memperbaiki kesehatan dunia dari pandemi Covid-19.

“Kita perlu mengembangkan imajinasi pemulihan kesehatan publik melalui herbal dan bahan farmasi yang Indonesia miliki. Kita harus mengimajinasikan dampak dari pandemi ini. Indonesia punya industri farmasi dan industri herbal global yang menjadi solusi dunia bagi pandemi Covid-19,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Perpres No.10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal adalah aturan turunan dari UU No.11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (Ciptaker) yang ditujukan untuk menarik masuknya modal asing. Hal itu diharapkan dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi daerah tempat investasi berlangsung.

Namun, investasi yang akan menciptakan lapangan kerja juga harus memperhitungkan multiplier effect atau dampak yang ditimbulkan seperti hancurnya tatanan sosial masyarakat, kesehatan memburuk, meningkatnya kekerasan dan kriminalitas, serta kehilangan jiwa anak bangsa akibat miras.

Mestinya, investasi miras dimasukkan ke dalam usaha tertutup bagi penanaman modal. Namun, faktanya didalam regulasi Ciptaker hanya mengatur enam bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal.

Yakni budidaya/industri narkoba, segala bentuk perjudian, penangkapan spesies ikan, pengambilan/pemanfaatan koral alam, industri senjata kimia dan industri bahan kimia perusak ozon.

Luncurkan OK GELORA, Anis Matta: Perlu Peta Jalan Baru untuk Jadi Kekuatan Utama Dunia

, , , , , ,

Partaigelora.id – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta mengatakan, Indonesia saat ini memasuki gelombang ketiga menuju kekuatan lima besar dunia diantara negara-negara Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, Rusia dan China.

Sebab, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar seperti sumberdaya alam, jumlah penduduk terbesar ketiga di dunia, jumlah umat Islam terbesar di dunia dan menjadi salah satu pemimpin utama ASEAN.

“Kenapa kita harus menjadi salah satu kekuatan dunia, karena kita memiliki potensi yang cukup untuk itu,” kata Anis Matta saat meluncurkan ‘Program OK GELORA Orientasi Kepartaian Partai Gelora Indonesia di Jakarta, Sabtu (27/2/2021).

Menurut Anis Matta, Indonesia telah memasuki dua gelombang, yakni gelombang pertama dan gelombang kedua. Gelombang pertama adalah gelombang menjadi Indonesia, diawali Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan puncaknya sebagai negara berdaulat pada 17 Agutus 1945.

Sedangkan gelombang kedua adalah menjadikan Indonesia sebagai negara modern. Hal ini telah dilewati melalui pergulatan pada masa orde lama, orde baru dan orde reformasi.

“Sebagai bangsa kita telah bergulat dengan pengalaman yang pahit dan manis dalam mencari titik temu antara demokrasi dan kebangsaan,” ujarnya.

Dengan memasuki gelombang ketiga, maka diperlukan Peta Jalan Baru Indonesia. Peta jalan baru tersebut, akan menjadikan Indonesia sebagai kekuatan lima besar dunia.

“Saat ini terjadi perubahan tatanan global dan perubahan pada kemimpinan global. Sehingga kita perlu merumuskan satu peta jalan baru, dimana mimpi besar itulah yang melatari berdirinya Partai Gelora,” katanya.

Partai Gelora, kata Anis Matta, tidak ingin melihat Indonesia menjadi ‘medan tempur’ negara-negara yang sedang bersaing di dunia seperti persaingan antara AS dan China saat ini

“Potensi kita terlalu besar, tapi pencapaian kita terlalu kecil. Langit kita terlalu tinggi, tapi kita terbang terlalu rendah. Indonesia harus jadi salah satu kekuatan utama dunia” tandasnya.

Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia Fahri Hamzah menambahkan, rakyat Indonesia seharusnya memiliki orientasi dan kemantapan hati. Tidak boleh galau atau gelisah. Sebab, saat ini banyak pihak yang tidak memiliki orientasi, padahal sebagai bangsa besar harus optimis.

“Bangsa ini harus optimis agar terbang tinggi seperti Rajawali dan menjadi kekuatan lima besar dunia. Kita harus mereorentasi konsepsi diri kita dengan khazanah Indonesia, Sehingga kita sebagai bangsa Indonesia, optimis,” kata Fahri.

Karena itu, orientasi ke-Indonesiaan harus semakin diperkuat secara masif. Tidak boleh lagi ada rakyat Indonesia yang tidak memahami atau terbata-bata tentang ke-Indonesiaan.

“Mengutip puisi Chairil Anwar, kita hidup 1.000 tahun lagi, maka kita harus optimis tentang fondasi bangsa yang membuat kagum dengan Indonesia,” pungkasnya.

Mahfuz Sidik : Kehadiran Partai Gelora Diperhitungkan di Pilkada 2020, 135 Dukungan Diteken

, , , , , , , , , , , ,

JAKARTA – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia tidak ingin hanya menjadi penonton saja dalam ajang kontestasi Pilkada Serentak 2020 di 270 daerah, meski belum memiliki kursi di DPRD. 

Partai Gelora telah menandatangani 135 dukungan terhadap pasangan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah baik itu, untuk pemilihan gubernur, bupati dan walikota. 

Dengan 135 dukungan itu, maka Partai Gelora mengikuti 50 persen pilkada dari 270 Pilkada yang akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang.

“Kita tidak bicara menang atau kalah, tetapi sebagai partai baru, Partai Gelora mengikuti 135 pilkada. Ini mengindikasikan kehadiran Partai Gelora diperhitungkan di konteks pilkada,” kata Sekretaris Jenderal DPN Partai Gelora Indonesia Mahfuz Sidik dalam keterangan di Jakarta, Senin (14/9/2020).

Menurut Mahfuz, banyak calon kepala daerah yang akan bertarung di Pilkada 2020, berkomunikasi dengan Partai Gelora agar ikut dalam koalisi partai-partai pendukung, meskipun tidak berpengaruh terhadap syarat pencalonan kepala daerah dalam Pilkada. 

“Tetapi Partai Gelora tetap diharapkan oleh para calon kepala daerah dan koalisi partai pendukung. Kita akan all out, kita sudah perintahkan DPW, DPD dan kader untuk memenangkan 135 pilkada,” katanya.

Mahfuz mengatakan, 135 dukungan itu terdiri dari 7 pemilihan gubernur (pilgub), 37 pemilihan walikota dan 91 pemilihan bupati.  Dari 135 Pilkada tersebut, Partai Gelora berkoalisi dengan berbagai partai politik, termasuk dengan PKS.

Adapun tujuh pilgub yang diikuti adalah pemilihan gubernur di Sumatera Barat (Sumbar), Jambi, Bengkulu, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Kalimantan Utara. Sementara di pemilihan gubernur Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan, Partai Gelora absen.

Dukungan Partai Gelora antara lain diberikan kepada pasangan Nasrul Abit -Indra Catri di Pilgub Sumbar yang disokong oleh Partai Gerindra. 

Di Pilkada Kota Makassar, Partai Gelora bersama Partai Nasdem, Gerindra dan PBB mendukung pasangan Mohammad Ramdhan Pamanto-Fatmawati Rusdi (Danny-Fatma).

Di Pilkada Kota Tangerang Selatan, Partai Gelora mendukung pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan yang didukung Partai Golkar dan PPP. 

Kemudian di Pilkada Sumbawa, Partai Gelora mendukung pasangan Nurdin Ranggabarani-Burhanuddin Jafar Salam disokong Partai Demokrat dan PPP

Sementara di Pilkada Solo, Partai Gelora mendukung pasangan Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakoso yang didukung PDIP. 

“Partai Gelora menilai putra sulung Presiden Jokowi, Gibran berpotensi memenangi Pilkada Solo,” katanya.

Partai Gelora juga mendukung menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), Bobby A Nasution di Pilkada Kota Medan yang berpasangan dengan Aulia Rahman. 

“Pasangan Bobby-Aulia yang didukung PDIP, Gerindra, Nasdem, PPP, PAN PSI dan Hanura juga memiliki potensi besar memenangi Pilkada Medan,” katanya.

Sedangkan di Pilkada Kabupaten Rokan Hulu, Partai Gelora berkoalisi dengan PKS, Gerindra, PDIP, Demokrat, Hanura dan Nasdem mendukung pasangan Sukiman-Indra Gunawan.

Koalisi dengan PKS  juga terjadi di Pilkada Kota Surabaya. Partai Gelora bersama PKB, Partai Golkar, Demokrat, Gerindra, PKS, PPP dan Nasdem mendukung pasangan bersama Machfud Arifin-Mujiaman. 

Namun di Pilkada 2020, Partai Gelora tidak hanya mendukung pasangan calon yang didukung partai politik saja sebagai pengusungnya,  tetapi juga mendukung pasangan calon independen atau perseorangan. 

“Hal itu terjadi antara lain di Pilkada Kota Tanjungbalai, Sumatera Utara dan Pilkada Kabupaten Jember, Jawa Timur. Partai Gelora mendukung calon independen,” ungkap Mahfuz. 

Di Pilkada Tanjungbalai, Partai Gelora mendukung pasangan independen,  Ismail-Afrizal Zulkarnain dan di Pilkada Jember mendukung pasangan independen Faidah-Dwi Arya Nugraha Oktaviano. 

***

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

X