Tag: ratih sanggawati

Keterpilihan di DPR Masih ‘Njomplang’, Parpol Diminta Tempatkan Caleg Perempuan pada Nomor Urut 1-3

, , , , , ,

Partaigelora.id – Keterpilihan perempuan di parlemen masih ‘njomplang’ dibandingkan laki-laki, meski telah diberikan kuota 30 persen untuk keterwakilan perempuan dalam politik.

Salah satu penyebabnya adalah mengenai penempatan calon legislatif (caleg) perempuan yang ditempatkan bukan pada nomor jadi seperti nomor urut 1, 2 atau 3.

“Pemilih kita masih melihat soal nomor urut 1, 2, 3  dan biasanya calon yang tempatkan di nomor tersebut laki-laki. Sehingga penempatan soal nomor urut ini mempengaruhi perempuan untuk bisa duduk di kursi DPR misalnya,” kata Betty Epsilon Idroos Dahliah Umar, Ketua KPU DKI Jakarta dalam acara Rumpi#5 dengan tema ‘Perempuan Berpolitik, Pasti Bisa!’ yang diselenggarakan Partai Gelora Indonesia di Jakarta, Jumat (2/4/2021).

Menurut dia, jika partai politik (parpol) ingin agar semua caleg parempuannya terpilih, maka hendaknya ditempatkan pada nomor urut 1-3. Caleg perempuan, lanjutnya, secara kualitas juga seimbang dengan caleg laki-laki.

“Meski ada kenaikan keterpilihan perempuan di parlemen, tetapi keterpilihannya masih njomplang sekali dibandingkan laki-laki. Pada Pemilu 2019 lalu, dari 575 Anggota DPR, perempuan hanya 118 orang, sisanya laki-laki,” ujar Betty.

Betty mengungkapkan, keterpilihan perempuan di DPR dari Pemilu 1999 hingga 2019 ada peningkatan, dari 45 orang menjadi 118 orang, meski pada Pemilu 2009 ada penurunan empat kursi.

“Jadi memang ada peningkatan yang cukup tinggi, tetapi penempatan nomor urut perempuan tetap mempengaruhi keterpilihannya di DPR,” katanya.

Dalam politik, tegas Betty, perempuan merupakan daya tarik  yang menjadikan kualitas demokrasi semakin meningkat. Perempuan juga bisa melakukan perubahan mendasar dan pelaksanaan kebijakan yang dibuat seperti yang dilakukan laki-laki.

“Sesungguhnya, perempuan dan laki-laki itu secara kualitas seimbang, sehingga peran perempuan sangat dibutuhkan. Tanpa perempuan demokrasi itu pincang,” kata Ketua KPU DKI ini.

Betty berharap agar parpol memberikan ruang yang lebih kepada perempuan agar keterpilihannya di parlemen tidak ‘njomplang’ dibandingkan laki-laki.

“Kualitas demokrasi itu tergantung kualitas kandidat yang terpilih dalam pemilu. Sehingga perlu keadilan, kesetaraan akses dan persamaan hak untuk dipilih dan dipilih bagi perempuan,” pungkas Betty.

Ketua BIdang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia Ratih Sanggarwati menegaskan, hadirnya representasi perempuan diharapkan dapat memperkuat partisipasi perempuan dalam politik.

“Perempuan agar dapat menyampaikan aspirasi serta kepentingannya sendiri yang selama ini dianggap kurang tersampaikan,” kata Ratih.

Ratih mengatakan, Indonesia telah menerapkan peraturan kuota 30 persen untuk keterwakilan perempuan dalam politik. Diberikannya kuota 30 persen ini, tidak dapat dipungkiri telah meningkatkan jumlah perempuan dalam politik.

Namun, apakah bertambahnya jumlah ini membuat partisipasi perempuan dalam politik juga telah benar meningkat, ataukah ini hanya sebuah pandangan semu belaka?

“Partai Gelora mengajak perempuan Indonesia untuk tertarik pada dunia politik, meski tidak semua perempuan tertarik. Tetapi percayalah rumpi ilmu ini benar-benar akan menjadi ruang baru bagi perempuan,” katanya.

Dorong Perempuan Mandiri, Partai Gelora Ajarkan Cara Membuat ‘Jajanan Shihlin’ yang Murah

, , , ,

Partaigelora.id – Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia terus mendorong para perempuan Indonesia untuk mengembangkan potensi diri, sehingga dapat berdaya dalam pandemi Covid-19.

Hal itu agar para perempuan bisa mandiri dan ikut mempertahankan kehidupan keluarga sehari-hari, terutama anak-anak dalam menghadapi masa-masa sulit saat ini.

“Pada acara Rumpi#4 kali ini, kita belajar cara membuat Shihlin step by step dan melihat potensi sebagai salah satu peluang untuk mandiri, meyokong kondisi kita masing-masing,” kata Ratih Sanggarwati, Ketua Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia dalam keterangannya, Sabtu (27/3/2021).

Dalam Rumpi#4 (Ruang untuk Maju Perempuan Indonesia) Partai Gelora pada Jumat (26/3/2021) petang ini, sengaja mengangkat tema ‘Usaha Jajanan Kekinian (Shihlin)’ Jajanan ini berasal dari Taiwan dan tengah booming di Asia, termnasuk di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara lainnya.

“Jajanan Shihlin ini khas dari Taiwan, banyak dijumpai di street food di Taiwan yang saat ini juga sedang booming di Asia, khususnya Asia Tenggara, dan ditemui di kota-kota besar di Indonesia,” katanya.

Jajanan Shihlin, lanjutnya, memang masing terdengar asing di telinga masyarakat kita , dan tidak semua dapat dijumpai di kabupaten/kota di Indonesia. Di tanah air jajanan Shihlin hanya di dapat kota-kota besar, itupun harus dibeli di mall.

Namun, masyarakat tidak perlu berkecil hati karena jajanan Shihlin bisa dibuat di rumah dengan bahan-bahan yang sederhana, yang banyak dijumpai di sekitar kita.

“Jajanan Shihlin ini bisa bisa dibuat sendiri di rumah dengan mudah, dan rasanya tidak kalah enak dengan jajanan Shihlin yang ada di mall,” katanya.

Karena itu, Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia ini terus mendorong perempuan berdaya dengan menggali potensi diri dalam bidang apapun.

“Kreatifitas dan jiwa inovatif perempuan itu yang harus dikembangkan adalah skill memasaknya dengan memproduksi karya-karya lainnya dari rumah, sehingga menjadi perempuan yang produktif,” katanya.

Ratih berharap para perempuan akan semakin banyak bergabung untuk menyaksikan acara Rumpi Gelora yang disiarkan live secara virtual setiap Jumat petang guna meningkatkan kapasitas diri kaum perempuan Indonesia.

Ketua Biro Pemberdayaan Anak Bidang Perempuan Partai Gelora Redia Frisna Rista mengatakan, jajanan Shihlin di Indonesia hanya dijual mall-mall, tidak dijual di pinggir jalan seperti di Taiwan. Sehingga menyebabkan harga jual jajanan Shihliin di mall bisa mencapai Rp 50 ribuan untuk satu Shihlin saja.

“Shihlin itu hanya masuk di mall besar, harganya mahal benget. Di Taiwan itu disebut jajanan di pinggir jalan (food street), ya kalau di Indonesia seperti goreng-gorengan. Kita bisa buat sendiri sendiri, gampang banget membuatnya,” kata Redia.

Untuk membuat Shihlin, kata Redia, cukup mudah dengan menyiapkan dada ayam masing-masing 70 gram. Setelah itu, dada ayam dipukul pukul hingga gepeng menyerupai dendeng.

Kemudian dada ayam yang sudah gepeng tersebut, dibumbui dengan bumbu dapur seperti merica, bawang putih dan lada, bisa juga ditambah lada atau kecap asin.

“Ini penting kita bumbuin agar ayam kita beli dari pasar tidak hambar. Setelah kita bumbuin, kita marinasi, kita biarkan selama dua jam, paling lama satu hari agar bumbunya meresap,” katanya.

Selanjutnya, dada ayam dibalur dengan tepung dan dicelup dengan air agar menempel. Kemudian dibalur lagi dengan tepung Shihlin, bentuknya mirip tepung taipoka, namun ada bulir-bulirnya.

“Setelah tercampur dicelup lagi dengan air, satu celupan saja agar tercampur dan kemudian dibalur lagi dengan tepung bumbu. Dan langsung digoreng,” ujarnya.

Namun, untuk menggoreng ini Shihlin saat digoreng harus terendam dengan suhu panas minyak kira-kira 150 derajat. Setelah itu, teriskan dan Shihlin siap disantap.

Jika ingin seperti di mall, Shihlin dipotong kecil-kecil dimasukkan di cup dan diberi saos atau mayonnaise, sebelum disantap.

“Jadi begitu aja membuatnya, gampangkan. Kita tidak perlu beli Shihlin di mall, karena kita bisa buat sendiri di rumah. Mudah, tidak mengeluarkan biaya banyak. Kalau di rumah, saya buat Shihlin ini laris manis,” tandas Redia.

Konsumsi Bubble Tea tak Dianjurkan Saat Pandemi, Bisa Picu Komorbid Kematian Covid-19

, , , ,

Partaigelorai.id – Praktisi kesehatan tidak menganjurkan masyarakat mengkonsumsi bubble tea secara berlebihan saat pandemi Covid-19 karena bisa memicu komorbid, penyakit penyerta kematian akibat terpapar virus Corona

Bubble tea yang berisi boba atau bola-bola tapioka ini tidak hanya menyebabkan karies gigi atau gigi berlubang, tapi juga menyebabkan resiko terkena penyakit jantung akut dan diabetes mellitus.

Sebab, dampak dari mengkonsumsi minuman boba ini, kadar kalori dan gula di dalam tubuh akan meningkat secara drastis, yang merupakan efek tidak baik bagi jantung

Host Metro l-Care di Metro TV, drg. Stephanie Cecillia Munthe, M.IKom dalam acara ‘Ngrumpi Gelora’ yang diselenggarakan Bidang Perempuan DPN Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Jumat (11/3/2021) mengatakan, masyarakat perlu diberikan edukasi terutama ibu-ibu dan anak-anak

“Seharusnya kita lebih aware (sadar, red) mengenai bahaya boba bagi kesehatan, terutama untuk anak-anak. Sebagai praktisi kesehatan, kita kasih tahu resikonya konsumsi boba, jangan terlalu sering-sering,” kata Stephanie.

Stephanie menilai bubble tea sebagian besar menggunakan bahan sukrosa atau gula sintetis sebagai pemanisnya, dan tidak baik bagi kesehatan.

Disamping itu, satu gelas bubble tea diperkirakan mengandung 50 mg gula, padahal jumlah tersebut adalah total kebutuhan gula yang diperlukan tubuh.

“Kebutuhan gula di dalam tubuh kita itu 50 mg, itu sudah dipenuhi oleh boba, padahal glukosa juga terdapat pada makanan-makanan yang kita konsumsi. Bisa kita bayangkan, kalau kita minum boba bisa sampai 3,4 atau 5 gelas dalam sehari, bisa terjadi peningkatan gula dalam tubuh kita,” katanya.

Mantan None Jakarta 2017 ini menilai meminum bubble tea sekarang sudah menjadi gaya hidup atau lifestyle masyarakat Indonesia, terutama remaja dan anak-anak. Karena kemudahan untuk mendapatkan, baik didapat dari gerai-gerai online dan offline.

“Teknologi sekarang memudahkan untuk mendapatkan boba, banyak promo beli satu gratis saja dan harganya murah, dengan uang Rp 10 ribu sudah dapat. Apalagi anak-anak, sekolahnya online, kalau bosan ya jajanannya boba. Boba sudah jadi lifestyle,” katanya.

Lifestyle tersebut, lanjutnya, ternyata menimbulkan permasalahan tersendiri pada saat pandemi Covid-19 saat ini, yakni munculnya peningkatan penyakit diabetes.

“Kalau terus-terusan konsumsi boba bisa picu diabetes. Sampai sekarang menjadi permaslahan juga pada saat pandemi menjadi komorbid, penyakIt penyerta kematian pada Covid-19. Itu dimulai rdari lifestyle sepele dari minum boba,” tandas Stephan

Stephanie menambahkan, boba juga mempercepat karies gigi pada anak-anak. Jika tidak dibersihkan akan menyebabkan gigi berlubang di sana-sini. Boba memicu peningkatan bakteri patogen di rongga mulut yang mempercepat gigi berlubang.

“Paling tidak 6 bulan sekali ke dokter gigi, dibersihkan karang-karangnya. Boba meningkatkan bakteri patogen dan membuat gigi kita cepat berlubang. Resiko gigi berlubang semakin besar, kalau kita sering minum boba,” katanya.

Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia Ratih Sanggarwati mengaku gembira banyaknya pelaku UMKM yang menjual minuman bubble tea dengan berbagai varian. Hal ini tentu saja menunjukkan ekonomi masyarakat tumbuh.

“Namun, disisi lain ada dampak negatif yang tidak boleh diabaikan oleh kaum perempuan, tetap kita harus menyikapi secara bijaksana,” kata Ratih

Ratih menegaskan, minuman bubble tea ternyata tidak hanya digemari oleh anak-anak saja, tetapi juga para orang tuanya. Padahal orang tua seharusnya yang memberikan edukasi kepada anak-anaknya agar tidak sering mengkonsumsi bubble tea, tidak baik untuk kesehatan gigi dan lainnya.

“Boba ini tidak hanya ‘digandrungi’ anak-anak, tapi juga para orang tua. Berdasarkan data grab food pada 2019 saja terjadi peningkatan 8.500 persen merk bubble tea yang ada dibandingkan tahun 2018. Ini tentunya hal positif yang menggemberikan, tapi tetap ada dampak negatif yang perlu diwaspadai,” pungkas Ratih.

Peringati Hari Perempuan Sedunia, Partai Gelora Launching ‘Ngrumpi Gelora’

, , , ,

Partaigelora.id – Dalam rangka memperingati Hari Perempuan se-Dunia yang jatuh pada Senin, 8 Maret 2021 ini, Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia melaunching kegiatan ‘Ngrumpi Gelora’ yang memiliki kepanjangan ‘Ruang untuk Maju Perempuan Indonesia Partai Gelora’.

“Launching ‘Ngrumpi Gelora’ ini diselenggarakan dalam rangka hari perempuan sedunia pada 8 Maret. Saya berharap dapat menjadi ruang bagi perempuan Indnesia bisa maju cerdas dan berdaya bersama-sama,” kata Ratih dalam keterangannya, Senin (8/3/2021).

Karena itu, para perempuan Indonesia diharapkan senantiasa belajar dan mengembangkan diri, serta berdiskusi tema-tema perempuan dan anak.

“Ngrumpi Gelora ini akan kita selenggarakan seminggu sekali setiap Hari Jumat sore,” ujarnya.

Para perempuan, lanjutnya, harus memaksimalkan perannya sebagai istri, ibu dan bagian masyarakat, sehingga dapat memberikan kontribusi nyata bagi para perempuan, termasuk mencegah adanya pernikahan dini yang masih marah di Indonesia.

“Tema acara saat ini menggelitik, pernikahan usia dini merupakan isu penting perempuan Indonesia. Sebab, kasus pernikahan dini makin memprihatinkan,” ujarnya.

Berdasarkan data Unicef, angka pernikahan dini di Indonesia tertinggi ketujuh di dunia yang menikah sebelum usia 18 tahun. Ha ini dipicu berbagai faktor antara lain faktor pendidikan, ekonomi dan tradisi.

“Pernikahan dini itu berdampak pada kematian ibu dan bayi, kesehatan anak baik fisik maupun mental, menciptakan kekerasan dalam rumah tangga. Jadi pernikahan dini itu, dampak negatifnya lebih banyak daripada positif,” katanya.

Ratih berharap perempuan Partai Gelora dapat mengedukasi masyarakat sekitar mereka untuk mencegah adanya pernikahan dini.

“Saya berharap acara ini membuka mata kita tentang pernikahan dini, dampak negatinya yang dtimbulkan sangat banyak,” katanya.

Sementara itu, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Prof Dr Hamka Sarah Handayani mengatakan, pernikahan dini bertentangan dengan UU No.16 Tahun 2019 tentang Perkawinan, bahwa syarat minimal minikah usia 19 tahun.

“Kasus perkawinan dini mencuat kembali karena ada even organizer, Aisha Wedding yang menfasilitasi perkawinan usia 12 tahun dan juga ditemukan kasus di NTB adanya 6 siswa SMP menikah usia dini saat pandemi Covid-19,” kata Sarah.

Dalam kasus pernikahan dini di Nusa Tenggara Barat (NTB), kata Sarah, sungguh memprihatinkan akibat penyalagunaan sekolah daring selama pandemi Covid-19 ini, yang meniadakan sementara sekolah tatap muka.

“Berdasarkan laporan BKKBN, 6 anak SMP yang melakukan pernikahan dini berawal dari sekolah daring, yang dilakuka akibat tiak ada pembelajaran tatap muka. Pernikahan ini dipicu oleh aktivitas chatting yang dilakukan pelajar selama sekolah daring,” ungkap Sarah.

Sarah menjelaskan, angka pernikahan dini terjadi di Provinsi Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Pernikahan dini banyak terjadi pada anak-anak perempuan, termasuk yang terjadi di Sulawesi Selatan baru-baru ini,” katanya.

Mereka yang rentan pernikahan dini, katanya, adalah anak perempuan, anak yang tnggal di keluarga miskin, anak yang tinggal di pedesaan, anak yang miliki pendiikan rendah dan pekerja perempuan di bawah 18 tahun yang bekerja di sektor informal.

Namun, Sarah memastikan bahwa kemiskinan bukan satu-satunya faktor pendorong terjadinya pernikahan dini. Sebab, jika dihubungkan dengan penduduk miskin di provinsi-provinsi, ditemukan kasus di provinsi yang penduduknya miskin tinggi dan rendah.

“Tapi kalau kesejahteraannya rendah justru berpeluang besar melakuan pernikahan dini, sementtara dari kesejateraan tinggi memiliki prelevansi terendah melakukan pernikahan sebelum berusaia 18 tahun,” pungkasnya.

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X