Pseudoscience & Hoax, Tantangan Penanganan Covid-19

Partaigelora.id – Tapi ada yang meninggal setelah divaksin. Ya, ada, berapa banyak angkanya dibanding yang selamat?

Tapi ada yang menghirup minyak kayu putih sembuh. Ya, sembuh dari apa, Covid19 atau masuk angin?

Tapi mandi uap mengusir virus. Ok, lalu mandi uap rame-rame, kalau ada penyintas yang bergabung apa gak saling menulari di ruang tertutup?

Tapi minum susu beruang menyembuhkan Covid19. Ok, meningkatkan imun sehingga terhindar atau menyembuhkan yang telah terpapar?

Namun harap mahfum, seisi bumi ini memang sedang disergap kebingungan, merespon pandemi dengan gagap. Hipotesis muncul kemudian diralat. Hasil riset A patah karena ada yang terbaru. Sebagian respon untuk menangkal berjalan di Eropa, tapi tidak di tropis kawasan Asia.

Kancah kompetisi sepakbola Eropa dibuka, kerumunan diperbolehkan, masker dilepas, kemudian Eropa didatangi varian Delta. Begitu juga di Amerika Serikat. Konser musik digelar, lalu kasus positif kembali menaik. Tak beda dengan di Wuhan, Tiongkok.

Tapi yang bikin kacau ada yang namanya pseudoscience. Pseudoscience, alias pengetahuan yang samar, atau bukan pengetahuan tapi terasa-terlihat seperti science, mendominasi alam pikir masyarakat. Derajat lebih tinggi adalah hoax yang tak bisa dilacak kebenaran, sumber dan logikanya, menyebar cepat.

Bayangkan untuk meluruskan science vs pseudoscience Indonesia sampai harus ‘kedatangan’ @faheemyounus – dokter di University of Maryland Upper Chesapeake Health, Maryland, mencuit di akun Twitternya dengan bantuan Google Translate supaya dipahami bahasa orang kita.

Salah satu residu dari meluasnya penggunaan media sosial adalah ruahnya berbagai informasi yang kemudian melahirkan masyarakat malas berpikir. Karena saringan tak mampu lagi menahan arus informasi, maka akal sehat – yang awalnya bahkan hanya mencerna informasi pada permukaannya saja – kemudian benar-benar tumpul.

Tapi, sebetulnya, kata James Ball dalam Post Truth (Biteback, 2017), salah satu ciri hoax adalah ‘grabby, easy to understand, easy to share’. Gampang didapat. Gampang dipahami dan gampang dibagikan. Dan kemudian salah. Mengapa? Karena hoax dikreasi memang untuk meng-entertain yang pendek berfikirnya.

Jadi, sensor pertama yang perlu dipunya untuk menyortir hoax adalah kemampuan logika dan bahasa. Mengapa di Indonesia hoax subur? Karena skor Indonesia di kompetensi logical thinking (yang didapat dari kemampuan matematik) dan semantik-linguistik (yang diasah dari kegemaran baca) ada di posisi ke-62 dari 70 negara yang disurvei (Kompas, 12 Januari 2018).

Ketika di negara lain informasi melimpah – terutama menjalar melalui media elektronik – bisa diolah menjadi penerawangan ide, olah data, membaca gejala, membuat program dan proyeksi skenario serta pengambilan keputusan, di Indonesia yang terjadi adalah penumpukan kerak dan kotoran.

Gumpalan informasi ditelan utuh tanpa saringan. Menyumbat dan muncratlah jadi informasi tak penting yang sebagiannya rekayasa dan kebohongan. Kasus Covid19 susah tertangani karena dua virus pseudoscience dan hoax subur di Indonesia.

Diluar ketidaktegasan pemerintah dan lemahnya manajemen penanganan. “Cuma di Indonesia Covid19 ditangani dengan gonta-ganti istilah dan membayar buzzer,” kata Rizal Ramli di acara Gelora Talks.

Endy Kurniawan
Ketua Bidang Rekrutmen Anggoat DPN Partai Gelora Indonesia

" , , , , ,

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X