Terbelenggu Perpektif Sendiri

Partaoigelora.id – “Once we know something, we find it hard to imagine what it was like not to know it” (Chip Heath and Dan Heath, Made to Stick, 2007)

Pada tahun 1990, Elizabeth Newton seorang Ph.D. psikologi dari Stanford melakukan riset ‘tappers’ (pengetuk) dan ‘listeners’ (pendengar).

Objek penelitian yang bertugas sebagai tappers menerima daftar 25 lagu yang sangat dikenal seperti “Happy Birthday” dan lainnya.

Dia mengetuk meja sesuai dengan irama lagu dan ‘listeners’ harus menebak judul lagu itu. Hasilnya, dari 120 lagu yang dijadikan eksperimen, hanya 3 yang bisa ditebak. Cuma 2,5% nya.

Bukan disitu menariknya riset Elizabeth. Melainkan pada tingkat keyakinan ‘tappers’ – sebelum riset dimulai – bahwa mereka yakin ‘listeners’ bisa menebak separuh dari lagu.

Hasilnya? Satu dari 40. Mengapa? Ketika ‘tappers’ sedang mengetuk, dia sedang mendengarkan irama dan ketukan di kepalanya. Dan mengira listeners mendengarkan hal yang sama.

Padahal sama sekali tidak. Alih-alih mendengarkan sebuah irama, dia mendengar ketukan tidak jelas, terputus-putus seperti sandi morse. Cobalah eksperimen ini jika ada waktu.

Kepada rekan, anak atau keponakan. Ketuk meja dengan irama lagu “Separuh Nafas”-nya Dewa. Minta mereka tebak lagu apa itu.

Maka kutipan di awal tulisan, “Once we know something, we find it hard to imagine what it was like not to know it” – begitu kita tahu sesuatu, sulit membayangkan bagaimana rasanya (jika) tidak mengetahuinya, relevan dalam banyak situasi.

Dalam konteks menyampaikan pesan kepada audiens di media sosial, kita sering terbelenggu kepada perspektif sendiri.

Tentang apa yang ingin orang ketahui, tentang apa yang orang butuhkan, bahkan tentang apa yang ingin orang lakukan bersama-sama kita (ingat bahwa motif terbesar audiens di media sosial bergabung dengan sebuah akun organisasi adalah karena mereka anggota atau simpatisannya), seringkali berasal dari ‘irama di kepala sendiri’.

Sementara audiens, misalkan satu juta fans di Facebook Fanpage, adalah sekelompok manusia yang memiliki pola perilaku tertentu. Mereka tertarik dengan konten tertentu.

Mereka mendapatkan benefit terbesar dari konten tertentu. Mereka merasa terlibat dengan program tertentu. Mereka bahkan bersedia berkorban jika diajak untuk gerakan tertentu.

Di tengah rumitnya ilmu pemrograman, algoritma dan computer science, nyatanya kita butuh kemampuan menginterpretasi perilaku. 

Teknologi data besar bahkan bisa lebih jauh, memprediksi perilaku. Dengan media sosial, perilaku yang tadinya acak dan sulit diraba, sekarang ada dalam satu wadah untuk diteliti.

Maka terlalu egois jika organisasi hanya menggunakan ‘irama di kepalanya’ saat membuat program, sementara di media sosial yang mereka kelola, dengan mempelajari dan menganalisisnya, mereka bisa menciptakan sesuatu yang lebih tepat dan diinginkan audiens.

Jangan menjadikan media sosial untuk mentransfer agenda, kemauan dan pesan organisasi saja. Dengar dan lihat mereka, maka benefit organisasi dapat tercapai dengan lebih efektif.

Endy Kurniawan
Ketua Bidang Rekruitmen Anggota DPN Partai Gelora Indonesia

" , , , ,

No comments
Leave Your Comment

No comments

Alamat Dewan Pengurus Nasional

Jl. Minangkabau Barat Raya No. 28 F Kel. Pasar Manggis Kec. Setiabudi – Jakarta Selatan 12970 Telp. ( 021 ) 83789271

Newsletter

Berlangganan Newsletter kami untuk mendapatkan kabar terbaru.

Mobile Apps



X